Tags

, , , , , , ,

img_7130-0Berawal dari saya yang menjumpai pasien HIV-AIDS di usia muda, 33 tahun. HIV sendiri memiliki jangka waktu yang relatif lama untuk berkembang menimbulkan berbagai macam gejala. Kurang lebih 5 tahun. Bila usia 33 tahun dia sudah terdiagnosis, pada usia berapa kira-kira memperoleh virus tersebut? Ya. 27 tahun.
Saya berkonsultasi dengan ayah terkait pasien tersebut. Kemudian ayah bercerita tentang pengalamannya semasa SMA dan saat menempuh program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di Malang.
Ayah lahir di pedalaman Nganjuk. Di sebuah desa bernama Cengkok. Dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai petani. Mayoritas kakak-kakak dari ayah pernah mengenyam pendidikan pondok pesantren. Ayah sendiri saat SMA, merantau ke Malang untuk bersekolah di SMA PPSP (saat ini SMAN 8 Malang).
Sering sekali saat sekolah, beliau diminta teman sekelasnya untuk mengajari materi yang tidak dipahami di sekolah. Ayah diajak ke rumah mereka kemudian diberi berbagai hadiah sebagai ucapan terima kasih. Saat itu pesan kakak dari ayah hanya satu, jangan menginap bila belajar. Maksimal jam 9 malam harus sudah pulang ke kos. Aturan tersebut dipatuhi ayah. Sampai suatu ketika, ayah mau tidak mau harus menginap di rumah temannya.
Bila jam 9 biasanya sudah terlelap, tidak demikian saat menginap di rumah teman. Ayah masih ngobrol kesana kemari, hingga hampir tengah malam kemudian merasa lapar dan memutuskan mencari makanan di luar. Ketika akhirnya membeli makanan di luar, ternyata teman-teman ayah yang lain ikut menyusul dan bergabung. Kemudian tercetuslah ide untuk “mengganggu” orang-orang yang pacaran di sekitar lokasi sekolah. Pada zaman itu, di sekitar sekolah masih sepi, banyak pepohonan sehingga menjadi tempat favorit untuk pacaran.
Nah bagaimana teman-teman ayah mengganggu mereka? Dengan meminta uang. Istilah kerennya “malak”. Awalnya ayah tidak sadar. Untuk teman-teman ayah, hal itu hanya jadi keisengan saja. Namun kemudian ayah berpikir, lho kalau kayak gini aku lak jadi preman? Kerjaannya malakin orang. Sejak saat itu, ayah tidak pernah menginap di rumah teman lagi.
Menurut penuturan ayah, beliau bisa sadar bahwa itu perbuatan yang tidak baik berkat doa dari orang tua. Mereka tidak tahu apa yang dikerjakan ayah di Malang. Namun mereka selalu menyebut ayah dalam doa, memohon supaya ayah selalu dalam perlindunganNya.
Biasanya kenakalan terjadi karena berawal dari ajakan seorang teman dekat yang tidak bisa ditolak. Kita sungkan kalau nggak ikut. Kita kan perantau, dari desa yang pindah ke kota. Sekali-kali melihat kehidupan kota itu seperti apa.
Bagi orang tua, menyekolahkan anak ke luar kota juga merupakan hal yang seringkali tidak bisa dihindari. Untuk mendukung anak-anaknya mencari ilmu, mereka menyediakan segala fasilitas lengkap. Diberi rumah, mobil, pembantu, sopir, dan lain-lain. Dengan harapan sang anak dapat menimba ilmu dengan sebaik-baiknya.
Ada hal yang terlupakan. Sebuah kontrol. Ketika anak berada jauh dari orang tua, mereka akan sering menghabiskan waktu bersama teman. Teman seperti apa yang ada di lingkungan anak kita? Benarkah anak kita sudah bertindak di jalan yang benar? Atau justru malah menyimpang?
Saat PPDS di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, ayah pernah menjumpai pasien seorang mahasiswa. Masuk rumah sakit karena tidak sadar. Setelah diperiksa lebih lanjut, pasien itu diperkirakan mengalami over dosis obat terlarang. Orang tua datang tergopoh-gopoh dari luar kota, menanyakan kondisi sang anak.
Setelah diberi penjelasan, beliau bercerita. Bahwa dia sudah memberikan segalanya untuk sang anak. Pasien dan adiknya menempuh pendidikan di Malang, diberi segala fasilitas. Tidak menyangka bila akan menjadi begini. Padahal selama ini, mereka baik-baik saja menurut pembantu dan sopir yang ikut bersama mereka. Usut punya usut, sang adik juga sudah terpengaruh obat, dan rumah mereka menjadi basecamp untuk teman-temannya “ngobat”.
Belum lama ini kita juga disuguhi berita tentang salah satu mahasiswa di Malang yang mengancam pacarnya untuk mencarikan perempuan lain yang masih perawan. Bila tidak dituruti, foto-foto sang pacar akan disebar. Ternyata sang pacar sudah tertekan dalam waktu yang lama. Dia sering dipaksa melayani nafsu di rumah mahasiswa itu. Di rumah tidak ada siapa-siapa karena memang sang mahasiswa berasal dari luar kota.

Betapa hancur hati orang tua. Ketika sang anak melakukan hal yang menyimpang dari jalanNya. Namun mungkin sebagai orang tua juga perlu introspeksi diri. Sudah cukupkah bekal yang diberikan untuk anak? Tidak hanya materi. Tapi juga spiritual. Agar mereka mampu berdiri tegak di tengah terjangan godaan dunia. Banyak juga anak yang sukses meski jauh dari orang tua dan diberi rumah sendiri. Hal itu tidak lepas dari kontrol yang baik tentunya.

Sudahkah mendoakan anak-anak kita? Ataukah kita hanya peduli pada nilai mereka? IP dan prestasi mereka? Lupa bahwa sang anak berada di tengah rimba kehidupan. Kemaksiatan bisa mengintai kapan saja.
Ayah saya sendiri lebih memilih untuk menitipkan anaknya di sebuah lembaga atau sekolah yang terpercaya. Paling tidak sang anak akan diatur dalam sebuah sistem. Bila sistemnya belum bagus, ayah akan membantu memperbaiki dengan kapasitas sebagai wali murid. Sang anak juga sudah dipersiapkan jauh-jauh hari tentunya. Agar tidak kaget bila berhadapan dengan sistem tersebut.
Bila pilihan sudah diambil, apakah berhenti sampai disana? Tentu tidak. Pekerjaan menjadi orang tua tidak pernah berhenti hingga bertemu di surga nanti. Untuk itu bagi para orang tua, sebutlah anakmu selalu dalam doa. Untuk para anak, mintalah perlindungan hanya padaNya. Setan tidak akan pernah berhenti menggoda. Dan hanya Allah Sebaik Baik Penjaga.