Tags

, , , , ,

Pantai Pink, Lombok Timur

Pantai Pink, Lombok Timur

Saya sudah lama sekali ngidam pengen ke Lombok.
Jadi ketika suami ada acara di Bali dan kebetulan saya bisa libur, saya minta beliau agar menunda jadwal penerbangan pulang. Jadilah suami cabut ke Lombok dan saya menyusul kesana, kemudian lanjut Bali dan pulang ke Surabaya dari Bali.😀

Merencanakan trip adalah favorit saya. Since im an O type, semua harus detil rinci dan terencana. Akan tetapi kalau urusan gawat dan urgent diluar rencana, suami saya ahlinya.

Berawal dari postingan saya di Path, harus kemanakah dua hari semalam di Lombok dan dua hari dua malam di Bali? Teman saya banyak merekomendasikan Gili Trawangan untuk destinasi Lombok. Karena disana suasananya sangat berbeda dengan di Indonesia kebanyakan. Okeh catet. Kemudian saya juga direkomendasikan Pantai Pink. Karena saya suka banget sama pink dan konon hanya ada tujuh pantai seperti ini di dunia, wajib bangetlah kesana. Untuk kuliner, di Lombok yang harus dicoba adalah Nasi Puyung, Sate Rembiga dan Ayam Taliwang.

Sedangkan destinasi Bali, saya direkomendasikan Virgin Beach, Pantai Balarang, Padang Bai, juga ke Ubud. Kemudian dinner di Jimbaran, Cafe Menega. Lalu dari hasil browsing, saya penasaran pengen ke Garuda Wisnu Kencana (GWK). Untuk kuliner Bali, saya udah pengen banget nyobain Ayam Betutu.

Berangkatlah saya ke Lombok dari Surabaya dengan penerbangan pagi Citilink pukul 05.35. Sempat diwarnai lari2 di bandara karena baru sampai pukul 05.15. Untung sudah web check in sedangkan itu sudah final call. Entah apa jadinya kalau saya missed penerbangan itu. T.T Saya dapat harga tiket 411.503 include airport tax dan bagasi 15kg.

Suami sudah berada di Lombok setelah sehari sebelumnya terbang dengan Lion air dari Bali, harga tiket 240.855 include bagasi 15kg, belum termasuk airport tax.

Sesampai di Lombok, saya dijemput oleh suami beserta kawannya, Mas Subi dari FK Unram 2007 dengan mengendarai mobil. Lalu kami sarapan Nasi Puyung di rumah makan dekat bandara. Enak dan pedes! Nasi Puyung adalah nasi dengan lauk ayam di suwir2, kemudian ada bumbu yang seharusnya dicampur dengan ayam. Akan tetapi saking pedasnya, di warung tersebut bumbu dipisah. Udah mirip sambel lah ya. Dengan harga 8.000 saja, sarapan kami sudah menyenangkan.

Siap meluncur ke Pantai Pink di ujung Lombok Timur. Perjalanan memakan waktu 2 jam dari Lombok Praya, kami sudah membawa perbekalan seperti air minum dan snack untuk bekal karena disana konon masih sepi. Selain Mas Subi, kami juga ditemani Ami dari FK Unram 2011 sebagai penunjuk jalan ke Pantai Pink. Awal jalannya mulus saja. 45 menit terakhir, kami harus menempuh jalan yang benar-benar bergeronjal naik turun karena Pantai Pink ada dibalik bukit. Sesampai di loaksi, kami masih harus turun berjalan kaki sekitar 150 meter karena jalan tidak bisa dilalui mobil saking jelek dan curamnya. Dan voila! Pantai Pink di depan saya! Hamparan air laut yang biru dikombinasi pantai yang berwarna semi-pink karena pasir pantai bercampur dengan koral warna merah. Jangan mengharapkan melihat warna pink sebenarnya, banyak foto di internet sudah di edit sedemikian rupa. Akan tetapi pantai ini cantik! Yang bikin lebih cantik lagi, ada tebing yang bisa dinaiki di sisi kiri. Naik kesana dan angin berhembus dengan lembutnya. Akan lebih banyak lagi warna biru yang terlihat. Masya Allah. Ciptaan dari Yang Maha Sempurna. Apa yang terlihat jauuhh lebih indah dari apa yang tertangkap kamera saya. Disana juga masih ada monyet liar yang lalu lalang tapi masih takut dengan manusia sehingga susah sekali untuk difoto. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di Pantai Pink karena harus segera mengejar boat untuk ke Gili Trawangan.

Pukul 4.30 sore kami sudah berada di Pelabuhan Bangsal untuk menyeberang ke Gili Trawangan menggunakan boat biasa (bukan speed boat) dengan harga 13rb saja per orangnya. Kami diantar Mas Subi yang kebetulan ada temannya juga yang sedang jaga klinik di Gili sehingga beliau akan menginap disana. Saya agak ketar ketir takut kelewatan sunset. Menurut cerita, sunset di Gili termasuk yang paling indah di dunia.

Pukul 05.30 kami sampai di Pelabuhan Gili Trawangan, menitipkan barang di klinik dan langsung cabut sewa sepeda dengan harga 50rb/hari/sepeda untuk mengejar sunset. Setelah melalui banyak kafe yang super indah untuk menikmati sunset, pilihan kami jatuh pada sebuah gubug yang nyaman dan free tentunya. Alhamdulillaah masih bisa melihat sunset.

Menikmati angin, pasir pantai dan leyeh2 sambil melihat matahari sore beranjak tenggelam, apalagi bersama suami. Subhaanallah rasanya. Banyak bule yang lalu lalang juga untuk mengabadikan momen sunset. Setelah matahari tenggelam, saya mengajak suami untuk segera cari penginapan. Namun suami masih ingin leyeh2 dan berkata, “Sebentar, habis ini pemandangannya bakal lebih keren lagi”. Dan benar sekali! Matahari sudah terbenam, meninggalkan warna merah di langit yang menjadi background dari sebuah gunung. Entah gunung apa saya kurang tahu. Tapi sungguh, indah sekali. Sunset paling indah yang saya lihat setelah di Candi Ratu Boko Yogyakarta.

Langit sudah gelap saat kembali ke klinik. Kami lalu mencari penginapan, dapat harga 250 di Tiga Dara 2 dengan fasilitas AC, sarapan, free wifi. Sudah nyaman sekali untuk ukuran kami. Kemudian kami mencari makan malam. Kalau di kafe pasti mahal (meski belum tahu sampai seberapa mahal). Kami disarankan untuk mencari makan malam ke Pasar Seni karena banyak pilihan dan lebih murah dibanding yang lain.

There we go. Sampai di Pasar Seni juga masih bingung mau makan apa😄. Harga mulai 20rb an ada nasi goreng, mie, kari ayam, lalapan, martabak, dll. Penjual dengan antrian terpanjang yang saya amati adalah nasi campur dan berbagai ikan laut fresh yang akan dibakar. Saya lagi pengen sesuatu yang dibakar, jadilah pesan steak tuna dan suami pesan cumi bakar. Pemandangan yang saya lihat adalah bir bintang bertaburan dimana-mana. Para bule meminumnya sudah seperti air mineral. Mengingatkan saya dalam hati, jangan pernah mengajak anak-anak untuk kesini nantinya sebelum mereka tahu mana benar dan salah. Dinner kami agak mahal, steak tuna 40rb dan cumi bakar 50rb. Rasa nggak terlalu wow si, tapi saya percaya itu jauh lebih murah dibanding harga kafe (semoga benar demikian).

Kami beristirahat dan siap untuk hari berikutnya!