Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

IMG_4446

Hongkong Skyline

Hongkong, Macau dan Shenzen mungkin sudah menjadi destinasi wisata favorit warga Indonesia. Rata-rata sih karena konon katanya disana surga belanja, apalagi di Hongkong nya. Ups, kata saya sih salah besar.

Banyak tour yang menawarkan wisata ke tiga lokasi tersebut. Tapi saya dan suami as usual, suka bikin itinerary sendiri. Lebih seru, lebih kerasa diskusi berantem-ngambek-baikannya.  Dan paling penting sih kita bisa nyesuaikan mau berlama-lama di tempat yang mana. Nggak keburu waktu gitu.

Rute

Kami berlibur selama total 7 hari (tidak termasuk lama perjalanan pulang pergi dari dan menuju Indonesia) sejak 28 Maret sampai 3 April 2016. Tujuh hari yang cukup banget kalo mau eksplorasi ke hampir semua tempat wisata hits. Dua hari di Shenzen, sehari di Macau dan empat hari di Hongkong.

Baca juga Sleeping at Changi Airport

Awalnya kami bingung banget tentang rutenya. Yang perlu diingat, masuk Shenzen itu butuh visa. Tinggal pilih mau urus visa di Indonesia atau pake visa on arrival. Simpelnya sih pake visa on arrival karena 5 menit jadi seharga 178 RMB. Tapi itu berarti satu-satunya jalan masuk Shenzen harus pake jalur darat dan lewat stasiun MRT Luohu (Lo Wu). Nggak bisa pakai pesawat ataupun kapal ferry.

metro

Lo Wu station di ujung atas jalur biru muda

Rute kami adalah SUB-HKG naik pesawat, Hongkong-Shenzen naik bus lalu oper MRT (biar murah), Shenzen (Shekou Fery Terminal)-Macau (Outer Harbour) pakai ferry, Macau-Hongkong (bukan Kowloon) pakai ferry, kembali ke Surabaya naik pesawat. Memang butuh budget lebih untuk ferry-nya karena bisa 200-300 rb sekali jalan. Tapi tiket pesawat termurah ke Indonesia juga dari Hongkong, kalau dari Macau/Shenzen lebih mahal.

Kenapa kok nggak cuma ke Hongkong aja? Nanggung sodara-sodara. Kalau ada waktu dan budget mending langsung sikat ketiganya. Meski masih sama-sama China, tapi Hongkong, Macau dan Shenzen memiliki “warna” yang sama sekali berbeda. Pokoknya harus ngerasain ketiganya biar tahu apanya yang beda.😄

Sebelum ngetrip, saya selalu menyempatkan diri untuk riset tentang berbagai macam hal. Baik transport, penginapan, tujuan wisata, cuaca dan lain-lainnya. Just to make sure nggak kleleran di negeri orang. Kalau dulu di Singapore masih ada saudara, lah ini bahasa Hausiang-hausiang aja nggak bisa.

Transport

Transport selama di Shenzen pakai MRT. Ini adalah pilihan terbaik karena menurut pengalaman suami, bus stop di Mainland China nggak ada petunjuk berhuruf abjad, semuanya mandarin. Walhasil beliau nyasar saat naik bus di Beijing. Pun kalo ga punya tap card, harus sedia uang pas karena nggak ada kembalian. Nah bingung lagi nanya ongkosnya. Sedangkan untuk MRT, kita masih dipermudah dengan petunjuk berbahasa Inggris dan bisa beli koin di merchant stasiun untuk sekali perjalanan. Nggak perlu beli tap card karena cuma dua hari disini. Jangan lupa save peta MRT Shenzen di gadget dan bawa hardcopynya satu, jaga-jaga kalo gadgetmu mati semua. Tempel di otakmu kalo penduduk Shenzen gak bisa Bahasa Inggris sama sekali dan nyari huruf abjad disana sama susahnya kaya nyari harapan di tengah penantian. Ujung-ujungnya pehape. #lah

Di Macau transport bisa jalan kaki aja karena surprisingly Macau itu kecil banget  sama Jombang gedean Jombang kali ya wkwk. Tapi kalo destinasi yang agak jauh bisa naik bus. Jangan lupa uang pas ya. Macau juga penunjuk arahnya gampang dibaca karena dulunya jajahan Portugis, jadi huruf abjad masih kleleran dimana-mana. Saya sempet save peta Macau dan bus stop serta rute bus nya. Tapi suami lebih canggih lagi, beliau download app Macau Easy Go. Lengkap banget rute dan tujuannya. Nggak perlu konek internet bisa dipake, asyik kan.

unnamed

Tampilan Macau Easy Go

Di Hongkong bisa pakai MRT atau bus. Kalau males jalan jauh pake bus,  tapi kalau tujuannya jauh dan butuh cepet ya mending pake MRT hehe. Disarankan banget beli octopus card yang bisa dipake naik bus maupun MRT untuk efisiensi waktu. Sisa deposit nanti bisa diminta kalo kita pulang. Tapi karena saya pulang ke bandara naik bis dan nggak nemu penukaran octopus card jadi ya kartunya saya bawa pulang buat kenang-kenangan. Jangan takut nyasar di Hongkong. Asal bisa baca dan bisa nanya, pasti bakal nyampe ke tempat tujuan.

5.2.2.2.8-Octopus-card_03

Octopus Card buat di tap-tap naik MRT dan Bus

Penginapan

Kami mencari penginapan murah dengan membandingkan web satu dengan web lain (agoda.com dan booking.com). Jangan bosen-bosen riset. Lihat reviewnya juga. MELIHAT NEGARA ASAL REVIEWER adalah sebuah keharusan. Karena kami salah pilih penginapan gara-gara tegiur review bagus, taunya yang ngereview memang penduduk asli sono semua.

Dua hari di Shenzen, nginep di dua tempat. Satu deket Dongmen Market buat belanja, satu deket Window of the World karena mau jalan-jalan. Perlu diingat, HAMPIR SEMUA PENGINAPAN murah di Shenzen NGGAK ADA PETUNJUK apapun di bangunannya. Nggak ada judul namanya kayak Hotel Ibis dan sebagainya. Satu-satunya petunjuk yang bisa dipercaya adalah FOTO dan ALAMAT dari WEB BOOKING.

Jadi wajib banget cetak foto penginapan, alamat dan nama penginapan bahkan nomor telepon, baik dalam bahasa Inggris/Indonesia MAUPUN MANDARIN. Cetak juga PETA tempat penginapan kemana. Biar kalo nyasar kita bisa tanya. Jangan harap dapet kamar besar di Shenzen. Namanya budget hotel ya sempit semua. Rata-rata kamar mandi luar. Gapapa yang penting bisa tidur.😄

Malam pertama menginap di Dabai Hostel. Foto di web bagus, review bagus, semalam 160 rmb atau 320.000 untuk dua orang. Sejam nanya-nanya orang, udah bener ngikutin peta dari web, taunya kita udah di depan gedungnya tapi bapak satpamnya nggak tau kalo salah satu penghuninya memanfaatkan flat nya buat bisnis. Untung ada anak sekolah berbaik hati nelponin pemilik penginapan dan akhirnya pemilik penginapan mau keluar jemput kami.

Masuk kamar, jeng jeng. Ternyata itu apartemen yang diisi sekelompok entah mahasiswa atau karyawan yang udah kerja. Campur cowok cewek dong.  Bahasa Inggris pemiliknya pun pas-pasan dan setelah lihat buku tamu, yang nginep disana murni penduduk asli Chinese semua. Eaaaaaa. Salah banget deh ini tapi mau nyari penginapan lain udah gak sanggup lagi. Yauda anggep numpang tidur deh wkwk. Penghuni lain juga cuek-cuek aja.

Malam kedua lebih hell lagi. Nginep di Freedom Boss Hostel dengan rate yang sama. Udah bawa denah, udah cetak foto dan alamat. Jalan kaki jam 10 malem dan taunya kita NYASAR BERKILO-KILO saudara-saudara. Pantesan nggak nemu-nemu. Udah geret-geret koper, capek jalan seharian. Mau nanya orang, pada menghindar semua. Akhirnya ada mahasiswa yang bantu dan mau nelponin pemilik penginapan. Dikasi rute yang bener lalu kita jalan kaki lagi. Di denah gambarnya ke selatan padahal seharusnya ke utara. Ya Allah sedih banget lah. Itupun masih harus muter-muter lagi dan nanya-nanya lagi karena ternyata lokasinya di komplek apartemen yang gak ada petunjuknya lagi.  udah makin malem makin pengen nangis rasa-rasanya bakal tidur ngemper. Sempet lewat penginapan agak bagusan dan tergoda banget kesana tapi udah kadung booking yauda dicari dulu. Tanya satpam komplek sambil nunjukin peta, beliau ga tahu. Muter lagi jalan sekitar sekilo, iseng nanya satpam lagi eh beliau tahu! Masya Allah gusti rasanyaaaaa kaya ketemu jodoh. Dan ternyata lokasinya itu masih satu komplek dengan satpam yang pertama kali ditanyain. Satpam ujung timur dan barat. Tapi kok bisa yang satu tahu yang satu enggak. Harusnya kan kami ga perlu muter-muter kek kitiran giniii hihh. Walhasil baru berhasil nemplok kasur jam 12 malem. Badan udah rontok semua.

img_9560

Freedom Boss Hostel tampak depan-no sign

IMG_3791

kamar Freedom Boss, nyaman kok

Karena pengalaman buruk di Shenzen, kami pun was-was saat di Macau. Ternyata kami tidak perlu kuatir sama sekali. Kami menginap di Vila Universal yang lokasinya strategis dan sangat mudah dicari. Kalau di Shenzen prinsipnya jangan pernah percaya denah, apa yang kelihatannya deket taunya jauh banget. Macau juga sama, jangan percaya peta. Di peta kelihatan jauh padahal aslinya deket banget wkwkwk. Penginapan ini termurah saat kami pesan. Rate 450.000 sekamar dua orang. Harga beda jauh antara booking web dan pay on the spot, beda hampir dua kali lipat. Jadi lebih baik pesen via web. Kamarnya besar, fasilitas lengkap termasuk kamar mandi, tv, ac, dan wifi. Alhamdulillah bisa bobo nyenyak setelah kemarin dihajar dua hari.

IMG_3849

Vila Universal, easy to find!

Sedangkan di Hongkong kami menginap di Chungking Mansion. Tempat favorit para traveler dari mancanegara karena letaknya yang strategis dan harganya murah. Di dalam Chungking Mansion terdapat puluhan penginapan yang bisa dipilih. As always, booking via web selalu lebih murah dari pay on the spot.

Malam pertama kami menginap di Sydney Hostel. Bangunannya baru, pemiliknya super ramah jadi betah. Sayangnya cuma sehari disini. Bisa menyeduh minuman seperti teh/kopi for free. Ada air panas juga kalo mau bikin mie. Ada kulkas yang bisa dipakai untuk semua penghuni penginapan. Karena besok paginya kami harus segera ke Disneyland, jadah early checkout dan nitip koper ke pemilik. The best partnya, mereka mau dititipin dan no charge!

IMG_3948

Sydney Hostel, yang penting muat tidur berdua😄

Malam kedua sampai keempat, kami pindah ke Safari Guest House. Alhamdulillaah sama nyamannya meskipun seperti layaknya penginapan murah di Hongkong, sempit bangeet kamarnya. Cuma cukup buat tidur dan kamar mandi. Sholat kalo mau jama’ah berdua pun harus di atas kasur. Kedua penginapan ini recommended lah dari segi fasilitas dan servis.🙂

Things to do

Web favorit kalo mau ngetrip adalah tripadvisor dengan things to do nya. Nggak wajib ngikutin selera orang lain kok. Dari deretan saran tempat wisata, kita bisa milih mana aja yang pengen kita tuju. Mau yang gratis atau bayar, mau wisata alam apa yang ada wahana, mau yang modern apa yang kuno, semua bisa disesuakan dengan selera.

Things to do detailnya akan diulas ditulisan berikutnya.

Tiket Wahana Murah

Sejak trip ke Singapore, kami berusaha mencari tiket wahana termurah di toko online (e-ticket). Harga bisa hemat sampai 40%. Asal penjualnya trusted, tiketnya pasti valid. Namun mayoritas butuh kartu kredit untuk pembeliannya.

Untuk di Shenzen karena sebelumnya nggak kebayang mau kemana, kami beli tiket on the spot di Splendid China dan Window of the World. Belum pernah riset penjual tiket online termurah untuk kesana jadi nggak punya saran.

Saat di Macau, wisata yang bayar di Macau Tower (untuk jumping dari atas tower, kalo foto-foto aja gratis) dan Giant Panda Pavillion. Untuk lihat panda tiketnya murah banget cuma 10 MOP atau 17.000 rupiah saja. Tempat wisata lainnya gratis.

Kalau di Hongkong, wajib ke Disneyland dan meluangkan seharian penuh disana. Jadi sebaiknya beli tiket yang include meal voucher. Kamu beli di elevenia karena murah dan ada tambahan diskon bagi new member.  Dapet tiket seharga 750.000 termasuk meal dari yang normalnya 1,5 jutaan. Pemilik bisa di wa di ‪+6281212068989 (Peipei shop).

IMG_4022

One Day Admission ticket plus meal voucher trusted from Peipei Shop

Wahana selanjutnya yang wajib dikunjungi adalah The Peak. Melihat deretan gedung pencakar langit Hongkong dari ketinggian. Untuk menuju The Peak bisa naik bus, taksi atau naik peak tram. Hati-hati saat weekend ANTRIAN naik peak tram bisa MENGGILA. Maka kami memutuskan beli tiket di klook, selain hemat dan trusted, yang paling penting kami diberi JALUR VIP jadi ga perlu antri. Hohoho. Tiket bisa lebih hemat karena dijual juga paket tour untuk ke Tricky Eye Museum atau Madame Tussaud. Berhubung udah pernah ke Madame Tussaud jadinya kami pilih ke Tricky Eye deh. Total 300.000 per orang untuk Peak Tram PP dan Tricky Eye dari harga normal 400.000. Tapi Tricky Eye nya nggak rekomen. Hihihi. Padahal kalo ke Madame Tussaudnya bisa ketemu Kim Soo Hyun. Hiks.

Selama di Hongkong kami juga sempat berkunjung ke beberapa museum disana dan langsung bayar on the spot karena itu tujuan dadakan yang sebelumnya belum direncakan. Kami kurang tahu apa tiketnya bisa dibeli online atau enggak.

Beberapa penginapan juga menyediakan tiket wahana wisata dibawah dari harga normal, tapi tetep aja setelah disurvey lebih murah beli tiket online.😀

Internet

Hari gini gak pake internet??? Untuk itulah wajib cari penginapan yang ada wifinya. Sekedar say hi buat keluarga di Indonesia, menyampaikan kabar bahwa kita sehat dan baik-baik saja. Selama di Shenzen dan Macau, kami nggak pake simcard apapun karena stay disana nggak lama. Beli simcard pun mahal banget. Risikonya ya memang gak bisa browsing kalo nggak ada wifi, utamanya kalo nyasar. Jadi sebelum keluar kamar, harus udah jelas rute yang dituju. Alhamdulillah kami bisa survive.

IMG_5585

dikasi kontak Mbaknya biar kalo bingung bisa nanya2

Selama di Hongkong kami pakai Telkomsel dong. Ceritanya saat di hall kedatangan pas pertama nyampe, ketemu sama orang Indonesia yang jual simcard udah termasuk paketan Internet unlimited buat 7 hari seharga 50 HKD (85.000). Berhubung saya udah riset, jadi fix langsung beli karena emang itu yang paling murah.😄 Cukup beli satu karena kami bawa alat pemancar wifi hihihi.

Cuaca

Riset perkiraan cuaca juga penting karena kalau salah kostum bisa fatal. Bayangin aja waktunya musim dingin malah bawanya kaos summer. Kalo sakit kan malah ribet jadinya.

Kata suami, Beijing lagi musim dingin. Jadi wajib bawa coat. Oke, fixlah saya pinjem coat kece milik temen saya yang super baik hati. Tenyata benar, Shenzen dingin banget. Matahari sama sekali nggak kelihatan. Pake jaket biasa nggak ngatasin. Berkali-kali hidung saya tersumbat karena kedinginan. Suami malah bibirnya kering banget sampe harus pake lipbalm. Gimana entar kalo saya dan suami ketemu salju ya?

IMG_3721

ber-coat ria di Shenzen

Di Macau sama dinginnya, malah masih turun hujan. Saat di Hongkong alhamdulillah lagi nggak musim badai. Meski matahari juga nggak nampak, tapi cuaca Hongkong lebih panas dari Shenzen dan Macau. Di Hongkong, coat saya resmi pensiun. Ganti dengan jaket biasa. Bahkan untuk pertama kalinya selama trip akhirnya saya bisa berkeringat. Malah ketika di Disneyland suami pakai kaos pendek tanpa jaket. Sempat juga pakai payung karena silau padahal hawanya nggak panas-panas banget dan mataharinya masih juga nggak kelihatan.

IMG_3905

rainy Macau taken from inside the bus

 

IMG_4130

pake kaos yang nyaman di Hongkong

Makanan

Nah, untuk riset makanan saya akui masih kurang. Saya pikir meski sulit mencari makanan halal, masih bisa ditemukan seperti di Singapore. Taunya enggak. Di Shenzen SUSAH BANGET cari makanan halal. Brace yourself. Bawa bontot yang banyak. Sempet nemu resto halal tapi gatau namanya karena ga bisa baca tulisan mandarin.  Pokoknya deket Window of the World aja. Yaa maybe sekitar 500 meter lah.

Di Macau saya nggak eksplor banyak karena udah bontot dari Shenzen dan emang lagi males nyari. Yang wajib banget nyobain Portuguesse Egg Tart. Tokonya kleleran dimana-mana. Bau rotinya juga kemana-mana. Hihi.

Menginjakkan kaki di Hongkong, langsung kalap ngelihat banyak banget pilihan makanan halal di Chungking Mansion. Tersedia berbagai jenis makanan mulai yang murah (mie instan tinggal seduh air panas) sampai yang mahal (makanan berat). Nggak usah kuatir kelaparan di Hongkong.

Baca juga Menjadi Gadis Berjilbab di Daratan China

Mata uang

Shenzen HANYA BISA pakai China Yuan atau biasa disebut Ramimbi (RMB). Saat itu kurs saya masih 2000 rupiah per 1 RMB. Sebaiknya tukar saat masih di Indonesia karena penukaran uang di Shenzen konon katanya banyak yang palsu.

Di Macau pakai MOP atau bisa juga pakai HKD. Kursnya sama, 1.700 rupiah per 1 HKD atau 1 MOP. HKD diterima di semua tempat. Kalau males nukar MOP, pakai HKD aja juga bisa. Tapi kalau mau kenang-kenangan, tuker MOP dikit-dikit boleh. Hehe.

Untuk di Hongkong, mata uang pakai HKD. Kurs 1.700 rupiah per 1 HKD. Mending bawa lebih daripada kurang. Saya kurang tahu dimana money changer yang ratenya bagus untuk ditukarkan dengan rupiah. Tapi kalau kepepet, di Chungking Mansion juga banyak counter resmi penukaran uang yang bisa digunakan.

Yap. Itulah review trip tiga negara kami. Detail itinerary di setiap negara akan menyusul di tulisan berikutnya.😀