Tags

, , ,

Image

ket : makam Imam Nawawi

“Mbak Da, kapan-kapan kalo sampeyan sudah lulus kuliah, pergi ke Syria ya buat belajar Bahasa Arab. Setahun atau dua tahun gitu. Sekalian ngafalin Qur’an juga tambah bagus. Abah punya temen disana. ” kata Abah pada suatu hari.

Aku masih kaget. Terdiam.

“Kata Om Wisnu, temen abah yang udah 2 tahun tinggal disana, Syria itu negeri yang nyaman, penduduknya ramah. Berkali-kali Om Wisnu minta abah berkunjung ke Syria, tapi belum sempat. Belum ada waktu.”

Di lain waktu..

“Mbak Da, buruan ke Syria ya. Belajar Bahasa Arab disana. Bahasa Arab yang masih murni, Bahasa Al-Qur’an. Orang-orang Syria sangat kagum sekali dengan para lulusan pesantren di Indonesia yang menguasai ilmu nahwu, sharaf, balaghah, dll. Karena mereka tau, itulah bekal, dasar untuk mengerti dan memahami isi Al-Qur’an. Mumpung Syria masih belum dihancurkan oleh Amerika. Amerika tau, kalau budaya mengaji di Syria masih sangat kental sekali. Tidak seperti di Turki. Amerika nggak mau Islam berkembang, sebentar lagi Syria pasti dihancurkan.”

Dan benar. Amerika membuat Syria bergejolak.

Apa yang diucapkan Abah, bertahun-tahun yang lalu, benar.

Namun Alhamdulillaah..Romadlon taun lalu, saya, Abah dan Ibu diberi kesempatan oleh Allah menyaksikan keindahan Syria. :) sebuah nikmat yang tak terkira, mengingat sangat jarang orang Islam yang tertarik pergi kesana, selain ke Baitullah. Lebih banyak yang berkunjung ke Singapura, Malaysia, Eropa, Amerika. Padahal di Syria,  hampir setiap jengkal tanah mempunyai cerita tentang perjuangan Islam.

Saya sudah sedikit lupa bagaimana urutan tempat bersejarah yang saya kunjungi, namun saya mencoba mengingat semuanya meski tidak berurutan. :) mohon maaf sebelumnya.

Pertama kali, saya berkunjung ke daerah Nawa. desa Nawa.

Di sana terdapat makam Imam Nawawi, yang bukunya begitu terkenal hingga ke Indonesia. Ya, beliau mengarang kitab Riyadhus Shalihin. Subhaanallah. Sungguh, saya sama sekali tidak mengira, selama di Syria, tak henti-hentinya saya bersyukur. Nama-nama ulama yang biasanya hanya bisa saya dengar, saya langsung bisa berdiri, di sebelah makam beliau dan mendoakannya. Seperti belajar sejarah, namun ini ‘live’. Siaran langsung.

Tepat diatas makam Imam Nawawi, tumbuh sebuah pohon yang sangat subur. Di batang pohon tersebut banyak ukiran-ukiran alami berlafadz Allah. Dan saya baru tahu mengapa beliau disebut Imam Nawawi, karena beliau berasal dari daerah yang bernama Nawa :)

*bersambung ke part 2

About these ads