Tags

, , , ,

IMG_1215Sebuah kebanggaan tersendiri bila memiliki istri seorang dokter. Selain profesi yang masih dianggap prestis di masyarakat, seorang wanita yang juga dokter terkesan lebih bisa berempati. Terlihat begitu lembut dalam memperlakukan orang lain.

Benarkah demikian?

Bila istrimu seorang dokter, orang yang tidak dikenal aja bisa dirawat setengah mati. Apalagi suami dan anak sendiri kan ya? Pikirmu begitu.

Jangan kaget bila untuk ngurus diri sendiri saja dia nggak ada waktu. Hingga rekan kerjamu terlihat lebih cantik darinya. Meski begitu, jangan lelah memuja. Bahwa ia masih paling cantik di matamu. Percayalah. Nggak ada wanita yang nggak ingin terlihat cantik. Dia hanya melebihkan waktunya untuk hal yang lebih mulia.

Ketika engkau merasa dia tidak menuruti perintahmu, sesungguhnya dia menangis sekencang-kencangnya. Bahwa ada suami yang lebih berhak atas waktunya. Bahwa ada anak yang merindukan kasih sayangnya. Namun seringkali pasiennya tidak bisa menunggu. Karena nyawanya berpacu dengan waktu. Bila atasan sudah bertitah, tidak mungkin untuk tidak melaksanakannya. Mengadulah pada senioritas yang masih merajalela.

Saat hidupnya mulai tertata, mulai banyak orang melihat dirinya. Saat itu pula mungkin dirinya terlihat tidak membutuhkanmu. Dan orang lain tidak berhenti bicara tentangnya. Bahwa dia melebihi dirimu.

Jangan percaya mereka!

Istrimu tetaplah wanita. Apa yang ada pada hidupnya, bukanlah kesalahannya. Dia masih gadis kecilmu, yang sangat suka bila diusap kepalanya. Yang berbunga-bunga saat chat darimu muncul di hapenya.

Tetaplah menjadi imam untuk bersama-sama menuju jalanNya. Tuntunlah ia menjadi istri solehah sebagai surga bagi ananda.

Dia masih istrimu, yang menyiapkan baju untukmu sebelum berangkat untuk mengoperasi pasiennya. Dia masih istrimu, yang berjuang meluangkan waktu saat bekerja untuk memompa ASInya. Dia masih istrimu, yang kau pilih untuk melengkapi separuh agama.

Saat dia akhirnya memutuskan berada di rumah. Ketahuilah, dia juga ingin menjadi dokter spesialis layaknya sahabat dekatnya. Dia juga ingin menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Namun cintanya padamu mengalahkannya. Bahwa ia sadar, suami dan anaknya lebih membutuhkannya. Bahwa ia menitipkan mimpinya, kepada para dokter diluar sana. Untuk menjadi seseorang yang dalam suatu waktu, pernah ia damba.