Tags

, , , , , , , ,

Apa yang kau ingat tentang Ramadhan?

Seingatku, aku mulai puasa sejak kelas 1 SD. Masih setengah hari. Setiap dzuhur senang sekali. Meski di ajak Ibu ke pasar untuk berbelanja mukena, aku tetap diberi makanan untuk berbuka. Kemudian melanjutkan lagi puasanya.

Yang kuingat tentang Ramadhan, aku menangis tersedu hingga ketiduran. Kala itu kelas 2 SD. Hari kedua berpuasa. Adzan dzuhur sudah berkumandang, Ibu telah selesai memasak makanan untukku berbuka. Aku pun siap menyantapnya.

Tapi Ayah memarahiku. “Puasa apa Cuma setengah hari? Nggak boleh berbuka!”

Lalu Maghrib datang dan mataku terbuka. Sejak hari itu, puasaku telah utuh sempurna.

Yang kuingat tentang Ramadhan, hari-hari pertama aku sibuk membuat daftar makanan untuk berbuka. Sudah kusiapkan semua. Saat berbuka tiba, ternyata perut tak mampu menampungnya. Aku hanya lapar mata!

Yang kuingat tentang Ramadhan, saat tarawih sibuk mencatat nasihat imam. Di akhir ceramah, aku akan mengantri meminta tanda tangan. Lalu aku akan bangun jam 2 pagi untuk ikut berkeliling membangunkan sahur orang-orang.

Yang kuingat tentang Ramadhan, aku sibuk sekali ikut pesantren kilat. Dalam sebulan, hanya hitungan jari aku di rumah bersama keluarga. Aku jadi punya banyak teman!

Yang kuingat tentang Ramadhan, seminggu terakhir aku akan berada di pedesaan. Di rumah kakek nenek tersayang. Tanpa Ayah dan Ibu. Hanya aku dan adik-adikku. Apa yang kulakukan? Banyak sekali, Kawan! Aku akan mengaji, aku akan membersihkan rumah, tarawih, hafalan Al-Qur’an dan takbiran. Yang istimewa, saat tengah malam aku akan diajak ke Masjid untuk sholat bersama. Baru aku tahu bahwa yang kulakukan dulu disebut i’tikaf.

Lekat sekali di ingatanku. Suatu hari sepulang i’tikaf, tanpa sengaja aku menengadahkan kepala. Menatap langit yang kukira gelap gulita. Namun aku salah besar. Langitnya bercahaya! Seakan berjuta bintang sedang berkumpul. Menatap manusia yang sibuk memujaNya.

Yang kuingat tentang Ramadhan, saat itu aku di Arab. Setiap kali masuk masjid, hawa yang terasa hanya ibadah. Shalat, mengaji, dan berdoa tanpa lelah. Ketika waktu berbuka tiba, penduduk sekitar akan berbondong-bondong memberikan makanan yang mereka punya. Kurma, air, roti, dan susu kambing. Bayangkan betapa baiknya mereka.

Yang kuingat tentang Ramadhan, saat itu Syria masih damai. Aku berbuka dan makan sahur dengan nasi mandi. Khas timur tengah. Hari pertama masih muntah. Hari terakhir nambah! Saat berbuka, jangan harap ada toko yang buka. Jalan raya sunyi senyap tak satupun orang lewat. Shalat tarawih di masjid sekitar, bertemu istri Syaikh dengan senyum yang menawan hati. Malam hari mengelilingi pasar, sungguh indah karunia Allah. Tanah yang gersang bisa tumbuh bebuahan lezat dengan harga sangat hemat!

Yang kuingat tentang Ramadhan, aku sudah koas di salah satu rumah sakit. Pertama kali jaga UGD. Menangis ingin pulang. Saking sibuknya sampai harus diingatkan oleh PPDS untuk sahur dan berbuka. Malah beliau dengan baiknya mengambilkan makananku agar aku sempat melahapnya.

Ramadhan kali ini, aku bersama suamiku, ayah dan ibu serta adik-adikku. Setelah bertahun-tahun berlalu. Maklum. Aku anak rantau. Aku menyiapkan sahur, menyiapkan makanan berbuka, memastikan semua berjalan dengan baik meski belum sempurna.

Ramadhan kita mungkin berbeda cerita. Antara sendiri dan bersama, antara dekat keluarga maupun jauh di luar kota. Kau tahu? Kita semua masih

bisa bertemu dalam doa.🙂

Semoga masih bertemu dengan Ramadhan selanjutnya.