Tags

, , , , , ,

marriage

pict taken from http://relationshipcounsellordelhi.blogspot.co.id/

Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata menikah? Setahun sebelum aku menjalaninya, yang terbayang hanya keindahan. Berkasih sayang, ada teman untuk jalan-jalan, ada yang dicurhati ketika pulang.

 

Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata memiliki anak? Menggendong bayi yang lucu menggemaskan, update fotonya di sosial media, tak henti bercanda dengannya.

 

Mendekati hari pernikahan, aku dihadapkan pada kenyataan. Seorang laki-laki yang mendua, memiliki istri muda. Seorang laki-laki yang kabur entah kemana, meninggalkan istri tanpa kabar. Juga sepasang suami dan istri yang sedang berada diambang perceraian.

 

Pernikahan bukan berarti kebahagiaan. Bila kamu berharap demikian, mungkin kamu akan kecewa. Saat menjumpai suamimu tidak pernah meletakkan baju pada tempatnya. Saat dia selalu lupa memotong kukunya.

 

Pernikahan berarti melihat suamimu kelelahan saat pulang kerja. Terlalu lelah untuk mengganti bajunya. Pernikahan juga berarti menyelipkan pemotong kuku di sakunya, sembari chat mengingatkan agar tidak lupa.

 

Kadang pernikahan juga berarti hidup berdua selamanya, tanpa kehadiran ananda.

 

Ketika di televisi banyak berita bayi dibuang oleh orang tua, berapa banyak dari kita yang berusaha segenap jiwa raga untuk memperolehnya? Bahkan mengeluarkan uang berjuta-juta.

 

Kupikir ketika dua garis telah tampak, maka sempurna sudah kebahagiaan. Nyatanya tidak. Perjalanan masih teramat panjang. Tentu tujuan kita bukan hanya dua garis saja. Melainkan seorang anak yang taat padaNya sampai akhir hayat. Hingga bertemu di surga. Ya, tujuan kita adalah akhirat.

 

Maka dari sejak dua garis tiba hingga akhirat, apa saja yang bisa terjadi?

 

Seorang kawan pernah keguguran hingga 6x. Namun tak henti berusaha. Seorang yang menunggu kelahiran anak pertama, ternyata sang anak harus dipanggil olehNya, karena sakit yang jarang terjadi, yang tidak bisa dideteksi sebelumnya. Seorang yang sedang berbahagia dalam menjalani pengasuhan anaknya yang berusia 9 bulan, tiba-tiba sang anak sakit kemudian kembali kepadaNya.

 

Sungguh. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Namun itulah uniknya manusia. Meski tidak tahu apa yang akan terjadi, meski kesedihan dan kematian bisa datang kapan saja, mereka tetap berusaha. Mereka tetap percaya. Mereka tetap mencinta. Sepenuh jiwa raga.

 

Maka sungguh beruntung, orang-orang yang berharap hanya pada Tuhannya. Karena sedikitpun ia tidak akan pernah kecewa. Oleh jalan yang telah digariskanNya.

 

Menikahlah, karena kamu ingin melengkapi separuh agama. Bukan karena usia, bukan karena sudah dikejar-kejar mama.

 

Berusahalah memiliki anak. Karena sungguh kamu ingin membesarkan anak soleh, yang doanya tiada putus meski engkau meninggal dunia. Yang hidupnya akan digunakan untuk kebaikan umat. Bukan hanya untuk menjawab pertanyaan rekan kerja apakah perutmu sudah ada isinya.

 

Dan ketika kamu belum mendapatkan baik salah satu maupun keduanya, berdoalah sebaik-baiknya. Bahwa rencanaNya untukmu amatlah indah. Ingatlah, kita hidup di dunia untuk beribadah. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan selain menikah maupun memiliki anak, supaya kita menjadi manusia yang bertaqwa.

 

Sesungguhnya Maryam tidak menikah, akan tetapi dijamin surga. Begitu pula dengan Aisyah. Tanpa kehadiran seorang anak, ketaqwaan sebagai seorang manusia tidak berkurang di hadapanNya.

 

Bercita-citalah menjadi manusia langit, yang tidak silau oleh kekaguman manusia. Sebaliknya, cukuplah Allah yang menjadi tujuan kita. Maka kebahagiaanmu akan sempurna.