Tags

,

Image

Selama kami di Syria, karena bertepatan dengan Bulan Romadlon, kami sholat tarawih di sebuah masjid yang agak jauh dari penginapan.Ternyata di masjid tersebut ada seorang syaikh yang setiap hari menjadi imam tarawih. Beliau hafidz Qur’an, begitu pula putranya. Dan beliau memiliki sekolah untuk menghafal Al-Qur’an.

Tidak seperti di Indonesia, di Syria ketika seseorang ingin menghafal Al-Qur’an, maka benar-benar harus ada sanad yang jelas yang bersambung sampai ke Baginda Rasul. Karena dengan seperti itulah, kemurnian Al-Qur’an dipelihara🙂 Sayangnya di Indonesia budaya seperti ini masih jarang. Kebanyakan hanya menghafal tanpa menyandarkan sanadnya.

Di Syria, seperti hal nya di Makkah dan Madinah, tidak ada masjid yang sholat tarawih+witir hanya 11 atau 23 rakaat. Setelah 8 rakaat tarawih, ada ceramah dari Syaikh. Kemudian jika ada yang mau pulang dipersilahkan. Selesai ceramah, tarawih dilanjutkan dengan imam yang berbeda, sampai 20 rakaat baru kemudian witir. Jadi kita diberi kebebasan, mau sholat 11 rakaat atau 23 rakaat. Dan itu bukan masalah yang berarti.🙂 Di Mekkah dan Madinah polanya sama, hanya tidak ada ceramah.

Di masjid tempat saya tarawih, jama’ah wanita berada dia lantai atas. Ketika Syaikh ceramah, saya bisa melihat beliau melalui televisi yang dipasang di jama’ah wanita.Wajah Syaikh begitu teduh, bersahaja. Seperti orang yang selalu berbahagia🙂

Ada lagi budaya di Syria, maupun Mekkah dan Madinah. Karena setiap kali tarawih menghabiskan satu juz Al-Qur’an, banyak jama’ah yang membawa Al-Qur’an kecil yang dibuka ketika imam membaca ayat. Kemudian ketika rukuk, sujud, dan selanjutnya, disimpan dalam saku. Dibuka lagi ketika imam membaca surat.Kadang malah ada Al-Qur’an besar yang dibuka di depan, di atas tempat semacam partitur kalau kita bermain musik. Dengan cara seperti itu kita bisa menyimak. Bukan malah melamun karena tidak hafal ayat yang dibaca oleh imam :p

Pernah suatu hari ketika Syaikh sedang ceramah, ada seorang nenek yang membagikan air zamzam.

Nenek itu tersenyum kepada saya, ramah sekali. Wajahnya bersinar. Seperti selalu basah oleh air wudhu. Saya belum pernah, melihat wajah seseorang seperti beliau. Bersih. Benar-benar bersih. Beliau menawarkan air zamzam kepada saya dengan isyarat tangannya, namun saya menolak dengan halus.Tanpa disangka, seorang jama’ah di sebelah saya, mengambil segelas air zamzam dari tangan beliau kemudian diberikan kepada saya. Baru kemudian dia mengambil untuk diminum sendiri.

Saya orang asing. Dan begitu baiknya mereka kepada orang asing🙂

Biasanya ketika selesai tarawih (yang dimulai pukul 21.00 dan berakhir pukul 24.00), kami pergi ke pasar tradisional. Dalam bayangan saya, tidak jauh berbeda dengan pasar di indonesia. Namun saya salah besar.

Pasar tradisional disana, bangunannya memang hampir mirip di Indonesia. Ada bangunan yang permanen, ada pula yang di tepi-tepi jalan seperti kaki lima. Bedanya, pasar disana bersih. Sangat bersih malah. Tidak ada sampah sedikitpun yang berceceran. Tidak ada tumpukan sampah. Tidak ada bau sampah. WOW!!!

Yang membuat saya semakin terheran-heran, buah-buahan dan sayur-sayurannya segar serta berukuran jauh lebih besar dari di Indonesia. Padahal tanah disana tidak subur, cenderung gersang dan susah ditanami. Tidak seperti di Indonesia yang jika kamu tancapkan kayu saja maka akan tumbuh dan berbuah :p

Saat itu saya mencari buah semangka, mengingat ukuran yang begitu jumbo dan kami hanya bertiga di penginapan, tidak mungkin bisa menghabiskan buah sebesar itu, maka saya berpesan agar dipilih semangka yang paling kecil.

Guess what, yang paling kecil saja beratnya 5 kilo :O

Lain halnya dengan ibu saya, beliau tertarik dengan anggur hijau yang harganya sangat murah, sekitar 8000 rupiah perkilo. Bandingkan dengan di Indonedia. Sedangkan rasanya juga jauh lebih segar.

Masih penasaran dengan Syria? ;D