Catatan Dokter Muda : The True Warrior

Tags

, ,

Jam menunjukkan pukul 15.00, waktunya untuk pulang stase anestesi. Tiba-tiba datanglah seorang anak perempuan usia 2 tahun ke ruang resusitasi dalam keadaan sesak dan biru. Dia menderita kelainan jantung. Satu jam diberi oksigen dan terapi lainnya namun keadaannya tidak membaik. Pukul 16.00 jantungnya berhenti. Dilakukan pijat jantung namun dia tak kembali. Setengah jam kemudian dia meninggal dunia, di hadapan saya.

Do you remember that im afraid of two things when i enter this medical school? Fresh dead people and bloody patient. Now I am facing it.

Yang pertama kali terlintas saat mendengar kata anestesi itu…stress. Bagaimana tidak? Setiap hari harus berhadapan dengan kegawatan. Deg-degan terus. Nggak  tenang. Dan ppds anestesi itu manusia paling ajaib. Kok ya mau setiap hari nggak tenang. :p Oh, by the way. Untuk kasus emergency di RSUD Soetomo yang bertanggung jawab adalah bagian anestesi dan reanimasi.

Namanya UGD, pasien yang datang pasti gawat. Yang membuat dia tidak mau menunggu hari esok untuk datang ke poliklinik. Diantara pasien gawat itu, yang paling gawat masuk ruang resusitasi untuk distabilkan. Seperti pasien yang bermasalah dengan jalan napas, pernapasan maupun sirkulasi darahnya. Baik karena penyakit yang diderita maupun kecelakaan. Di ruang resusitasi tidak semenegangkan yang saya kira. Malah cenderung, seru. Tidak pernah tau akan ada kejutan apa, perawatnya hampir semua rame, gerak cepat dan gokil,  ppdsnya juga selalu mau menjawab saat kita bertanya. Di resusitasi melihat dan diajari penanganan berbagai macam kasus kegawatan, memegang bag valve mask dan memberi napas buatan maupun bantuan, sampai memasang pipa endotracheal. Suka!

Anestesi juga menangani ruangan observasi intensif atau biasa disebut ICU. Saya masih ingat sekali perasaan saat masuk ruangan tersebut sebelum stase anestesi. Sama sekali tidak nyaman. Melihat pasien tergeletak di bed tidak sadar, ada yang terbalut perban, memakai alat bantu napas (ventilator) dan monitor. Mendengar monitor yang terus-terusan berbunyi. Sama sekali bukan pemandangan yang menyenangkan. This isn’t my place. Bisik saya dalam hati.   Alhamdulillah, entah apa yang membuat saya nyaman. Akan tetapi pada akhirnya saya merasa baik-baik saja ketika masuk ruangan itu. Saya bisa menimba ilmu dan berkerja dengan lancar!

Kemudian sampailah saya pada tugas umumnya anestesi. Yap. Membius orang. Membuat orang yang sadar penuh menjadi tidak sadar dan harus mengembalikan kesadaran itu saat operasi sudah selesai. Ini berlaku pada kasus tidak gawat tentunya. Salah seorang staf berkata, bahwa membius itu seperti mengendarai pesawat. Masa-masa krusial ada pada saat take off dan landing. Begitu pula anestesi, masa kritis asalah saat induksi dan recovery. Induksi yang tidak tepat bisa mengakibatkan pasien ‘bablas’ atau masih merasa kesakitan. Saat recovery, akan selalu ada kemungkinan pasien itu tidak bangun kembali. Serem? Bangeeett. Belum lagi selama operasi, mata dan semua indera tidak boleh lepas dari memonitor pasien. Iya kalau operasinya sebentar. Kalau 12 jam? 20 jam? Mari buka tenda saja. Hehehee

Yang paling bikin iri dari stase anestesi adalah kamar koasnya yang termewah. Dengan AC dan spring bed serta karpet, rasanya pengen pindah kamar kos. XD Cuma kurang toliletnya aja. Masih harus naik-naik ke puncak lantai 4 kalau mau sholat atau ke kamar mandi.

Yang paling saya ingat dari anestesi ketika saya jaga OK UGD. Saat itu menjelang tengah malam, datang pasien dengan perdarahan profus dari leher kirinya akibar terkena pecahan kaca mobil yang harus dihentikan segera. Seketika OK heboh. Entah berapa orang yang berada di ruangan operasi. Dengan pernapasan dipompa manual oleh ppds anestesi, dokter bedah siap melakukan operasi, perawat serta dokter lain memasukkan obat dan mengusahakan jalur infus lain untuk memasukkan cairan dan tranfusi, operasi dilaksanakan. Alhamdulillah pasien itu selamat. :’)

Juga yang saya ceritakan di awal. Setelah anak tersebut meninggal, saya segera keluar dari ruangan resusitasin untuk menyendiri. Seketika tumpahlah air mata saya. Baru pertama kali itu saya menangis karena merasa tidak bisa menyelamatkan pasien. Saya sampai harus menelpon ibu untuk menenangkan diri. Bagaimanapun bila kita sudah berusaha optimal, Allah lah yang menentukan. Maka kita harus ikhlas apapun jalan yang digariskanNya.

Salah seorang staf pernah mengatakan hal ini diawal kuliah, “Belajarlah yang benar selama di anestesi. Mumpung kamu bebas menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Terutama di ruangan resusitasi. Jangan sampai suatu hari kamu mengantarkan orang yang kamu sayangi ke ruangan itu karena kamu tidak bisa memberikan penanganan awal yang tepat.” I can’t imagine that. Saya tidak mau itu terjadi. Meskipun hanya di bayangan saya. Naudzubillaahi min dzaalik.

Ketika ujian, dosen penguji bertanya kepada saya, “Apa yang kamu peroleh selama di anestesi?” saya tidak menjawab mengenai diagnosis maupun terapi. Jawaban saya simpel, “Saya merasa lebih tenang, Dok jika menghadapi pasien gawat. Menjadi  paham apa yang harus dilakukan”. Terbukti, stase anestesi merupakan bekal yang sangat berarti ketika saya memasuki stase berikutnya, departemen saraf. :D

Nah. Mengapa saya memberi judul the true warrior untuk anestesi? Menurut pandangan pribadi saya, seorang dokter anestesi merupakan garis depan di bidang kegawatan. Mereka sudah terbiasa menghadapi kegawatan yang mereka buat sendiri di ruang operasi. Jadi mereka dibiasakan juga mengahadapi kegawatan yang tidak mereka buat sendiri. Prajurit sebenarnya, yang menolong pasien dari kematian yang “belum waktunya”.

So far, anestesi adalah stase paling menarik kedua setelah obsgyn. Hihii

Catatan Dokter Muda : 28 Days (part II)

Tags

, ,

As the time goes by, hari-hari di saraf terlewati perlahan-lahan. Semakin lama, stamina semakin menurun. Semangat mulai melemah, Kesadaran mulai berubah. *makin ngawur*. Semakin pengen mutung, berhenti sampai disini. Tapi kalau saya stop, bagaimana nasib teman-teman sekelompok saya? Mereka harus meng-cover tugas saya dan tentunya semakin berat. Terasa sekali beban mental dalam hati, ingin berteriak sekeras-kerasnya, namun semua itu tidak semerta-merta menyelesaikan masalah. Neurologi belum selesai.

Ditengah kebuntuan mengembalikan motivasi bekerja sekaligus belajar, saya bertanya kepada teman koas yang stase sebelum kelompok saya, yang juga hanya enam orang. Bagaimana  cara dia tetap waras selama berada di neurologi. She said, “Kelompokku udah komitmen dari awal kalau stase neurologi bakal berat. Apapun yang terjadi, seneng maupun susah ditanggung bareng. Hasilnya dalam sehari 6 orang bisa jaga semua karena ruangan dibagi 4 shift, ugd 2 shift. Temen sekelompokku juga lucu-lucu, jadi ya ketawa-ketawa aja tiap hari. Temen-temen dari kelompok lain yang nggak stase saraf juga sering main ke kamar koas saraf, jadi kita ngerasa tetep rame. Terus kalau lagi jaga ruangan, aku kerjain semuanya sendiri. Nggak minta tolong ke perawat. Bodo amat orang lain mau ngomong apa. Aku udah siap jadi dokternya J sampai akhirnya perawatnya jadi luluh sama kita gara-gara semuanya dikerjain sendiri. Hohoho. Kita juga nyimpen camilan sama obat di kamar koas. Biar kalau lagi bête, bisa langsung nyemil, kalau sakit langsung minum obat. Baik-baik sama ppds yang jaga ugd, karena mereka yang akan banyak membantu kita untuk ujian osce. :D ” saran diterima.

Kemudian saya stase di poli saraf, akhirnya merasakan nensi-nensi juga. Alhamdulillah nggak sampai kena CTS :p. Perawat di poli baik, saya malah diajak bergosip -,- . Inti dari gosipnya adalah, lekaslah menikah selagi masih koas. Karena wanita, kalau sudah enak berkarir sering “lupa” menikah. Tau-tau sudah lewat masa emas untuk menikah. Sampai akhirnya memutuskan untuk tidak menikah. Sayang sekali, bukan? Di poli saya banyak menemui kasus-kasus unik yang tidak saya temui pada pasien ruangan. Saya bisa memeriksa pasien baru serta mengarahkan diagnosis untuk kemudian dikonsultasikan lagi ke ppds. So much fun I guess kalo tanpa nensi-nensi. Hihihii.

What did I get from this neurology shift? Yang paling terasa adalah kemampuan berinteraksi dengan paramedis di rumah sakit. Diantaranya adalah perawat serta radiografer. How to deal with nurses waktu jaga ruangan, and how to deal with radiographer waktu jaga ugd. Salah satu trik yang ampuh untuk membaur dengan perawat adalah dengan memberikan cemilan. Nggak perlu mahal, yang penting bisa untuk rame-rame. Terbukti ampuh XD Untuk melebur dengan radiographer, caranya hampir sama. Bisa menggunakan jurus makanan, tapi untuk personal. Misal bisa untuk rame-rame ya lebih bagus lagi. Hehe. Jangan lupa minta ijin apa kita sudah boleh mengirim pasien untuk difoto. Hemat waktu, hemat tenaga, pasien juga nggak nunggu lama. Waktu minta ijin, mintalah dengan intonasi yang tidak menyuruh, melainkan kita yang membutuhkan. Pakai senyum paling ramah yang kamu miliki. Trust me, it works. *lo kira L-m*en* ^^

Skill lain yang terasah ketika stase neurologi adalah melihat mana pasien yang gawat dan benar-benar harus di observasi ketat, mana pasien yang bisa dilonggarkan pengawasannya. Hal ini tidak lain tidak bukan adalah karena keterbatasan semata. Saya berani menjamin, pasien tidak terlantar. J

Ada empat kisah yang akan saya ingat dari neurologi. Yang pertama dan paling membekas dalam ingatan, ketika seorang gadis 16 tahun meninggal dunia dengan meningoencephalitis. Saya berada disana saat salah seorang keluarganya memanggil karena gadis itu kejang. Saya segera mengecek apakah benar itu kejang. Ketika saya hampiri, kejangnya sudah berhenti. Kemudian bagian tubuh sebelah kirinya seperti bergerak namun dalam frekuensi kecil, tidak sampai menghentak, tidak sampai 1 menit berhenti lagi. Apa benar ini kejang? Saya memastikan lagi kepada ppds. Sang ppds menyuruh saya untuk mengecek tanda vital. Tensinya 80/50 dengan perfusi pucat. Denyut nadi meningkat. Pasien ini syok. Segera diposisikan syok, kemudian dipasang infus lagi jadi double line. Setelah digerojok cairan, denyut nadi mulai kuat. Namun nafasnya hanya tinggal sepenggal-penggal. Alat bantu napas sudah disiapkan. Dokter memutuskan untuk KIE pasien, mengatakan bahwa saat ini kondisinya kritis, harap banyak berdoa. Kalaupun akhirnya meninggal, berarti menurut Allah itulah yang terbaik. Karena jika sembuh pun, kemungkinan besar akan cacat karena sel otaknya sudah banyak yang rusak. Tiba-tiba pasien tersebut tidak bernapas. Diberi napas buatan serta dipijat jantung. Dia tidak kembali. This is what I cannot forget for the rest of my life. When doctor told her mother that she was dead, the mother said, “Adek, semua dosa Adek baik yang besar maupun kecil sudah ibu maafkan, Nak. Adek nggak punya salah apa-apa ke Ibu. Adek anak sholihah, tunggu Ibu di pintu surga ya, Nak”. I can’t held my tears, so I just went out her room remembering my mother.

Ibu sang gadis ikhlas dengan kepergian anaknya. Berbeda dengan apa yang saya lihat siang hari selesai kuliah. Saya mendengar ada kegaduhan di dekat ruangan saraf. Awalnya saya mengira kegaduhan itu berasal dari pasien jiwa, karena ruang rawat inap saraf memang berdekatan dengan jiwa. Namun saat saya melewati ibu yang sedang menangis histeris, saya merasa familiar dengan wajah beliau. Siapa yang meninggal dunia? Untuk menuntaskan rasa penasaran, saya bertanya kepada perawat. Ternyata yang meninggal dunia adalah suami ibu yang histeris. Suaminya terkena stroke perdarahan. Beliau tidak siap kehilangan, mungkin karena usianya masih relatif muda, suaminya ‘baru’ berumur 33 tahun. But death will always comes never too early, never too late right?

Hah? 33 tahun meninggal dunia karena stroke? Don’t be surprised. Saya bertemu pasien di ruangan usia 14 tahun terkena stroke karena dia memiliki kelainan jantung bawaan. Memang kelainan jantung dapat memperbesar risiko untuk terkena stroke jenis penyumbatan. Akan tetapi yang saya terlintas di pikiran saya, how can he survive 14 years with congenital heart disease ? he must be really strong and patient.

Kisah keempat tentang seorang istri yang dengan telaten merawat suaminya yang tergolek lemah diatas bed rumah sakit. Beliau membasuh tubuh suaminya, mengganti pempers, memberikan uap agar tidak sesak, mengusap dahak jika suaminya batuk, meminumkan obat dan susu, mengompres saat demam, bangun tengah malam saat suaminya susah tidur, dan sekalipun saya tidak pernah melihat sang istri marah ataupun menyalahkan keadaan. Memang beliau terlihat lelah, namun sama sekali tidak ada kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Membuat saya bertanya dalam hati, jika saya berada dalam posisinya, apakah saya bisa ikhlas mengabdi pada suami saya seperti beliau?

Neurologi tidak seburuk yang saya kira. Dengan banyak ppds baik hati yang suka sekali nentir dan menjawab apapun pertanyaan kita, membuat kelelahan kami agak sebanding dengan ilmu yang diperoleh.

Memasuki minggu terakhir, minggu ujian dan masih harus jaga. Rasanya sangat denial meskipun lebih tepatnya sudah pasrah dengan ujian. Hehe. Alhamdulillah ada teman koas lain yang bersedia membantu jaga (bukan joki!). Jaga terasa berkurang bebannya dan pastinya bisa istirahat cukup. Menyiapkan mental untuk ujian. ;D

Jeng jeng jeng!!! Ujian pun datang. Pikiran agak kosong di soal-soal awal. Masak iya disuruh cek meningeal sign malah cek untuk low back pain. Masio agak mirip tapi yaaa semacam kaya saya sama Dian Sastro. Persamaannya sih cuma sama-sama cewek. Itu aja. Hahahaaa. Untuk ujian osce ini saya sangat berterima kasih kepada ppds yang menjadi pasien simulasi, yang kebetulan sudah jaga ugd tiga kali bersama saya. Tanpa beliau mungkin nilai saya benar-benar nol di pos ini akibat ngelamun. “Untung kamu kalo jaga sama aku nggak matol, Dek. Lek matol ya pasti nggak aku bantuin,” begitulah kata beliau. XD

And it finally comes. Jaga ruangan terakhir, Bener-bener terasa sekali jadi dokternya. Ask me why. I won’t tell you here. ^^

Perasaan setelahh lewat stase saraf, subhanallah. I did it. We did it! Semoga ilmunya tetep nyantol. Terima kasih doanya, saya nggak jadi mutung. J

Salah satu teman sekelompok koas saya berkata, dia ingat apa yang dekan kami ucapkan ketika kami akan menempuh koas.

“Yang paling dibutuhkan saat jadi koas adalah mental baja.

Mau diamuki, dihina-hina, disuruh-suruh, tetap tidak menyurutkan semangat. Bangun, bangun dan bangun lagi. Semua itu media belajar. Pasti mendapatkan ilmu, pasti. Asal ikhlas, sabar dan terus dijalani. Allah akan memberikan ilmu dan kemudahan dengan cara yang tidak disangka-sangka,”. He is right, absotulety right.. J

Ps : tulisan ini dibuat setelah stase neurologi berakhir. Compare to the previous one…

Catatan Dokter Muda : 28 Days

Tags

, ,

Meanwhile in neurology | Apa tujuan kalian selama 4 minggu disini? | emm.bisa mendiagnosis penyakit saraf serta memberikan terapi | serius? Bukan pengen lulus ujian? | *ngakak bersama* | apa tujuan jangka panjang kalian jadi dokter? Buat nolong orang? Bukannya buat cari duit banyak? | *ngakak makin kenceng*

Yah. Paling nggak, ada yang bikin kami berenam bisa tertawa setelah masuk stase saraf. Akhirnya, stase yang ditunggu-tunggu datang juga. Puncak dari semua stase.
Why? Karena di stase ini, kami hanya berenam. Ya, berenam. Empat di ruangan, dua di poli saraf. Ngurusin pasien di ruangan saraf yang jumlahnya sekitar 70 orang, satu koas bisa meriksa 15-20 pasien tiap pagi. Belum di poli saraf, nensi semua pasien yang datang berkunjung. Sehari bisa sampai 150 pasien. Noodle what?

Oke. Itu baru stase. Gimana jaga nya? Satu di ugd, satu di ruangan. Dengan sekali jaga keluar 2 orang, seminggu jaga 3x untuk masing-masing anak. Kalau nggak ada tanggal merah atau cuti bersama. Kalau ada yaa nambah lagi jaga nya. Hahaha :D

Tugas jaga ugd, bantu ppds melayani pasien yang datang. Dan karena semua pasien yang datang hampir selalu adalah stroke, urutan pemeriksaan adalah :
1.anamnesa
2.pemeriksaan fisik
3.pasang infuse, cek lab
4.thorax xray
5.ct scan kepala
6.ekg
Semua itu harus dikerjakan untuk pasien dengan dugaan stroke. Lalalalaaa

Tugas jaga ruangan, observasi pasien titipan. Dengan rata-rata ada 30 pasien yang harus di observasi tiap 3 jam sekali, 6 jam sekali, atau bahkan tiap jam kalau kondisinya tidak stabil, sekali observasi itu bisa menghabiskan waktu 3 jam sendiri. Mau langsung observasi lagi? *wink*
Belum lagi perkara seperti, Dok infusnya habis. Dok infusnya macet. Ternyata tensinya tinggi, obat darah tinggi habis dan harus ngoplos dulu. Dok minta di suction. Dok pasiennya kejang. Dan kadang-kadang ambil darah dewe, karena di ruangan saraf memang pendamping dokter terkenal agak ribet. Maunya nyuntik obat thok. Kata teman saya, magabut -,-.
Besok harinya setelah jaga, kalo ada kuliah pasti kena absence seizure. Nggak tau dosennya ngomong apa, tiba-tiba aja udah selesai. :p

Untuk ilmu neurology nya, ada si tentiran dengan ppds. Lumayan lah. Masih ada diskusi dan kuliah mini juga dengan para staf. Tapi ya kurang efektif. Terutama untuk yang post jaga. Coass should be learning, not working.

Iri banget-banget waktu ada teman koas saraf di RSSA Malang yang cerita kalau stase saraf nya bagai surga. Di tentiri sama ppds lewat bbm, di poli saraf 80 persen buat belajar, 10 persen istirahat, 10 persen di traktir makan ppds. Rasanya pengen pindah ke Malang aja. Щ(ºДºщ)

Saya paling lemah tentang saraf. Menghafal tentang otak, serabut saraf. Oh no. Meski banyak ilmunya, belum tau strategi bagaimana caranya  menyerap ilmu dengan ritme kerja dan suasana belajar seperti ini. Bawaannya pengen cepet selesai aja. Menghitung hari. Menguatkan diri biar nggak mutung di tengah jalan.

This 28 days of neurology feels suffocating with only six coass. But if i can’t survive this, how could i survive to become your wife? Because it takes longer. It takes forever. Ihirrr. Hahaha. Kata-kata inilah yang membuat saya sebisa mungkin bertahan, nggak nangis, nggak mutung di saraf.

Satu lagi cerita lucu. Untuk menilai kesadaran seseorang, salah satunya harus diperiksa fungsi bicaranya. Dikatakan baik penuh kalau bisa berbicara dengan orientasi yang baik terhadap orang, tempat dan waktu.
Orang paling mudah dikenal. Tempat agak susah. Waktu, lebih susah lagi. Makanya, seorang ppds berkata. Kalau kamu punya pacar, janjian di galaxy mall jam 10. Tapi pacarmu baru datang jam 12. Kamu pasti bisa menoleransi. Tapi kalau kalian janjian di galaxy mall trus pacarmu malah ke tunjungan plaza, kamu pasti mulai merasa aneh. Apalagi kalau seharusnya pacarmu janjian sama kamu, eh malah pergi sama orang lain. Kamu pasti marah-marah kan. Masak iya dia lupa janjian sama kamu.

Hahahahaha. Rasa-rasanya setelah stase saraf harus periksa kejiwaan. Saraf telah mengubah fungsi kesadaran saya XD

 

To be continued…

Ps : tulisan ini dibuat minggu pertama saat berada di neurology

Catatan Dokter Muda : Obsgyn, at First

Tags

, , , , ,

“Mbak Da, di masa yang akan datang, dokter spesialis kandungan itu harus jadi milik wanita. Karena itu aurat.” kata Abah pada suatu hari.

“Mbak Da, sampeyan jadi spesialis kandungan aja lho, biar aku kalo periksa nggak jauh-jauh.” kata Mbak Osi yang sedang hamil.

“Fida, kamu nanti ambil spesialis kandungan saja, kan di Bojonegoro belum ada,,” kata guru MI saya.

 

Saya setuju dengan Abah. Obsgyn (spesialis kebidanan dan kandungan) harus menjadi milik wanita. Meskipun teknologi sudah semakin canggih, sudah ada USG dan segala macam namun tidak akan bisa menggantikan VT. Tentang saya yang akan sekolah lagi spesialis kandungan? Hehehe. J

Jujur, awalnya saya kurang tertarik dengan obsgyn. Tidak tertarik malah. Biasa-biasa saja. Waktu clerkship juga sekedar paham. Saya tidak tahu apa rencana Allah. Delapan minggu masa koass saya di obgsyn telah mengubah mindset saya hingga menjadikan obsgyn sebagai materi yang saya minati nomor wahid.

Mengapa saya tidak tertarik dengan obsgyn? Pertama, saya kurang cekatan apabila menghadapi situasi gawat darurat. Saya masih belum bisa menenangkan diri sehingga yang saya bayangkan ketika sekolah spesialis obsgyn adalah setiap hari harus gupuh dan menyusahkan semua orang. Kedua. Seumur hidup saya belum pernah melihat darah berceceran yang keluar dari tubuh manusia dalam jumlah yang banyak. Tidak mungkin obgsyn tidak berdarah-darah. Obsgyn is bloody business, dear. Ini adalah ketakutan kedua saya saat masuk kedokteran. Yang pertama adalah melihat mayat dalam keadaan fresh (baca Catatan Dokter Muda : Forensik).

Stase obsgyn pertama adalah kamar darurat ginekologi (kandungan). Tempat pasien dengan keluhan tumor, hamil anggur, hamil diluar kandungan, aborsi, dan lain-lain yang bukan kasus kehamilan. Sejak saat itulah saya menyadari bahwa obsgyn is super awesome. Dengan diagnosis banding yang tidak terlalu banyak dan klinis yang secara teori dapat dibedakan plus langsung dipraktekkan, bagi saya ini adalah sesuatu yang mengasyikkan. Menemukan hal-hal yang tertulis di buku, merangkum dan menganalisis sehingga mengarah kepada sebuah kesimpulan. Saya seperti menemukan mainan baru. Walaupun saya paham benar bahwa tidak semudah itu menegakkan diagnosis, malah seringkali gejalanya tidak khas, namun bagi saya tetap menarik. That kind of feeling when you can use your knowledge to help patients. :’)

Yang paling seru tentunya ketika jaga VK (ruang bersalin). Ibu hamil yang akan melahirkan baik normal maupun dengan segala penyakitnya, akan diikuti perjalanan selama proses menuju persalinan. Apakah berjalan lancar atau terdapat komplikasi sehingga mengubah diagnosis dan tindakan dalam sekejap.

Bagaimana bisa nggak betah di obsgyn? PPDS yang super ramah, diajak nonton meski akhirnya batal, saat jaga VK diberi pizza, bebas bertanya apapun dan mereka akan langsung menjawabnya. Perawat dan dosen-dosen yang baik, menyempatkan waktu untuk mengajar kami di sela  kesibukannya. Suasana belajar yang kondusif, bisa belajar banyak kasus. I loooveee obsgyn! :D

                Yang tidak disukai dari obgsyn, operasi yang memakan waktu lama. Bekas operasi section Caesar (SC) yang terinfeksi misalnya. Padahal saya baru berdiri satu jam saja sudah kliyengan apalagi delapan jam -,- terima kasih. Lebih baik saya tidur di rumah. Hahahaa.

Alhamdulillah di obsgyn sempat menolong persalinan sampai 5 kali, itupun dibawah bimbingan. Masih jauh untuk menjadi penolong persalinan yang terampil. Akan tetapi saya bersyukur sekali, nggak cuma partus pandang. :p  Saking percaya diri karena sudah pernah menolong persalinan, saya menawarkan diri untuk memeriksa mbak kos yang sedang hamil serta beminat menolong persalinan. Eh ditolak mentah-mentah. Segitu nggak percayanyakah? Huaaaaaa.

Saat stase obsgyn ini ada satu PPDS yang bertugas membimbing tiga koass. PPDS pembimbing saya adalah dr. Amik Yuliati. Saya sangat berterima kasih kepada beliau atas kemurahan hatinya karena telah membantu saya dan teman-teman saya dalam memahami banyak sekali materi obsgyn. Tanpa beliau, mungkin kami seperti anak yang tersesat. Terima kasih banyak atas pencerahannya, Dok. Semoga lancar PPDS nya sampai lulus spesialis. Aamiin. J

Yang saya peroleh selama di obgsyn, menurut pengakuan ibu-ibu yang sudah pernah merasakan melahirkan dengan cara normal maupun SC, mereka mengaku bahwa jauh lebih enak melahirkan dengan cara normal. Meski awalnya sakit, namun proses penyembuhannya sangat cepat. Berbeda halnya dengan SC yang mungkin sepintas tidak terasa, akan tetapi penyembuhannya memakan waktu yang lebih lama. Juga bagi para wanita agar melakukan pap smear rutin mulai 2 tahun sejak menikah atau seksual active. Kasus kanker serviks itu banyak. Banyak sekali. Padahal bisa di deteksi dini dengan pap smear. Maka, pap smearlah. Untuk para lelaki, jika sayang istri, ingatkan untuk pap smear.

Saya akan menjawab pertanyaan di awal tulisan. Tentang saya yang akan sekolah lagi spesialis kandungan? Tidak J. Sampai saat ini jawaban saya masih tidak. Saya yakin saya bisa sekolah spesialis kandungan. Akan tetapi  bukan itu tujuan hidup saya. Saya tidak ingin mengorbankan keluarga, suami dan anak-anak nantinya, untuk ego saya. Meski dengan alas an aurat, karir sebagai spesialis kandungan tetaplah menggoda.  Saya percaya, diluar sana masih banyak wanita dengan niat lurus yang bisa menjadi spesialis kandungan. Saya akan menaruh hormat saya setinggi-tingginya kepada mereka.

Cita-cita saya adalah menjadi ibu rumah tangga. Bagaimanapun nanti takdir Allah, kalaupun saya nggak jadi dokter spesialis kandungan, saya pasti jadi ibu rumah tangga yang hebat. Ga kalah keren tentunya. =D

Selamat Jalan, Mbah Putri

Tags

, , , ,

Diabetes itu jahat. Dia memisahkan kami dari mbah putri. Beliau terkena diabetes sejak saya SMP. Itu sekitar 10 tahun yang lalu. Diabetes juga membuat mbah putri terkena stroke. Beliau tidak lumpuh. Namun kehilangan memorinya. Tidak mengenal siapa itu anak, cucu, suami, tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bagaimana cara sholat, mandi, persis seperti anak kecil kembali.

Mbah putri sekarang sudah pergi.
Kepergian beliau tidak disangka-sangka. Siapa yang bisa menyangka datangnya mati? Jum’at pagi beliau tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri. Dibawa ke rumah sakit, masuk ICU. Jum’at sore, masih tetap tak sadarkan diri. Saat itu kelima anaknya yang berada diluar kota, baru datang dua. Tiga orang masih dalam perjalanan. Dua orang yang mendampingi, membisikkan kata “Laa I laaha Illallaah” tiada henti. Mencegah masuknya syaitan. Tensi beliau semakin turun. Menjadi 60/40. Mbah kakung, suami mbah putri, sudah mengikhlaskan apabila Allah memanggilnya. Beliau berkata kepada anak-anaknya, “nduk, le, ora usah susah. Kabeh wes diatur karo Allah. Umpomo ibumu dipundhut, bapakmu wes ikhlas. Bapakmu wes ridho, ibumu ga duwe salah opo-opo sing berarti.”
Menurut hadits, apabila seorang istri meninggal dunia dan suami ridho atas perbuatan istrinya, maka jaminannya adalah surga.

Ketika dua anaknya lagi datang, tensinya semakin turun. Menjadi 50/40. Satu lagi masih dalam perjalanan, namun sudah ikhlas dengan apapun yang terjadi. Lama sekali saat tensinya tetap 50/40. Pukul 20.00, seorang bude saya berkata, “ibu, asrif masih dalam perjalanan, sebentar lagi datang…tapi kami udah ikhlas bu. Sudah ikhlas kalau ibu pergi…anak-anak ibu disini semua..insya Allah sholih sholihah…bapak juga sudah ridho…”
Nafas beliau semakin jarang, sampai akhirnya tidak bernafas lagi. Kata Laa Ilaaha Illallaah semakin terdengar. Beliau sempat bernafas satu kali lagi. Sampai akhirnya monitor ECG tidak lagi menampakkan detak jantungnya.
Innaalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun.

Pukul 21.00 saya dihubungi sepupu saya bahwa mbah putri meninggal dunia. Dia juga mengajak saya pulang. Saya ikut pulang, posisi di Surabaya. Adik-adik di Solo dan Malang juga ingin pulang, berusaha menghubungi orang tua saya namun tidak ada jawaban. Saya hanya berkata, “Pulanglah. Namun dengan cara yang paling aman. Tidak merepotkan siapapun.”

Mbah putri dimakamkan pukul 02.30 pagi. Tepat ketika adik saya dari Malang serta tante saya tiba dan mereka masih ikut menyolati. Memang kemarin saat Idul Adha, mereka tidak ikut pulang ke rumah mbah. Sedangkan saya masih berjumpa. Saya tiba di rumah mbah pukul 03.30.

Selama perjalanan, saya menguatkan hati bahwa ingin mendampingi ibu. Namun saat saya bertemu ibu saya, beliau tidak perlu dikuatkan. Tidak ada tangis yang menderu-deru. Semua sedih, tapi semua ikhlas. Mbah putri pergi begitu cepat. Tidak ingin merepotkan siapapun.

Terakhir kali bertemu mbah, saat Idul Adha kemarin. Sempat mencium tangan beliau saat akan kembali ke Surabaya. Saat itu entah mengapa, saya mengamati semua barang-barangnya. Kamar beliau, popok, susu, perlak. Sekarang mbah putri sudah tenang.

Kepergian mbah putri Insya Allah khusnul khotimah. Didampingi putra putrinya yang tak henti-henti membisikkan Laa I laaha Illallaah serta dengan keridhaan suami.

Selamat istirahat mbah putri. Semoga sakit mbah putri selama 10 tahun adalah cara Allah membersihkan dosa-dosa beliau, semoga diterima amal ibadahnya, dilapangkan kuburnya, diberikan tempat terbaik di sisiNya. Semoga Allah mempertemukan kita di surgaNya. Aamiin.

Catatan dokter muda : Allah Knows, While You’re Not

Tags

, , , , ,

Memasukin stase besar pertama : pediatri. Berdasarkan pengalaman kakak kelas, pediatri adalah stase besar paling ‘nggak banget’. Dengan lingkungan yang tidak mendukung untuk belajar karena katanya, ppdsnya pelit berbagi ilmu. “Baca sendiri, Dek” adalah kata-kata favorit yang terlontar saat sang koas menanyakan mengapa ini, mengapa itu. Kehororan pediatri ditambah dengan adanya dosen-dosen penguji killer yang bikin semangat layu sebelum berkembang. Well, benarkah?

Stase pediatri pertama dimulai di bagian respirologi. Tugas koas setiap hari adalah : nebul suction. Jadi kalo ditanya, apa keahlian kalian setelah lulus stase pediatri? Nebul suction plus kemput-kemput :D
Eh. Kata siapa ppdsnya pelit ilmu? Justru malah saya dan teman sekelompok ditanyain, “mau tanya apa , Dek? Kalo saya bisa jawab, ya saya jawab, kalo nggak, mari kita cari jawabannya bersama-sama”

FYI, selama di pediatri, pakailah masker. Virus dan bakteri di pediatri itu super ganas. Saya batuk pilek panas sejak awal di pediatri, dan baru sembuh setelah lulus pediatri -_-

It was really heartbreaking. Ngliat anak-anak bayi, balita, sudah familiar dengan infus, darah dan jarum suntik :( Banyak diantara mereka yang di rumah sakit nggak hanya satu-dua hari. Tapi berbulan-bulan karena terkena kanker. Bahkan merayakan ulang tahun di rumah sakit.

Setiap kali jaga ruangan pediatri, entah mengapa, selalu ada tekanan mental yang berat. Pasien sebanyak itu, yang satu lantai mungkin ada 100 pasien, yang kalo kita kelewatan observasi, bisa gone sewaktu-waktu. Pengen tidur, pengen banget. Tapi saya ga sanggup nanggung rasa bersalah kalau pasien itu kenapa-kenapa dan saya tidak tahu padahal itu tanggung jawab saya. Jadi doa setiap jaga adalah, “Ya Allah, berilah kesehatan anak-anak yang sedang sakit, lindungilah mereka dari kealpaan ilmu hamba”.

Dua hal yang paling saya ingat ketika di pediatri. Pengalaman pasien yang meninggal waktu saya jaga dan pasien yang kasusnya saya ikuti bersama teman kelompok, yang juga dipanggil oleh Allah SWT.

Malam pukul 12.00 waktunya observasi. Pasien itu adalah pasien dengan ALL (Acute Lymphoblastic Leukemia) dengan perdarahan profus. Dia amat gelisah, tidak ingin diperiksa. Merengek-rengek ke ibunya minta pulang, tidak mau di rumah sakit. Sang ibu berusaha menenangkan anaknya, bahwa saat itu sedang tengah malam, tidak bisa pulang.
Seorang perawat senior juga mendampingi, berkata bahwa mobilnya sedang disiapkan untuk pulang, dan baru bisa pulang besok pagi. Melihat hal tersebut, firasat saya tidak enak. Saya terngiang-ngiang perkataan dr. Retno diawal stase. “Kalau ada perawat bilang, mbak/mas DM, pasien itu observasi yang ketat ya. Pasien e ga enak, kamu harus benar-benar observasi ketat. Karena mereka sudah jauh berpengalaman. Tau mana pasien yang gawat.” Saya ngantuk. Pengen tidur. Tapi feeling sudah nggak enak. Jadi saya duduk di meja perawat dekat dengan bed pasien itu. Dia masih tidak mau diperiksa. Masih dibujuk-bujuk oleh ibunya agar tenang. Lama kelamaan, dia sudah tidak merengek-rengek lagi.

Pukul 01.30, tiba-tiba salah satu keluarganya panik mencari dokter & perawat. When I looked at her, my heart skips a beat. I’ve been in forensic, seeing dead people. Just like what I saw. “Gimana aku ngomong ke ppds nya?” Badan saya menggigil. Saya bener-bener bingung, shocked. Jadi saya lapor ke ppds, “Dok, pasien A badannya dingin” Dia berlari ke bed pasien, berkata bahwa pasien tersebut belum meninggal, dilakukan resusitasi. Namun sang ibu menolak, “Dok, sudah..biarkan saja dia pergi…kasihan dia kalau ditahan-tahan..sudah Dok, sudah..saya ikhlas..”
Di lain waktu ketika ada seorang bayi meninggal, sang ibu berkata, “maaf ya nak..maafkan ibu yang ga bisa ngerawat kamu..ibu nggak tega kamu sakit kaya gini terus..maafkan ibu, nak…”
I love you, Mom.

Di pediatri, setiap kelompok kecil diminta mencari satu kasus untuk didiskusikan bersama dosen. Saat itu kami mendapat tema kasus hematologi dan membahas pasien hiperleukositosis. Pasien kami anak besar, sekitar 12 tahun, jadi sudah sangat kooperatif untuk diperiksa. Tak jarang dia mengajak kami bercanda. Saat itu dia akan dilakukan BMA (Bome Marrow Aspiration) atas indikasi kecurigaan adanya ALL. Setelah itu hampir setiap hari kami bertemu dengan dia serta keluarganya. Dia tidak tampak seperti anak yang sakit, justru kami sering tertawa bersama. Kemudian kelompok kami pindah stase, tidak lagi di hematologi. Akan tetapi pasien kami masih opname. Saya sedang jaga UGD bagian anak saat teman sekelompok saya memberi kabar bahwa pasien tersebut meninggal dunia akibat perdarahan yang banyak. Pukul 5 sore dia alih rawat ke ruang perawatan intensif, pukul 18.30 dia mengalami henti jantung dan dilakukan resusitasi, sampai akhirnya pukul 19.00 dia dinyatakan meninggal dunia. Ketika itu saya kaget, ya Allah. Pasien saya, padahal kami masih bercanda, padahal dia masih tertawa. Mengapa begitu cepat? Dia masih muda, masih belia. Tapi sungguh, tak ada yang begitu cepat. Saat saya hampir menangis, tiba-tiba saya disadarkan oleh teman saya. Bahwa itu adalah hal terbaik yang Allah beri untuk dirinya.

Ketika pada akhirnya saya berkesempatan untuk memasuki ruangan transfusi untuk anak-anak penderita kanker, saya tertegun. Ya Allah, mereka anak-anak yang sangat kuat. Saya tidak yakin apabila diberi cobaan yang sama, saya akan bisa setabah mereka. Para pasien kemoterapi dengan rambut rontok dan memakai topi, tersenyum malu-malu saat diperiksa dokter. Tidak apa-apa, Nak. Kami ada disini untuk kalian.

Terima kasih sudah memberi kami ilmu yang tak tergantikan. Terima kasih sudah mengajarkan kami apa itu kesabaran. Terima kasih, karena sudah ada di dunia ini dan memberi kami panutan untuk lebih kuat menjalani kehidupan.

Semua akan Baik-baik Saja

Tags

,

First is always difficult. Practice makes perfect. Gwencana, semua baik-baik saja. Tidak apa-apa berbuat salah, asal kamu bisa mengambil pelajaran dan tidak mengulanginya lagi.

Sore hari ketika masa community medicine di Jombang, saya sedang bersama kawan saya Irma, membahas kegiatan selama di Jombang. Tiba-tiba hal ini terlintas di pikiran saya. “Irma, kenapa ya. Aku ngrasa meskipun udah lulus sarjana kedokteran, masih belum pede buat jadi dokter. Takut untuk melakukan sesuatu. Takut salah.  Sehingga ketika kesempatan praktek itu datang, terlewat sia-sia.”

Saya mencoba menganalisis sendiri mengapa hal itu bisa terjadi. Flashback dengan kejadian di masa lalu saya. Pertama saat clerkship anak, saat sedang jaga bersama salah satu teman saya, Triana. Kebetulan saat itu dokter muda (DM) jaga pediatri sangat care, sehingga kami diajari untuk nebule serta observasi pasien. Kemudian ada salah satu pasien bayi yang memerlukan NG tube. Mbak DM tersebut menawarkan kepada kami untuk memasangnya. Saya sangat tertarik. Tapi saya takut karena saya baru melakukannya pada boneka, pada orang dewasa saja belum pernah, apalagi bayi? Nyali saya menciut. Kebalikannya dari Triana, teman saya tidak melewatkan kesempatan itu. Akhirnya dia berhasil memasang dengan supervisi dari mbak DM meski agak kesusahan. Saya sangat mengagumi keberaniannya. Sampai kemudian dia berkata, “Tip, aku gemeteran banget lho tadi masangnya. Anak bayi, pek” yang membuat saya terdiam. Dia sama takutnya dengan saya, tapi mengapa dia berani mengambil kesempatan sedangkan saya tidak?

Kemudian datang saat KKN liburan semester 6, ketika keompok saya mengadakan pengobatan gratis dan kekurangan dokter pada shift siang. Oleh teman sekelompok, saya dan Ayu didaulat untuk ikut memeriksa dan memberikan terapi dibawah supervisi dokter agar pasien tidak lama mengantri. Awalnya saya menolak. Saya belum pernah memeriksa dan memberikan terapi kepada pasien yang ‘sebenarnya’, saya takut salah memberi obat, salah dosis dan sebagainya. Namun atas motivasi dari teman-teman lain, saya menerimanya. Bismillaah.

Bingung. Sering konsultasi ke dokter. Deg-degan. Keringat dingin. Itulah yang saya alami ketika memeriksa dan memberi terapi pada pasien di pengobatan gratis. Lain halnya dengan Ayu teman saya yang terlihat lebih percaya diri dalam menghadapi pasien. Selesai pengobatan gratis, oleh dokter penanggung jawab kami diajak untuk mereview pasien-pasien yang tadi diperiksa, dilihat dari status pasien tersebut. Mulai dari keluhan, terapi hingga edukasi. Ketika inilah saya kembali terkejut. Karena ternyata apa yang dilakukan Ayu tidak jauh berbeda dengan saya. Dia juga masih menerka-nerka dan masih banyak yang perlu dibenahi. Namun dia berani mencoba, sangat berbeda dengan saya. Salah satu teman KKN saya akhirnya memberitahu, “Fid, kamu kenapa nggak mau meriksa sama ngobatin pasien? Ayu lho juga sama belum bisa nya. Dia sendiri yang cerita ke aku. Kalau dia sebenarnya belum bisa, tapi dia berani nyoba biar dia jadi bisa dan banyak pengalaman.” Saya semakin bertanya-tanya, mengapa saya takut mencoba?

Suatu kali dosen saya, dr. Isnu spesialis paru, pernah berkata, “First is always difficult. Pasti itu. Tapi harus dilakukan, karena sekali mencoba, kamu akan bisa belajar untuk langkah selanjutnya”. Kemudian dr. Ivan, dosen pembimbing Puskesmas, juga pernah berkata, “Jangan takut untuk salah. Namanya lagi belajar, salah itu wajar. Nanti kamu akan dibimbing, tahu mana yang benar, sehingga tidak mengulangi kesalahan itu lagi.”

Saya rasa, apa yang membuat saya takut untuk mencoba karena saya masih takut salah. Takut dengan apa yang akan dikatakan orang lain ketika saya salah. Takut dimarahi karena salah. Mental saya belum kuat untuk memproses respon negatif menjadi suatu motivasi sehingga dapat memperbaiki diri. Padahal dimarahi orang lain itu hal yang biasa, siapa yang tidak pernah kena marah? Bukankah ketika orang lain itu marah, berarti mereka masih peduli dengan kita. Akan sangat menyedihkan sekali ketika kita melakukan kesalahan, orang lain hanya diam. Tidak peduli dengan apa yang kita lakukan.

Apa yang saya lakukan sekarang, berusaha untuk menguatkan hati. Agar bisa memproses segala hal menjadi motivasi, mengatasi ketakutan yang ada dalam pikiran, berkata kepada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Gwencana.

Sejatinya orang yang marah padamu adalah orang yang menyayangimu.

Catatan dokter muda : Hidup sebelum mati

Tags

, ,

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.  Demikianlah sumpah Allah atas nama waktu. Waktu, yang kita sendiri tidak tahu, berapa banyak waktu yang Allah berikan untuk kita hidup di dunia ini.

Setelah periode yang lalu saya stase koass di Departemen Kulit-Kelamin, selama satu bulan ini kelompok saya berkesempatan untuk stase di Departemen Forensik dan Medikolegal. Stase yang melenakan, begitu kata kakak kelas. Karena cukup nganggur meski banyak tugas.

Di stase ini saya belajar berinteraksi dengan koass dari universitas lain karena kebetulan di rumah sakit mereka tidak ada departemen forensik. Cukup ada masalah kecil terkait pemilihan komisaris besar yang tidak transparan dan tiba-tiba langsung tunjuk atau masalah giliran jaga saat weekend. Namun semua itu tidak menambah semangat saya untuk merenung, “Kira-kira apa yang bisa saya peroleh setelah saya keluar dari forensik?”

Di stase ini pula saya merasa benar-benar diuji untuk membagi waktu dengan baik. Banyak tugas yang mestinya harus selesai selama 28 hari berada disana. Kenyataannya pada tujuh hari pertama saya hampir tidak melakukan apa-apa. Hanya mengerjakan laporan pemeriksaan luar serta mulai mengerjakan tugas ilmiah. Sedangkan tujuh hari terakhir menjadi sangat sibuk. Banyak sekali hal yang harus diselesaikan sambil mempersiapkan untuk ujian meski akhirnya ada satu tugas kelompok yang harus ‘ngutang’ karena tidak ada waktu lagi. Saya belajar apa itu prioritas. Apa yang bisa dikerjakan terlebih dahulu sehingga nantinya ketika memperoleh tugas baru, tugas yang lain sudah terselesaikan.

Selain berkaitan dengan jenazah, stase ini juga mengajarkan kepada kami para calon dokter tentang bagaimana menjalankan profesi sesuai aturan hukum di Indonesia. Mengingat saat ini banyak laporan dari masyarakat terkait dugaan malpraktik dan dokter menjadi ladang subur bagi oknum yang ingin memperoleh uang dengan mencari-cari kesalahan dokter untuk dituntut di pengadilan.

Sejujurnya saya kurang tertarik untuk menjadi spesialis forensik. Namun bidang ini cocok bagi dokter yang tidak ingin hidupnya melulu dikelilingi orang yang sakit. Juga bagi dokter yang ingin membantu orang lain terkait bidang hukum, menyukai hal-hal berbau analisis untuk mencari sebab kematian seseorang.

Sebelum masuk forensik saya tidak pernah melihat jenazah fresh, dalam artian baru saja meninggal. Ketika semester 2 saya pernah melihat cadaver, yaitu jenazah yang sudah diawetkan dengan formalin yang digunakan untuk praktikum anatomi. Warna cadaver jauh lebih gelap, penampakannya sudah jauh berbeda dengan manusia yang masih hidup. Hari pertama saat saya melihat morning report kelompok yang melakukan otopsi luar, saya takut. Jenazah yang mereka periksa sangat mirip dengan manusia yang masih hidup. Namun dia sudah meninggal, nyawanya sudah dicabut. Dia seakan-akan tidur, tapi tidak akan pernah bangun kembali. Saya takut. Bagaimana nanti jika saya meninggal dunia? Apakah saya sudah siap mempertanggungjawabkan segala perbuatan saya? Apakah amal saya sudah cukup untuk bekal di akhirat nanti? Sungguh, saya benar-benar ketakutan. Saya berusaha menenangkan diri, memberanikan diri melihat setiap kali ada jenazah yang datang untuk diperiksa. Saya bertekad sebelum giliran kelompok saya yang bertugas memeriksa, saya harus sudah mengatasi rasa takut yang saya alami.

Jenazah pertama yang saya lihat adalah seorang bayi yang baru saja lahir, yang dibuang, kemudian ditemukan dalam keadaan yang sudah membusuk. Innalillaahiwainnailaihiraaji’uun. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, hal-hal yang sudah sering saya baca di koran maupun media lain. Seorang anak yang tak berdosa, yang diterlantarkan akibat kesalahan orang tuanya. Saat itu saya menganggap kasus tersebut merupakan kasus yang jarang terjadi. Namun alangkah terkejutnya saya saat membaca buku laporan otopsi, hampir setiap bulan ditemukan bayi baru lahir meninggal dunia akibat tidak dikehendaki orang tuanya. Sungguh sangat menyayat hati.

Pada saat kelompok saya berkesempatan untuk melakukan pemeriksaan jenazah, saya tidak berani menyentuhnya. Hanya melihat serta menulis hal-hal yang diperlukan seraya tak henti-hentinya menenangkan diri. Hari itu juga saya diuji. Datang jenazah anak kecil akibat kecelakaan lalu lintas yang mengenai kepalanya hingga hancur. Ya Allah. Sungguh, mungkin jika tidak ada residen forensik yang membantu, saya tidak dapat melakukan apa-apa akibat shock mental yang saya rasakan. Saya amat sadar bahwa sesungguhnya manusia begitu rapuh, begitu lemah. Lalu bagaimana mungkin mereka masih bisa menyombongkan diri di atas bumi Allah ini? Seakan-akan mereka akan hidup selamanya.

Sejak saat itu hampir setiap hari saya melihat korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Hal yang membuat saya merasa sedikit ‘parno’ karena saya juga seorang pengendara sepeda motor. Tak jarang datang keluarga korban yang menangis tersedu-sedu karena tidak mengira orang yang dicintai meninggal dunia. Akan tetapi, siapa yang bisa mengira datangnya mati? Seringkali mereka mengucap kata penyesalan. Yang membuat saya merenung,

“Saya tidak ingin meninggalkan penyesalan apapun ketika meninggal nanti. Saya ingin meninggalkan orang-orang yang saya cintai dengan rasa kerelaan dan saya ingin mereka merasakan hal yang sama saat waktu saya telah habis.”

Forensik banyak membuat saya berpikir tentang kematian, mengingatkan saya bahwa hidup tidaklah abadi. Waktu yang diberikan Allah semakin sedikit, sedang kekekalan akhirat semakin mendekat. Siapkah diri ini saat Allah memanggil nanti?

Catatan dokter muda : I adore you, Professor

Tags

, , , ,

Long life learning. Begitulah slogan bagi profesi  ini. Dan itu diperlihatkan dengan jelas kepada kami oleh sang guru, Prof. Dr. Indropo Agusni, dr. Sp. KK (K).

Awal memasuki  stase dokter muda (biasa disebut koass), saya mendapat keberuntungan untuk terlebih dahulu menimba ilmu di Departemen Kesehatan Kulit & Kelamin. Mengapa saya sebut beruntung? Karena menurut cerita dari kakak kelas, stase ini relatif tidak capek dibanding yang lainnya meskipun dalam hal kelulusan sangat memperhatikan attitude.

Di sinilah saya mulai merasakan kehidupan seorang dokter dan lingkungan rumah sakit. Dimana saya harus berinteraksi langsung dengan pasien, dosen, PPDS (residen), perawat serta paramedis dan karyawan lain.  Mulai berhadapan dengan berbagai macam tipe orang, merasakan bagaimana harus ‘jaga’ di salah satu ruangan di rumah sakit dan mengobservasi pasien. Semua itu tidaklah mudah. Sampai-sampai saya bertanya lagi ke hati nurani saya, “Sudah tepatkah pilihan saya untuk memilih menjalani profesi ini?” karena sungguh. Apa yang saat ini saya jalani, sama sekali tidak terpikirkan ketika saya masih SMA yang dengan semangat yang menggebu menginginkan profesi ini.

Di stase ini pula saya semakin memahami diri saya, bahwasanya saya ini sangat mudah sekali kaget, panik, cemas, gelisah dan deg-degan. Meskipun di kulit relatif minim akan kegawatan, akan tetapi ketika ada salah satu pasien yang sesak, saya langsung panik dan serta merta memanggil senior.  Padahal seharusnya saya bisa mengatasinya sendiri, tidak perlu sampai panik, gelisah dan deg-degan. Mungkin saya memang tidak cocok dengan hal-hal berbau darurat seperti anastesi, bedah, dan obgyn. Dan rasa-rasanya harus mulai belajar yoga agar bisa mengatasi deg-degan saya. /=D

Saya masih ingat salah satu joke seorang dokter kulit ketika memberi kuliah saat semester 6. “Seni yang dilakukan oleh dermatolog adalah memberi suatu penyakit dengan nama latin yang panjang…dan kemudian memberinya steroid topikal”. Tidak sepenuhnya benar, tapi tidak salah juga. Karena memang menurut saya pribadi, nama-nama penyakit kulit relatif susah dihafal :p contohnya saja panu. Dalam bahasa ilmiahnya adalah Pitiriasis Versicolor. Susah bukan? Namun tidak semua penyakit kulit terapinya adalah steroid topikal.  Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Seperti penyebabnya, patofisiologinya, luas lesinya, karena setiap orang mempunyai ciri khas yang membuat terapinya juga berbeda. Seni seorang dokter yang sesungguhnya adalah kejelian dalam melihat pasiennya satu per satu sehingga dapat mengetahui apa yang pasien butuhkan. That’s why medicine is an art :)

Saya masih ingat, pertama kali bertemu dengan Prof.Indropo adalah ketika beliau mengajar materi Morbus Hansen di semester 6. Beliau sudah terlihat ‘berbeda’. Pertama, karena sebagai seorang dokter kulit, beliau mau menekuni tentang Morbus Hansen (yang oleh orang awam biasa disebut kusta) di jaman sekarang dimana dokter kulit kemungkinan lebih memilih kosmetik. Kedua, cara beliau mengajar sama sekali tidak menunjukkan ke-superior-annya akan tetapi justru memahamkan peserta didiknya.

Pengalaman pertama kali jaga di ruangan kulit, saya dibuat speechless oleh beliau. Saat itu hari Minggu sore sekitar pukul 16.30. Di ruangan rawat inap kulit masuk pasien baru dengan diagnosa Toxic Epidermal Necrolysis (TEN).  Dia memerlukan observasi intensif dari segi vital sign maupun cairan yang masuk dan keluar dari tubuhnya. Saat sedang observasi, tiba-tiba saya melihat Prof.Indropo datang ke ruang rawat inap kulit dan bertanya kepada PPDS yang sedang bertugas jaga tentang kondisi pasien tersebut. Ini hari minggu, weekend, dimana biasanya para senior seharusnya menghabiskan waktu dimanapun kecuali di rumah sakit. Tapi tidak, beliau datang ke rumah sakit dan melihat langsung kondisi pasien. Beliau masih sempat mengajarkan kepada kami, para PPDS maupun dokter muda tentang penyakit TEN. Setelah itu berkata kepada keluarga pasien bahwa harus banyak-banyak berdoa karena penyakit TEN bukanlah penyakit yang ringan, akan tetapi kesembuhannya bisa diusahakan. Beliau juga memotivasi pasien agar tetap bersemangat untuk sembuh, sehingga pasien dapat segera menemani anaknya lagi. Belum habis rasa takjub saya, ibu perawat menambahkan bahwa Prof.Indropo memang sering datang ke ruang rawat inap kulit saat hari libur untuk menjenguk pasien.

Abah saya pernah berkata, “Kamu boleh jadi dokter spesialis apapun kecuali dua bidang. Dokter kulit dan bedah plastik. Karena saat ini, keduanya lebih mengarah kepada hal-hal yang berbau kosmetik” but I think, this Professor really inspire me to be a dermatologist just like him J.  Thank you, Professor.

His name is Faiz and he is my brother

Tags

, , , , ,

Bagaimana jika mahasiswa, pengusaha dan pecinta sepak bola disatukan?

There he is. Ahmad Faiz Nasshor.
A brother. A son. A student. Manchunian. Aremania. An enterpreneur.

20 tahun yang lalu waktu ibu sedang KKN di Nganjuk, dia lahir. Saat itu saya masih berusia 2 tahun. Dari kisah masa kecil yang saya ingat, Mbah Sungkem, yang ikut membantu ibu di rumah sangat sayang kepadanya. Kebetulan kulit Dek Faiz agak hitam, jadi ketika ada tetangga yang nyeletuk “kok ireng?” Mbah Sungkem akan sangat marah dan berkata bahwa adik saya itu super-ganteng \=D

Adalah sesuatu yang sangat luar biasa sekali, menyaksikan perubahan pada dirinya. Dari awalnya seorang bocah, pelan-pelan berubah menjadi laki-laki yang dewasa.

Dari awalnya yang cuma suka main Pe-es, jadi sadar akan gunanya belajar. Dulu dia nakal. Sangat nakal. Kalau marah suka memporak-porandakan kamar tidur. Ngunci pintu dari dalam kamar dan ngambek. Tidak keluar kamar sampai apa yang dia minta terpenuhi.

Saat dia akan masuk SMP dan kebetulan SMP nya sama dengan saya di asrama juga, saya sempat ragu. Apakah adik saya bisa bertahan mengingat sikapnya yang selalu manja kepada ibu saya? Namun saya salah besar.

Hari pertama dia di asrama, sudah diajak pergi entah kemana oleh kakak-kakak asramanya. Saya sendiri sampai bingung. Secepat itukah dia bisa kenal dengan orang asing? Tapi ternyata, itulah kelebihannya. Dia mudah bergaul dan selalu terbuka kepada hampir semua orang yang dia kenal. Sehingga temannya ada dimana-mana.

Satu lagi yang saya sadari ketika satu SMP dengannya. Meski usianya lebih muda, nalurinya untuk melindungi saya sebagai kakak perempuannya amatlah tinggi. Saat itu saya sadar. Mungkin dia memang bandel, tapi sesungguhnya dia sangat sayang sekali dengan keluarganya.

Masuk SMA, dia tidak diterima di SMA yang diinginkan. Saya berusaha membesarkan hatinya dan berkata bahwa memang disana bukan tempat yang terbaik untuknya. Dia akan menjadi jauh lebih baik di SMA tempatnya bersekolah.

Feeling saya benar. Ketika SMA, dia semakin berkembang. Bahkan dia sudah memulai usaha kecil-kecilan dengan membuat disain kaos kemudian dia pasarkan melalui internet. Tak jarang juga dia diminta untuk membuat disain kaos maupun jaket kelas, serta dia sendiri juga yang diberi tanggung jawab untuk pemilihan vendor dan pembuatannya.
Bagi saya, itu adalah hal yang sangat mengagumkan, karena dia sudah bisa menghasilkan uang sendiri meski hasilnya tidak seberapa.

Adek saya ini orangnya tidak neko-neko. Cenderung sederhana meskipun sebenarnya bisa saja memilih yang ‘lebih’. Dia seperti mempunyai tujuan hidup jangka panjang, sehingga saat ini dia berusaha mencapai tujuan tersebut. Hebat bukan?

Ketika akan masuk ke bangku kuliah, dia berkata bahwa ingin masuk ke ITB. Saya hanya bisa membantu dengan doa, semoga dia diterima ditempat yang dia inginkan, dan tempat itu adalah tempat terbaik untuknya. Mengingat ketika SMA dia tidak bisa masuk ke tempat yang diinginkan. Saya ingin dia bisa merasakan kebahagian ketika impiannya itu terwujud. Sehingga air mata saya tidak bisa ditahan ketika tahu dia diterima di ITB. Alhamdulillaah ya Allah. Terima kasih..

Saat ini adik saya masih menjadi mahasiswa ITB semester 4. Masih muda dan keingintahuannya masih sangat besar. Usaha kaos nya sudah semakin tertata rapi dan berkembang ( you can check it here at footballis.me or @houseofunited ). Meski sudah semakin dewasa, tak jarang dia masih sering minta tolong kepada kakak perempuannya ini. It makes me feel needed. And its good.

Sedikit bocoran, dia paling suka nggodain adik tepat dibawahnya, Dek Ifa. Sehingga mereka berdua sangat sering bertengkar. Suatu kali Dik Ifa pernah berkata, “Mbak Da, Mas Faiz iku kurang opo yo. Pinter, tampang lumayan manis, olahraga yo lumayan jago, pengetahuan agamane yo apik, awak e duwur, due bisnis pisan masio cilik2an. Pasti akeh sing naksir.”
“Hahaha…iyo yo.”
“Eh tapi sampeyan ojo ngomong Mas Faiz, ngko de’e lak mesti ge-er”
Sori ya Dek Ifa, saya bocorkan. :p (¯⌣¯)♉

Selamat ulang tahun. Sudah kepala 2. Semoga makin dewasa. Islam dan dunia sudah menanti karyamu. :)

Abah.Ibu.Mbak Fida. Adek2 : Ifa, Tsuroyya, Zahid, Salma, Zuhro, Hammam, Nilna.

Ps : he is on
twitter : @afaizn
facebook : ahmad faiz nasshor
tumblr : twntyfifthapril.tumblr.com
blog : afaizn.wordpress.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.