Bukan Jalan-jalan Biasa (Edisi Kuala Lumpur) part 2

Tags

, , , ,

Hari kedua di Kuala Lumpur. Mau kemana aja ya?

Sarapan pagi di warung dekat apartemen di daerah semacam perumahan. Dengan menu kare rajungan dan roti maryam saus kare. Maknyuuss! Oke saya memang suka-banget-sama-rajungan. Jadi ya buat saya enak banget. Roti maryam kare merupakan hal yang lumrah ditemui di Kuala Lumpur. Karena ternyata banyak juga orang Timur Tengah yang berdomisili disana. Ini pertama kalinya saya makan roti maryam pake kare. Rasanya gurih dan bikin mau-mau-lagi.

Image

 

-Roti maryam saus kare-

Setelah sarapan, kami meluncur ke Central Market. Shopping time! Di sana dijual berbagai macam cinderamata untuk oleh-oleh baik aksesoris, baju, coklat, dll. Sejak pertama datang, saya langsung memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan keluarga agar bisa enjoy keliling sendiri mencari oleh-oleh yang unik. Tempatnya sangat nyaman, perpaduan antara pasar dengan mall. Bersih, rapi, elegan, tapi nggak terlihat ‘mahal’. Coklat dijual dengan berbagai merk, ukuran, rasa yang bisa menyesuaikan budget. Sering juga penjualan per-paket tergantung toko. Jadi harus pandai memilih. Untuk harga aksesoris ada yang sama dimanapun tokonya seperti kartu pos dan gantungan kunci tertentu. Ada pula yang bisa dapat harga murah, terutama kalau penjaga tokonya dari Indonesia dan kita bisa SKSD :D

Hati saya tertambat pada gantungan hp dari kulit sapi asli berbentuk sepatu. Sampai tiga kali bolak-balik ke toko karena penjaganya ga dateng-dateng. Ketika rombongan keluarga mau pulang, saya nekat kabur sebentar berharap penjaganya udah dateng. Alhamdulillah. I got it!

Image

 

-Gantungan hp bentuk sepatu dari kulit sapi asli-

Di sebelah Central Market ada Kasturi Walk. Suatu jalan yang isinya pedagang kaki lima di kios-kios. Mirip di film korea yang sering saya tonton. Suka banget! Disana nggak beli apa-apa. Cuman memanjakan mata aja :D

Image

 

-Kasturi Walk-

Yang menarik perhatian saya lagi adalah sistem parkir di Kuala Lumpur yang menggunakan mesin. Mobil masuk, mendapat karcis parkir. Saat akan keluar, karcis dimasukkan ke dalam sebuah mesin di dalam Central Market dan keluarlah biaya parkir yang harus dibayar. Lalu mendapatkan karcis lagi untuk keluar parkiran. Setelah membayar, pengunjung diberi waktu 15 menit untuk keluar atau harus bayar parkir lagi. Kalo pas lagi rame banget trus macet ga bisa keluar gimana ya?

Image

 

-Mesin parkir di Kuala Lumpur-

Kemudian kami menuju ke toko coklat Beryl’s Chocolate Kingdom. Adik saya penasaran seperti apa tokonya. Dan barangkali bisa dapet coklat yang enak dan lebih murah dari Central Market. Pertama masuk, kami diberi stiker yang ditempel di lengan. Lalu ditunjukkan mesin pembuat coklat. Di dalam toko banyak sekali ruangan, namun penataannya tidak ada yang istimewa. Harga coklat juga tidak lebih murah daripada di Central Market. Malah justru ada jenis coklat Beryl’s yang saya lihat di Central Market, tapi tidak ada sama sekali di toko. Ada yang tahu kenapa begitu?

Sore harinya kami ke Twin Tower Petronas. Berfoto bersama keluarga di taman yang terdapat air mancur berjejer. Rupanya daerah ini juga menjadi tujuan wisata para turis. Saat mengambil foto Twin Tower, adik saya berkata bahwa menara ini akan lebih bagus jika difoto saat malam hari. Abah saya memutuskan untuk Sholat Maghrib terlebih dahulu baru kembali ke Twin Tower.

Image

 

-Sembilan :)-

Sholat Maghrib di masjid yang tak jauh dari Twin Tower. Parkir luas hingga basement. Dan lagi-lagi saya temui guide masjid yang menunjukkan tempat wudhu serta tempat sholat. Adakah yang seperti ini di Indonesia? Masjid Istiqlal? Al-Akbar Surabaya? Tempat sholat ber-AC dan berkarpet yang Masya Allah nyaman sekali untuk bermesra denganNya. Ba’da Maghrib ada kajian yang sepertinya rutin, serta berapapun jamaah yang ikut, pengajian tetap berlangsung.

Twin Tower Petronas di malam hari benar-benar menakjubkan. Masya Allah. Lampunya megah sekali. Bila manusia saja mampu menciptakan seperti itu, betapa Maha Sempurnanya Sang Pencipta Manusia. Kami menikmati taman yang berbeda dengan sore harinya. Taman ini lebih luas, ada kolam yang juga terdapat air mancur warna-warni. Saat berfoto dan menikmati keindahan Kuala Lumpur, pukul 8pm tiba-tiba lampu taman mati. Seketika terdengar suara alunan musik dari speaker taman. Kemudian lampu menyala dan air mancur menari dengan indahnya mengikuti alunan musik! Its a fountain concert! WOW! Pemandangan ini amat mempesona, i got an eyegasm! Dan gilanya, semua ini bisa dinikmati gratis oleh siapapun. Iseng saya tanya adik saya yang kebetulan kuliah di ITB, “Anak ITB, bisa bikin kaya gini ga? Kok di Indonesia ga ada?” *senyum-senyum*

Image

 

-Fountain Concert-

Image

-Twin Tower Petronas-

To be continued.

Bukan Jalan-jalan Biasa (Edisi Kuala Lumpur)

Tags

, , , , ,

Siapa sih yang nggak pengen traveling? Nggak cuma keliling Indonesia tapi juga keliling dunia. Buat saya rasanya sulit sekali. Harus ijin dulu ke orang tua dan harus ada saudara yang menemani. Nggak boleh jalan-jalan sendirian. Kalaupun boleh, pasti ditelpon terus. Alhamdulillah masih sering jalan-jalan sama keluarga. Jadi masih bisa traveling juga. Beberapa kawan saya terutama yang wanita berpendapat, “Ayo jalan-jalan mumpung belum nikah. Ntar kalo udah nikah ga bebas lagi”. Bagi saya justru sebaliknya. Dengan menikah ada suami yang menemani. Justru bebas mau kemana aja asal suaminya mau digeret kesana XD.

 

Liburan ini saya dan keluarga diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi Kuala Lumpur KL), Malaysia. Mengapa KL? Ada beberapa alasan yang diajukan oleh abah saya. Pertama, dekat dengan Indonesia. Dari segi cuaca, makanan, kultur tidak jauh berbeda. Masjid masih banyak ditemui. Masih satu rumpun Melayu. Kedua, meski dekat sekali dengan Indonesia, KL jauh lebih teratur. Dari segi bangunan, lalu lintas, tata kota, dsb. Ayah ingin memperlihatkan kepada kami tentang Malaysia. Dengan pemerintahan muslim, sama seperti Indonesia, namun kondisinya berbeda. Alasan ketiga, meski dekat dengan Indonesia, di KL banyak pendatang yang memberi nuansa “luar negeri”. Dari India, Cina, Timur Tengah, dll.

 

Kami sekeluarga, sebelas orang ditambah satu lagi mbak yang bantu jagain adek-adek. Berangkat tanggal 31 Desember menggunakan pesawat terbang Surabaya-Kuala Lumpur. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Sampai di Kuala Lumpur, kami mendarat di KLIA-LCCT. Saya terkaget kaget. Bandaranya kok kaya gini? Maaf, tapi ini sih kaya gudang, bukan bandara. Menurut penjelasan adek saya yang lebih dulu berkunjung kesana, memang begitulah LCCT. Berbeda dengan KLIA, disesuaikan dengan jenis maskapai yang digunakan.

 

Trip ke KL ini sepenuhnya direncanakan oleh abah. Baik tentang tujuan wisata, penginapan, transportasi, makanan, dsb. Jadi tidak bisa dikategorikan sebagai low budget. Dan karena kami ber-dua belas otomatis transport yang paling memungkinkan ialah dengan menyewa mobil sekaligus driver. Kami menginap di apartemen dengan 3 buah kamar, ruang tengah, dapur dan dua kamar mandi. Fasilitas lainnya yaitu parkir di garasi apartemen, televisi, sofa, setrika, meja makan, penjemur pakaian, kasur, karpet dan lemari. Intinya sih selayaknya rumah yang biasa dihuni keluarga. Sebenarnya disediakan mesin cuci juga namun kami tidak tahu cara mengoperasikannya.

 

Rata-rata masyarakat di KL menghuni apartemen. Meski tidak begitu eksklusif layaknya apartemen di Indonesia namun nyaman untuk ditinggali. Harganya memang lebih murah jika dibandingkan dengan membeli rumah satuan. Dengan sistem seperti itu akan sangat menghemat lahan. Sebuah apartemen dengan luas yang tidak seberapa kemudian disusun ke atas, bisa menampung ratusan keluarga. Bayangkan jika mereka menghuni rumah pribadi seperti di Indonesia. Berapa banyak lahan yang dihabiskan untuk hunian. Apartemen dijaga oleh security 24 jam sehingga keamanannya terjamin. Di lantai dasar hanya ada garasi dan security. Lalu ada lahan untuk tempat bermain anak, tempat pembuangan sampah khusus, juga ada ruang pertemuan yang bisa disewa jika ingin mengadakan acara bersama keluarga atau tetangga semisal pengajian. Kami menginap di apartemen daerah Gombak dengan biaya 180 RM per malam atau sekitar Rp 684.000 dengan kapasitas 12 orang. Murah sekali bukan? Biaya membengkak di sewa mobil. Selama 5 hari menyewa 2 mobil sekaligus driver merangkap guide, sudah temasuk biaya bensin. Total yang harus dikeluarkan 2860 RM atau sekitar Rp 10.868.000.

 Image

-apartemen Pangsapuri Harmoni, Gombak-

Image

-ruangan di dalam apartemen-

Tujuan wisata pertama kami adalah kompleks pemerintahan di Putrajaya. Kami berhenti sejenak di Putrajaya International Convention Center. Banyak terlihat keturunan India disana, sepertinya mereka mengadakan perayaan mengingat hari itu tepat akhir tahun 31 Desember 2013. Aura luar negerinya sudah mulai terasa :D Pemandangan dari PICC sangat menakjubkan. Jalan raya yang lebar dan lengang. Bangunan serta tata kota yang indah dan teratur benar-benar memanjakan mata. Sangat berbeda dengan apa yang sehari-hari saya lihat di Indonesia.

Image

 -pemandangan dari PICC-

Tujuan kedua yaitu Masjid Putra, Putrajaya. Masjid di tengah kompleks pemerintahan yang menjadi tujuan wisata berbagai turis asing. Seperti halnya di masjid wisata lainnya, siapapun yang tidahk menutup aurat baik laki-laki maupun perempuan akan diminta mengenakan jubah yang disediakan gratis bagi para wisatawan. Yang menarik perhatian saya yaitu adanya rak berisi botol air minum kemasan yang dijual dengan harga 1 RM saja. Sekaligus beramal, begitu tulisan yang tertera. Tidak ada penjaga, hanya disediakan tempat meletakkan uang. Kalau di Indonesia habis minumnya, habis uangnya juga mungkin ya? Astaghfirullaah. Semoga tidak demikian. Disana juga tersedia berbagai brosur serta poster yang bisa dibaca bagi siapapun yang ingin mengenal Islam lebih dalam. Ada guide laki-laki dan perempuan yang bisa memandu bercerita tentang Masjid Putrajaya, namun saya kurang tahu apakah gratis atau ada biaya jasa.

 Image

-Turis asing mengenakan jubah di Masjid Putra, Putrajaya- 

Image

-Salah satu rak di Masjid yang menjual botol minum kemasan-

Setelah sholat dzuhur kami beranjak di foodcourt dekat masjid untuk makan siang. Jalan menuju foodcourt harus menuruni eskalator terlebih dahulu karena memang letaknya dibawah. Terdapat bermacam-macam makanan, seperti foodcourt di Indonesia. Kami membeli makan di counter yang menjual makanan khas Malaysia seperti nasi lemak, ketam (kepiting), udang/lobster, nasi briyani, kari dan lain-lain. Saya memutuskan membeli nasi briyani dengan lauk daging bumbu serta es tiga layer (seperti teh tarik tapi ada gula aren). Es tiga layernya sangat memanjakan lidah dan menghilangkan dahaga. Sampai nambah lagi. Hehe. Pemandangan diluar foodcourt sangat luar biasa. Terletak di tepi sebuah sungai begitu, dibatasi pagar dan bisa melihat seluruh bangunan yang ada di pinggiran sungai. Kebetulan saat itu ada perahu yang melintas, saya kurang tahu perahu apa. Serasa di Inggris! Begitu pikiran saya, padahal ke Inggris aja nggak pernah. Haha.

 Image

-Santap siang dengan Nasi Briyani dan Es Tiga Layer, dimanjakan dengan pemandangan supercool-

Alhamdulillah setelah perut terisi, kami langsung menuju penginapan. Beristirahat sangat lelap, bersiap menyambut hari esok dalam hiruk pikuk kota Kuala Lumpur. Saking lelapnya sampai nggak kedengeran kembang api pesta perayaan tahun baru. Kami sih memang nggak peduli. Jadi ya tidur aja. XD

 

Next. Bersambung ke kisah hari selanjutnya.

Memutuskan untuk Berlayar

Tags

Lima tahun sudah otak saya freezed.

Benar-benar beku dari dunia yang ingin saya geluti.

Dunia yang dulu pernah membuat saya merasa “inilah saya”.

Jadi kalo beku, harus dicairkan dong. Ibarat mesin, kudu panas.

Yeah.

 

Terus saya kenal salah satu personil dari Indonesia Medika.

“Ngerjain apa sih?”

“Indonesia Medika”

“Apaan tuh?”

“Buka aja indonesiamedika.org”

*buka*

“Hmm. Kayaknya seru. Boleh ikut nggak?”

“Kayaknya minggu depan ada OR. Ikutan aja”

“Okesip”

 

Seminggu kemudian.

“Hemboookkkk opo-opoan iki disuruh nulis artikel ilmiah heeehhh?”

“Yauda si kerjain aja. Ntar aku bantuin deh”

“Jinjaa? kyaaaaa”

 

H-2 deadline OR.

“Susahnya nulis artikel ilmiah ini. Kok kamu bisa gitu ya bikin semalem dan langsung jadi?”

“Ya udah kebiasa aja”

“Aku baru selese separo yak apa ini lusa dikumpulin argh!”

“Mana. Kirim ke aku yang udah kamu kerjain. Aku bantuin.”

“Hehe. Makasihhh”

 

H-1 deadline OR.

“INI BUKAN TULISANKU!”

“Terserah mau kamu pake apa nggak”

“Nggak. Aku tau tulisanku jelek. Nggak bisa bikin artikel ilmiah. Tapi, aku mau nyeleseiin tulisanku”

 

H-1 jam OR tutup.

*sent*

“Wohooooooooo akhirnya selesai juga tulisan Fida!”

 

Dan disinilah saya, Staf Departemen ITC Indonesia Medika.

 

Ada cerita lucu waktu wawancara. XD

“Kenapa pengen masuk Dept ITC?”

“Karena saya freak banget sama socmed. Dikit-dikit buka FB. Liat newsfeed. Buka twitter, liat TL. Buka Path, ketawa-ketawa, tutup. Trus browsing, buka FB lagi. Ya gitu deh hidup saya. Maksud saya, biar ntar berguna dikit lah masio buka-buka socmed.”

“Terus sehari bisa internetan berapa jam?”

“Berapa ya. Internet jalan terus sih. 24 jam? Eh nggak ding. Saya nggak tidur dong. 16 jam deh.”

“Keahliannya?”

“NGENET! Update status. Ya anggep aja nulis. Sama aja kan? XD”

Saya udah ngakak banget ngebayangin muka si pewawancara. Ini bocah cuman modal freak sama socmed pengen masuk Inmed. Lah yang lain-lain aja pake penelitian, pernah jadi staf ini itu, panitia ini itu, merem aja lancar nulis artikel ilmiah, dan bla bla bla lainnya.

 

Tapi saya lebih shock lagi waktu ketemu Kadept dan staf ITC lainnya.

Saya sadar saya terdampar di sarang penyamun. 

Mereka semua orang gila, gila di bidangnya masing-masing. Dan kalo udah ngerjain orang, makin gila lagi. XD

 

Saya ingin kembali.

Saya ingin berlayar jauh.

Dan inilah perahu yang saya naiki.

Misi Penyelamatan

Tags

,

Yang saya tahu, saya butuh menulis. Benar-benar butuh.

Biasanya saya menulis ketika ada sesuatu yang harus diucapkan, namun mulut saya tak mampu mengatakannya.

Dan sekarang saya tidak mampu mengatakannya.

 

Judulnya misi penyelamatan. Mengapa begitu? karena jika bukan saya yang menyelamatkan diri saya sendiri, siapa lagi?

 

Saya suka menulis. Tapi bukan hal-hal yang berat. Hehe.

Dengan menulis hal-hal yang ringan, emosi saya bisa tersalurkan.

Kemudian ketika membaca hasil akhir dari tulisan tersebut, saya akan merasa puas dan senang.

Sejelek apapun tulisan itu. XD

Bila dikemudian hari saya membacanya lagi, kebanyakan sih, “eh. emang aku pernah nulis gini ya? lupa.” hahahahaa

 

Saya sering memiliki keinginan yang begitu besar, namun usahanya nol.

Aigoo. Gimana mau jadi orang sukses? Mau jadi ibu dan istri yang keren? Punya suami dan anak-anak yang keren?

Bangun dari kasur aja setengah hidup. Berasa gravitasi jadi berlipat-lipat.

Padahal ya, padahal. Saya sendiri sadar. Kalau udah mau, 99% pasti jadi. Dengan izin Allah tentunya.

JADI TOLONG KASI TAU KENAPA SAYA HARUS NGGAK MAU?

Puas deh nulis pake capslock. hahahahaha

 

Huh. Emang ya. Kelamaan goler-goler di kasur bikin otak jadi ngehang.

Jadi mikir yang aneh-aneh. Mikir yang serem-serem.

Gimana kalo tiba-tiba ada alien seganteng Do Min Joon nyerang bumi? 

Bingung kan mau nyerah-aja-deh-bawa-gue-ke-planet-elo atau tetep bertahan di kasur.

 

Jadi ya Fid, inget-inget mulai detik ini. Kalau dulu udah pernah denger tapi nggak mancep, sekarang tancepin.

Suatu saat kamu akan dihisab, sendirian. Bukan sama suami, adek, ibu, abah.

Jadi, biasakanlah kesendirian itu.

Tanggung jawab atas kesendirian itu.

Kamu bukan anak SD, kaya Dik Nilna yang kalau kemana-mana harus ditemenin. Yang kalau nggak diturutin nangis jejeritan. Yang kalau pengen mbolos sekolah tinggal bilang, “ibu, aku sakit perut” terus di rumah seharian nyanyi-nyanyi cem idol.

 

Grow up, Fid.

 

Face it.

SMART BOOK FOR SMART PARENT: Children Development Guide

Tags

, ,

Background

Growth refers to specific body changes and increases in the child’s size (such as height, weight, head circumference, and body mass index). These size changes can easily be measured. (Florida Department of Children and Families, 2012)

Child development refers to how a child becomes able to do more complex things as they get older. Development is different than growth.  Growth only refers to the child getting bigger in size. When we talk about normal development, we are talking about developing skills like ;Gross motor:  using large groups of muscles to sit, stand, walk, run, etc., keeping balance, and changing positions ; Fine motor:  using hands to be able to eat, draw, dress, play, write, and do many other things ; Language:  speaking, using body language and gestures, communicating, and understanding what others say ; Cognitive:  Thinking skills:  including learning, understanding, problem-solving, reasoning, and remembering ; Social:  Interacting with others, having relationships with family, friends, and teachers, cooperating, and responding to the feelings of others. (Kyla Boyse, 2013)

Developmental delay is when a child does not reach their developmental milestones at the expected times. It is an ongoing major or minor delay in the process of development. If your child is temporarily lagging behind, that is not called developmental delay. Delay can occur in one or many areas—for example, gross or fine motor, language, social, or thinking skills. (Kyla Boyse, 2010)

When a developmental delay is not recognized early, children must wait to get the help they need. This can make it hard for them to learn when they start school. In the United States, 17 percent of children have a developmental or behavioral disability such as autism, intellectual disability (also known as mental retardation), or Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD).In addition, many children have delays in language or other areas. But, less than half of children with problems are identified before starting school. During this time, the child could have received help for these problems and may even have entered school more ready to learn. (CDC, 2012)

CDC estimates that 1 in 88 children has been identified with an autism spectrum disorder and about 1 in 6 children aged 3-17 has a developmental disability. Many children with a developmental disability are not identified until after entering school. Early intervention (before school age) can have a significant impact on a child’s ability to learn new skills as well as reduce the need for costly interventions over time.

 

Developmental milestone

Milestones enable parents and physicians to monitor a baby’s learning, behavior, and development. While each child develops differently, some differences may indicate a slight delay and others may be a cause for greater concern. The following milestones provide important guidelines for tracking healthy development from four months to three years of age.

By 3-4 months

Watches faces with interest and follows moving objects

Recognizes familiar objects and people; smiles at the sound of your voice

Begins to develop a social smile-

Turns head toward sounds

By 7 Months

Responds to other people’s emotions

Enjoys face-to-face play; can find partially hidden objects

Explores with hands and mouth; struggles for out of reach objects

Responds to own name

Uses voice to express joy and displeasure; babbles chains of sounds

By 12 Months/1 Year

Enjoys imitating people; tries to imitate sounds

Enjoys simple social games, such as “gonna get you!”

Explores objects; finds hidden objects

Responds to “no;” uses simple gestures, such as pointing to an object

Babbles with changes in tone; may use single words (“dada,”“mama,” “Uh-oh!”)

Turns to person speaking when his/her name is called.

By 24 Months/2 Years

Imitates behavior of others; is excited about company of other children

Understands several words

Finds deeply hidden objects; points to named pictures and objects

Begins to sort by shapes and colors; begins simple make-believe play

Recognizes names of familiar people and objects; follows simple instructions

Combines two words to communicate with others, such as “more cookie?”

By 36 Months/3 Years

Expresses affection openly and has a wide range of emotions

Makes mechanical toys work; plays make-believe

Sorts objects by shape and color, matches objects to pictures

Follows a 2- or 3-part command; uses simple phrases to communicate with others, such as “go outside, swing?”

Uses pronouns (I, you, me) and some plurals (cars, dogs)

By 48 Months/4 Years

Cooperates with other children; is increasingly inventive in fantasy play

Names some colors; understands concepts of counting and time

Speaks in sentences of five to six words

Tells stories; speaks clearly enough for strangers to understand

Follows three-part commands; understands “same” and “different”

By 60 Months/5 Years

Wants to be like his/her friends; likes to sing, dance, and act

Is able to distinguish fantasy from reality

Shows increased independence

Can count 10 or more objects and correctly name at least four colors

Speaks in sentences of more than five words; tells longer stories

(Autism Speaks, 2013)

developmental milestone

developmental milestone

developmental milestone

developmental milestone

Government’s program

There is government’s program that support early detection for child development such as KMS in Indonesia, also in CDC there is “Learn the signs act early” program. But there are no pocket book in Indonesia that mother can use to guide their child development.

KMS (KartuMenujuSehat)

KMS

KMS

KMS

KMS

CDC : Learn the signs, act early

photo (2)

Program’s detail

Pocket book size 15×10 cm with full color paper

Cover :Inmed logo, baby’s name, baby’s birthdate, parents name, baby’s photo

Design :every page there will be direction to every child’s developmental milestone that had been reached. There is also direction for evaluation and stimulation.

In the right side there is checklist.

Child developmental milestone up to 5 years

Will be sold to maternity hospital

References

(Florida Department of Children and Families, 2012) http://www.fergusonhs.org/ourpages/auto/2012/10/15/52587184/Child%20Growth%20and%20Development%20Power%20Point.pdf downloaded at 18 October 2013 20.30

(Kyla Boyse, 2013)

http://www.med.umich.edu/yourchild/topics/devmile.htmdowloaded at 18 October 2013 20.35

(Kyla Boyse, 2010) http://www.med.umich.edu/yourchild/topics/devdel.htm downloaded at 18 October 2013 20.40

#IndonesiaMedika

http://www.indonesiamedika.org

Catatan Dokter Muda : The True Warrior

Tags

, ,

Jam menunjukkan pukul 15.00, waktunya untuk pulang stase anestesi. Tiba-tiba datanglah seorang anak perempuan usia 2 tahun ke ruang resusitasi dalam keadaan sesak dan biru. Dia menderita kelainan jantung. Satu jam diberi oksigen dan terapi lainnya namun keadaannya tidak membaik. Pukul 16.00 jantungnya berhenti. Dilakukan pijat jantung namun dia tak kembali. Setengah jam kemudian dia meninggal dunia, di hadapan saya.

Do you remember that im afraid of two things when i enter this medical school? Fresh dead people and bloody patient. Now I am facing it.

Yang pertama kali terlintas saat mendengar kata anestesi itu…stress. Bagaimana tidak? Setiap hari harus berhadapan dengan kegawatan. Deg-degan terus. Nggak  tenang. Dan ppds anestesi itu manusia paling ajaib. Kok ya mau setiap hari nggak tenang. :p Oh, by the way. Untuk kasus emergency di RSUD Soetomo yang bertanggung jawab adalah bagian anestesi dan reanimasi.

Namanya UGD, pasien yang datang pasti gawat. Yang membuat dia tidak mau menunggu hari esok untuk datang ke poliklinik. Diantara pasien gawat itu, yang paling gawat masuk ruang resusitasi untuk distabilkan. Seperti pasien yang bermasalah dengan jalan napas, pernapasan maupun sirkulasi darahnya. Baik karena penyakit yang diderita maupun kecelakaan. Di ruang resusitasi tidak semenegangkan yang saya kira. Malah cenderung, seru. Tidak pernah tau akan ada kejutan apa, perawatnya hampir semua rame, gerak cepat dan gokil,  ppdsnya juga selalu mau menjawab saat kita bertanya. Di resusitasi melihat dan diajari penanganan berbagai macam kasus kegawatan, memegang bag valve mask dan memberi napas buatan maupun bantuan, sampai memasang pipa endotracheal. Suka!

Anestesi juga menangani ruangan observasi intensif atau biasa disebut ICU. Saya masih ingat sekali perasaan saat masuk ruangan tersebut sebelum stase anestesi. Sama sekali tidak nyaman. Melihat pasien tergeletak di bed tidak sadar, ada yang terbalut perban, memakai alat bantu napas (ventilator) dan monitor. Mendengar monitor yang terus-terusan berbunyi. Sama sekali bukan pemandangan yang menyenangkan. This isn’t my place. Bisik saya dalam hati.   Alhamdulillah, entah apa yang membuat saya nyaman. Akan tetapi pada akhirnya saya merasa baik-baik saja ketika masuk ruangan itu. Saya bisa menimba ilmu dan berkerja dengan lancar!

Kemudian sampailah saya pada tugas umumnya anestesi. Yap. Membius orang. Membuat orang yang sadar penuh menjadi tidak sadar dan harus mengembalikan kesadaran itu saat operasi sudah selesai. Ini berlaku pada kasus tidak gawat tentunya. Salah seorang staf berkata, bahwa membius itu seperti mengendarai pesawat. Masa-masa krusial ada pada saat take off dan landing. Begitu pula anestesi, masa kritis asalah saat induksi dan recovery. Induksi yang tidak tepat bisa mengakibatkan pasien ‘bablas’ atau masih merasa kesakitan. Saat recovery, akan selalu ada kemungkinan pasien itu tidak bangun kembali. Serem? Bangeeett. Belum lagi selama operasi, mata dan semua indera tidak boleh lepas dari memonitor pasien. Iya kalau operasinya sebentar. Kalau 12 jam? 20 jam? Mari buka tenda saja. Hehehee

Yang paling bikin iri dari stase anestesi adalah kamar koasnya yang termewah. Dengan AC dan spring bed serta karpet, rasanya pengen pindah kamar kos. XD Cuma kurang toliletnya aja. Masih harus naik-naik ke puncak lantai 4 kalau mau sholat atau ke kamar mandi.

Yang paling saya ingat dari anestesi ketika saya jaga OK UGD. Saat itu menjelang tengah malam, datang pasien dengan perdarahan profus dari leher kirinya akibar terkena pecahan kaca mobil yang harus dihentikan segera. Seketika OK heboh. Entah berapa orang yang berada di ruangan operasi. Dengan pernapasan dipompa manual oleh ppds anestesi, dokter bedah siap melakukan operasi, perawat serta dokter lain memasukkan obat dan mengusahakan jalur infus lain untuk memasukkan cairan dan tranfusi, operasi dilaksanakan. Alhamdulillah pasien itu selamat. :’)

Juga yang saya ceritakan di awal. Setelah anak tersebut meninggal, saya segera keluar dari ruangan resusitasin untuk menyendiri. Seketika tumpahlah air mata saya. Baru pertama kali itu saya menangis karena merasa tidak bisa menyelamatkan pasien. Saya sampai harus menelpon ibu untuk menenangkan diri. Bagaimanapun bila kita sudah berusaha optimal, Allah lah yang menentukan. Maka kita harus ikhlas apapun jalan yang digariskanNya.

Salah seorang staf pernah mengatakan hal ini diawal kuliah, “Belajarlah yang benar selama di anestesi. Mumpung kamu bebas menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Terutama di ruangan resusitasi. Jangan sampai suatu hari kamu mengantarkan orang yang kamu sayangi ke ruangan itu karena kamu tidak bisa memberikan penanganan awal yang tepat.” I can’t imagine that. Saya tidak mau itu terjadi. Meskipun hanya di bayangan saya. Naudzubillaahi min dzaalik.

Ketika ujian, dosen penguji bertanya kepada saya, “Apa yang kamu peroleh selama di anestesi?” saya tidak menjawab mengenai diagnosis maupun terapi. Jawaban saya simpel, “Saya merasa lebih tenang, Dok jika menghadapi pasien gawat. Menjadi  paham apa yang harus dilakukan”. Terbukti, stase anestesi merupakan bekal yang sangat berarti ketika saya memasuki stase berikutnya, departemen saraf. :D

Nah. Mengapa saya memberi judul the true warrior untuk anestesi? Menurut pandangan pribadi saya, seorang dokter anestesi merupakan garis depan di bidang kegawatan. Mereka sudah terbiasa menghadapi kegawatan yang mereka buat sendiri di ruang operasi. Jadi mereka dibiasakan juga mengahadapi kegawatan yang tidak mereka buat sendiri. Prajurit sebenarnya, yang menolong pasien dari kematian yang “belum waktunya”.

So far, anestesi adalah stase paling menarik kedua setelah obsgyn. Hihii

Catatan Dokter Muda : 28 Days (part II)

Tags

, ,

As the time goes by, hari-hari di saraf terlewati perlahan-lahan. Semakin lama, stamina semakin menurun. Semangat mulai melemah, Kesadaran mulai berubah. *makin ngawur*. Semakin pengen mutung, berhenti sampai disini. Tapi kalau saya stop, bagaimana nasib teman-teman sekelompok saya? Mereka harus meng-cover tugas saya dan tentunya semakin berat. Terasa sekali beban mental dalam hati, ingin berteriak sekeras-kerasnya, namun semua itu tidak semerta-merta menyelesaikan masalah. Neurologi belum selesai.

Ditengah kebuntuan mengembalikan motivasi bekerja sekaligus belajar, saya bertanya kepada teman koas yang stase sebelum kelompok saya, yang juga hanya enam orang. Bagaimana  cara dia tetap waras selama berada di neurologi. She said, “Kelompokku udah komitmen dari awal kalau stase neurologi bakal berat. Apapun yang terjadi, seneng maupun susah ditanggung bareng. Hasilnya dalam sehari 6 orang bisa jaga semua karena ruangan dibagi 4 shift, ugd 2 shift. Temen sekelompokku juga lucu-lucu, jadi ya ketawa-ketawa aja tiap hari. Temen-temen dari kelompok lain yang nggak stase saraf juga sering main ke kamar koas saraf, jadi kita ngerasa tetep rame. Terus kalau lagi jaga ruangan, aku kerjain semuanya sendiri. Nggak minta tolong ke perawat. Bodo amat orang lain mau ngomong apa. Aku udah siap jadi dokternya J sampai akhirnya perawatnya jadi luluh sama kita gara-gara semuanya dikerjain sendiri. Hohoho. Kita juga nyimpen camilan sama obat di kamar koas. Biar kalau lagi bête, bisa langsung nyemil, kalau sakit langsung minum obat. Baik-baik sama ppds yang jaga ugd, karena mereka yang akan banyak membantu kita untuk ujian osce. :D ” saran diterima.

Kemudian saya stase di poli saraf, akhirnya merasakan nensi-nensi juga. Alhamdulillah nggak sampai kena CTS :p. Perawat di poli baik, saya malah diajak bergosip -,- . Inti dari gosipnya adalah, lekaslah menikah selagi masih koas. Karena wanita, kalau sudah enak berkarir sering “lupa” menikah. Tau-tau sudah lewat masa emas untuk menikah. Sampai akhirnya memutuskan untuk tidak menikah. Sayang sekali, bukan? Di poli saya banyak menemui kasus-kasus unik yang tidak saya temui pada pasien ruangan. Saya bisa memeriksa pasien baru serta mengarahkan diagnosis untuk kemudian dikonsultasikan lagi ke ppds. So much fun I guess kalo tanpa nensi-nensi. Hihihii.

What did I get from this neurology shift? Yang paling terasa adalah kemampuan berinteraksi dengan paramedis di rumah sakit. Diantaranya adalah perawat serta radiografer. How to deal with nurses waktu jaga ruangan, and how to deal with radiographer waktu jaga ugd. Salah satu trik yang ampuh untuk membaur dengan perawat adalah dengan memberikan cemilan. Nggak perlu mahal, yang penting bisa untuk rame-rame. Terbukti ampuh XD Untuk melebur dengan radiographer, caranya hampir sama. Bisa menggunakan jurus makanan, tapi untuk personal. Misal bisa untuk rame-rame ya lebih bagus lagi. Hehe. Jangan lupa minta ijin apa kita sudah boleh mengirim pasien untuk difoto. Hemat waktu, hemat tenaga, pasien juga nggak nunggu lama. Waktu minta ijin, mintalah dengan intonasi yang tidak menyuruh, melainkan kita yang membutuhkan. Pakai senyum paling ramah yang kamu miliki. Trust me, it works. *lo kira L-m*en* ^^

Skill lain yang terasah ketika stase neurologi adalah melihat mana pasien yang gawat dan benar-benar harus di observasi ketat, mana pasien yang bisa dilonggarkan pengawasannya. Hal ini tidak lain tidak bukan adalah karena keterbatasan semata. Saya berani menjamin, pasien tidak terlantar. J

Ada empat kisah yang akan saya ingat dari neurologi. Yang pertama dan paling membekas dalam ingatan, ketika seorang gadis 16 tahun meninggal dunia dengan meningoencephalitis. Saya berada disana saat salah seorang keluarganya memanggil karena gadis itu kejang. Saya segera mengecek apakah benar itu kejang. Ketika saya hampiri, kejangnya sudah berhenti. Kemudian bagian tubuh sebelah kirinya seperti bergerak namun dalam frekuensi kecil, tidak sampai menghentak, tidak sampai 1 menit berhenti lagi. Apa benar ini kejang? Saya memastikan lagi kepada ppds. Sang ppds menyuruh saya untuk mengecek tanda vital. Tensinya 80/50 dengan perfusi pucat. Denyut nadi meningkat. Pasien ini syok. Segera diposisikan syok, kemudian dipasang infus lagi jadi double line. Setelah digerojok cairan, denyut nadi mulai kuat. Namun nafasnya hanya tinggal sepenggal-penggal. Alat bantu napas sudah disiapkan. Dokter memutuskan untuk KIE pasien, mengatakan bahwa saat ini kondisinya kritis, harap banyak berdoa. Kalaupun akhirnya meninggal, berarti menurut Allah itulah yang terbaik. Karena jika sembuh pun, kemungkinan besar akan cacat karena sel otaknya sudah banyak yang rusak. Tiba-tiba pasien tersebut tidak bernapas. Diberi napas buatan serta dipijat jantung. Dia tidak kembali. This is what I cannot forget for the rest of my life. When doctor told her mother that she was dead, the mother said, “Adek, semua dosa Adek baik yang besar maupun kecil sudah ibu maafkan, Nak. Adek nggak punya salah apa-apa ke Ibu. Adek anak sholihah, tunggu Ibu di pintu surga ya, Nak”. I can’t held my tears, so I just went out her room remembering my mother.

Ibu sang gadis ikhlas dengan kepergian anaknya. Berbeda dengan apa yang saya lihat siang hari selesai kuliah. Saya mendengar ada kegaduhan di dekat ruangan saraf. Awalnya saya mengira kegaduhan itu berasal dari pasien jiwa, karena ruang rawat inap saraf memang berdekatan dengan jiwa. Namun saat saya melewati ibu yang sedang menangis histeris, saya merasa familiar dengan wajah beliau. Siapa yang meninggal dunia? Untuk menuntaskan rasa penasaran, saya bertanya kepada perawat. Ternyata yang meninggal dunia adalah suami ibu yang histeris. Suaminya terkena stroke perdarahan. Beliau tidak siap kehilangan, mungkin karena usianya masih relatif muda, suaminya ‘baru’ berumur 33 tahun. But death will always comes never too early, never too late right?

Hah? 33 tahun meninggal dunia karena stroke? Don’t be surprised. Saya bertemu pasien di ruangan usia 14 tahun terkena stroke karena dia memiliki kelainan jantung bawaan. Memang kelainan jantung dapat memperbesar risiko untuk terkena stroke jenis penyumbatan. Akan tetapi yang saya terlintas di pikiran saya, how can he survive 14 years with congenital heart disease ? he must be really strong and patient.

Kisah keempat tentang seorang istri yang dengan telaten merawat suaminya yang tergolek lemah diatas bed rumah sakit. Beliau membasuh tubuh suaminya, mengganti pempers, memberikan uap agar tidak sesak, mengusap dahak jika suaminya batuk, meminumkan obat dan susu, mengompres saat demam, bangun tengah malam saat suaminya susah tidur, dan sekalipun saya tidak pernah melihat sang istri marah ataupun menyalahkan keadaan. Memang beliau terlihat lelah, namun sama sekali tidak ada kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Membuat saya bertanya dalam hati, jika saya berada dalam posisinya, apakah saya bisa ikhlas mengabdi pada suami saya seperti beliau?

Neurologi tidak seburuk yang saya kira. Dengan banyak ppds baik hati yang suka sekali nentir dan menjawab apapun pertanyaan kita, membuat kelelahan kami agak sebanding dengan ilmu yang diperoleh.

Memasuki minggu terakhir, minggu ujian dan masih harus jaga. Rasanya sangat denial meskipun lebih tepatnya sudah pasrah dengan ujian. Hehe. Alhamdulillah ada teman koas lain yang bersedia membantu jaga (bukan joki!). Jaga terasa berkurang bebannya dan pastinya bisa istirahat cukup. Menyiapkan mental untuk ujian. ;D

Jeng jeng jeng!!! Ujian pun datang. Pikiran agak kosong di soal-soal awal. Masak iya disuruh cek meningeal sign malah cek untuk low back pain. Masio agak mirip tapi yaaa semacam kaya saya sama Dian Sastro. Persamaannya sih cuma sama-sama cewek. Itu aja. Hahahaaa. Untuk ujian osce ini saya sangat berterima kasih kepada ppds yang menjadi pasien simulasi, yang kebetulan sudah jaga ugd tiga kali bersama saya. Tanpa beliau mungkin nilai saya benar-benar nol di pos ini akibat ngelamun. “Untung kamu kalo jaga sama aku nggak matol, Dek. Lek matol ya pasti nggak aku bantuin,” begitulah kata beliau. XD

And it finally comes. Jaga ruangan terakhir, Bener-bener terasa sekali jadi dokternya. Ask me why. I won’t tell you here. ^^

Perasaan setelahh lewat stase saraf, subhanallah. I did it. We did it! Semoga ilmunya tetep nyantol. Terima kasih doanya, saya nggak jadi mutung. J

Salah satu teman sekelompok koas saya berkata, dia ingat apa yang dekan kami ucapkan ketika kami akan menempuh koas.

“Yang paling dibutuhkan saat jadi koas adalah mental baja.

Mau diamuki, dihina-hina, disuruh-suruh, tetap tidak menyurutkan semangat. Bangun, bangun dan bangun lagi. Semua itu media belajar. Pasti mendapatkan ilmu, pasti. Asal ikhlas, sabar dan terus dijalani. Allah akan memberikan ilmu dan kemudahan dengan cara yang tidak disangka-sangka,”. He is right, absotulety right.. J

Ps : tulisan ini dibuat setelah stase neurologi berakhir. Compare to the previous one…

Catatan Dokter Muda : 28 Days

Tags

, ,

Meanwhile in neurology | Apa tujuan kalian selama 4 minggu disini? | emm.bisa mendiagnosis penyakit saraf serta memberikan terapi | serius? Bukan pengen lulus ujian? | *ngakak bersama* | apa tujuan jangka panjang kalian jadi dokter? Buat nolong orang? Bukannya buat cari duit banyak? | *ngakak makin kenceng*

Yah. Paling nggak, ada yang bikin kami berenam bisa tertawa setelah masuk stase saraf. Akhirnya, stase yang ditunggu-tunggu datang juga. Puncak dari semua stase.
Why? Karena di stase ini, kami hanya berenam. Ya, berenam. Empat di ruangan, dua di poli saraf. Ngurusin pasien di ruangan saraf yang jumlahnya sekitar 70 orang, satu koas bisa meriksa 15-20 pasien tiap pagi. Belum di poli saraf, nensi semua pasien yang datang berkunjung. Sehari bisa sampai 150 pasien. Noodle what?

Oke. Itu baru stase. Gimana jaga nya? Satu di ugd, satu di ruangan. Dengan sekali jaga keluar 2 orang, seminggu jaga 3x untuk masing-masing anak. Kalau nggak ada tanggal merah atau cuti bersama. Kalau ada yaa nambah lagi jaga nya. Hahaha :D

Tugas jaga ugd, bantu ppds melayani pasien yang datang. Dan karena semua pasien yang datang hampir selalu adalah stroke, urutan pemeriksaan adalah :
1.anamnesa
2.pemeriksaan fisik
3.pasang infuse, cek lab
4.thorax xray
5.ct scan kepala
6.ekg
Semua itu harus dikerjakan untuk pasien dengan dugaan stroke. Lalalalaaa

Tugas jaga ruangan, observasi pasien titipan. Dengan rata-rata ada 30 pasien yang harus di observasi tiap 3 jam sekali, 6 jam sekali, atau bahkan tiap jam kalau kondisinya tidak stabil, sekali observasi itu bisa menghabiskan waktu 3 jam sendiri. Mau langsung observasi lagi? *wink*
Belum lagi perkara seperti, Dok infusnya habis. Dok infusnya macet. Ternyata tensinya tinggi, obat darah tinggi habis dan harus ngoplos dulu. Dok minta di suction. Dok pasiennya kejang. Dan kadang-kadang ambil darah dewe, karena di ruangan saraf memang pendamping dokter terkenal agak ribet. Maunya nyuntik obat thok. Kata teman saya, magabut -,-.
Besok harinya setelah jaga, kalo ada kuliah pasti kena absence seizure. Nggak tau dosennya ngomong apa, tiba-tiba aja udah selesai. :p

Untuk ilmu neurology nya, ada si tentiran dengan ppds. Lumayan lah. Masih ada diskusi dan kuliah mini juga dengan para staf. Tapi ya kurang efektif. Terutama untuk yang post jaga. Coass should be learning, not working.

Iri banget-banget waktu ada teman koas saraf di RSSA Malang yang cerita kalau stase saraf nya bagai surga. Di tentiri sama ppds lewat bbm, di poli saraf 80 persen buat belajar, 10 persen istirahat, 10 persen di traktir makan ppds. Rasanya pengen pindah ke Malang aja. Щ(ºДºщ)

Saya paling lemah tentang saraf. Menghafal tentang otak, serabut saraf. Oh no. Meski banyak ilmunya, belum tau strategi bagaimana caranya  menyerap ilmu dengan ritme kerja dan suasana belajar seperti ini. Bawaannya pengen cepet selesai aja. Menghitung hari. Menguatkan diri biar nggak mutung di tengah jalan.

This 28 days of neurology feels suffocating with only six coass. But if i can’t survive this, how could i survive to become your wife? Because it takes longer. It takes forever. Ihirrr. Hahaha. Kata-kata inilah yang membuat saya sebisa mungkin bertahan, nggak nangis, nggak mutung di saraf.

Satu lagi cerita lucu. Untuk menilai kesadaran seseorang, salah satunya harus diperiksa fungsi bicaranya. Dikatakan baik penuh kalau bisa berbicara dengan orientasi yang baik terhadap orang, tempat dan waktu.
Orang paling mudah dikenal. Tempat agak susah. Waktu, lebih susah lagi. Makanya, seorang ppds berkata. Kalau kamu punya pacar, janjian di galaxy mall jam 10. Tapi pacarmu baru datang jam 12. Kamu pasti bisa menoleransi. Tapi kalau kalian janjian di galaxy mall trus pacarmu malah ke tunjungan plaza, kamu pasti mulai merasa aneh. Apalagi kalau seharusnya pacarmu janjian sama kamu, eh malah pergi sama orang lain. Kamu pasti marah-marah kan. Masak iya dia lupa janjian sama kamu.

Hahahahaha. Rasa-rasanya setelah stase saraf harus periksa kejiwaan. Saraf telah mengubah fungsi kesadaran saya XD

 

To be continued…

Ps : tulisan ini dibuat minggu pertama saat berada di neurology

Catatan Dokter Muda : Obsgyn, at First

Tags

, , , , ,

“Mbak Da, di masa yang akan datang, dokter spesialis kandungan itu harus jadi milik wanita. Karena itu aurat.” kata Abah pada suatu hari.

“Mbak Da, sampeyan jadi spesialis kandungan aja lho, biar aku kalo periksa nggak jauh-jauh.” kata Mbak Osi yang sedang hamil.

“Fida, kamu nanti ambil spesialis kandungan saja, kan di Bojonegoro belum ada,,” kata guru MI saya.

 

Saya setuju dengan Abah. Obsgyn (spesialis kebidanan dan kandungan) harus menjadi milik wanita. Meskipun teknologi sudah semakin canggih, sudah ada USG dan segala macam namun tidak akan bisa menggantikan VT. Tentang saya yang akan sekolah lagi spesialis kandungan? Hehehe. J

Jujur, awalnya saya kurang tertarik dengan obsgyn. Tidak tertarik malah. Biasa-biasa saja. Waktu clerkship juga sekedar paham. Saya tidak tahu apa rencana Allah. Delapan minggu masa koass saya di obgsyn telah mengubah mindset saya hingga menjadikan obsgyn sebagai materi yang saya minati nomor wahid.

Mengapa saya tidak tertarik dengan obsgyn? Pertama, saya kurang cekatan apabila menghadapi situasi gawat darurat. Saya masih belum bisa menenangkan diri sehingga yang saya bayangkan ketika sekolah spesialis obsgyn adalah setiap hari harus gupuh dan menyusahkan semua orang. Kedua. Seumur hidup saya belum pernah melihat darah berceceran yang keluar dari tubuh manusia dalam jumlah yang banyak. Tidak mungkin obgsyn tidak berdarah-darah. Obsgyn is bloody business, dear. Ini adalah ketakutan kedua saya saat masuk kedokteran. Yang pertama adalah melihat mayat dalam keadaan fresh (baca Catatan Dokter Muda : Forensik).

Stase obsgyn pertama adalah kamar darurat ginekologi (kandungan). Tempat pasien dengan keluhan tumor, hamil anggur, hamil diluar kandungan, aborsi, dan lain-lain yang bukan kasus kehamilan. Sejak saat itulah saya menyadari bahwa obsgyn is super awesome. Dengan diagnosis banding yang tidak terlalu banyak dan klinis yang secara teori dapat dibedakan plus langsung dipraktekkan, bagi saya ini adalah sesuatu yang mengasyikkan. Menemukan hal-hal yang tertulis di buku, merangkum dan menganalisis sehingga mengarah kepada sebuah kesimpulan. Saya seperti menemukan mainan baru. Walaupun saya paham benar bahwa tidak semudah itu menegakkan diagnosis, malah seringkali gejalanya tidak khas, namun bagi saya tetap menarik. That kind of feeling when you can use your knowledge to help patients. :’)

Yang paling seru tentunya ketika jaga VK (ruang bersalin). Ibu hamil yang akan melahirkan baik normal maupun dengan segala penyakitnya, akan diikuti perjalanan selama proses menuju persalinan. Apakah berjalan lancar atau terdapat komplikasi sehingga mengubah diagnosis dan tindakan dalam sekejap.

Bagaimana bisa nggak betah di obsgyn? PPDS yang super ramah, diajak nonton meski akhirnya batal, saat jaga VK diberi pizza, bebas bertanya apapun dan mereka akan langsung menjawabnya. Perawat dan dosen-dosen yang baik, menyempatkan waktu untuk mengajar kami di sela  kesibukannya. Suasana belajar yang kondusif, bisa belajar banyak kasus. I loooveee obsgyn! :D

                Yang tidak disukai dari obgsyn, operasi yang memakan waktu lama. Bekas operasi section Caesar (SC) yang terinfeksi misalnya. Padahal saya baru berdiri satu jam saja sudah kliyengan apalagi delapan jam -,- terima kasih. Lebih baik saya tidur di rumah. Hahahaa.

Alhamdulillah di obsgyn sempat menolong persalinan sampai 5 kali, itupun dibawah bimbingan. Masih jauh untuk menjadi penolong persalinan yang terampil. Akan tetapi saya bersyukur sekali, nggak cuma partus pandang. :p  Saking percaya diri karena sudah pernah menolong persalinan, saya menawarkan diri untuk memeriksa mbak kos yang sedang hamil serta beminat menolong persalinan. Eh ditolak mentah-mentah. Segitu nggak percayanyakah? Huaaaaaa.

Saat stase obsgyn ini ada satu PPDS yang bertugas membimbing tiga koass. PPDS pembimbing saya adalah dr. Amik Yuliati. Saya sangat berterima kasih kepada beliau atas kemurahan hatinya karena telah membantu saya dan teman-teman saya dalam memahami banyak sekali materi obsgyn. Tanpa beliau, mungkin kami seperti anak yang tersesat. Terima kasih banyak atas pencerahannya, Dok. Semoga lancar PPDS nya sampai lulus spesialis. Aamiin. J

Yang saya peroleh selama di obgsyn, menurut pengakuan ibu-ibu yang sudah pernah merasakan melahirkan dengan cara normal maupun SC, mereka mengaku bahwa jauh lebih enak melahirkan dengan cara normal. Meski awalnya sakit, namun proses penyembuhannya sangat cepat. Berbeda halnya dengan SC yang mungkin sepintas tidak terasa, akan tetapi penyembuhannya memakan waktu yang lebih lama. Juga bagi para wanita agar melakukan pap smear rutin mulai 2 tahun sejak menikah atau seksual active. Kasus kanker serviks itu banyak. Banyak sekali. Padahal bisa di deteksi dini dengan pap smear. Maka, pap smearlah. Untuk para lelaki, jika sayang istri, ingatkan untuk pap smear.

Saya akan menjawab pertanyaan di awal tulisan. Tentang saya yang akan sekolah lagi spesialis kandungan? Tidak J. Sampai saat ini jawaban saya masih tidak. Saya yakin saya bisa sekolah spesialis kandungan. Akan tetapi  bukan itu tujuan hidup saya. Saya tidak ingin mengorbankan keluarga, suami dan anak-anak nantinya, untuk ego saya. Meski dengan alas an aurat, karir sebagai spesialis kandungan tetaplah menggoda.  Saya percaya, diluar sana masih banyak wanita dengan niat lurus yang bisa menjadi spesialis kandungan. Saya akan menaruh hormat saya setinggi-tingginya kepada mereka.

Cita-cita saya adalah menjadi ibu rumah tangga. Bagaimanapun nanti takdir Allah, kalaupun saya nggak jadi dokter spesialis kandungan, saya pasti jadi ibu rumah tangga yang hebat. Ga kalah keren tentunya. =D

Selamat Jalan, Mbah Putri

Tags

, , , ,

Diabetes itu jahat. Dia memisahkan kami dari mbah putri. Beliau terkena diabetes sejak saya SMP. Itu sekitar 10 tahun yang lalu. Diabetes juga membuat mbah putri terkena stroke. Beliau tidak lumpuh. Namun kehilangan memorinya. Tidak mengenal siapa itu anak, cucu, suami, tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bagaimana cara sholat, mandi, persis seperti anak kecil kembali.

Mbah putri sekarang sudah pergi.
Kepergian beliau tidak disangka-sangka. Siapa yang bisa menyangka datangnya mati? Jum’at pagi beliau tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri. Dibawa ke rumah sakit, masuk ICU. Jum’at sore, masih tetap tak sadarkan diri. Saat itu kelima anaknya yang berada diluar kota, baru datang dua. Tiga orang masih dalam perjalanan. Dua orang yang mendampingi, membisikkan kata “Laa I laaha Illallaah” tiada henti. Mencegah masuknya syaitan. Tensi beliau semakin turun. Menjadi 60/40. Mbah kakung, suami mbah putri, sudah mengikhlaskan apabila Allah memanggilnya. Beliau berkata kepada anak-anaknya, “nduk, le, ora usah susah. Kabeh wes diatur karo Allah. Umpomo ibumu dipundhut, bapakmu wes ikhlas. Bapakmu wes ridho, ibumu ga duwe salah opo-opo sing berarti.”
Menurut hadits, apabila seorang istri meninggal dunia dan suami ridho atas perbuatan istrinya, maka jaminannya adalah surga.

Ketika dua anaknya lagi datang, tensinya semakin turun. Menjadi 50/40. Satu lagi masih dalam perjalanan, namun sudah ikhlas dengan apapun yang terjadi. Lama sekali saat tensinya tetap 50/40. Pukul 20.00, seorang bude saya berkata, “ibu, asrif masih dalam perjalanan, sebentar lagi datang…tapi kami udah ikhlas bu. Sudah ikhlas kalau ibu pergi…anak-anak ibu disini semua..insya Allah sholih sholihah…bapak juga sudah ridho…”
Nafas beliau semakin jarang, sampai akhirnya tidak bernafas lagi. Kata Laa Ilaaha Illallaah semakin terdengar. Beliau sempat bernafas satu kali lagi. Sampai akhirnya monitor ECG tidak lagi menampakkan detak jantungnya.
Innaalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun.

Pukul 21.00 saya dihubungi sepupu saya bahwa mbah putri meninggal dunia. Dia juga mengajak saya pulang. Saya ikut pulang, posisi di Surabaya. Adik-adik di Solo dan Malang juga ingin pulang, berusaha menghubungi orang tua saya namun tidak ada jawaban. Saya hanya berkata, “Pulanglah. Namun dengan cara yang paling aman. Tidak merepotkan siapapun.”

Mbah putri dimakamkan pukul 02.30 pagi. Tepat ketika adik saya dari Malang serta tante saya tiba dan mereka masih ikut menyolati. Memang kemarin saat Idul Adha, mereka tidak ikut pulang ke rumah mbah. Sedangkan saya masih berjumpa. Saya tiba di rumah mbah pukul 03.30.

Selama perjalanan, saya menguatkan hati bahwa ingin mendampingi ibu. Namun saat saya bertemu ibu saya, beliau tidak perlu dikuatkan. Tidak ada tangis yang menderu-deru. Semua sedih, tapi semua ikhlas. Mbah putri pergi begitu cepat. Tidak ingin merepotkan siapapun.

Terakhir kali bertemu mbah, saat Idul Adha kemarin. Sempat mencium tangan beliau saat akan kembali ke Surabaya. Saat itu entah mengapa, saya mengamati semua barang-barangnya. Kamar beliau, popok, susu, perlak. Sekarang mbah putri sudah tenang.

Kepergian mbah putri Insya Allah khusnul khotimah. Didampingi putra putrinya yang tak henti-henti membisikkan Laa I laaha Illallaah serta dengan keridhaan suami.

Selamat istirahat mbah putri. Semoga sakit mbah putri selama 10 tahun adalah cara Allah membersihkan dosa-dosa beliau, semoga diterima amal ibadahnya, dilapangkan kuburnya, diberikan tempat terbaik di sisiNya. Semoga Allah mempertemukan kita di surgaNya. Aamiin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.