Tags

, ,

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.  Demikianlah sumpah Allah atas nama waktu. Waktu, yang kita sendiri tidak tahu, berapa banyak waktu yang Allah berikan untuk kita hidup di dunia ini.

Setelah periode yang lalu saya stase koass di Departemen Kulit-Kelamin, selama satu bulan ini kelompok saya berkesempatan untuk stase di Departemen Forensik dan Medikolegal. Stase yang melenakan, begitu kata kakak kelas. Karena cukup nganggur meski banyak tugas.

Di stase ini saya belajar berinteraksi dengan koass dari universitas lain karena kebetulan di rumah sakit mereka tidak ada departemen forensik. Cukup ada masalah kecil terkait pemilihan komisaris besar yang tidak transparan dan tiba-tiba langsung tunjuk atau masalah giliran jaga saat weekend. Namun semua itu tidak menambah semangat saya untuk merenung, “Kira-kira apa yang bisa saya peroleh setelah saya keluar dari forensik?”

Di stase ini pula saya merasa benar-benar diuji untuk membagi waktu dengan baik. Banyak tugas yang mestinya harus selesai selama 28 hari berada disana. Kenyataannya pada tujuh hari pertama saya hampir tidak melakukan apa-apa. Hanya mengerjakan laporan pemeriksaan luar serta mulai mengerjakan tugas ilmiah. Sedangkan tujuh hari terakhir menjadi sangat sibuk. Banyak sekali hal yang harus diselesaikan sambil mempersiapkan untuk ujian meski akhirnya ada satu tugas kelompok yang harus ‘ngutang’ karena tidak ada waktu lagi. Saya belajar apa itu prioritas. Apa yang bisa dikerjakan terlebih dahulu sehingga nantinya ketika memperoleh tugas baru, tugas yang lain sudah terselesaikan.

Selain berkaitan dengan jenazah, stase ini juga mengajarkan kepada kami para calon dokter tentang bagaimana menjalankan profesi sesuai aturan hukum di Indonesia. Mengingat saat ini banyak laporan dari masyarakat terkait dugaan malpraktik dan dokter menjadi ladang subur bagi oknum yang ingin memperoleh uang dengan mencari-cari kesalahan dokter untuk dituntut di pengadilan.

Sejujurnya saya kurang tertarik untuk menjadi spesialis forensik. Namun bidang ini cocok bagi dokter yang tidak ingin hidupnya melulu dikelilingi orang yang sakit. Juga bagi dokter yang ingin membantu orang lain terkait bidang hukum, menyukai hal-hal berbau analisis untuk mencari sebab kematian seseorang.

Sebelum masuk forensik saya tidak pernah melihat jenazah fresh, dalam artian baru saja meninggal. Ketika semester 2 saya pernah melihat cadaver, yaitu jenazah yang sudah diawetkan dengan formalin yang digunakan untuk praktikum anatomi. Warna cadaver jauh lebih gelap, penampakannya sudah jauh berbeda dengan manusia yang masih hidup. Hari pertama saat saya melihat morning report kelompok yang melakukan otopsi luar, saya takut. Jenazah yang mereka periksa sangat mirip dengan manusia yang masih hidup. Namun dia sudah meninggal, nyawanya sudah dicabut. Dia seakan-akan tidur, tapi tidak akan pernah bangun kembali. Saya takut. Bagaimana nanti jika saya meninggal dunia? Apakah saya sudah siap mempertanggungjawabkan segala perbuatan saya? Apakah amal saya sudah cukup untuk bekal di akhirat nanti? Sungguh, saya benar-benar ketakutan. Saya berusaha menenangkan diri, memberanikan diri melihat setiap kali ada jenazah yang datang untuk diperiksa. Saya bertekad sebelum giliran kelompok saya yang bertugas memeriksa, saya harus sudah mengatasi rasa takut yang saya alami.

Jenazah pertama yang saya lihat adalah seorang bayi yang baru saja lahir, yang dibuang, kemudian ditemukan dalam keadaan yang sudah membusuk. Innalillaahiwainnailaihiraaji’uun. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, hal-hal yang sudah sering saya baca di koran maupun media lain. Seorang anak yang tak berdosa, yang diterlantarkan akibat kesalahan orang tuanya. Saat itu saya menganggap kasus tersebut merupakan kasus yang jarang terjadi. Namun alangkah terkejutnya saya saat membaca buku laporan otopsi, hampir setiap bulan ditemukan bayi baru lahir meninggal dunia akibat tidak dikehendaki orang tuanya. Sungguh sangat menyayat hati.

Pada saat kelompok saya berkesempatan untuk melakukan pemeriksaan jenazah, saya tidak berani menyentuhnya. Hanya melihat serta menulis hal-hal yang diperlukan seraya tak henti-hentinya menenangkan diri. Hari itu juga saya diuji. Datang jenazah anak kecil akibat kecelakaan lalu lintas yang mengenai kepalanya hingga hancur. Ya Allah. Sungguh, mungkin jika tidak ada residen forensik yang membantu, saya tidak dapat melakukan apa-apa akibat shock mental yang saya rasakan. Saya amat sadar bahwa sesungguhnya manusia begitu rapuh, begitu lemah. Lalu bagaimana mungkin mereka masih bisa menyombongkan diri di atas bumi Allah ini? Seakan-akan mereka akan hidup selamanya.

Sejak saat itu hampir setiap hari saya melihat korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Hal yang membuat saya merasa sedikit ‘parno’ karena saya juga seorang pengendara sepeda motor. Tak jarang datang keluarga korban yang menangis tersedu-sedu karena tidak mengira orang yang dicintai meninggal dunia. Akan tetapi, siapa yang bisa mengira datangnya mati? Seringkali mereka mengucap kata penyesalan. Yang membuat saya merenung,

“Saya tidak ingin meninggalkan penyesalan apapun ketika meninggal nanti. Saya ingin meninggalkan orang-orang yang saya cintai dengan rasa kerelaan dan saya ingin mereka merasakan hal yang sama saat waktu saya telah habis.”

Forensik banyak membuat saya berpikir tentang kematian, mengingatkan saya bahwa hidup tidaklah abadi. Waktu yang diberikan Allah semakin sedikit, sedang kekekalan akhirat semakin mendekat. Siapkah diri ini saat Allah memanggil nanti?