IMG_3817

Dua hal yang tak akan terlupakan dari Shenzen. Pertama, perjalanan menemukan penginapan yang sangat menguras fisik dan mental. Kedua, menemukan makanan halal. Saya tidak pernah sebahagia ini melihat logo halal di depan toko makanan.

Sebelum pergi, saya sudah diwanti-wanti oleh keluarga bahwa di Cina akan sulit menemukan makanan halal. Untuk itu, penting bagi kami membawa makanan kering dari Indonesia. Pilihan kami jatuh pada abon, sambal goreng kentang kering, serta beberapa snack untuk mengganjal perut. Tanpa diduga, makanan itulah yang akan menjadi penyelamat kami nantinya.

Tiba di bandara Hongkong, kami langsung menuju Shenzen menggunakan bus kemudian oper MTR. Terakhir kali santap makanan adalah saat flight sekitar jam 8 pagi. Sampai dipenginapan sekitar pukul 5 sore setelah sebelumnya kesulitan mencari. Kami tidak sempat makan siang.

IMG_3636

halal meal Singapore Airlines

Mencari lokasi sebuah tempat di Cina memang tidak mudah. Penduduk Cina dikenal jarang sekali yang bisa berbahasa Inggris. Ditambah Google yang diblokir menjadikan pencarian semakin sulit saja. Peta yang kami bawa sedikit membantu menemukan arah. Namun dengan tulisan mandarin-tanpa abjad menjadikan kami sulit sekali menemukan lokasi pasti penginapan. Saya sangat lelah karena tidak terbiasa berjalan kaki. Akhirnya saya minta izin suami untuk duduk beristirahat sementara suami berusaha menemukan penginapan.

IMG_9560

gimana bisa ketemu kalo tampak depannya kaya gini. nggak ada petunjuk apapun T.T

Saat beristirahat saya tiba-tiba menyadari satu hal. Sejak masuk ke teritorial Shenzen, saya sama sekali tidak bertemu dengan perempuan yang mengenakan jilbab. Kebalikannya, saya justru menjadi pusat perhatian. Hampir semua orang yang melewati saya, melihat dengan wajah penasaran. Puncaknya ada seorang laki-laki yang mengajak saya berkenalan dan berbicara menggunakan Bahasa Mandarin. Rasanya mau nangis. Saya udah bilang berkali-kali kalo saya nggak ngerti, please speak in English, tapi beliau juga nggak paham maksud saya. Bukannya malah pergi, beliau makin mendekat dan melihat saya dari atas sampe bawah berasa alien. Kemudian beliau mengeluarkan kertas dan menulis huruf mandarin, saya tetap nggak bisa baca. Saat itu saya udah takut banget. Suami berada sekitar 50 meter dari saya, masih sibuk bertanya kepada salah seorang siswi yang kebetulan paham Bahasa Inggris sehingga tidak bisa langsung mendekat.

Ketika saya melihat ke suami, si Bapak juga melihat ke arah yang sama sambil mengatakan sesuatu. Meski nggak paham, saya cuman menganggung dan bilang “Yes! Yes! Yes!” Anggep aja dia nanya, “Kamu bareng sama dia kesini?” Wkwkwkwk. Suami pun melambaikan tangan, mengajak saya mendekat karena penginapan sudah ketemu. Sungguh, bahagia tak terkira bisa terhindar dari si Bapak. Penasaran, saya pun bertanya kepada pemilik penginapan apa arti dari tulisan si Bapak. Ternyata inilah yang beliau tanyakan, “Apa kamu sedang menunggu seseorang?” Maaf ya pak saya udah keburu ketakutan. Ya maklum gak bisa Hausiang-Hausiang.

Setelah meletakkan barang bawaan, malam harinya kami jalan-jalan di Dongmen market. Di sana kami menemukan penjual “pentol bakso bungkus siomay” kaki lima berlogo halal. Ya, saya bilang pentol bakso karena memang berbentuk bulat, rasanya seperti daging sapi namun dengan balutan seperti siomay. Kami mencoba hanya satu porsi, masih positif thinking akan menemukan resto halal. Setelah berputar-putar hingga larut malam, kami tidak bisa menemukan resto halal. Sempat melihat KFC tapi ragu ingin masuk kesana. Akhirnya kami pulang tanpa sempat makan apapun.

Saat di Dongmen, saya sempat ditinggal sejenak oleh suami karena saya lelah sekali. Lagi-lagi menjadi pusat perhatian, dilihatin terus dari atas ke bawah. Saya banyak berdoa, mudah-mudahan rasa penasaran mereka tidak membuat saya ketakutan. Sejak saat itu, saya berkata pada suami kalau saya nggak mau ditinggalin sendirian.😄 Suami kan nggak ngerasain, meski jelas kami ini turis, tapi suami gak pake jilbab. Yang menarik perhatian cuma saya. Maklum sih, meski Shenzen banyak lokasi wisata, tapi jarang ramai oleh turis dari mancanegara apalagi Indonesia. Tidak seperti Hongkong dan Macau yang memang menjadi salah satu tujuan wisata utama.

Sampai penginapan, kami membuka perbekalan dan ludeslah sebungkus Chitat*.😄 Alhamdulillaah bisa tidur nyenyak meski sangat kedinginan. Di tengah perjalanan kami sempat menyetok minuman soda, kan minuman soda banyak kalorinya. Hehehehe.

Esok harinya sejak pagi kami sudah nongkrong di Splendid of China. Sampai sore, kami hanya mengganjal perut dengan biskuit Ore* dan minuman soda. Bila minumanya habis, kami beli lagi di vending machine. Saat kembali ke penginapan, kami masih belum juga menemukan makanan halal. Badan udah lemes. Craving for food. Nggak mau makan snack lagi. Maunya makan beneran. Celakanya kami masih harus pindah penginapan karena kami berencana akan mengunjungi Window of the World (WOTW). Kami pindah ke tempat yang lokasinya tak jauh dari sana.

IMG_9563

Muslem Building at Splendid of China

Jadilah malam-malam geret koper naik MTR sambil kelaparan. Muka udah lecek abis. Sampai di MTR dekat penginapan, ternyata kami sudah melihat plang arah ke WOTW. Suami memutuskan untuk langsung kesana, karena diatas jam 7 malam, tiket hanya setengah harga! Jam 8-10 malamnya kami berjalan-jalan berusaha menikmati suasana di sana. Bisa dibayangkan, seharian nggak makan, sambil geret koper segede gaban. Badan rasanya kayak dipatahin semua dari atas sampe bawah.

IMG_3770

muka lecek tapi masih foto-foto😄

Pulang dari WOTW menuju penginapan, saya udah merengek-rengek ke suami minta beliin KFC. Udah lemes banget. Tapi suami yang sempat melihat resto berlogo halal menyarankan untuk beli di resto saja. Saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan restonya masih buka. Mau nangis rasanya. Nggak kebayang bakal sesulit ini cari makanan halal.

Ketika akhirnya kami melihat resto halal itu masih buka, ya Allah, sungguh kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata! Pemiliknya sepertinya pasangan suami istri. Si Bapak mengenakan peci, istrinya sumringah dan excited sekali melihat saya. Saya jadi penasaran, pernah ada turis berjilbab yang sebelumnya kesini gak ya?

IMG_9561

resto tampak depan dan dalam. banyak juga penduduk lokal yang makan disini. can you spot Bapak Ibu pemilik resto? 

Seperti normalnya di Shenzen, menu yang ada pun pake Bahasa Mandarin. Susah payah menjelaskan ke ibunya, akhirnya beliau mengerti dan memberikan menu bertuliskan abjad. Problem lain muncul saat kami meminta dibungkus atau takeaway. Kami sampai harus menggunakan bahasa isyarat tangan supaya mereka paham. Alhamdulillaah kami bisa makan di penginapan dengan tenang. Kami membeli menu noodle dengan dua macam masakan. Tak lupa taburan abon sebagai penambah cita rasa kenikmatan.

IMG_9566

Alhamdulillaah dikasi menu ber-huruf abjad😀

IMG_9568

noodle chinese food bertabur abon

Selesai berlibur di Shenzen, kami menuju Macau. Terasa sekali atmosfir bahwa Macau merupakan tujuan wisata. Banyak turis berlalu lalang yang juga mengenakan jilbab. Alhamdulillaah saya nggak lagi jadi pusat perhatian! *terharu* Meski lagi-lagi kami sulit menemukan makanan halal, tidak menjadi masalah karena kami sudah bawa bekal makanan dari resto di Shenzen. Huehehehe. Ditambah dengan sebuah Portuguese Egg Tart super enak pengganjal perut, di Macau kami bisa makan dengan tenang.

IMG_9565

menikmati portuguese egg tart dalam kapal feri menuju Hongkong sembari melewati jembatan Macau

Ketika akhirnya menginjakkan kaki di Hongkong, uwaaahhh kami langsung menemukan masjid di tengah-tengah Kowloon. Bertebaran sekali wanita berjilbab dan di penginapan kami Chunking Mansion, tak henti-hentinya mendengar sapaan orang yang mengucapkan salam. Resto yang menjual makanan halal pun mudah dijumpai. Masya Allah. Kami juga sempat mengujungi Masjid Ammar dan Osman Ramju Sadick Islamic Centre di daerah Jordan untuk menikmati dimsum halalnya yang super famous.

IMG_9572

sampai di Chunking Mansion langsung cari makan dan porsi sebanyak inipun ludes

IMG_9564

Islamic Centre Canteen yang selalu ramai. kalau kesini agak siang, bisa udah gak kebagian dimsum

IMG_9562

the famous halal dimsum. disini juga banyak menu selain dimsum

Tidak sulit mencari makanan halal di Hongkong. Yang sulit adalah mencari makanan yang halal dan murah. Pilihan kami jatuh pada mie instan halal yang banyak dijual di toko-toko sepanjang jalan. Hemat beb. Harganya bisa sampai 1/5 dari harga restoran. Toh di penginapan rata-rata juga menyediakan air panas. Hihihi.

Saat di Disneyland, karena bakal maen seharian, nggak mungkin kami nggak makan siang. Kami menemukan tiket hemat di elevenia dengan harga 750.000/orang include meal voucher seharga 250.000. Bisa ditukar di resto yang menyediakan penukaran, alhamdulillaah kami bisa menukar di Tahitian Resto yang menunya halal. Surprisingly, porsinya gede banget dan udah termasuk minuman! Cukuplah buat ngerapel makan siang-malam.

IMG_9570

singapore laksa noodle and chicken satay. masing-masing porsi worth IDR 250K :O

Di Cina, mencari tempat sholat (prayer room) juga merupakan tantangan tersendiri. Ketika di Splendid of China, kami tidak menemukan tempat sholat khusus dan memang tidak disediakan. Hanya saja banyak ruang yang bisa dimanfaatkan, seperti ruangan di dekat tempat berfoto dengan menggunakan cosplay baju adat Cina. Untuk di WOTW, kami tidak sempat sholat di sana karena langsung pulang ke penginapan. Begitu juga saat berkeliling Macau. Jarak yang sangat dekat dari satu tempat ke tempat lain menjadikan kami bisa pulang ke penginapan sewaktu-waktu. Lain halnya ketika di Disneyland, memang di sana tidak terpampang jelas ada prayer room. Namun saat menanyakan pada pusat informasi, kami diberikan ruangan khusus untuk melaksanakan sholat. Alhamdulillaah. Seharian penuh di Disneyland tidak perlu khawatir terlewat waktu sholat.

Bepergian ke negara di mana muslim tidak menjadi mayoritas merupakan hal yang cukup menantang. Apalagi dengan jilbab yang sudah pasti menarik perhatian banyak orang. Melalui pengalaman ini saya belajar banyak hal. Diantaranya, bahwa sebenarnya kita bisa menerapkan kepercayaan yang kita anut di mana saja tanpa dihantui oleh rasa takut. Asalkan meyakini bahwa apa yang kita lakukan sudah sesuai dengan tuntunan agama dan tidak sedikitpun meragukan ketentuan Allah meski sangat sulit menjalankannya. Saya juga sangat bersyukur, di Indonesia sangat banyak sekali bisa ditemukan masjid, makanan halal serta bisa mengenakan jilbab tanpa harus dianggap suatu hal yang aneh. Maka akan kurang bijak bila sebagai umat Islam yang hidup di Indonesia, tidak memanfaatkan fasilitas tersebut dengan sebaik-baiknya.

IMG_3913

unforgettable Shenzen trip. wajah sumringah soalnya udah mau move on ke Macau😄

Satu hal yang saya rasa masih kurang. Saat pergi ke luar negeri, masih ada sedikit rasa ketidakpercayaan dalam diri. Bahwa saya bisa membawa nama baik agama saya. Maka saya bertekad untuk trip selanjutnya, saya akan lebih percaya diri menunjukkan kepada orang di luar sana, bahwa saya adalah pemeluk Islam yang dengan bangga mengenakan jilbab sebagai penutup kepala.

Website suggestion :

  1. https://www.halaltrip.com/attraction-details/174/splendid-china-chinese-folk-culture-village/
  2. https://www.halaltrip.com/attraction-details/173/window-of-the-world/