Tags

, , , , , , ,

Untitled

Saya adalah anak pertama dari sembilan bersaudara. Meski demikian bukan berarti saya menjadi yang ‘paling besar’. Tidak. Paling besar adalah anak ketiga, Dik Ifa, saking besarnya sampai penjual di pasar salah mengira kalau dia adalah ibu saya.

“Lho Bu Dokter, kok pagi-pagi udah ke pasar? Trus pasiennya yang mau suntik bagaimana?”

Dek Ifa cuma bisa mencep. Sedangkan Dik Nilna yang kebetulan ikut udah ketawa ngakak.

Dibalik badannya yang besar, sesungguhnya tersimpan hal yang besar pula. Saat pertama kali bertemu dengannya, yang terlintas di pikiran pasti “banyak makan”, atau “males gerak”, “suka goler-goler”. Padahal dia layaknya bola basket, bundar dan suka berlarian.

Saat di rumah, dia bangun pagi untuk nganter adek-adek ke sekolah kemudian belanja ke pasar lalu memasak. Memang seringnya makanannya dihabiskan sih, tapi saya juga ikut ngabisin-padahal nggak ikut masak.😄

Meski keliatan sibuk dan nggak sempet belajar, tapi dia rajin. Trust me. Dia adalah satu-satunya siswa yang saat SMP diperbolehkan tidur di kelas oleh salah seorang guru matematikanya karena semua tugas di buku ajar sudah dikerjakan dengan baik (padahal belum disuruh). Gilak rajin beuts gak sihh.

Saat ini dia kuliah di FK UNS. Kuliah di Solo benar-benar diluar jalan hidupnya. Dengan semangat “pengen-curriculum-vitae-nya-beda-sama-Mbak Fida” akhirnya dia sukses menjadi anak gaul Solo. Kebetulan saya dan Dik Ifa sejak TK sampai SMA memang sekolah di tempat yang sama.

Karena di Solo trus jadi kampungan? Well. Salah besar. Dari Solo dia sudah melanglang buana ke Makassar, Bandung, Jakarta, Malang dan dalam waktu dekat akan ke Malaysia. Saking seringnya melancong, Abah saya sampai protes. “Kuliah di FK kok isine dolan thok ae ra tau sinau.” (Kuliah di FK kok main aja nggak pernah belajar).

Ya memang begitulah adanya Dik Ifa. Ada sembilan anak, ya sembilan sifat. Nggak bisa disamakan satu dengan yang lain.

Dia salah satu yang paling pemberani dari 9 bersaudara dan tahu tentang cukup banyak hal.

Saat kelas 6 SD, dia pernah mengajak Dik Tsuroyya yang waktu itu kelas 4 SD untuk pergi ke Bojonegoro Kota yang jaraknya 20 km dari rumah dengan mengendarai angkutan umum. Sampai di terminal, dia ingin pergi ke salah satu swalayan naik becak. Saat ditanya oleh tukang becak dimana rumahnya, dia menjawab “Griyo kulo mriki mawon.” (Rumah saya deket sini kok). Soalnya kalau bilang alamat asli nanti kan bisa diculik.😄

Pengen tahu tempat makan enak? Tanya Dik Ifa. Pengen pesen tiket buat liburan dengan harga murah? Tanya Dik Ifa. Mau cari temen mbolang? Ajak Dek Ifa. Mau beli gadget paling update? Tanya Dik Ifa. Pengen tahu spesifikasi mobil terbaru? Tanya Dik Ifa. Yang dia belum tau cuman, siapa jodohnya kelak.😄

Selamat ulang tahun! Selamat hampir koas. Selamat mau menikah. Semoga menjadi insan yang lebih bermanfaat.