Tags

, , , , , ,

IMG_9809

Donor darah : tidak sehoror yang dibayangkan

Siapa bilang dokter selalu berani sama jarum suntik? Saya kasih tahu ya. Justru banyak banget petugas medis baik dokter, perawat, bidan dan lainnya yang takut sama jarum suntik. Nggak mau disuntik, maunya nyuntik.

Selama hidup, saya belum pernah sekalipun donor darah. Alasan pertama, takut darah. Alasan kedua, takut ditusuk jarum gede dalam waktu yang lama. Kalau disuntik buat ambil lab atau masukin obat masih oke, kan cuma bentar pun jarumnya juga kecil. Kalau donor darah jujur saya ngeri banget. Pernah saat koas saya memberanikan diri ikut donor darah. Namun ditolak karena tensi dan Hb saya rendah. Entah harus seneng apa sedih.

Sebenarnya sebagai tenaga medis, saya malu. Sering menyarankan orang untuk transfusi darah tapi nggak pernah donor darah. Sebaliknya, banyak yang bukan tenaga medis justru rutin setiap 3 bulan mendonorkan darahnya seperti adek lelaki saya. Maka ketika RSI Jombang mengadakan buka puasa bersama sekaligus donor darah, saya ikut mendaftar. Tentu saja dengan masih deg-degan setengah mati.

IMG_9817

yang udah rutin donor, selow bangetlah

Donor darah dilakukan ketika Ramadhan dimana stok darah seringkali menipis. Hal itu biasanya berlanjut hingga lebaran. Maka sebuah ide yang luar biasa untuk menjemput bola, mengadakan buka bersama sekaligus donor darah. Dengan mengumpulkan calon pendonor sebanyak 30 orang, PMI sudah mau mendatangi lokasi donor.

Sambil mengajak 5 anggota keluarga, saya mengikuti buka puasa bersama yang dilanjutkan dengan donor darah. Proses diawali dengan calon pendonor mengisi kertas registrasi skrining untuk menentukan apakah seseorang layak menjadi pendonor. Terdiri dari identitas dan beberapa pertanyaan terkait kondisi kesehatan kita.

IMG_9812

harus diskrining dulu

Kemudian kita dipanggil untuk periksa tensi dan kadar hemoglobin. Setelah diketahui hasilnya, barulah petugas PMI menentukan apakah kita layak menjadi pendonor. Dari 5 keluarga yang saya bawa, hanya 3 yang layak. Saya, suami dan adik laki-laki kedua. Sedangkan adik ipar dan adik laki-laki kelima belum layak donor. Jeng jeng. Dimulailah proses donor darah pertama kami. Ya, kami. Saya dan suami yang ternyata juga belum pernah donor darah.

Ternyata selain kami, banyak juga karyawan RS yang baru pertama donor darah. Jadi seru melihat berbagai macam ekspresi mereka. Ada yang takut-takut sampe nutup mata, tapi banyak juga yang santai kaya di pantai nggak ada apa-apa. Suasana makin seru saat salah satu karyawan menggoda yang lainnya, “Kamu kok lama banget nggak selesai-selesai? Jangan-jangan macet tuh. Perlu pindah tempat jarum,” yang dijawab dengan “Udah jangan berisik nanti makin lama selesainya. Aku udah ndredeg nggak karuan ini.”

Tiba saatnya suami donor darah. Semua berjalan lancar hingga 10 menit kemudian proses selesai. Bahkan suami sempat memotivasi saya, “Nggak sakit kok. Nggak seserem yang dibayangkan.” Maka ketika giliran saya, dengan Bismillaahirrahmaanirrahiim saya berdoa. Mudah-mudahan lancar. Kebetulan kursi donor kami berhadapan satu sama lain.

IMG_9814

first timer, yay!!!

Selesai donor, suami tidak langsung diperbolehkan berdiri karena bibirnya terlihat pucat. Beliaupun akhirnya istirahat sejenak sebelum pulih kembali. Rupanya dulu sempat trauma dengan jarum suntik yang lama menempel di kulit. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk donor lagi.

Donor saya pun berjalan lancar. Tangan tidak terasa dingin, bibir tidak pucat. Saat ditusuk jarum nggak sakit. Jarum menempel 10 menit juga biasa aja. Selama proses donor ada sensasi lucu ketika merasakan darah mengalir ke kantong. Oleh petugas PMI, saya tetap dianjurkan rehat sejenak sebelum meninggalkan tempat karena ini adalah donor pertama saya. Kepada pendonor, PMI memberikan ucapan terima kasih dengan sebuah bingkisan kecil berisi makanan ringan dan vitamin penambah darah. Dengan hati gembira saya menuju foodcourt untuk beli jus. Mission accomplished. Alhamdulillaah saya berhasil donor darah!

Namun semua berubah ketika kemudian saya merasakan sensasi aneh di bagian perut. Padahal udah buka puasa. Kok perut nggak enak? Demi merasakan tanda itu, saya akhirnya duduk di kursi sambil mengangkat kedua kaki. Namun kondisi tak juga membaik. Malah keringat dingin yang muncul. Tanpa babibu saya langsung berjalan cepat setengah berlari menuju IGD. Tidak sanggup untuk berkata apa-apa kepada suami. Hanya menunjuk tas, meminta tolong untuk dibawakan. Melihat gelagat aneh, suami menyusul saya sambil membawakan tas.

Sampai di IGD pandangan mata sudah gelap namun saya berhasil mencapai kasur dokter jaga tepat pada waktunya sambil mengangkat kedua kaki setinggi 45 derajat. Saya nggak jadi pingsan. Adik-adik dan suami segera menyusul seraya memotivasi. “Tadi pas donor foto-foto sambil ketawa, lah sekarang malah tepar di kasur jaga”. Apalah daya, untung saja saya belum pulang. Bersyukur juga saya nggak pingsan di lokasi donor, nanti malah bikin heboh semuanya.

Meski udah kliyengan hampir pingsan setelah donor pertama, tidak menyurutkan semangat saya untuk donor lagi. Karena donor darah tidak semenakutkan yang saya bayangkan! Dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh pasien ketika menerimanya, sungguh waktu yang kita sisihkan kurang lebih 20 menit untuk donor bukanlah apa-apa. Ditusuk jarum, enggak sakit. Jarum nempel 10 menit, nggak ada rasanya. Selesai donor jarum dicabut, biasa aja. Yang butuh waktu hanya penyesuaian tubuh setelah diambil darah kurang lebih 300cc dalam waktu singkat. Saya percaya tubuh akan menyesuaikan diri dengan baik bila saya rutin melakukannya. Maka ketika mendapatkan broadcast message pasien yang membutuhkan golongan darah yang cocok dengan kita, segera daftarkan diri menjadi pendonor secepatnya.

Saran saya untuk yang belum pernah donor darah, donorlah! Kalau nggak berani, carilah teman yang sudah pernah melakukan donor untuk menyemangati. Kamu nggak pernah tahu betapa berharganya setetes darahmu. Apalagi dalam Bulan Ramadhan dan lebaran, akan sangat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Pastikan kamu dalam kondisi sehat, sudah makan sebelumnya dan tidak memanipulasi form skrining atau akan merugikan dirimu. Sebisa mungkin jangan mengendarai kendaraan sendiri, atau bila terpaksa, beristirahatlah dulu minimal satu jam. Jaga-jaga kalau terjadi respon tubuh yang lambat terhadap perubahan yang terjadi mendadak seperti kasus saya.

Trust me, sekali donor akan bikin ketagihan. Tapi jangan lupa, baru boleh donor lagi minimal 75 hari atau 3 bulan kemudian ya. Dan kalau memang setelah di tes tidak layak menjadi pendonor, jangan maksa. Masih banyak kandidat lain yang potensial dan kamu nggak perlu berkorban yang justru malah merepotkan para petugas.

Because every drop can save life. Selamat donor darah!