Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , ,

taken from : danarhadibatik.com

taken from : danarhadibatik.com

Menikmati Kota Solo nggak perlu berlama-lama. Dua hari satu malam saja bisa lho. Nah dalam waktu tersebut kira-kira bisa kemana aja ya?

Mumpung ada undangan pernikahan di Solo. Sekalian dimanfaatkan buat jalan-jalan dong bareng suami.­čśÇ

Rencananya kami berangkat dari Jombang naik bus Surabaya-Jogja. Namun di detik-detik akhir suami menyarankan naik kereta agar hemat waktu. Plus kami juga belum pernah trip berdua naik kereta. Hohoho.

Pilihan transport dari Jombang ke Solo

  1. Bus : perjalanan 5 jam, harga sekitar 70.000, tergantung patas/ekonomi
  2. Kereta : perjalanan 3-4 jam, 90.000-300.000 tergantung ekonomi/bisnis/eksekutif

Untuk penginapan, kami sudah booking seminggu sebelumnya setelah berselancar di internet. Kamu bisa memanfaatkan agoda/booking(dot)com/pegipegi atau web lain, bandingkan harga paling murah. Pertimbangkan lokasi pengninapan dengan tempat wisata yang ingin dikunjungi.

Saya dan suami menginap di Griya Surya Hotel di daerah Solo Baru 95.000/malam include breakfast (roti tawar plus topping), shared bathroom. Kasur spring bed, AC, TV, free wifi. Tersedia teh/kopi/air putih/air panas yang free 24 jam di ruang makan. Kamarnya bersih, kamar mandinya juga bersih banget meski shared bathroom. Jangan lupa bawa handuk dan peralatan mandi pribadi.

Ada juga dapur yang bisa digunakan sepuasnya kalau mau masak. Meski jarak agak jauh dari pusat kota (10 menit dengan motor) dan rawan macet, tapi worth it banget dengan harga segitu. Oiya. Dindingnya beberapa bagian terbuat dari triplek. Saya kurang tau apakah kedap suara atau tidak.­čśä

Untuk pilihan transportasi selama di Solo :

  1. Batik Solo Trans (4.500 rupiah) ke segala jurusan. Perhatikan ada 2 rute. Koridor 1 dan 2. Hanya sampai pukul 18.00
  2. Sewa motor/mobil (di Griya Surya Hotel menyediakan fasilitas sewa motor 40rb/hari)
  3. Taksi (bila sewa motor sudah habis waktunya dan harus bepergian jauh setelah pukul 18.00)

Karena waktu kami hanya singkat, otomatis tidak bisa pergi terlalu jauh dari pusat kota Solo. Kami memutuskan untuk berwisata kuliner serta berkunjung ke museum dan keraton saja.

Keraton yang kami kunjungi adalah Keraton Kasunanan (Keraton Surakarta Hadiningrat). Sebelumnya, saya dan adik sering lewat sini tapi nggak pernah mampir. Berhubung suami pengen, maka kami sempatkan untuk berkunjung.

Keraton ini mudah sekali ditemukan. Dekat dengan Pusat Grosir Solo dan Pasar Klewer. Tiket masuk 10.000/orang. Ada lahan parkir luas untuk motor dan mobil. Hanya saja bila mengendarai motor maka harus berjalan kaki kurang lebih 200 meter untuk memasuki area keraton.

Kesan pertama saat memasuki keraton : spooky. Hehehe. Semacam ada aura mistisnya. Padahal kami kesana siang hari saat matahari sedang terik-teriknya. Mungkin karena di halaman banyak pepohonan, atau karena tempatnya kurang terawat jadi terkesan demikian.

Daerah keraton terbagi menjadi beberapa kompleks. Agar lebih paham tentang sejarah keraton, kamu bisa menyewa guide yang stand by disana. Kami masuk ke area keraton terlebih dahulu tanpa guide. Karena memakai sandal, jadi harus dilepas. Ada baiknya bila mau berkunjung, memakai sepatu saja. Ada beberapa aturan lagi saat mengunjungi keraton yang harus dipatuhi.

Ada hal yang sangat menarik perhatian saya sejak pertama kali memasuki kompleks keraton. Banyak sekali patung-patung bergaya eropa yang terletak di sekeliling pendopo dan halaman utama. Hal itu tampak mencolok karena terlihat kontras dengan arsitektur di sekitarnya. Apakah pada saat pembangunan dulu hubungannya sangat dekat dengan Raja Eropa? Padahal Belanda yang datang menjajah datang dari Benua Eropa? Entahlah. Saya belum menemukan jawabannya.

Patung bergaya Eropa

Patung bergaya Eropa

Halaman keraton dipenuhi dengan pepohonan rindang Sawo Kecik sehingga terasa sejuk. Terdapat lukisan para tokoh besar yang terpampang di dinding, buat saya semakin menambah ke spooky an daerah itu. Oke saya memang bukan pecinta sejarah.­čśä

Pepohonan Sawo Kecik

Pepohonan Sawo Kecik

Masuk ke Museum, terasa lebih spooky lagi. Barang-barang yang sangat mengingatkan akan kehidupan masa lalu seperti meriam, tombak, dan barang-barang lain yang berjejer di dalam almari. Tanpa keterangan. Hanya tulisan nama. Penerangan amat minim, debu dimana-mana. Bahkan di beberapa bagian kereta yang menjadi pameran, terdapat sampah dedaunan. Padahal cukup banyak turis lokal yang berkunjung kesini.

Bagian dalam museum

Bagian dalam museum

Puas berfoto-foto, kami meluncur ke Museum kedua. Museum Batik Danar Hadi yang terletak di Jl. Brigjen S. Riyadi. Dari jalan raya  tidak terlalu terlihat papan namanya sehingga kami hampir terlewat. Namun saat memasuki area parkir, kok sepi? Padahal Hari Sabtu. Tidak seramai di Keraton Kasunanan.

Kami sempat bingung dengan lokasi pintu masuk museum karena tidak ada penanda. Akhirnya kami bertanya ke satpam dan diarahkan ke toko untuk membeli karcis kemudian memasuki area museum dari toko tersebut. Untuk student dikenakan biaya 15.000 dan umum 35.000 (include guide).

Kesan pertama saat memasuki museum, woooow. Beda banget dengan museum sebelumnya. Pencahayaan terang, ada AC dan kami langsung disambut dengan guide super ramah yang akan menuntun perjalanan kami. Kebetulan kami satu-satunya pengunjung saat itu. Setelah mengisi buku tamu, kami diajak berkeliling museum. Peraturannya : tidak diperkenankan memotret. Menggambar sketsa boleh.

Disana kamu akan menemui berbagai macam corak batik serta folosofinya, bagaimana cara menyimpan batik, dan tentunya cara membuatnya. Bila sedang beruntung, kita bisa lho melihat langsung proses pembuatan batik. Dan guidenya juga fasih berbahasa Inggris sehingga kamu bisa mengajak teman mancanegaramu kesini!

Kamu berkeliling selama kurang lebih 45 menit. Setelah itu kami keluar melalui toko, disana tersedia berbagai macam souvenir. Untuk marketing museum ini sendiri saya rasa sudah sangat bagus sekali. Masuk tripadvisor dengan rating 4,5, atraksi nomer 1 (dari 27) yang harus dikunjungi di Solo versi tripadvisor, serta kampanye visit Indonesia berjejer dengan House of Sampoerna dan tempat wisata lain. Untuk perawatan dan suasananya, sudah seperti museum di luar negeri. Hehehe.

Saya jadi membayangkan. Apabila museum dan keraton dikelola dengan cara profesional, apa mungkin akan bisa menarik turis lebih banyak lagi. Mengingat Solo merupakan salah satu kota dengan wisata budaya yang sangat kental, bahkan bangunan Museum Batik Danar Hadi pun dulunya merupakan rumah sultan yang tidak terurus sehingga dibeli oleh salah satu pecinta batik untuk kemudian direnovasi.

Museum Batik Danar Hadi tampak depan

Museum Batik Danar Hadi tampak depan

Jadi sebenarnya kita bisa kan?

Untuk melihat lebih lanjut tentang Keraton Kasunanan bisa klik di link berikut :

http://www.indonesia.travel/id/destination/548/keraton-kasunanan-solo

http://surakarta.go.id/konten/keraton-kasunanan-surakarta

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Keraton_Surakarta_Hadiningrat

Untuk melihat lebih lanjut tentang Museum Batik Danar Hadi bisa klik di link berikut :

http://danarhadibatik.com/site/whydanarhadi?page=museum

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Museum_Batik_Danar_Hadi

http://www.lonelyplanet.com/indonesia/java/solo/sights/museums-galleries/danar-hadi