Takdir.

Karena takdir lah, maka saya kuliah di sini. Di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Mengapa saya menyebut itu takdir? Perjalanan saya berliku🙂

Ketika SMA kelas 3, saya dan banyak teman bingung ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Jurusan apa? Kemana?

Atas saran Abah dan melihat nilai raport saya, maka saya memilih jurusan pendidikan dokter. Universitas yang saya idam-idamkan saat itu adalah Universitas Gadjah Mada (UGM)  dan Universitas Brawijaya (UB). Banyak guru yang menyarankan agar saya ke Universitas Indonesia (UI), tapi entah kenapa saya tidak tertarik.

Saya sudah jatuh cinta dengan Jogja. Dengan suasananya. Begitu pula dengan Malang. Sangat nyaman untuk belajar dan menghabiskan masa muda😀

Perjalanan pun dimulai. Pertama-tama, saya ditawari untuk PMDK prestasi UI. Awalnya saya terima, tapi akhirnya saya tolak. Karena kemungkinan diterimanya kecil, harus bersaing pula dengan teman satu sekolah, dan sebagai konsekuensi, nantinya saya tidak bisa mengikuti PMDK prestasi UB.

Kemudian datanglah Ujian Tulis (UTUL) UGM. Kuota yang diterima sangat besar jika dibandingkan dengan SNMPTN, serta biaya masuk lebih murah dibandingkan jalur lain. Meski soal-soal yang diujikan tingkat dewa, jauh diatas soal SNMPTN apalagi UN. Saya mengikuti UTUL. Kesalahan saya, saya tidak siap. Tidak menguasai soal-soal yang diujikan.

Sambil menunggu pengumuman UTUL UGM, datang informasi mengenai PMDK prestasi UB.

Saya galau. Bukannya saya mau sombong, tapi dengan nilai raport saya, kemungkinan untuk diterima di UB adalah 95%, mengingat taun sebelumnya, ada kakak kelas yang rata-rata nilainya dibawah saya, bisa diterima PMDK UB. Tapi jika saya mengikuti PMDK UB dan diterima, saya harus kuliah disana. Jika dibatalkan, akan membuat record yang buruk bagi sekolah dan merugikan adik kelas yang akan PMDK ke UB. Padahal saya masih berharap untuk diterima di UGM sedangkan hasil UTUL UGM belum ada. Pada akhirnya, Bismillaah. Saya mendaftar PMDK UB. Sudah terbayang di benak saya indahnya kuliah di Malang🙂

Allah berkehendak lain. Saya tidak diterima di UB. Saya kaget. Orang tua kaget. Guru-guru kaget. Teman-teman kaget. Semua kaget. Tapi itulah hasilnya. Saya kembali berdoa agar diterima di UGM.

Ternyata ada kejutan. Pada angkatan saya, UI mengadakan tes sebelum SNMPTN. Namanya Ujian Masuk Bersama (UMB). Padahal sebelumnya, mahasiswa UI terkenal pejuang SPMB (nama sebelum SNMPTN). Karena belum diterima di universitas manapun, saya ikut tes. UI bersama 4 universitas lainnya (UIN Syarif Hidayatullah, UNJ, Unhas dan USU) yang mengadakan UMB ini. Pilihan pertama pendidikan dokter UI, pilihan kedua pendidikan dokter UIN.

Soal-soal UMB ini tingkat kesulitannya setara dengan SNMPTN, jadi saya cukup percaya diri ketika mengerjakan. Salah saya, saya berpatokan kepada passing grade taun lalu yang itu adalah passing grade SPMB. Dimana SPMB adalah jalur terakhir. Sehingga tidak ada yang berani mencoba-coba. Namun UMB bukanlah jalur terakhir. Masih ada SNMPTN, jadi banyak yang mencoba-coba.

Di hari kedua UMB, hasil UTUL keluar. Saya tidak diterima.🙂

Sampai saat wisuda SMA, saya belum juga mendapatkan universitas. Wisuda SMA bertepatan dengan pengumuman hasil UMB. Saya kembali berharap agar bisa diterima di UI. Takdir Allah berkata lain. Saya diterima di pilihan kedua, pendidikan dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Karena saya tidak berminat di UIN, dan masih ada jalur SNMPTN, maka tidak saya ambil. Meski Abah saya sempat galau, meminta saya ambil UIN sambil ikut SNMPTN buat jaga-jaga karena takut nggak ketrima. Tapi atas saran teman Abah juga, UIN akhirnya saya lepas. Saya mantap SNMPTN.

Nah. Ketika SMA, saya berjanji. Kalau sampai saya harus ikut SNMPTN (tidak diterima di jalur mandiri atau PMDK prestasi), maka apapun yang terjadi saya harus kuliah di Malang. Akhirnya untuk SNMPTN, pilihan pertama pendidikan dokter UB, kedua planologi UB. Mengapa planologi? Saya ingin masuk teknik tapi tidak bisa menggambar dan malas berkutat dengan fisika.😀 Dan memang saya tertarik juga dengan tata kota.

Namun saat saya berkonsultasi dengan Abah, Abah berpendapat lain. Beliau tidak setuju jika saya memilih planologi. Dengan alasan, nanti kalau saya kuliah planologi, pasti kuliahnya asal-asalan –” Beliau menyarankan agar pilihan pertama pendidikan dokter Universitas Airlangga (Unair), kedua pendidikan dokter UB. Saya menuruti saran Abah, dengan asumsi ‘ah nggak mungkin saya ketrima di Unair’.

Sesungguhnya saya sangat tidak suka Unair. Mengapa? Alasan pertama, karena kedua orang tua saya alumni Unair. Saya tidak suka sekali ketika harus dibanding-bandingkan. Karena dunia kami sudah berbeda. Kedua, karena saya benci Surabaya. Panas, gerah, sumpek. Ah. Jauh berbeda dengan Malang.

Saya menjalani tes SNMPTN dengan agak setengah hati. Campuran antara sudah-bosen-belajar-tapi-nggak-ketrima-juga dan saya-pasti-ketrima-di-UB (pede amat yak). Yang saya tidak tahu, kedua orang tua saya cukup gelisah. Terutama Ibu saya sehingga beliau sampai berpuasa, bernadzar, serta meminta doa dari kerabat saya.

Saya salah. Saya tidak diterima di UB. Tapi di Unair. Saya coba memasukkan nomer peserta SNMPTN sampai 3x, berharap Unair berubah jadi UB. Tetap sama.

“Selamat. Anda diterima di Pendidikan Dokter Universitas Airlangga” Alhamdulillaah (meski belum ikhlas). Akhirnya saya dapet tempat kuliah juga. Pasti itu karena doa orang-orang yang menyayangi saya, karena ketika SNMPTN, saya setengah hati.

Saya benar-benar blank. Buta Surabaya dan sibuk menenangkan hati. Saya masih belum berdamai dengan hati saya. Saya mencari, mencari dan mencari alasan.

Mengapa Allah menempatkan saya di Unair? Mengapa menurut Allah, Unair adalah tempat terbaik untuk saya? Sampai sekarang, saya belum menemukan jawabannya. Meski saya sudah bisa sedikit berdamai dengan hati saya, bahwa memang harus kuliah di Surabaya. Semoga saya segera menemukan alasan takdir saya. :’)

0602.2012 18.45