Tags

, , , , , ,

IMG_2921Selamat Hari Dokter Nasional!
Apakah dengan diperingatinya hari ini kemudian dokter bisa lebih baik dari sebelumnya? Bisa dan tidak.

Saya seorang dokter. Kebetulan kemarin baru saja mengikuti seminar di Jakarta tentang berbagai info dari dunia kesehatan. Baik dunia dokter, rumah sakit, BPJS, hukum kesehatan dan lain-lain.

Berangkat dari sebuah pertanyaan. Mengapa seseorang menjadi dokter? Ternyata jawabannya bervariasi. Yang paling idealis akan menjawab “ingin membantu orang lain”. Kenyataannya, dunia tak seindah itu.
Banyak sekali yang menempuh pendidikan dokter karena disuruh orang tua. Dengan anggapan profesi dokter memiliki prestis yang tinggi. Cari duit gampang, seminar di hotel berbintang. Lalu apa yang dilakukan para orang tua tersebut? Membayar berapapun harga agar anaknya diterima di fakultas kedokteran (FK). Tidak harus negeri. Swasta pun dijabani. Mutu sering dikesampingkan. Nggak penting jadi dokter yang kaya gimana, yang penting dapet gelar dokter.

Bagi orang berotak bisnis, ini adalah kesempatan besar untuk membuat industri FK. Pemilik akan melakukan berbagai cara agar diberi izin mendirikan FK, dengan niat mengambil untung sebanyak-banyaknya.

Siapa yang jadi korban?
Mereka yang tidak nyaman masuk FK. Mereka yang masuk hanya karena dipaksa dan selama pendidikan tidak menemukan alasan mengapa mereka harus disana.
Belajar sekedarnya. Lulus sekedarnya. Kalau nggak lulus ujian semester berkali-kali, ya di DO. Bila tidak lulus ujian kompetensi dokter pun, para FK tidak mau bertanggung jawab atas mahasiswanya itu. Harus kemanakah mereka pergi? Sedangkan usia sudah tidak muda lagi. Karena keegoisan orang tua dan kampus yang tidak bertanggung jawab, mereka terlunta-lunta.

Profesi dokter sudah berbeda dengan dulu. Bukalah matamu. Dokter dianggap dewa. Bedanya, bila dulu pasien akan menurut saja apa kata dokter, sekarang tidak. Dokter harus menjadi dewa, dokter harus bisa menyembuhkan pasiennya. Bila tidak sembuh atau terjadi hal tidak diinginkan, dianggap malpraktek. Dituntut. Dipenjara. Tidak ada perlindungan hukum sama sekali. Untaian kata-kata indah hanya termaktub dalam undang-undang. Pelaksanaannya? Nol besar. Dokter harus menjadi dewa, dengan hati seluas samudera. Tidak boleh mencari uang dari profesi mulia. Padahal kami manusia. Kami punya keluarga. Kami juga penduduk Indonesia.

Adakah dokter yang berperilaku buruk? BANYAK! Lalu adakah yang berperilaku baik? LEBIH BANYAK LAGI! Mengapa dokter berperilaku buruk? Bila bisa disimpulkan, karena uang. Biaya kuliah mahal, harus balik modal. Seminar di hotel bintang lima dengan harga berjuta. Dilihat tetangga kanan kiri. Katanya dokter, tapi kok nggak punya mobil? Kredit lah dia. Tidak bisa menutup kredit, terjebak dalam penulisan resep obat oleh pabrik farmasi. Biaya sekolah anak mahal, melanjutkan spesialis mahal, gaji dari pemerintah tidak mencukupi. Di Indonesia, pemasukan dokter berbanding lurus dengan jumlah pasien yang ditangani di tempat praktek non pemerintah. Pasien di RS negeri terlunta karena dokter menomorduakannya.

Dimanakah dokter yang baik? Jangan lupa. Mereka ada. Tersebar dimana-mana. Di ujung terluar pulau, memperbaiki puskesmas yang sistemnya porak poranda. Menjadi dokter di rumah sakit, dengan niat menyehatkan pasiennya. Menjadi dosen pengajar, menyalurkan segala ilmunya. Dokter-dokter itu ada. Dia memang mencari nafkah dengan berusaha menyehatkan orang lain. Menuliskan resep sewajarnya. Tidak tergoda gaya hidup dunia yang membahana. Apa yang terjadi saat para dokter ini berusaha menyelamatkan pasien kemudian dituntut karena hasilnya tidak sesuai dengan keinginan pasien dan keluarga? Mereka depresi. Tidak akan pernah bisa kembali mengobati pasien seperti semula.

Sudah cukup. Jangan paksa seorang anak menjadi dokter dengan menghalalkan segala cara. Biarkan dia memilih dan diberi jalan terbaik olehNya.

Sudah cukup. Ubah mindset dokter adalah profesi yang bergelimang dunia. Menjadi dokter tidak harus kaya harta. Akan tetapi harus kaya jiwa.

Jangan mau dibodohi. Gelar dokter saja tidak cukup. Sisihkan saja uangmu untuk hal lain. Daripada menyekolahkan anakmu ke kampus yang tidak jelas mutu pendidikannya.

Dokter bukan dewa. Dokter hanya manusia. Kami bisa salah, ingatkan kami, maafkan kami.

Tidak perlulah seminar di hotel bintang lima. Tidak perlu iming-iming jalan-jalan keluar negeri. Bila sebagai ganti, harus didikte industri farmasi untuk memeras pasien.

Mendidik seorang dokter harus dengan hati. Tidak bisa senioritas belaka. Dunia feodal FK harus segera ditinggalkan. Supaya dokter bisa lebih memanusiakan sesama.

Alangkah baiknya bila gaji dokter diatur negara. Sesuai dengan porsinya. Jumlah pasien yang sesuai kapasitasnya. Pasien senang, dokter bisa melayani maksimal. Daerah kecil harus dibangun. Supaya dokter dan masyarakat bisa berkeluarga dengan nyaman disana.

Dalam sistem kesehatan, harus ada yang membayar. Entah itu pemerintah, asuransi maupun kantong pribadi. Lalu bila ada kampanye kesehatan murah, bahkan gratis, bagaimana mungkin akan menghasilkan pelayanan medis dengan hasil maksimal? Siapa yang akan membayar biaya obat, biaya alat, sewa kamar, dan lainnya? Tidak sedikit dokter dan tenaga medis yang bersedia tidak diberi balas jasa atas tindakannya, bila memang dana yang ada tidak mencukupi. Asal pasien masih bisa dapat obat dan tindakan yang seharusnya.

Di acara seminar yang saya hadiri, terdapat pula hospital expo. Menampilkan berbagai alat medis dari perusahaan nasional dan internasional. Sungguh. Masa depan juga ada disana. Dengan berbagai peralatan canggih. Apakah itu murah? Tidak. Belum lagi kenyataan yang menampar bahwa alat tersebut dikenai pajak barang mewah. Padahal, padahal alat tersebut digunakan untuk membantu orang sakit agar kembali sehat. Untuk menyejahterakan bangsa.

Wahai para pembuat kebijakan, saya tahu peer kalian juga banyak. Angka kematian ibu yang masih tinggi, gizi buruk yang tak kunjung reda, dan berbagai masalah lainnya. Memotong dari hulu adalah penting. Bahwa FK dengan mutu yang abal-abal harus segera ditindaklanjuti. Agar tak terjadi korban berikutnya yang terlunta. Setelah diambil hartanya berjuta-juta. Bahwa harus ada perlindungan hukum yang nyata bagi para dokter, supaya mereka bekerja dengan aman. Bahwa pajak alat kesehatan harus diturunkan bahkan mungkin dihilangkan. Demi mewujudkan Indonesia sehat.

Wahai para dokter, pasienmu bukan mesin ATM. Sesungguhnya mereka sedang meminta pertolongan. Jangan manfaatkan ketidaktahuan mereka untuk memuaskan hasrat dunia kita. Bukan perbuatan dosa bila dokter mencari nafkah dengan praktik. Secukupnya saja. Jangan berlebihan. Jangan menjerumuskan dirimu dan keluargamu, sehingga pasien harus dikorbankan. Sungguh, dokter adalah profesi mulia. Mulia tidak berarti tinggi. Sekali lagi kita bukan dewa. Kita manusia biasa. Tempat salah dan lupa. Mari mencari rezeki dari profesi dokter dengan sebaik-baik cara.

dr.Rofida Lathifah
-Seorang dokter yang percaya bahwa terwujudnya Indonesia sehat bukanlah mimpi belaka-