Tags

, , , , ,

Siapa sih yang nggak pengen traveling? Nggak cuma keliling Indonesia tapi juga keliling dunia. Buat saya rasanya sulit sekali. Harus ijin dulu ke orang tua dan harus ada saudara yang menemani. Nggak boleh jalan-jalan sendirian. Kalaupun boleh, pasti ditelpon terus. Alhamdulillah masih sering jalan-jalan sama keluarga. Jadi masih bisa traveling juga. Beberapa kawan saya terutama yang wanita berpendapat, “Ayo jalan-jalan mumpung belum nikah. Ntar kalo udah nikah ga bebas lagi”. Bagi saya justru sebaliknya. Dengan menikah ada suami yang menemani. Justru bebas mau kemana aja asal suaminya mau digeret kesana😄.

 

Liburan ini saya dan keluarga diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi Kuala Lumpur KL), Malaysia. Mengapa KL? Ada beberapa alasan yang diajukan oleh abah saya. Pertama, dekat dengan Indonesia. Dari segi cuaca, makanan, kultur tidak jauh berbeda. Masjid masih banyak ditemui. Masih satu rumpun Melayu. Kedua, meski dekat sekali dengan Indonesia, KL jauh lebih teratur. Dari segi bangunan, lalu lintas, tata kota, dsb. Ayah ingin memperlihatkan kepada kami tentang Malaysia. Dengan pemerintahan muslim, sama seperti Indonesia, namun kondisinya berbeda. Alasan ketiga, meski dekat dengan Indonesia, di KL banyak pendatang yang memberi nuansa “luar negeri”. Dari India, Cina, Timur Tengah, dll.

 

Kami sekeluarga, sebelas orang ditambah satu lagi mbak yang bantu jagain adek-adek. Berangkat tanggal 31 Desember menggunakan pesawat terbang Surabaya-Kuala Lumpur. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Sampai di Kuala Lumpur, kami mendarat di KLIA-LCCT. Saya terkaget kaget. Bandaranya kok kaya gini? Maaf, tapi ini sih kaya gudang, bukan bandara. Menurut penjelasan adek saya yang lebih dulu berkunjung kesana, memang begitulah LCCT. Berbeda dengan KLIA, disesuaikan dengan jenis maskapai yang digunakan.

 

Trip ke KL ini sepenuhnya direncanakan oleh abah. Baik tentang tujuan wisata, penginapan, transportasi, makanan, dsb. Jadi tidak bisa dikategorikan sebagai low budget. Dan karena kami ber-dua belas otomatis transport yang paling memungkinkan ialah dengan menyewa mobil sekaligus driver. Kami menginap di apartemen dengan 3 buah kamar, ruang tengah, dapur dan dua kamar mandi. Fasilitas lainnya yaitu parkir di garasi apartemen, televisi, sofa, setrika, meja makan, penjemur pakaian, kasur, karpet dan lemari. Intinya sih selayaknya rumah yang biasa dihuni keluarga. Sebenarnya disediakan mesin cuci juga namun kami tidak tahu cara mengoperasikannya.

 

Rata-rata masyarakat di KL menghuni apartemen. Meski tidak begitu eksklusif layaknya apartemen di Indonesia namun nyaman untuk ditinggali. Harganya memang lebih murah jika dibandingkan dengan membeli rumah satuan. Dengan sistem seperti itu akan sangat menghemat lahan. Sebuah apartemen dengan luas yang tidak seberapa kemudian disusun ke atas, bisa menampung ratusan keluarga. Bayangkan jika mereka menghuni rumah pribadi seperti di Indonesia. Berapa banyak lahan yang dihabiskan untuk hunian. Apartemen dijaga oleh security 24 jam sehingga keamanannya terjamin. Di lantai dasar hanya ada garasi dan security. Lalu ada lahan untuk tempat bermain anak, tempat pembuangan sampah khusus, juga ada ruang pertemuan yang bisa disewa jika ingin mengadakan acara bersama keluarga atau tetangga semisal pengajian. Kami menginap di apartemen daerah Gombak dengan biaya 180 RM per malam atau sekitar Rp 684.000 dengan kapasitas 12 orang. Murah sekali bukan? Biaya membengkak di sewa mobil. Selama 5 hari menyewa 2 mobil sekaligus driver merangkap guide, sudah temasuk biaya bensin. Total yang harus dikeluarkan 2860 RM atau sekitar Rp 10.868.000.

 Image

-apartemen Pangsapuri Harmoni, Gombak-

Image

-ruangan di dalam apartemen-

Tujuan wisata pertama kami adalah kompleks pemerintahan di Putrajaya. Kami berhenti sejenak di Putrajaya International Convention Center. Banyak terlihat keturunan India disana, sepertinya mereka mengadakan perayaan mengingat hari itu tepat akhir tahun 31 Desember 2013. Aura luar negerinya sudah mulai terasa😀 Pemandangan dari PICC sangat menakjubkan. Jalan raya yang lebar dan lengang. Bangunan serta tata kota yang indah dan teratur benar-benar memanjakan mata. Sangat berbeda dengan apa yang sehari-hari saya lihat di Indonesia.

Image

 -pemandangan dari PICC-

Tujuan kedua yaitu Masjid Putra, Putrajaya. Masjid di tengah kompleks pemerintahan yang menjadi tujuan wisata berbagai turis asing. Seperti halnya di masjid wisata lainnya, siapapun yang tidahk menutup aurat baik laki-laki maupun perempuan akan diminta mengenakan jubah yang disediakan gratis bagi para wisatawan. Yang menarik perhatian saya yaitu adanya rak berisi botol air minum kemasan yang dijual dengan harga 1 RM saja. Sekaligus beramal, begitu tulisan yang tertera. Tidak ada penjaga, hanya disediakan tempat meletakkan uang. Kalau di Indonesia habis minumnya, habis uangnya juga mungkin ya? Astaghfirullaah. Semoga tidak demikian. Disana juga tersedia berbagai brosur serta poster yang bisa dibaca bagi siapapun yang ingin mengenal Islam lebih dalam. Ada guide laki-laki dan perempuan yang bisa memandu bercerita tentang Masjid Putrajaya, namun saya kurang tahu apakah gratis atau ada biaya jasa.

 Image

-Turis asing mengenakan jubah di Masjid Putra, Putrajaya- 

Image

-Salah satu rak di Masjid yang menjual botol minum kemasan-

Setelah sholat dzuhur kami beranjak di foodcourt dekat masjid untuk makan siang. Jalan menuju foodcourt harus menuruni eskalator terlebih dahulu karena memang letaknya dibawah. Terdapat bermacam-macam makanan, seperti foodcourt di Indonesia. Kami membeli makan di counter yang menjual makanan khas Malaysia seperti nasi lemak, ketam (kepiting), udang/lobster, nasi briyani, kari dan lain-lain. Saya memutuskan membeli nasi briyani dengan lauk daging bumbu serta es tiga layer (seperti teh tarik tapi ada gula aren). Es tiga layernya sangat memanjakan lidah dan menghilangkan dahaga. Sampai nambah lagi. Hehe. Pemandangan diluar foodcourt sangat luar biasa. Terletak di tepi sebuah sungai begitu, dibatasi pagar dan bisa melihat seluruh bangunan yang ada di pinggiran sungai. Kebetulan saat itu ada perahu yang melintas, saya kurang tahu perahu apa. Serasa di Inggris! Begitu pikiran saya, padahal ke Inggris aja nggak pernah. Haha.

 Image

-Santap siang dengan Nasi Briyani dan Es Tiga Layer, dimanjakan dengan pemandangan supercool-

Alhamdulillah setelah perut terisi, kami langsung menuju penginapan. Beristirahat sangat lelap, bersiap menyambut hari esok dalam hiruk pikuk kota Kuala Lumpur. Saking lelapnya sampai nggak kedengeran kembang api pesta perayaan tahun baru. Kami sih memang nggak peduli. Jadi ya tidur aja.😄

 

Next. Bersambung ke kisah hari selanjutnya.