Tags

, , , , , , ,

IMG_1339Pada tahun 2005 silam saat ditanya ingin melanjutkan sekolah SMA kemana, dengan mantap saya menjawab SMAN 3 Malang. Saya ingin merasakan suasana yang berbeda. Mengingat sejak TK hingga SMP, saya selalu bersekolah di madrasah.

Namun kepala sekolah mengatakan bahwa ada sebuah sekolah yang bagus, terletak di Tangerang. Dulu ada kakak kelas 3 tahun di atas saya yang melanjutkan kesana, tapi kemudian belum ada penerusnya.

Saya masih ingat betul, saat itu awal kelas 2 SMP. Ayah mengajak saya berkunjung ke Insan Cendekia Serpong sepulang dari lomba di Palembang. Hanya sekedar melihat-lihat saja kata beliau.

Awal masuk gerbang, berasa eksklusif sekali. Hanya ada satu jalan, Jalan Cendekia yang menuju ke kompleks sekolah. Wah sekolahnya besar sekali. Terasa luas dan lengang karena saat itu masih jam pelajaran.

Setelah bertemu dengan pegawai di tata usaha untuk menanyakan beberapa hal terkait Insan Cendekia (saya lupa saat itu bertanya apa saja), kami berjalan mengelilingi kompleks sekolah. Melihat gedung sekolah, gedung asrama, masjid dan sekitarnya.

Sempat beberapa kali berpapasan dengan siswa, dan yang membuat takjub lagi, mereka mengucapkan salam pada kami sambil tersenyum. Jujur saat itu saya terpesona.

Ketika kemudian nama saya masuk ke dalam list 120 anak yang diterima di MAN Insan Cendekia Serpong (MAN IC), rasa-rasanya hampir tidak percaya. Pasti cuma mimpi! Namun berapa kalipun saya membaca, nama saya tetap berada disana.

Masuk asrama bukan hal yang baru bagi saya. Bila teman-teman diantar oleh keluarganya ketika awal tahun pelajaran, saya cukup ditemani Ayah. Sejak saat itu, mulailah perjalanan hidup saya di MAN IC.

Satu minggu menjalani MOS cukup membuat saya menangis dan ingin pulang saja (seumur-umur saya belum pernah sebegitu kangennya pulang ke rumah). MOS yang sangat melelahkan fisik terutama jiwa. Namun menjadi bekal utama kami dalam mengarungi tiga tahun fase kehidupan di dalamnya. Tentang MOS di MAN IC bisa dibaca disini

Setelah resmi menjadi siswa MAN IC, dunia akademik pun dimulai. Saya berkenalan dengan banyak teman baru terutama dari Jakarta dan sekitarnya, rata-rata mereka berasal dari SMP umum (bukan madrasah) yang kemampuannya tidak diragukan lagi. Di MAN IC lah saya belajar bahasa elo-gue yang biasanya cuma bisa dengar dari sinetron televisi meski terdengar aneh dengan logat Jawa saya yang begitu kental.😄

Dalam satu semester, kami dibagi menjadi empat blok. Di setiap akhir blok akan ada ujian yang hasilnya masuk nilai raport. Tes blok pertama saat kami kelas satu adalah hal yang sangat krusial.

Mengapa? Bayangkan saja. Di tes blok tersebut, seseorang yang saat SMP begitu jagoan di bidang matematika, bisa mendapatkan nilai 40 saja. Tentu hal itu sangat menggemparkan dunia. Meruntuhkan kesombongan kami karena telah diterima disana. Menampar kami. Menyadarkan kami bahwa perjalanan kami masih panjang untuk menjadi siswa MAN IC yang sesungguhnya.

Rutinitas sehari-hari sudah terasa. Bangun pagi, sholat subuh di masjid, mengaji, sarapan pagi, sekolah, sholat dzuhur plus makan siang, sekolah lagi, sholat ashar, waktu bebas, sholat maghrib, mengaji, makan malam, sholat isya, belajar, tidur.

Terlihat begitu membosankan bukan?

Eits jangan salah. Untuk bangun pagi sholat subuh di masjid, butuh tenaga dan kekuatan ekstra dalam melakukannya.😄

Adegan antri mandi (tapi gamau jadi yang pertama karena mager dan gamau jadi yang terakhir karena pasti telat), adegan berlari-lari mengejar apel pagi sampai nggak sempat sarapan.

Disaat siswa lain harus bangun pagi dan menempuh perjalanan panjang untuk ke sekolah, kami menghabiskan waktu dengan mencuci baju, membaca buku, atau yang lainnya. Karena sekolah kami bisa ditempuh dengan 5 menit jalan kaki dari asrama.

Pelajaran jarang yang menjadi membosankan (kecuali Bahasa Arab yang waktu itu benar-benar menjadi momok bagi hampir seluruh siswa), karena guru-guru kami yang begitu kreatif dalam mengemasnya.

Masya Allah. Bila teringat pada guru-guru MAN IC, beliau benar-benar seorang pendidik. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak bisa menjadi bisa. Mendidik dengan adab. Dengan memberi contoh. Menjunjung tinggi kejujuran serta keikhlasan dalam bekerja. Semata-mata hanya ingin anak Indonesia, seorang muslim, memiliki jiwa intelektual tinggi dibarengi iman yang kuat.

Bila kamu merasa keberatan dengan mata pelajaran di sekolah, jangan sungkan-sungkan menemui guru di rumah dinas. Mereka akan menerima dengan tangan terbuka. Pun ketika hasil tes blok belum memenuhi batas minimal nilai, mereka akan memberikan remidi (berapa kalipun) agar kamu bisa melalui nilai tersebut.

Sungguh, kesabaran beliau-beliau dalam mendidik sangat besar sekali. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatNya kepada mereka.

Tinggal di asrama tidak serta merta membuat dirimu kuper. Saya tahu flash disk pertama kali juga dari sana (saat saya mau memasukkan disket ke CPU tapi nggak ada tempatnya hahahahaha). Saya menemukan teman dekat yang bisa diajak berbagi kisah bahagia maupun sedih, yang dengan senang hati bisa kita curhati 24 jam. Nggak boros ongkos pulsa. Yang tanpa kita tahu nantinya mereka akan menjadi sahabat terbaik kita di masa depan.

Di MAN IC hanya boleh keluar asrama setiap 2 minggu. Bergantian antara siswa laki-laki dengan perempuan. Hal itu tidak menjadikan kami kurang akal biar nggak bosan. Setiap minggu hampir selalu ada acara dari OSIS. Sebut saja event tentang seni, jurnalistik, lingkungan, olahraga, bahasa, agama, sosial, pendidikan, dan lain-lain. Baik itu perlombaan antar kelas maupun antar angkatan. Menjadikan kami begitu solid dan kreatif hampir setiap harinya.

Diluar event dari OSIS, di MAN IC juga ada liga lho. Tapi khusus laki-laki. Keren banget macem EPL sama WBL gituu.😀 Jadi ada tim sepak bola dan tim basket. Waktu pertandingan terjadwal. Sampai ada bursa transfer segala! Kece banget kan? Nanti di akhir musim, akan ada penyerahan trofi. Bangga banget rasanya kalau tim kita yang jadi juaranya! Ps : untuk yang perempuan, bisa bergabung dengan menjadi manager dengan menyediakan snack dan makanan kala pertandingan.

Kalau ada yang bilang makanan di asrama itu nggak enak, nggak sepenuhnya salah. Tapi selama di IC, porsi makan saya selalu besar.😄 dan udah pasti dijamin sehat lah ya. Dapet makan tiga kali sehari. Sudah melalui tim gizi pula daftar menunya.

Jangan khawatir kamar nggak bersih. Program dari OSIS akan mengharuskan kamu selalu membuat kamarmu dalam keadaan bersih. Karena mereka akan sidak sewaktu-waktu. Dan mengumumkan kamar terkotor serta menampilkan foto kamarmu ke seluruh penghuni Insan Cendekia. Duh, malu banget deh kalo udah kaya gitu!

Bila kamu merasa sedang down dan nggak tahu mau curhat kemana, ada pembina asrama yang selalu siap mendengar serta memberi masukan. Untuk kamu yang homesick, untuk kamu yang stres dengan pelajaran, untuk kamu yang sedang berantem dengan teman, dan lainnya.

Bila sakit, ada klinik dengan dokter dan perawat yang Insya Allah siaga 24 jam. Kebetulan saya pernah bermalam disana. Masya Allah. Kesabaran dan ketelatenan para tim medis membantu saya agar lekas diberi kesembuhan.

Saat liburan adalah saat yang amat dinanti. Namun layaknya banyak kenikmatan, akan terasa cepat sekali berlalu. Kembali ke asrama adalah hal yang sangat tidak mengenakkan jiwa dan raga. Mengingat berbagai ujian dan tes yang terpampang di depan mata. Seringkali perut ini berulah bila sudah gedung sekolah sudah terlihat. Mules, sakit tak karuan. Tapi tetap saja. Masuk asrama, bertemu kawan lalu sibuk bercerita panjang lebar hingga fajar tiba.😀

Mengapa MAN IC?

Karena dia lah yang membuat saya bertakbir, memuja namaNya saat melihat sebuah madrasah masuk dalam daftar pemenang olimpiade nasional maupun internasional.

Mengapa MAN IC?

Lupakan senioritas. Saat menjadi adik kelas, pasti hafal dengan semua nama kakak kelas. Jangankan dibully, kami justru banyak mengidolakan mereka. Yang menyenangkan lagi, mereka tidak serta merta membuat jarak. Justru merangkul dengan mesra, menuntun adik-adiknya untuk melangkah bersama.

Mengapa MAN IC?

Sekolah dengan guru BK terbaik. Tahu detail tentang hampir semua universitas, pilihan jurusan, cara masuk, passing grade, program beasiswa, dan lain sebagainya. Bu Rini, guru BK ajaib kami. Pernah saya tulis disini.

Mengapa MAN IC?

Karena disana saya tahu, bahwa akademik anak madrasah nggak kalah jago sama sekolah umum. Meski kita juga diberi banyak pelajaran agama.

Mengapa MAN IC?

Karena sekolah asrama, mengharuskan kami menata hidup dengan tertib. Yang akan kami bawa kelak pada fase kehidupan selanjutnya.

Mengapa MAN IC?

Sekolah yang membuat salah satu staf hotel di Anyer kagum saat kami mengadakan perpisahan kelulusan. Takjub dengan berbagai ketertiban kami. Mulai dari antri makan, pengaturan duduk laki-laki perempuan, pengaturan penginapan, menjadi hal yang aneh saat kami tidak ribut tentang hal-hal tersebut. Membuat mereka bertanya. Sekolah macam apa yang mendidik siswanya sedemikian rupa.

Mengapa MAN IC?

Satu-satunya tempat dimana saya melihat siswa laki-laki saat sekolah berpakaian rapi serta menenteng file holder dan nggak cuma satu orang.😄

Mengapa MAN IC?

Kami belajar, kami berorganisasi, kami bersosialisasi, kami memperdalam agama, kami belajar hidup, menghormati orang, belajar etika. Dua puluh empat jam setiap harinya.

Mengapa MAN IC?

Telah mengubah saya, dan banyak teman saya. Menjadi orang yang lebih berguna bagi agama, keluarga dan bangsa. Kami dulu menolak mentah-mentah bila disebut santri. Plis deh, IC bukan pesantren! Hahahaa. Begitu elak kami.

Namun melihat metamorfosa rekan saya, sungguh. Insan Cendekia menjadi penempaan berlian yang indah. Mengajarkan agama tanpa menggurui, memberi contoh yang bisa diterima oleh diri ini.

Ya, itulah penjara suci kami. MAN Insan Cendekia Serpong, yang selalu di hati.🙂