Tags

, ,

Jam menunjukkan pukul 15.00, waktunya untuk pulang stase anestesi. Tiba-tiba datanglah seorang anak perempuan usia 2 tahun ke ruang resusitasi dalam keadaan sesak dan biru. Dia menderita kelainan jantung. Satu jam diberi oksigen dan terapi lainnya namun keadaannya tidak membaik. Pukul 16.00 jantungnya berhenti. Dilakukan pijat jantung namun dia tak kembali. Setengah jam kemudian dia meninggal dunia, di hadapan saya.

Do you remember that im afraid of two things when i enter this medical school? Fresh dead people and bloody patient. Now I am facing it.

Yang pertama kali terlintas saat mendengar kata anestesi itu…stress. Bagaimana tidak? Setiap hari harus berhadapan dengan kegawatan. Deg-degan terus. Nggak  tenang. Dan ppds anestesi itu manusia paling ajaib. Kok ya mau setiap hari nggak tenang. :p Oh, by the way. Untuk kasus emergency di RSUD Soetomo yang bertanggung jawab adalah bagian anestesi dan reanimasi.

Namanya UGD, pasien yang datang pasti gawat. Yang membuat dia tidak mau menunggu hari esok untuk datang ke poliklinik. Diantara pasien gawat itu, yang paling gawat masuk ruang resusitasi untuk distabilkan. Seperti pasien yang bermasalah dengan jalan napas, pernapasan maupun sirkulasi darahnya. Baik karena penyakit yang diderita maupun kecelakaan. Di ruang resusitasi tidak semenegangkan yang saya kira. Malah cenderung, seru. Tidak pernah tau akan ada kejutan apa, perawatnya hampir semua rame, gerak cepat dan gokil,  ppdsnya juga selalu mau menjawab saat kita bertanya. Di resusitasi melihat dan diajari penanganan berbagai macam kasus kegawatan, memegang bag valve mask dan memberi napas buatan maupun bantuan, sampai memasang pipa endotracheal. Suka!

Anestesi juga menangani ruangan observasi intensif atau biasa disebut ICU. Saya masih ingat sekali perasaan saat masuk ruangan tersebut sebelum stase anestesi. Sama sekali tidak nyaman. Melihat pasien tergeletak di bed tidak sadar, ada yang terbalut perban, memakai alat bantu napas (ventilator) dan monitor. Mendengar monitor yang terus-terusan berbunyi. Sama sekali bukan pemandangan yang menyenangkan. This isn’t my place. Bisik saya dalam hati.   Alhamdulillah, entah apa yang membuat saya nyaman. Akan tetapi pada akhirnya saya merasa baik-baik saja ketika masuk ruangan itu. Saya bisa menimba ilmu dan berkerja dengan lancar!

Kemudian sampailah saya pada tugas umumnya anestesi. Yap. Membius orang. Membuat orang yang sadar penuh menjadi tidak sadar dan harus mengembalikan kesadaran itu saat operasi sudah selesai. Ini berlaku pada kasus tidak gawat tentunya. Salah seorang staf berkata, bahwa membius itu seperti mengendarai pesawat. Masa-masa krusial ada pada saat take off dan landing. Begitu pula anestesi, masa kritis asalah saat induksi dan recovery. Induksi yang tidak tepat bisa mengakibatkan pasien ‘bablas’ atau masih merasa kesakitan. Saat recovery, akan selalu ada kemungkinan pasien itu tidak bangun kembali. Serem? Bangeeett. Belum lagi selama operasi, mata dan semua indera tidak boleh lepas dari memonitor pasien. Iya kalau operasinya sebentar. Kalau 12 jam? 20 jam? Mari buka tenda saja. Hehehee

Yang paling bikin iri dari stase anestesi adalah kamar koasnya yang termewah. Dengan AC dan spring bed serta karpet, rasanya pengen pindah kamar kos.😄 Cuma kurang toliletnya aja. Masih harus naik-naik ke puncak lantai 4 kalau mau sholat atau ke kamar mandi.

Yang paling saya ingat dari anestesi ketika saya jaga OK UGD. Saat itu menjelang tengah malam, datang pasien dengan perdarahan profus dari leher kirinya akibar terkena pecahan kaca mobil yang harus dihentikan segera. Seketika OK heboh. Entah berapa orang yang berada di ruangan operasi. Dengan pernapasan dipompa manual oleh ppds anestesi, dokter bedah siap melakukan operasi, perawat serta dokter lain memasukkan obat dan mengusahakan jalur infus lain untuk memasukkan cairan dan tranfusi, operasi dilaksanakan. Alhamdulillah pasien itu selamat. :’)

Juga yang saya ceritakan di awal. Setelah anak tersebut meninggal, saya segera keluar dari ruangan resusitasin untuk menyendiri. Seketika tumpahlah air mata saya. Baru pertama kali itu saya menangis karena merasa tidak bisa menyelamatkan pasien. Saya sampai harus menelpon ibu untuk menenangkan diri. Bagaimanapun bila kita sudah berusaha optimal, Allah lah yang menentukan. Maka kita harus ikhlas apapun jalan yang digariskanNya.

Salah seorang staf pernah mengatakan hal ini diawal kuliah, “Belajarlah yang benar selama di anestesi. Mumpung kamu bebas menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Terutama di ruangan resusitasi. Jangan sampai suatu hari kamu mengantarkan orang yang kamu sayangi ke ruangan itu karena kamu tidak bisa memberikan penanganan awal yang tepat.” I can’t imagine that. Saya tidak mau itu terjadi. Meskipun hanya di bayangan saya. Naudzubillaahi min dzaalik.

Ketika ujian, dosen penguji bertanya kepada saya, “Apa yang kamu peroleh selama di anestesi?” saya tidak menjawab mengenai diagnosis maupun terapi. Jawaban saya simpel, “Saya merasa lebih tenang, Dok jika menghadapi pasien gawat. Menjadi  paham apa yang harus dilakukan”. Terbukti, stase anestesi merupakan bekal yang sangat berarti ketika saya memasuki stase berikutnya, departemen saraf.😀

Nah. Mengapa saya memberi judul the true warrior untuk anestesi? Menurut pandangan pribadi saya, seorang dokter anestesi merupakan garis depan di bidang kegawatan. Mereka sudah terbiasa menghadapi kegawatan yang mereka buat sendiri di ruang operasi. Jadi mereka dibiasakan juga mengahadapi kegawatan yang tidak mereka buat sendiri. Prajurit sebenarnya, yang menolong pasien dari kematian yang “belum waktunya”.

So far, anestesi adalah stase paling menarik kedua setelah obsgyn. Hihii