Tags

, , , ,

das

Istri mana yang ingin berjauhan dengan suami?
Yang pacaran aja pasti gamau jauh-jauhan. Apalagi yang udah nikah.

Kamu pernah ngerasain kangen sama pacarmu? Udah berhari-hari bahkan bulan atau tahunan nggak ketemu? Super deg-degan berdebar-debar ketika akhirnya akan bertemu lagi?
Percaya. Itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan kangen sama suami (istri).

Sejak menikah 9 bulan yang lalu, saya harus tinggal beda kota dengan suami. Beliau di Malang karena harus menyelesaikan S2 nya dan saya di Bojonegoro karena sedang menempuh Program Internship Dokter Indonesia.

Kapan ketemunya?
Bisa seminggu sekali. Atau dua minggu. Maksimal sejauh ini tiga minggu kami tidak bertemu. Tapi kami berkomitmen untuk harus bertemu minimal seminggu sekali, kecuali ada hal benar-benar urgent dimana menjadikan kami tidak bisa mengunjungi satu sama lain. Siapa yang nggak sibuk, dialah yang akan meluangkan waktu menempuh perjalanan panjang demi bertemu pujaan hati.

Berat? Iya dan tidak.
Kebetulan saya memang hidup nomaden. Pindah-pindah sejak kecil. Jadi melompat antar kota dalam satu atau dua hari bagi saya bukan masalah besar. Pun untuk suami dengan jiwa mbolangnya, sangat senang hati mengunjungi saya meskipun kadang wasting time di perjalanan karena naik kendaraan umum. Lain kali harus dipikirkan apa yang bisa dilakukan selama menempuh perjalanan 5 jam biar nggak wasting. Yeah. Bojonegoro-Malang, lima jam perjalanan.

Seringkali saya berada di Malang tidak sampai 24 jam. Nyampe di sana Sabtu sore sekitar maghrib, esok harinya jam 3 atau 4 sore sudah duduk manis di travel pulang ke rumah. Anehnya saya sama sekali nggak ngerasa capek. Entah saya memperoleh kekuatan darimana, tapi perjalanan panjang yang saya lalui terkalahkan oleh kebahagiaan bertemu suami.

Kami tidak pernah berhenti berkomunikasi. Melalui sms, whatsapp, line, skype, chat fb, apapun itu. Kalau baterai habis, ya cari colokan. Nggak lupa ngabarin biar nggak bikin kuatir dan make segala modalitas yang ada. Nyalakan laptop, buka email atau chat fb. Pinjem hp keluarga. Atau teman kalo kepepet😄

Hal kecil seperti sapaan selamat pagi, selamat tidur, ataupun semangat dalam menjalani hari, mungkin terdengar menye-menye. Tapi percayalah, sama pasangan yang udah halal, itu bukanlah rutinitas membosankan. Mengapa? Well. If you stop doing that, how do you feel if your spouse receives that greetings from another person? Kamu-pasti-akan-sangat-menyesal-seumur-hidup.

Berantem? Ngambek? Sering.
Tapi ya harus tau mana yang worth it buat diberantemin, tahu posisi kapan harus diam, kapan harus meminta maaf dan apa saja yang perlu diperbaiki. LDR menjadikan kami berusaha untuk lebih menghargai waktu yang ada, utamanya saat bertemu. Nggak perlu lah diisi sama hal nggak penting selain berbahagia🙂

Berkeluarga seperti ini rasanya memang tidak ideal. Kebetulan abah dan ibu saya juga pasangan LDR sejati yang sudah menjalani selama hampir 20 tahun. Akan tetapi saya dan adik-adik alhamdulillah tidak ada yang menjadi “anak pembantu”. Sosok abah dan ibu tetap melekat di hati kami, dengan segala nasehat dan doa yang tak kunjung henti.

Suatu saat ketika bekerja di poli jantung, saya menyadari bahwa ketiga dokter yang berada disana adalah pasangan LDR semua. Dr. Reni suaminya di Jakarta, Dr. Rio keluarganya berada di Malang. Kami tertawa saat menyadari satu kesamaan tersebut. Tertawa miris dan galau, merindukan keluarga masing-masing. Kami sepakat bahwa keluarga seperti itu tidaklah ideal, namun di zaman ini seperti hal yang tidak terelakkan. Yang terpenting tetap meluangkan waktu bersama keluarga. Seperti yang dilakukan salah satu spesialis urologi, pulang ke Surabaya seminggu dua kali dan tidur dalam mobil (lengkap dengan selimut dan bantal) agar stamina pulih kembali saat sampai di rumah dan siap menghabiskan waktu bersama anak-istri.🙂

Sampai kapan LDR ini berakhir? Saya dan suami sepakat ini harus diakhiri. Setidaknya cukup satu tahun ini. Entah di masa depan seperti apa, tapi kami berusaha agar tidak harus LDR lagi. Kalau tidak, bisa jadi usia pernikahan sudah bertahun-tahun, tapi ketemunya cuma hitungan bulan. Kan sedih.

Saat melihat sekeliling, tak hanya saya. Banyak rekan-rekan yang menjalani LDR dengan posisi lebih sulit dari saya. Sedang hamil, beda pulau, beda negara, dengan problematikanya masing-masing. Yang perlu kami lakukan hanyalah bersyukur. Kami masih bisa merindu dan dirindukan.

Nggak perlu takut LDR. Bila memang itu sudah jalannya, jalanilah dengan sebaik-baiknya. Selalu diniatkan mendekatkan diri padaNya. Maka Dia akan memberikan jalan kebahagiaan dari arah yang tidak disangka-sangka.