Tags

, , , , , , , ,

taken from LKI FKUB

taken from LKI FKUB

Ada yang sedang jatuh cinta?๐Ÿ˜€

Berawal dari seminggu yang lalu saat perjalanan menuju ke Malang. Saya dihubungi oleh adik kelas dari FKUB yang ternyata adik kelas IC namun tidak pernah berjumpa karena lima tahun dibawah saya.

A : “Mbak, apa besok bisa isi kajian di FKUB?”

S : “Insya Allah. Saya izin suami dulu ya. Materinya tentang apa?”

A : “Mengelola cinta tanpa terkena dosa, Mbak”.

Langsung kaget saya. Nggak sembarang materi. Meski terkesan menye-menye karena -lagi-lagi tentang cinta- tapi sesungguhnya amat berat karena ada embel-embel “tanpa terkena dosa”. Seolah saya ini tanpa dosa.

S : “Dek. Rasanya banyak yang lebih pantas untuk isi materi tentang itu daripada mbak..”

A : “Nggak apa2 mbak. Kami percaya sama mbak kok. Nanti saya kirim TOR nya ya ke email mbak”

Baiklah. Bismillah. Sampai h-1 baru menghubungi berarti memang semua ustadzah yang biasa ngisi berhalangan. Tapi kan aku bukan ustadzah. Mau nangis rasanya.

Setelah menenangkan hati dan berpikir rasional, oke saya terima. Dengan niat ingin membagi pengalaman tentang apa yang sudah saya lalui hingga saat itu dalam perjalanan menemukan cinta, saya menerima tawarannya.

Sejak dari awal saya takut sekali membagikan ilmu yang salah. Oleh karena itu saya wanti-wanti kepada adik-adik yang ingin mendengar pengalaman saya, bila tidak setuju atau merasa ada yang salah, segera mengingatkan saya. Saya pun tidak mengajar tentang syariat karena saya sadar masih kurang sekali tentang hal itu. Niat saya berbagi, agar mereka tidak melakukan kesalahan yang saya lakukan serta bagaimana menghindarinya. Pun agar mereka memiliki tempat berkeluh kesah bilamana tak ada lagi yang mereka percaya untuk menumpahkan kegelisahan hati.

Malam saat membuat materi, saya diskusi dengan suami. Lebih ke curhat sih.

S : “Kak, aku bingung besok mau isi materi apa. Aaaarrghhhh”

K : “Yasudah, ceritakan aja proses kita kayak gimana. Kali banyak yang penasaran. Hihi”

S : “Yeee pede bangeet. Dasar selebritis”

Saya pun membuat materi berdasarkan TOR dengan bantuan suami. Tidak sempat membuat powerpoint, hanya menuliskan di notes agar besok menjadi catatan sata saat berbagi kisah.

Esok harinya sebelum isi materi, saya mules. Berkeringat dingin, bertingkah polah nggak jelas di depan suami sampai dia ketawa.

K : “Kamu kenapa tho. Lucu banget kalau lagi nervous”

S : “Iya aku grogiiii mau isi materi. Ntar kalau banyak yang dateng gimana? Kalau ada yang tanya trus aku ga bisa jawab gimana? Kalau aku ngajarin yang salah gimana? Aduh lima menit lagi. Aduh aku harus gimana kaaakk”

K : “Tuh tuh banyak banget lho yang ke mushola mau dengerin cerita dari kamu”

Dasar iseng. Istri lagi grogi dibikin makin grogi. Dihampirilah saya oleh Uci, adik kelas saya dari IC.

U : “Mbak acaranya udah mau mulai. Mari ke mushola”

Saya pun masuk mushola diiringi senyum jahil dari suami yang mau Sholat Jum’at. Sempat melihat chat dari dia yang berbunyi, “Semangat ya ngisi materinya. Kamu pasti bisa :)”

Yeah. The show must go on.

Ada beberapa wajah yang saya kenal -makin tambah grogi-. Tapi lebih banyak yang belum saya kenal. Semuanya pun belum menikah. Rata-rata masih semester 3 atau 5. Mungkin saya dianggap pantas karena lebih dulu menikah. Bisa jadi.๐Ÿ™‚

Setelah perkenalan agar suasana terasa lebih akrab, dimulailah materi hari itu.

Pertama tentang beda antara cinta, suka dan simpati. Rumit sekali. Dan kenapa harus dibedakan juga ya? Mungkin agar tidak salah mengartikan isyarat hati. Hehe.Berbagai macam definisi yang disajikan, saya mengambil dari KBBI. Simpati adalah merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bila orang lain senang, kita senang, bila orang lain sedih kita ikut sedih. Yang demikian bukanlah hal yang membangun. Karena kalau sama-sama sedih, trus yang menyelesaikan masalahnya siapa?

Antara suka dan cinta, memang terasa sedikit sekali perbedaannya. Cinta pun bisa diartikan suka. Namun saya mencontohkan, suka adalah seperi anak kecil yang menyukai mainan. Merengek-rengek minta dibelikan, kalau tidak dibelikan nangis, kalau dibelikan, dipakai mainan sebentar lalu ditinggalkan. Bosan. Seperti inilah mungkin cinta monyet. Menggebu-gebu seakan berkata cinta, namun tidak untuk menjaganya. Tidak menjaga cinta agar tetap tertuju padaNya.

Cinta itu layaknya ibu ke buah hatinya. Lahir pun belum, sudah dicinta dengan segenap hati. Diberikan yang terbaik, disiapkan yang terbaik. Berkorban sampai mempertaruhkan nyawa, pun tak enggan memarahi bila memang sang buah hati melewati batas.

Cinta bukan pasrah. Cinta bukan air mata. Namun cinta juga tak melulu bahagia.

Baru saya sadari, cinta tak lain hanya padaNya. Cinta pada suami, pada orang tua hanya bagian kecil dari usaha mencintaNya. Sungguh malu saat dulu saya pernah seakan-akan menantangNya. Yakin sekali berjodoh dengan seseorang hingga mendahului takdirNya.Betapa banyak yang menasehati saya, namun saya menutup hati. Beruntung mereka tidak lelah mengingatkan. Hingga hati perlahan terbuka, sadar bahwa saya telah melakukan kesalahan besar dengan membenciNya.

Sesungguhnya yang mengajak kita menjauh dariNya bukanlah cinta.

Lalu bagaimana tanda seseorang jatuh cinta?

Ah ini pasti semua pernah merasakannya. Ngaku deh..Ingin hanya dengannya dan tiba-tiba dunia menjadi melulu tentangnya. Tentang apa yang ia suka, tentang apa yang ia lakukan, dan mendadak kita pun menjadi fans karbitan. Berusaha menyukai apa yang dia suka. Gelisah bila tak jumpa, mencari bila tak kunjung tiba. Aihh. Berasa indah sekali ya.

Satu pengalaman yang tak akan pernah lupa. Menyadarkan bahwa saya memang benar-benar jatuh cinta ke suami saya.๐Ÿ™‚

Sejak akad nikah, kami selalu berdua. Kebetulan ada acara di Depok sehingga saya dan suami ber”scientific honeymoon” di sana.๐Ÿ˜„

Saat pulang ke Malang pun, bila suami ada acara di kampus, saya ada acara di tempat lain sehingga kami berangkat bareng. Suatu saat saya tidak ada keperluan sehingga suami sendirian ke Malang. Saya di rumah Singosari.

S : “Pulang jam berapa kak?”

K : “Jam 2 paling selesai. Tapi kalau temen2 mau ngajakin belajar lagi ya paling aku ikut sekitar sampai Maghrib”

Saat itu suami sedang intensif persiapan Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI).

Setelah menyelesaikan berbagai hal di rumah, tak terasa sudah sore. Bersiap menyambut suami pulang. Tapi Maghrib sudah lewat, dirinya tak kunjung tiba.

M : “Loh Mas Iil pulang jam berapa?”

S : “Kata Mas Iil sih Maghrib, Bu. Ini tadi saya hubungi nggak diangkat. Mungkin masih perjalanan”

Ibu mertua pun sudah menanyakan suami. Saat saya di kamar lantai dua, tiba-tiba terdengar suara motor dan suami. Sungguh, melihatnya pulang dalam keadaan selamat adalah hal terbaik yang pernah saya alami. Belum pernah merasa sebahagia itu :”)

S : “Terima kasih ya kak sudah pulang dengan selamat :)”

Saya menyambutnya dengan senyuman lebar dari lubuk hati terdalam. Mungkin agak lebay. Tapi saat itu saya udah mau nangis saking senengnya. Saya menyadari bila dia sudah benar-benar mencuri hati saya.

Kangen sama pacar trus seneng banget karena akhirnya ketemu? Percaya sama saya. Nggak ada apa-apanya dibanding ketemu suami.

Lalu bila sudah jatuh cinta, gimana biar nggak kena dosa dan menghindari hal yang mendekati zina?

Saya pun seorang manusia. Tempat salah dan lupa. Pengalaman saya berkata, selalu bergaullah dengan teman-teman yang selalu mengingatkanmu padaNya. Saya termasuk orang yang susah sekali diingatkan. Saya pun lebih suka bila saya sadar karena pikiran saya sendiri. Yang bisa saya ambil dari pengalaman saya, jadilah wanita (woman). Bukan gadis (girl).

Kalau girl itu, “Nggak mau tahu pokoknya aku cuma mau sama dia. Aku cinta sama dia.” Mengutamakan perasaan, menumpulkan logika.

Sedangkan seorang woman, menganggap perasaan itu penting, tapi logika juga digunakan. Dirinya akan berpikir, “Pantaskah ia menjadi ayah dari anak saya? Bisakah saya menerima kekurangannya? Bisakah dia menerima semua masa lalu saya?”. Pun jika akhirnya nggak jadi dengan orang itu, nggak masalah. Wanita memiliki rasa percaya diri. Bahwa Dia tidak pernah ingkar janji. Selama dirinya terus memperbaiki diri, Allah telah menyiapkan jodoh yang baik pula.

Saya pun berbagi tips tentang bagaimana agar yakin bahwa seseorang itu adalah jodoh kita.

Belumlah dikatakan jodoh bila belum terucap akad nikah. Dulu pun saya nggak yakin.๐Ÿ˜€

Namun saya cukup berproses. Saat proses juga berusaha menghindari aktifitas yang menyerupai pacaran, sehingga tidak ingin berlama-lama dalam fase itu. Kalau iya ya lanjut. Kalau nggak yaudah.

Istikharah. Istikharah. Istikharah. Sampai malam sebelum akad pun, jangan berhenti untuk istikharah. Jawaban dari istikharah tidak melulu melalui mimpi, tapi bisa juga dengan semua kemudahan yang diberi. Rintangan pastilah ada. Namun solusinya seakan nyata terpampang di depan mata. Saya dulu merasa tidak mampu istikharah, sehingga minta bantuan kakek saya. Alhamdulillah jawaban istikharah beliau mengisyaratkan baik. Sehingga proses saya dan suami pun berlanjut.๐Ÿ™‚

Bagimana caranya tahu kalau seorang laki-laki serius dengan kita?

Ingat ini baik-baik. Laki-laki yang baik nggak akan ngajakin pacaran. Dia mendatangi ayah atau wali kita. Meminta kita untuk jadi halal baginya. Selain itu, nggak usah dipeduliin. Istilah abah saya, “Gombal amoh”.๐Ÿ˜„

Jangan jumawa akan bisa mengubah laki-laki menjadi lebih baik dengan menjadi istrinya. Biarkan dia berubah dulu sejak sebelum menikah. Hal itu menandakan bahwa dia memang menyadari kesalahannya dan kecil kemungkinan akan mengulanginya lagi.

“Jangan mencari masalah yang terpampang nyata di depan mata”.

Udah jelas-jelas dia nggak sholat. Suka mabuk. Maen cewek. Tetep ngotot mau sama dia. Akibatnya setelah menikah, bisa jadi Allah akan menghukum dengan hukuman diluar kemampuanmu. Bukankah telah jelas Allah memberi petunjuk bagaimana cara mencari jodoh? Dilihat dari kekayaan, keturunan, paras dan yang paling penting, agama.

Bila telah memilih jodoh berdasarkanย  kriteriaNya pun, bukan berarti bebas dari masalah. Masalah akan tetap ada. Namun disesuaikan dengan kemampuan kita. Dulu bila memikirkan tentang menikah, yang muncul dalam benak hanyalah segala macam hal yang indah. Jalan-jalan, bulan madu, ada yang dicurhatin, ada yang merhatiin. Semakin mendekati pernikahan, semakin saya ditunjukkan bahwa menikah tak melulu hal yang indah. Ada perselingkuhan. Ada konflik keluarga. Ada masalah pekerjaan. Masalah anak, dll. Bukankah masalah hanya berhenti saat kita di akhirat nanti? Itulah pentingnya menanyakan visi saat akan menikah. Apa yang menjadi tujuan pernikahan? Apakah kita dan calon sudah dalam satu perahu untuk menghadapi segala ombak kehidupan yang akan menerpa?

Ada juga yang bertanya. Bila kita dijodohkan oleh orang tua tapi kita nggak sreg. Bagaimana cara menghadapinya?

Jangan pernah membangun benteng antara diri kita dengan orang tua. Orang tua pasti ingin yang terbaik. Selama yang diinginkan orang tua tidak menyalahi aturan agama, ada baiknya kita berusaha memahami keinginan mereka. Bila merasa tidak cocok, sampaikan dengan cara yang santun. Untuk seorang wanita, restu orang tua adalah segalanya. Karena setelah menikah, seorang istri akan mengabdi sepenuhnya kepada suami. Dengan memposisikan diri sebagai seorang anak yang menginginkan pendamping terbaik, percayalah. Orang tua akan luluh. Bisa juga dengan meminta bantuan anggota keluarga lain yang perkatannya didengar atau minimal dipertimbangkan oleh orang tua.

Salah satu kesalahan yang telah saya lakukan adalah membangun benteng terhadap orang tua. Dan tidak, itu tidak berhasil. Malah rasanya nggak enak semua. Doa anak dan doa orang tua, ya pasti lebih diijabah doa orang tua kan ya. Hehe.

Di akhir sesi, saya membuka lebar kesempatan bagi adik-adik yang hadir untuk bebas curhat ke saya melalui fb, email, twitter, sms maupun whatsapp. Banyak juga yang sudah curhat. Semoga dengan itu bisa dimudahkan jalannya.

Terakhir saya mengambil quotes tentang pernikahan yang menurut saya amat sangat tepat.

Jangan menikah hanya karena cinta. Menikahlah karena kamu yakin surga Allah lebih dekat bila bersamanya.

Selamat menjemput cinta!๐Ÿ™‚

Bojonegoro, 28 September 201411.41 WIB.