Tags

, , , , , , , , , , ,

pTidak. Bukan saya. Saya belum menjadi ibu. Hehe.

Setelah menikah, akhir-akhir ini pikiran tentang menjadi ibu banyak berseliweran di benak saya. “Sudah isi?” Itu pertanyaan paling banyak dilontarkan. Dan jawaban iseng saya selalu, “Sampun, isi rendang”.๐Ÿ˜„

Dulu dalam pikiran saya, habis nikah ya punya anak. Kalau sampe setahun apa dua tahun belum punya ya berarti ada sesuatu. In fact, its not that simple. Apa yang saya lihat dan saya alami menjadi bahan perenungan selama 6 bulan ini.

Ketika jarak akad dan resepsi saya sekitar 4 bulan, yang jadi pikiran, “ntar kalau hamil sebelum resepsi gimana?” Saya sama sekali nggak takut jadi gemuk. Yang saya pikirkan justru, gimana kalau ntar saya nggak kuat karena hamil muda harus urus ini itu dan berdiri lama pas resepsi? Kan kasihan bayinya. Sempat terbersit keinginan kalau bisa dikasi rejeki hamil setelah resepsi.
Alhamdulillah, Allah memberi petunjuk melalui kakak kelas yang sudah lebih dulu berpengalaman.

Beliau berkata, “Dek. Jangan mikir gitu. Hamil harus dibawa enjoy, apa yang kamu pikirin ntar ya bakal kejadian kaya gitu lho. Kalau udah mikir sakit ya jadinya sakit beneran, kalau dibawa seneng, meski ntar muntah-muntah tapi karena seneng, proses kehamilan bisa dilewati tanpa harus stres”. Saya baru sadar, astaghfirulloh berarti saya sudah berpikiran yang buruk tentang kehamilan saya nanti. T.T
Seketika itu juga mindset saya berubah. Saya siap menjadi ibu kapan saja, Insya Allah. Meskipun sakit saat awal kehamilan dipengaruhi juga oleh banyak hal, namun bila kita menjalani kehamilan dengan bahagia, rasanya bayi yang dikandung juga bahagia kok๐Ÿ™‚

Beberapa nasihat yang masuk ke saya adalah, “Jangan nunda punya anak. Nanti kalau nunda, pas udah program, biasanya bakal lama baru dapet. Semacam ‘hukuman’ karena menolak rejeki dari Allah”. Kebetulan di keluarga saya tidak ada yang menunda hamil bila sudah menikah, jadi saya tidak tahu nasihat ini berdasarkan apa dan apa benar demikian. Setiap orang pasti punya alasan untuk menunda kehamilan, merencanakan keluarga dan masa depan seperti apa. Yang jelas tujuannya adalah telah siap saat diberi amanah seorang anak. Bukan terburu-buru, karena faktanya menjadi orang tua tidak mudah, tidak pula susah. Asal dipersiapkan sebaik-baiknya. Saya bukan mendukung menunda hamil juga, hanya berusaha memahami yang mengambil keputusan seperti itu. Saya tetap mendukung bahwa, setiap anak lahir dengan rejeki masing-masing. Jadi Insya Allah pasti ada jalannya ketika sudah dikaruniai anak.๐Ÿ˜€

Berapa banyak orang yang saya jumpai telah menikah 2 tahun, 5 tahun, belum dikaruniai anak. Akhirnya ke dokter untuk memeriksakan diri, berusaha punya anak. Beberapa berhasil menemukan masalahnya dan punya anak, tapi ada juga yang belum. Ada pula yang baru dua bulan nikah sudah langsung hamil. Ini sering saya temui di poli KIA Puskesmas. Banyak juga rekan saya yang sudah posting di media sosial tentang kehamilannya setelah menikah. Bahagianya :’) inginkah saya? Bohong kalau nggak pengen. Hehe.

Perenungan membawa saya pada kesimpulan bahwa, terkadang punya anak atau tidak, punya anak cepet apa lama, adalah sebuah rahasia Allah. Takdir dari Allah. Dialah yang Maha Tahu kapan kita telah siap diamanahi seorang anak. Tugas manusia hanya berusaha dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Jadi ketika amanah itu sudah datang, kita bisa menjalani dengan penuh rasa syukur dan manfaat. Pun ketika amanah itu tak jua datang, Allah Maha Tahu rencana untuk kita. Percayalah, rencanaNya selalu indah. Bisa jadi kita belum siap jadi orang tua, atau bila nanti jadi orang tua tidak bisa mendidik anak dengan baik, dan lain sebagainya.

Dengan mindset ingin menjadi ibu, saya mulai memperhatikan bagaimana para ibu disekitar saya mendidik anak-anaknya. Mengajari mengaji, sekolah, mendidik tentang apa yang baik dan apa yang buruk, mengenalkan berbagai macam hal baru, sampai cara membujuk anak. Meskipun saya memiliki 8 orang adik, saya belum pernah benar-benar memperhatikan bagaimana cara ibu dan abah mendidik anak-anaknya.

Hati saya terharu melihat perjuangan rekan-rekan saya dalam menjadi ibu. Yang harus berjauhan dengan buah hati dan tetap memperjuangkan ASI eksklusif, yang hamil besar tapi harus jaga UGD, yang hamil tapi tetap berjuang menjalani pendidikan profesinya, semua ada risiko yang harus dijalani. Mungkin terlihat lebih lelah, ada juga yang mencibir ‘kok anak masih kecil ditinggal’. Namun bila saya diposisi mereka, sungguh berat sekali berjauhan dengan buah hati. Bila bisa memilih, ingin sekali berada 24 jam disampingnya. Menjadi ibu yang selalu mendampingi disaat golden age-nya. Menjadi ibu yang menjalani kehamilan tanpa aktifitas berat. Semua itu akan terbayar, saat nanti berjumpa dengan buah hati. Menatap wajahnya, hilang sudah semua kelelahan dan keresahan. Berubah menjadi kebahagiaan yang tak tergantikan oleh apapun. :”)

Saya sangat terkesan sekali dengan seorang ibu yang saya jumpai di travel perjalanan Malang-Bojonegoro. Saat itu beliau bersama anaknya usia sekitar 2 tahun, duduk di bangku tengah belakang sopir dan saya duduk di kursi sebelah sopir. Sekitar pukul 18.00 kami melewati hutan daerah Kasembon dengan jalan berliku. Rupanya si anak ingin buang air kecil tapi merasa tidak nyaman untuk buang air di pempers yang sudah dipakai karena tidak terbiasa. Si anak rewel, menangis minta buang air dan merengek ingin turun. Awalnya sang ibu berusaha membujuk dengan mengalihkan perhatian ke benda-benda yang terlihat menarik di sekitarnya. Seperti melihat mobil dan lampu. Si anak diam hanya sebentar, lalu menangis lagi. Saya penasaran tentang apa yang dilakukan oleh sang ibu. Diluar dugaan, beliau akhirnya mendongeng. Diawali dengan, “Pada suatu hari…” Beliau bercerita kisah para hewan yang berkumpul di hutan. Seperti ayam, bebek, katak, macan, singa, kuda, dan hewan-hewan lain. Menariknya, beliau juga menirukan masing-masing suara hewan yang disebutkan tadi. Dan taraaaaa!!! Dongeng itu manjur! Si anak sama sekali sudah lupa dengan rasa kebelet pipisnya. Tergantikan dengan rasa tertarik kepada dongeng yang diceritakan sang ibu. Si anak juga berkali-kali berusaha menirukan suara hewan yang disebut oleh sang ibu. Saya benar-benar terkagum kagum. Wah, berarti saya harus punya banyaaak sekali stok cerita agar bisa bercerita kepada anak saya kelak. Cerita yang bermanfaat pastinya. Bukan tentang alien turun ke bumi dan jatuh cinta sama manusia, atau tentang dokter jiwa yang jatuh cinta sama pasiennya. Itu mah film korea :p

Jadi, harus banyak belajar lagi. Harus bisa lebih baik lagi. Demi masa depan nanti, di akhirat yang hakiki. Zaman dulu dan sekarang sudah berbeda, tantangan semakin berat, menjadi orang tua pun harus lebih inovatif dan update terhadap perubahan yang ada. Menyesuaikan diri dengan tetap menuju keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Untuk para ibu dan calon ibu di manapun berada. Bersiaplah menjadi ibu dari anak-anak terbaik yang pernah ada๐Ÿ™‚

Bojonegoro, 15 September 2014 06.11

Ibu dan anak yang saya jumpai di travel Malang-Bojonegoro

Ibu dan anak yang saya jumpai di travel Malang-Bojonegoro