Tags

,

Ketika saya terkesima dengan pasar tradisional yang begitu bersih, itu belum seberapa.

Karena sesungguhnya di Kota Damaskus memang sangat bersih. Selama saya berkeliling, saya belum pernah melihat ada sampah berserakan.Bahkan di tempat-tempat yang rawan kotor seperti dibawah jembatan penyeberangan, pun tidak saya temui adanya sampah.

Di Syria, angkutan yang paling banyak adalah taksi. Kemudian bis kota seperti trans jakarta, kemudian sepeda. Banyak pula yang berjalan kaki. Jarang ada mobil pribadi. Sehingga meskipun jalan di kota relatif sempit, tidak ada kemacetan.

Penginapan saya berada di dekat perempatan dan pemberhentian bus. Ketika jendela dibuka, langsung terlihat jalan raya.

Saat itu iseng-iseng ketika waktu maghrib tiba, saya membuka jendela.Lagi-lagi saya kagum. Tidak ada satupun kendaraan lewat. Toko-toko tutup. Benar-benar sunyi. Mungkin memang karena Bulan Romadlon, jadi mereka berbuka puasa di rumah. Tapi bandingkan dengan di Indonesia.

Saya melihat ada satu pejalan kaki yang bingung, mungkin dia mencari kendaraan. Sayangnya benar-benar sepi. Akhirnya dia berjalan kaki. Baru kemudian ketika mendekati tarawih, satu dua kendaraan mulai tampak.

Abah saya pernah bercerita, ketika selesai tarawih, beliau melihat ada penjual jagung rebus. Akhirnya mengantri untuk membeli.Tak disangka, ketika giliran orang tepat di depan Abah, orang itu membeli jagung, kemudian beli lagi untuk diberikan ke Abah.

Orang itu bertanya, “from Malaysia?”

“Indonesia”, jawab Abah.

“okay, this is for you. free” katanya sambil tersenyum.

Abah hanya takjub. begitu ramahnya mereka dalam memperlakukan tamu🙂

Malam terakhir di Syria, kami diajak melihat kota Damaskus dari atas bukit. Bukit itu adalah perbatasan Syria dengan Libanon. Damaskus benar-benar indah. Banyak gemerlap lampu.

Kemudian kami dijelaskan, kalau lampu hijau adalah lampu khusus untuk menara masjid. Di Damaskus sendiri, dengan luas yang tidak seberapa, ada sekitar 1000 masjid disana!

Diceritakan bahwa Damaskus mempunyai 4 pintu masuk kota. Dulu, dari empat pintu itulah masing-masing panglima Islam memimpin pasukannya untuk menaklukkan Kota Damaskus. Cerita itu juga terdapat dalam buku panduan Syria untuk turis.

Subhaanaallah.🙂

Saat di bandara Damaskus dalam perjalanan pulang ke Indonesia, ternyata kami berbarengan dengan para TKW yang juga pulang kampung. Mungkin ada sekitar 30 orang. Mereka ramai sekali.

Satu lagi yang saya tidak akan lupa.

Ketika paspor saya diperiksa oleh petugas imigrasi, saya ditanya “any job?”

“no.” pikir saya, saya bukan TKW. Saya kesini bukan untuk bekerja, tapi buat jalan-jalan.

Petugas itu tidak percaya, tanya lagi “any job?”

“NO!im a student. im just visiting Damaskus” jawab saya hampir emosi. Masa iya saya dikira TKW.

Akhirnya petugas itu bertanya ke temannya, baru kemudian memberi stempel di paspor saya.

Abah hanya tertawa ketika saya bercerita tentang peristiwa itu.

Sampai jumpa Syria. Semoga kelak saya dapat kembali kesana. :’)

0102.2012 10.28