Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,

Selfie at GWKDasar kebiasaan jaga pas koas, pintu kamar digedor sekali untuk dibangunkan karena kapal sudah sampai di Bali dan kami langsung melek seketika. Jam 3 pagi beroohh!!! Kok cepet banget nyampe Bali nya. Hiks. Dengan mata merem tapi harus turun, kami menggeret koper. Masih nggak tahu harus lanjut tidur dimana. Feeling kami langsung mengatakan untuk mencari masjid, at least its the safest place in the world. Kami berjalan menuju masjid di kompleks Pelabuhan Padang Bai dan taraaaaaa!!!! Lokasi masjid masih digembok. Tertulis buka pukul 04.00-22.00. Baiklah. Kami akan menunggu satu jam lagi. Kebetulan di depan masjid ada warung muslim yang ada meja-kursi yang bisa dipakai istirahat. Dasar dulunya koas, liat meja-kursi aja udah bisa jadi tempat tidur nyenyak.😄 Walhasil kami ngemper dadakan di depan warung sampai pukul 04.30 baru pindah ke masjid..

Masjid di Pelabuhan Padang Bai sangat bersih dan terawat. Terasa sekali bahwa tempat tersebut sering menjadi pitstop para pelancong yang ingin beristirahat maupun membersihkan diri. Bapak ta’mir masjidnya pun begitu ramah kepada kami. Setelah Sholat Subuh, kami membersihkan diri juga numpang ngecas hp. Kemudian suami saya beranjak untuk mencari kendaraan yang bisa kami gunakan untuk mengelilingi Bali seharian penuh. Setelah penawaran yang cukup alot, kami memperoleh mobil carteran avanza sekaligus sopir dan bensin dengan harga 500 ribu rupiah sampai sore hari. Seharusnya bisa lebih murah bila kami bisa menyetir. Namun apa daya, saya juga baru supir junior. Sama sekali buta dengan jalanan di Bali. Rute yang kami sepakati bersama sopir adalah Padang Bai, Pasar Sukowati, Pantai Sanur, Toko Oleh-Oleh Krisna, Joger, Pantai Kuta, Ayam Betutu, Garuda Wisnu Kencana, Villa Puri Royan di Jimbaran dan Cafe Menega. Semua disikat dalam satu hari. Wohoo!!! Sebenernya pengen banget ke Virgin Beach atau Pantai Balarang, tapi kalau kesana sopirnya minta 700rb. Nggak bangetlah.

Di Padang Bai, kami melihat boat berjejer di tepi pantainya. Pasirnya berbeda dengan pantai Gili. Butirannya lebih besar seperti merica. Satu hal yang saya sesali, setelah melihat Gili entah kenapa rasanya pantai di Bali kurang menarik. Hmmm. Padang Bai merupakan pelabuhan alternatif bagi para turis bila ingin ke Lombok atau langsung ke Gili dengan speed boat. Banyak penginapan di sekitar pantai, juga penawaran untuk snorkeling, diving maupun memancing.

Puas menikmati Padang Bai, kami diantar sopir ke Pasar Sukowati untuk membeli oleh-oleh. Saya teringat 12 tahun yang lalu saat saya ke Pasar Sukowati. Semua keluarga sibuk berbelanja, padahal saya ingin minta tolong memilihkan oleh-oleh untuk sahabat saya di sekolah. Walhasil sampai ke penginapan, saya tidak membeli apapun. Lucunya saat saya masih kecil, bila keinginan saya tidak terpenuhi, saya akan langsung jatuh sakit. Benarlah malam harinya saya langsung panas tinggi. Dan keesokan harinya, saya diantar khusus ke Pasar Sukowati untuk membelikan oleh-oleh sahabat saya. Sembuh seketika!😀

Sepanjang menuju Pasar Sukowati kami tertidur saking capeknya. Dari penjelasan sopir, saya baru tahu kalau Pasar Sukowati sekarang sudah sampai tiga cabang. Kami diantar ke Pasar Sukowati 3. Agak kecewa juga karena sepi sekali sehingga pilhan barang hanya sedikit. Tapi menurut sopir, seringkali beliau mengantar tamu ke Pasar Sukowati 1 tapi malah tidak nyaman karena tamu sering ditarik-tarik penjual agar membeli dagangannya. Entah benar demikian atau tidak, saya kurang tahu. Saya membeli gantungan kunci untuk adik dan rekan saya, kemudian membeli baju untuk saya dan suami. Di pasar memang harus kuat nawar harga. Lucunya, suami kalau nawar harga ternyata lebih sadis dari saya. Hahahahhaa. Berkat suami lah kami dapat harga murah. Mungkin alasan itulah kenapa teman saya lebih menyarankan langsung ke Krisna saja. “Harga sudah murah tanpa perlu nawar”. Begitu katanya.

Dalam perjalanan menuju daerah Kuta, kami mampir dulu ke Pantai Sanur. Penasaran juga pantai ini seperti apa. Lagi-lagi karena sudah melihat pantai di Gili, kami tidak terlalu bisa menikmati Sanur. Air laut masih biru, hanya feelnya terasa berbeda dengan di Gili. Sebentar saja kami singgah disana, lalu menuju ke Kuta.

Oleh-oleh apalagi ya yang kurang? Ah ya makanan! Meluncurlah kami ke Krisna untuk mencari snack oleh-oleh. Memang benar bila harga oleh-oleh di Krisna tidak terlalu beda jauh dengan di pasar setelah nawar. Terutama untuk gantungan kunci dan baju. Sangat menghemat waktu dan tenaga. Hehe. Semua oleh-oleh berupa makanan kami peroleh d Krisna. Yang wajib dibawa pulang yaitu kacang disko dan pie susu tentunya. Beli oleh-oleh pun nggak lengkap rasanya kalau nggak mampir Joger. Siapa tahu ketemu sandal lucu ya kan. Hehe. Ternyata produk yang dihasilkan Joger banyak sekali tidak hanya kaos dan sandal. Benar-benar industri kreatif. Too bad nggak nemu sandal lucu yang sesuai dengan ukuran kaki saya.

Saatnya menikmati Kuta! Terik matahari terasa panas menyengat tidak menyurutkan semangat para bule untuk berjemur maupun surfing. Dengan memakai sunglass dan topi pelindung kami berjalan menyusuri Kuta. Mengamati para surfer beraksi sangat lucu sekaligus seru. Rata-rata masih pemula sehingga atraksi tidak terlalu bagus. Tapi kegigihan mereka sangat elok di mata. Kami berhenti sejenak untuk menikmati es kelapa muda di bawah payung tenda. Diiringi backsound lagu dari Iwan Fals. Subhaanallah nikmatnya.

Dari Kuta kami lanjut menikmati Ayam Betutu khas Gilimanuk rekomendasi dari sahabat saya. Perut sudah krucuk-krucuk minta diisi. Kami memesan Ayam Betutu yang berkuah mengingat saat di Lombok kami sudah menikmati Ayam Taliwang goreng. Bumbu yang sedikit berkuah terasa sangat segar sekali. Paduan rasa asam, asin dan pedasnya pas. Meskipun agak huhhhh-haaahhh waktu makan, toh akhirnya ludes juga. Hahaha. Untung kami pesan es susu, rasa manisnya bisa menetralkan rasa pedas.

Matahari sudah semakin condong ke arah barat saat kami meluncur ke Garuda Wisnu Kencana. Ternyata taman wisata ini masih dalam tahap pembangunan. Dan areanya luas banget banget! Patung Wisnu yang selama ini sering menjadi objek foto, masih baru sepotong saja. Ada lagi Patung Garuda yang sudah jadi, dan sedang dibangun lagi untuk tangannya. Karena sedang low season, disini terasa sepi. Hanya beberapa wisatawan tampak lalu lalang dan menonton pertunjukan yang berada di area teater. Kami sempat berfoto bersama Leak dan penari Bali yang mengisi pertunjukan. Kapan lagi bisa foto bareng mereka coba? Hehe. Oh iya, untuk masuk ke tempat wisata ini wisatawan lokal dikenai biaya 50.000 per orang, pelajar 40.000, turis asing 100.000.

Hampir semua destinasi sudah dituju, saatnya ke penginapan. Setelah seharian berkeliling Bali, kami akhirnya bisa menuju ke Villa Puri Royan di Jimbaran. Tempat ini mudah ditemukan dengan Google Maps. Dari luar tampak bangunan sudah tua sehingga saya sudah underestimate dengan kamarnya. Tapi begitu melihat kamar, lumayan banget untuk ukuran hotel dekat pantai seharga nett 300rb. Kamar besar dengan twin bed, TV, AC, air panas, handuk dan alat mandi, lemari, breakfast. Minusnya air mengucur sangat sedikit sekali jadi nggak puas kalau mandi dan serta wifi hanya di area lobi.

Setelah membersihkan diri dan ganti baju, kami bersiap untuk dinner di Cafe Menega sambil melihat sunset. Im so excited! Ini yang saya tunggu-tunggu. Bisa dinner d tepi pantai bersama suami🙂. Cafe Menega sangat direkomendasikan oleh banyak orang karena memang enak, kedua karena disinilah salah satu tempat yang terkena lokasi Bom Bali. Agak deg-degan juga saya. Hahaha. Kami dinner disini bersama Bu Dayu, kenalan dari suami untuk proyek Klinik Asuransi Sampah Indonesia Medika.

Sampai di Cafe, ternyata tempat duduk yang di pantai sudah habis di booking. Ada rombongan tour turis 180 orang. Sedih bangeettt sampe mau nangis. Sampe ngambek ke suami juga. Soalnya disini mahal, kapanlagi bisa ada waktu longgar buat kesini. Huhuhu. Setelah mood saya membaik, kami mengambil meja di dekat deretan kursi pantai dan langsung cuss menikmati sunset di pantainya. Gara-gara ribet ambil foto kami berdua bersama sunset, saya jadi ketawa ngakak lihat wajah suami yang takut banget nggak sempet foto sama sunset. “Aduh mataharinya udah mau tenggelam. Ayo buruan foto. Aarrghh fotonya nggak pas. Foto lagi!” Hahahahaaa. Tapi tetep, masih lebih bagus sunset di Gili Trawangan. :p

Sudah menikmati sunset, saatnya menkmati makanan. Kali ini mau nangis lihat harga di menu. Memang sih saya sudah dingatkan juga sama temen, tapi untuk sekali seumur hidup, kapan lagi?🙂 kalau mau harga yang lebih murah, bisa ambil paket 150rb per orang. Sudah termasuk ikan, udang, kangkung, nasi, minuman, dan buah segar. Karena kami dinner bersama Bu Dayu, beliaulah yang memilihkan menu. Beliau sudah langganan juga di Cafe Menega. Ada ikan bakar, udang bakar dan kerang bakar. Sambelnya enak! Nggak terlalu pedes tapi mantap. Ikan, udang dan kerangnya terasa sangat segar sekali. Maknyus deh. Semua makanan disantap habis. Hihihi.

Kami larut dalam obrolan bersama Bu Dayu tentang keluarganya. Kebetulan putra beliau, Pak Mahesa, hadir bersama istri dan anaknya, Mbak Upi dan Bima. Mereka tinggal di Denmark dan baru dua hari di Bali setelah dua tahun tidak pulang. Suami Bu Dayu yang bule, menurun ke Pak Mahesa sehingga wajah beliau juga terlihat ada bule nya. Bu Dayu ini aktif di bidang pengolahan sampah di Bali. Sejak masih muda, beliau sangat concern tentang hal ini. Dari beliau saya banyak belajar untuk bisa tegas, tidak takut bila di jalan yang benar, serta kerja keras untuk mencapai mimpi kita. Usia beliau tidak muda lagi namun masih terlihat sangat cekatan. Satu hal yang paling saya ingat, beliau berkata “Hindu mengajarkan bahwa kamu boleh melakukan apa saja asal kamu bisa mempertanggungjawbkan perbuatanmu itu. Baik di dunia maupun nanti setelah mati”. Sebagai seorang muslim, saya cukup terhenyak. Adakah saya sudah berani mempertanggungjawabkan semua perbuatan saya? Atau cuma pengen enaknya saja?

Hari sudah semakin malam, Bima sudah mengantuk. Kami sepakat untuk mengakhiri dinner. Bu Dayu langsung pulang bersama keluarga, sedangkan kami masih ingin jalan-jalan di tepi pantai. Maklum. Namanya juga honeymon.😄 Sebelum jalan-jalan, kami sempat foto di meja pantai karena saat itu tamu sudah mulai berkurang sehingga terdapat meja kosong. Yay!!! Meskipun tadi nggak bisa makan disana, at least bisa foto aja sudah lumayan mengobati. Puas foto dan jalan-jalan di pantai, kami pulang ke penginapan menggunakan taksi.

Keesokan harinya kami bangun, sarapan dan bersiap pulang. Tiga hari sudah berlalu. Misi honeymoon selesai!😀

Berbagai foto honeymoon kami bisa dilihat di instagram saya @fidalathifah :) Semua foto diambil dengan menggunakan kamera handphone, no SLR, no edit, no filter. Selamat menikmati!