Tags

, , , , ,

“Mbak Da, di masa yang akan datang, dokter spesialis kandungan itu harus jadi milik wanita. Karena itu aurat.” kata Abah pada suatu hari.

“Mbak Da, sampeyan jadi spesialis kandungan aja lho, biar aku kalo periksa nggak jauh-jauh.” kata Mbak Osi yang sedang hamil.

“Fida, kamu nanti ambil spesialis kandungan saja, kan di Bojonegoro belum ada,,” kata guru MI saya.

 

Saya setuju dengan Abah. Obsgyn (spesialis kebidanan dan kandungan) harus menjadi milik wanita. Meskipun teknologi sudah semakin canggih, sudah ada USG dan segala macam namun tidak akan bisa menggantikan VT. Tentang saya yang akan sekolah lagi spesialis kandungan? Hehehe. J

Jujur, awalnya saya kurang tertarik dengan obsgyn. Tidak tertarik malah. Biasa-biasa saja. Waktu clerkship juga sekedar paham. Saya tidak tahu apa rencana Allah. Delapan minggu masa koass saya di obgsyn telah mengubah mindset saya hingga menjadikan obsgyn sebagai materi yang saya minati nomor wahid.

Mengapa saya tidak tertarik dengan obsgyn? Pertama, saya kurang cekatan apabila menghadapi situasi gawat darurat. Saya masih belum bisa menenangkan diri sehingga yang saya bayangkan ketika sekolah spesialis obsgyn adalah setiap hari harus gupuh dan menyusahkan semua orang. Kedua. Seumur hidup saya belum pernah melihat darah berceceran yang keluar dari tubuh manusia dalam jumlah yang banyak. Tidak mungkin obgsyn tidak berdarah-darah. Obsgyn is bloody business, dear. Ini adalah ketakutan kedua saya saat masuk kedokteran. Yang pertama adalah melihat mayat dalam keadaan fresh (baca Catatan Dokter Muda : Forensik).

Stase obsgyn pertama adalah kamar darurat ginekologi (kandungan). Tempat pasien dengan keluhan tumor, hamil anggur, hamil diluar kandungan, aborsi, dan lain-lain yang bukan kasus kehamilan. Sejak saat itulah saya menyadari bahwa obsgyn is super awesome. Dengan diagnosis banding yang tidak terlalu banyak dan klinis yang secara teori dapat dibedakan plus langsung dipraktekkan, bagi saya ini adalah sesuatu yang mengasyikkan. Menemukan hal-hal yang tertulis di buku, merangkum dan menganalisis sehingga mengarah kepada sebuah kesimpulan. Saya seperti menemukan mainan baru. Walaupun saya paham benar bahwa tidak semudah itu menegakkan diagnosis, malah seringkali gejalanya tidak khas, namun bagi saya tetap menarik. That kind of feeling when you can use your knowledge to help patients. :’)

Yang paling seru tentunya ketika jaga VK (ruang bersalin). Ibu hamil yang akan melahirkan baik normal maupun dengan segala penyakitnya, akan diikuti perjalanan selama proses menuju persalinan. Apakah berjalan lancar atau terdapat komplikasi sehingga mengubah diagnosis dan tindakan dalam sekejap.

Bagaimana bisa nggak betah di obsgyn? PPDS yang super ramah, diajak nonton meski akhirnya batal, saat jaga VK diberi pizza, bebas bertanya apapun dan mereka akan langsung menjawabnya. Perawat dan dosen-dosen yang baik, menyempatkan waktu untuk mengajar kami di sela  kesibukannya. Suasana belajar yang kondusif, bisa belajar banyak kasus. I loooveee obsgyn!😀

                Yang tidak disukai dari obgsyn, operasi yang memakan waktu lama. Bekas operasi section Caesar (SC) yang terinfeksi misalnya. Padahal saya baru berdiri satu jam saja sudah kliyengan apalagi delapan jam -,- terima kasih. Lebih baik saya tidur di rumah. Hahahaa.

Alhamdulillah di obsgyn sempat menolong persalinan sampai 5 kali, itupun dibawah bimbingan. Masih jauh untuk menjadi penolong persalinan yang terampil. Akan tetapi saya bersyukur sekali, nggak cuma partus pandang. :p  Saking percaya diri karena sudah pernah menolong persalinan, saya menawarkan diri untuk memeriksa mbak kos yang sedang hamil serta beminat menolong persalinan. Eh ditolak mentah-mentah. Segitu nggak percayanyakah? Huaaaaaa.

Saat stase obsgyn ini ada satu PPDS yang bertugas membimbing tiga koass. PPDS pembimbing saya adalah dr. Amik Yuliati. Saya sangat berterima kasih kepada beliau atas kemurahan hatinya karena telah membantu saya dan teman-teman saya dalam memahami banyak sekali materi obsgyn. Tanpa beliau, mungkin kami seperti anak yang tersesat. Terima kasih banyak atas pencerahannya, Dok. Semoga lancar PPDS nya sampai lulus spesialis. Aamiin. J

Yang saya peroleh selama di obgsyn, menurut pengakuan ibu-ibu yang sudah pernah merasakan melahirkan dengan cara normal maupun SC, mereka mengaku bahwa jauh lebih enak melahirkan dengan cara normal. Meski awalnya sakit, namun proses penyembuhannya sangat cepat. Berbeda halnya dengan SC yang mungkin sepintas tidak terasa, akan tetapi penyembuhannya memakan waktu yang lebih lama. Juga bagi para wanita agar melakukan pap smear rutin mulai 2 tahun sejak menikah atau seksual active. Kasus kanker serviks itu banyak. Banyak sekali. Padahal bisa di deteksi dini dengan pap smear. Maka, pap smearlah. Untuk para lelaki, jika sayang istri, ingatkan untuk pap smear.

Saya akan menjawab pertanyaan di awal tulisan. Tentang saya yang akan sekolah lagi spesialis kandungan? Tidak J. Sampai saat ini jawaban saya masih tidak. Saya yakin saya bisa sekolah spesialis kandungan. Akan tetapi  bukan itu tujuan hidup saya. Saya tidak ingin mengorbankan keluarga, suami dan anak-anak nantinya, untuk ego saya. Meski dengan alas an aurat, karir sebagai spesialis kandungan tetaplah menggoda.  Saya percaya, diluar sana masih banyak wanita dengan niat lurus yang bisa menjadi spesialis kandungan. Saya akan menaruh hormat saya setinggi-tingginya kepada mereka.

Cita-cita saya adalah menjadi ibu rumah tangga. Bagaimanapun nanti takdir Allah, kalaupun saya nggak jadi dokter spesialis kandungan, saya pasti jadi ibu rumah tangga yang hebat. Ga kalah keren tentunya. =D