Tags

, ,

Meanwhile in neurology | Apa tujuan kalian selama 4 minggu disini? | emm.bisa mendiagnosis penyakit saraf serta memberikan terapi | serius? Bukan pengen lulus ujian? | *ngakak bersama* | apa tujuan jangka panjang kalian jadi dokter? Buat nolong orang? Bukannya buat cari duit banyak? | *ngakak makin kenceng*

Yah. Paling nggak, ada yang bikin kami berenam bisa tertawa setelah masuk stase saraf. Akhirnya, stase yang ditunggu-tunggu datang juga. Puncak dari semua stase.
Why? Karena di stase ini, kami hanya berenam. Ya, berenam. Empat di ruangan, dua di poli saraf. Ngurusin pasien di ruangan saraf yang jumlahnya sekitar 70 orang, satu koas bisa meriksa 15-20 pasien tiap pagi. Belum di poli saraf, nensi semua pasien yang datang berkunjung. Sehari bisa sampai 150 pasien. Noodle what?

Oke. Itu baru stase. Gimana jaga nya? Satu di ugd, satu di ruangan. Dengan sekali jaga keluar 2 orang, seminggu jaga 3x untuk masing-masing anak. Kalau nggak ada tanggal merah atau cuti bersama. Kalau ada yaa nambah lagi jaga nya. Hahaha😀

Tugas jaga ugd, bantu ppds melayani pasien yang datang. Dan karena semua pasien yang datang hampir selalu adalah stroke, urutan pemeriksaan adalah :
1.anamnesa
2.pemeriksaan fisik
3.pasang infuse, cek lab
4.thorax xray
5.ct scan kepala
6.ekg
Semua itu harus dikerjakan untuk pasien dengan dugaan stroke. Lalalalaaa

Tugas jaga ruangan, observasi pasien titipan. Dengan rata-rata ada 30 pasien yang harus di observasi tiap 3 jam sekali, 6 jam sekali, atau bahkan tiap jam kalau kondisinya tidak stabil, sekali observasi itu bisa menghabiskan waktu 3 jam sendiri. Mau langsung observasi lagi? *wink*
Belum lagi perkara seperti, Dok infusnya habis. Dok infusnya macet. Ternyata tensinya tinggi, obat darah tinggi habis dan harus ngoplos dulu. Dok minta di suction. Dok pasiennya kejang. Dan kadang-kadang ambil darah dewe, karena di ruangan saraf memang pendamping dokter terkenal agak ribet. Maunya nyuntik obat thok. Kata teman saya, magabut -,-.
Besok harinya setelah jaga, kalo ada kuliah pasti kena absence seizure. Nggak tau dosennya ngomong apa, tiba-tiba aja udah selesai. :p

Untuk ilmu neurology nya, ada si tentiran dengan ppds. Lumayan lah. Masih ada diskusi dan kuliah mini juga dengan para staf. Tapi ya kurang efektif. Terutama untuk yang post jaga. Coass should be learning, not working.

Iri banget-banget waktu ada teman koas saraf di RSSA Malang yang cerita kalau stase saraf nya bagai surga. Di tentiri sama ppds lewat bbm, di poli saraf 80 persen buat belajar, 10 persen istirahat, 10 persen di traktir makan ppds. Rasanya pengen pindah ke Malang aja. Щ(ºДºщ)

Saya paling lemah tentang saraf. Menghafal tentang otak, serabut saraf. Oh no. Meski banyak ilmunya, belum tau strategi bagaimana caranya  menyerap ilmu dengan ritme kerja dan suasana belajar seperti ini. Bawaannya pengen cepet selesai aja. Menghitung hari. Menguatkan diri biar nggak mutung di tengah jalan.

This 28 days of neurology feels suffocating with only six coass. But if i can’t survive this, how could i survive to become your wife? Because it takes longer. It takes forever. Ihirrr. Hahaha. Kata-kata inilah yang membuat saya sebisa mungkin bertahan, nggak nangis, nggak mutung di saraf.

Satu lagi cerita lucu. Untuk menilai kesadaran seseorang, salah satunya harus diperiksa fungsi bicaranya. Dikatakan baik penuh kalau bisa berbicara dengan orientasi yang baik terhadap orang, tempat dan waktu.
Orang paling mudah dikenal. Tempat agak susah. Waktu, lebih susah lagi. Makanya, seorang ppds berkata. Kalau kamu punya pacar, janjian di galaxy mall jam 10. Tapi pacarmu baru datang jam 12. Kamu pasti bisa menoleransi. Tapi kalau kalian janjian di galaxy mall trus pacarmu malah ke tunjungan plaza, kamu pasti mulai merasa aneh. Apalagi kalau seharusnya pacarmu janjian sama kamu, eh malah pergi sama orang lain. Kamu pasti marah-marah kan. Masak iya dia lupa janjian sama kamu.

Hahahahaha. Rasa-rasanya setelah stase saraf harus periksa kejiwaan. Saraf telah mengubah fungsi kesadaran saya😄

 

To be continued…

Ps : tulisan ini dibuat minggu pertama saat berada di neurology