Melihat birunya air, terbayang bukan keindahan bawah lautnya? :)

Melihat birunya air, terbayang bukan keindahan bawah lautnya?🙂

Malam sebelum tidur, saya sudah berpesan ke suami kalau besok pagi pengen lihat sunrise. Sudah pasang alarm juga. Tapi setelah subuh, akhirnya baru bangun jam 05.30, bersiap dan baru jam 6 keluar penginapan naik sepeda. Sepertinya sudah kelewat sunrise tapi bodo amat hahaha.

Dan inilah yang paling kami ingat selama di Gili. Menurut cerita, karena malam sampai pagi bule sering party dan mabuk, jadilah pagi2 banyak hp jatuh. Saat akan ke spot sunrise mendadak suami bilang kalau hpnya hilang. Setelah mencari di penginapan tidak ketemu, dicari di jalan sepanjang keluar penginapan juga tidak ada, berarti hp fix diambil orang. Suami sangat yakin kalau hpnya tidak di silent, jadi bila ditelpon pasti bunyi. Tapi kami sama sekali tidak mendengar suaranya. Suami sudah badmood sekali terlihat dari raut wajah dan gestur tubuhnya, mata sudah memerah, tidak tenang saat diajak bicara, tangannya gemetar. Oke, saya nggak boleh ikutan panik. Saya yang nggak ngerti IT ini akhirnya browsing nyari cara tracking hp pakai simcard (yang akhirnya saya tahu dari suami kalau cara ini sama sekali nggak bisa). Untungnya dengan inisiatif saya, suami ingat sudah pasang aplikasi pelacak di hpnya. Setelah dilacak pakai hp saya, dengan mengejutkan muncullah lokasi dimana hp itu berada. Lokasi menunjukkan hp tersebut di dalam sebuah rumah, yang ada toko baju disana, dijaga seorang ibu yang menggendong bayi. Saya dan suami mondar mandir di depan rumah dan toko, berusaha menelpon hp tapi tetep nggak kedengeran suaranya. Dari aplikasi itu hp bisa dibuat bersuara juga selama 5 menit dg volume max dan hanya bisa dimatikan dengan menekan tombol power, tapi tetap tidak terdengar. Lalu suami menggunakan fitur lock, hp dikunci, diberi pesan yang bisa muncul di layar hp untuk meminta hp dikembalikan, serta langsung terhubung ke nomer yang bisa dihubungi bila akan mengembalikan hp. Orang yang menemukan tak kunjung menghubungi kami. Tidak berapa lama kemudian, posisi hp pindah tempat di seberang lokasi awal. Whoaaaa. Ini sudah positif banget diambil orang. Setelah itu hp sama sekali tidak bisa dilacak maupun ditelpon. Hp sudah dimatikan. Saya berusaha menghibur suami, kalau masih rejeki, pasti kembali. Memang hp itu masih relatif baru, karena hp suami yang lama sudah sangat eror sekali. Hp itu juga masih susah cari Indonesia, xiaomi mi3.

Suami yang masih penasaran dimana lokasi terakhir hapenya, berusaha menelusuri map dari hp. Sampailah kami di depan gang toko tempat ibu tadi. Gang sangat sempit menuju ke suatu penginapan. Saya membiarkan suami berjalan di depan sendirian agar beliau bisa menenangkan diri sambil mencari hp. Tiba-tiba ada seorang laki2 muda menyapa saya, menanyakan kami mencari apa. Berikut percakapan kami.

M : “cari apa mbak?”
S  : “cari hape mas. Hape suami saya hilang.”
M : “loh. Hilangnya disini ta? Kok nyarinya disini?”
S  : “tadi sih jatuh di jalan mas, pas dilacak, posisi terakhir ada disini. Awalnya tadi di sebrang sana, di sebelah toko sebrang itu mas.” Saya sambil menunjuk toko.
M : “hapenya gimana mbak?”
S  : “belakangnya putih, depan hitam, pojok kiri atas ada tulisan mi3”
M : “itu ipad ta mbak kok bisa dilacak? Yang bisa dilacak kan cuma ipad”
S  : “oh. Itu bukan ipad mas. Itu hape cina. Sekarang kan nggak harus ipad, asal ada email, bisa dilacak”. Iya saya asal njeplak aja.

Kemudian mas itu menjauh dari saya, terlihat menggaruk-garuk kepala. Saya cuma berdoa kalau beliau yang ngambil atau tahu, mohon bisa dikembalikan. Karena saya punya feeling kuat, saya berusaha mondar-mandir disitu terus agar si mas bisa melihat kami dan feeling guilty nya terus bertambah.
Tidak lama kemudian, mas itu memanggil suami kami untuk diajak ke tokonya yang baru buka.

M : “Mas, saya bingung gimana ngomongnya.” Dia terlihat gemetar, menutup wajah dengan kedua tangannya.
Su : “Bingung kenapa mas? Mas tahu hape saya? Siapa yang ngambil mas? Hape saya dimana?”
Oke. Suami saya lagi high tension.
M : “Saya bingung gimana ngomongnya, Mas. Saya takut. Saya sungkan juga, nggak enak mau ngomongnya”.
S : “Nggak apa2 mas. Ngomong aja mungkin kami bisa bantu”
M : “Tadi saya lagi tidur, tiba-tiba sama ibu yang punya toko itu dibangunin buat matikan hp. Kata ibunya, tolong matiin hapenya. Ini iphone. Pas saya lihat, hp udah di lock, kalau dijual ya nggak mungkin laku. Tp ibunya ngotot minta tlg matiin, besok ada yang bisa buka lock nya. Gt kata ibunya. Saya ya nggak enak mau nolak mas. Yaudah saya matiin. Aduh saya takut ngomongnya, Mas.”
Su : “Oh, ibu toko depan itu ya mas? Yaudah saya tak kesana kalau gitu”
M : “Jangan mas, nanti ibunya pasti malu. Pasti tau juga kalau saya yang bilangin ke mas nya. Saya nggak enak.”
Su : “Tapi hp itu udah saya lock mas. Ga bisa dijual. Percuma”
M  : “Iya saya tahu mas. Tapi kasian ibunya juga kalau ketahuan, pasti malu.”
S  : “Yaudah kita kasi ibunya duit aja. Trus minta tolong hpnya dibalikin. Mas, bisa minta tolong kasihkan uang ke ibunya sambil lobi biar hape bisa dibalikin? Sama amplop kalau ada.”

Setelah memasukkan sejumlah uang ke amplop dan juga memberi masnya imbalan, masnya menuju toko si Ibu. Kami menunggu di toko dengan tak hentinya membaca Bismillah. Semoga masih rejeki. Mas itu kembali dengan membawa hape suami. Alhamdulillaah. Masih rejeki ya Allah. Kesalahan kami adalah, tidak menanyakan nama mas tersebut. Juga tidak ingat nama tokonya. Tapi saya ingat sekali wajahnya.

Lega karena hp kembali, kami menuju penginapan untuk menenangkan diri dan sarapan. Jam menunjukkan pukul 7.45. Setelah sarapan kami mandi, packing lalu checkout pukul 9. Rata2 checkout d Gili jam 10 pagi. Karena sudah checkout, kami menitipkan barang ke klinik untuk kemudian bersepeda keliling Gili menikmati pantai dan matahari pagi sambil menunggu berangkat snorkeling jam 10.

Banyak hotel dan kafe yang menyediakan kursi pantai untuk sun bathing, tapi harus bayar. Karena lagi-lagi kami mau gratisan, sampailah kami di gubug yang lagi-lagi free untuk menikmati hangat matahari.😄

Biru biru dan biru! Aaaaaahhh mata saya benar-benar puas. Main air yang jernih banget banget. Tapi nggak sempet berenang karena waktu sudah mepet mau snorkeling dan toh nanti bakal snorkeling juga. Hehe.

Brgkt snorkeling pakai perahu untuk satu grup yang malam sebelumnya sudah dipesan, 100rb per orang untuk ke 3 spot. Include mask, air mineral, belum termasuk fin. Kami sengaja ga sewa fin karena -ah-kan-udah-bisa-renang. Ntar pakai jaket pelampung aja biar ga capek renangnya. Kalau lagi peak season, harus cepet booking sehari sebelumnya karena sering penuh dan kalau penuh harus sewa private boat dengan harga 250rb/orang.

Daaan di boat hanya kami dan guide nya yang orang Indonesia. Sakjane sing turis iki sopo tho? –” hahahaa

Spot pertama di dekat Gili Trawangan, kami turun untuk melihat kapal karam. Yeah. Ini pertama kalinya saya berenang di laut, snorkeling dan harus melihat kapal karam. Im freaking out. Kalau di kolam renang aja saya nggak pernah berhenti di ketinggian 2 meter, ini harus melihat kapal karam yang mungkin di kedalaman lebih dari 10meter. Oh no. T.T

Dan tidak menyewa fin adalah kesalahan besar. Berenang di laut jauh beda dengan di kolam. Ada arus yang meskipun nggak kuat2 banget akan menunda kamu mencapai tujuan. Jadi rasa-rasanya saya selalu tertinggal jauh di belakang rombongan. Fiuh. Setelah melihat kapal karam, finally saya melihat warna warni ikan laut dan koral. Masya Allah cantiknya aaaaaa. Setelah agak tenang, saya kembali fokus menikmati keindahan alam bawah laut. Saat berniat mengambil gambar, oh no. Bungkus hape waterproof saya nggak benar2 waterproof jadi ada sedikit air yang masuk. Walhasil nggak bisa motret. Too bad. Tapi nggak apa-apa. Jadi saya fokus menikmati saja. Hehee.

Spot snorkling kedua di dekat Gili Meno, kami dipandu guide untuk melihat penyu! Woohooo! Kami bisa melihat sedikitnya tiga penyu. Saat itu kami juga sedang beruntung bisa melihat penyu saat di permukaan laut. Cantik! Sayangnya karena ini pertama kali snorkeling, saya mabuk. Naik ke boat dengan terhuyung, kepala pusing mau muntah, menguap tak henti-hentinya. Sepertinya saya kekurangan oksigen dan banyak menelan udara karena harus bernapas melalui mulut. Saya menyerah, tidak turun snorkeling di spot ketiga dekat Gili Air. Sedangkan suami yang belum puas, turun snorkeling dan sangat menikmati sekali spot ketiga ini.

Puas snorkeling, kami istirahat untuk makan siang di Gili Air juga membersihkan diri. Dari cerita yang kami baca di internet, makan di Gili Air sangat mahal sehingga disarankan membawa nasi bungkus dari Gili Trawangan untuk makan siang. Kami pun sudah membawa nasi bungkus dengan harga 15rb saja per bungkusnya. Alhamdulillaah pilihan tepat. Jadi uang kami bisa untuk beli eskrim yang sangaat menggoda saya. Hihi.

Pulang dari Gili Air, langsung menuju ke Gili Trawangan dan saya bersiap pulang ke Lombok. Naik boat lagi, dijemput Mas Subi lagi. Masya Allah baiknyaa. Kami dilewatkan Pantai Senggigi, yang menurut kami masih kalah cantik dari pantai di Gili. Yaiyalaah. Langit sudah gelap saat kami sampai di Kota Mataram. Akhirnya bisa beli Sate Rembiga dan Ayam Taliwang! Bisa buat bekal selama di kapal menuju Bali nih. Alhamdulillaah.

Kami berencana naik ferry pukul 10 malam untuk menuju Bali. Itung-itung hemat biaya menginap juga hehe. Kami diantar sampai ke Pelabuhan Lembar oleh Mas Subi. Setelah di pintu masuk, kami berpisah dengan Mas Subi. Dan inilah pertama kalinya saya naik ferry tanpa mobil. Degdegan sihhh.

Sampai di dek penumpang, kami langsung ditawari kamar oleh petugas kapal yang sepertinya nggak resmi karena nggak pakai seragam. Dapat harga 100rb sudah ada kasur bantal, AC, lemari, colokan, tv untuk dvd, dekat kamar mandi, sudah wow banget. Alhamdulillaah bisa istirahat. Kapal berangkat pukul 10.45 malam. Perkiraan perjalanan 4-5 jam menuju Bali.

See you in Bali!