Tags

, , , , , , ,

Maaf. Seperti tidak bertuhan.
Tidak dipinjami uang, seorang cucu rela membunuh neneknya.
Tidak tahan dengan suara berisik, seorang ayah tega membunuh anaknya.

Suatu saat ketika kuliah forensik, salah satu dosen saya, dr.Warih Sp.F pernah berkata.
“Disini kita belajar bagaimana membedakan pembunuhan dengan bunuh diri. Bagaimana membedakan kematian yang wajar dan tidak. Mungkin kita bisa jadi pembunuh yang handal, yang mampu menyamarkan apa yang kita lakukan menjadi sesuatu yang wajar. Namun untuk membunuh, butuh keberanian. Keberanian yang sangat besar”.

Saya kira selama ini untuk membunuh perlu alasan kuat, nyatanya tidak.

Atau sebenarnya bagi sebagian orang, membunuh karena tidak dipinjami uang itu logis? Membunuh karena tidak tahan dengan suara berisik anak itu logis?
Otak saya nggak nyampe.

Ya, bisa jadi si pembunuh mengalami gangguan mental. Sehingga ia tidak merasakan apapun saat membunuh. Otaknya mengalami gangguan. Layaknya orang mati rasa. Namun apakah semua pelaku juga demikian?

Bila mempunyai Tuhan, seharusnya tidak membunuh. Tidak dipinjami uang, bisa pinjam orang lain atau menjual barang milik pribadi. Bila tidak tahan suara berisik anak, bisa menenangkan. Meminta bantuan istri, atau paling simpelnya keluar dari rumah aja sebentar.

Bila mempunyai Tuhan, seharusnya ingat bahwa membunuh itu berdosa. Kecuali membunuh kafir yang mengganggu kita layaknya zionis Yahudi.

Hari ini dalam bus perjalanan Jombang-Surabaya, saya menyaksikan seorang pengamen yang saya duga mengalami retardasi mental (RM), dipukuli oleh pengamen lain. Alasannya karena si pengamen RM tersebut sudah terlalu lama mengamen sehingga tidak memberi kesempatan kepada pengamen lain. Ya, dipukuli di dalam bus. Sampai sopir menghentikan bus untuk menurunkan mereka. Pengamen RM sama sekali tidak bisa melawan, hanya menutupi wajah dengan tangan sambil sesekali berteriak, “Ibu..ibu..”
Pengamen yang memukuli, wajahnya beringas berkata “tak pateni kowe lek mudun, tak pateni kowe!”. Suami saya berusaha menarik bajunya untuk melerai tapi tidak berhasil, terlalu kuat. Seorang lagi berusaha melerai, tangannya digigit. Alhamdulillaah akhirnya berhasil diamankan oleh kondektur. Saat mereka turun, saya semakin yakin bahwa pengamen yang dipukuli mengalami retardasi mental karena wajahnya tampak datar saja. Tidak marah, tidak bersedih. Hanya tatapan kosong. Bahkan dia belum sempat mengedarkan kantong untuk menerima receh dari para penumpang.

Mungkin tidak ada yang mau mengurusi pengamen RM tersebut, sehingga dia harus mencari uang sendiri untuk kebutuhannya. Mungkin memang sulit untuk berkomunikasi dengannya, sehingga orang lain tidak sabar. Mungkin memang sulit membuatnya mengerti, karena memang dia butuh waktu lebih lama.

Atau mungkin si pengamen lain sangat butuh uang sehingga waktu yang hanya sedikit saja begitu berarti untuknya? Harga kebutuhan pokok yang mencekik begitu membuatnya tertekan sehingga mudah saja untuk memukul. Seperti (maaf) tak bertuhan.

Karena bila bertuhan, seharusnya tahu bahwa rezeki tidak akan tertukar. Karena bila bertuhan, seharusnya tahu bila sabar adalah salah satu jalan pertolongan Tuhan.