Tags

, , , , , , , , ,

laptop-1385702__340

pict from : google

Selama ini pernah ketemu dokter di mana aja? Pasti di IGD, tempat praktek, atau di poliklinik. Padahal ada satu lagi, tempat dokter bisa mengurusi pasien di balik layar, yaitu di kantor. Eh, dokter ngapain ngantor?

Dunia kedokteran tidak pernah berhenti mengagetkan saya. Meski saya masuk FK dengan ikhlas hati tanpa paksaan, sempat terkaget-kaget juga waktu koas kok sampe segitunya. Sampe nggak pulang, tidur ‘kleleran’, dan lain sebagainya. Well, meski abah ibu saya dokter tapi mereka kok nggak pernah cerita yang bagian ini sih. Kan bisa mikir-mikir lagi buat jadi dokter. :p

Lulus koas dan masuk internship pun kaget lagi dengan kondisi Puskesmas di Indonesia yang serba terbatas bahkan itu masih di Pulau Jawa. Mungkin yang luar Jawa lebih parah. Berlanjut dengan jaga IGD di sebuah RSUD yang menjadi rujukan seluruh rumah sakit se-kabupaten yang begitu menguras emosi dan tenaga. Tenaga habis karena jumlah pasien yang begitu banyak dan kasus yang mayoritas rumit. Emosi terkuras karena ternyata untuk memberikan terapi kepada pasien sesuai dengan ilmu yang sudah diajarkan itu tidak mudah. Ketika idealisme berkata A dan realita lapangan berkata B, mau tidak mau harus menyesuaikan kondisi yang ada. Maksud hati ingin sekali memberikan yang terbaik, sayangnya tidak memungkinkan. Disitulah hati saya tergores berkali-kali karena ikut nelangsa.

“Jadi dokter itu harusnya empati, bukan simpati. Kita memahami kondisi pasien, bukan berarti ikut merasakan seperti pasien. Masa kalo pasiennya nangis, kita mau nangis.” I knew it, itu sudah diulang-ulang selama saya kuliah. Tapi saya bisa apa kalau sampai detik ini saya masih juga nangis kalo ada pasien yang meninggal? Kalau saya akan sangat kepikiran berhari-hari tentang pasien yang saya tangani di IGD apakah sudah mendapatkan terapi terbaik, apakah saya sudah menjadi dokter yang baik bagi mereka? Di saat teman saya sangat tertantang untuk jaga IGD, saya justru merasakan hal sebaliknya. Saya ingin merawat pasien, tapi IGD bukan tempat untuk saya.

Selesai internship, masuklah saya ke dunia yang sebenarnya. Saya melamar ke salah satu rumah sakit dan diterima sebagai staf medis. Kebetulan rumah sakit akan mengikuti akreditasi dan membutuhkan tenaga untuk bisa membantu memenuhi standar akreditasi. Tugas pertama saya, membuat clinical pathway.

What the hell is clinical pathway? Waktu kuliah kaya pernah denger. Tapi itu makanan apa deh. Saat browsing kemudian ketemu dengan permenkes. Ketemu syarat bikin clinical pathway. Ada PPK, SPM, SPO dan saudaranya. Kerjaan nambah, sebelum bikin clinical pathway harus bikin SPM dulu sesuai rekomendasi terbaru, lharrr. Buka-buka textbook lagi deh ujung-ujungnya. Berbekal bondo nekat, sedikit riset dan konsultasi sana-sini akhirnya kelar juga tugas pertama. Engga pernah ada materi di kuliah untuk membuat clinical pathway. Jadi ya bismillah aja mudah-mudahan sesuai yang dibutuhkan rumah sakit.

Clinical pathway gunanya untuk kendali mutu dan kendali biaya. Memastikan pasian mendapatkan terapi yang standar dan dengan biaya se-efisien mungkin. Tapi lagi-lagi kondisi pasien itu bervariasi. Dengan penyakit yang sama, bisa jadi membutuhkan model terapi yang berbeda. That’s why medicine is an art. Terapi tidak saklek, ada pilihan rekomendasi A, B, C dst. Kerjasama antara dokter dan pasien dalam proses terapi adalah yang paling utama.

Karena clinical pathway jugalah akhirnya saya bersentuhan dengan komite medik. Clinical pathway ini bisa digunakan untuk mengevaluasi kinerja seorang dokter yang itu adalah bagian dari tugas komite medik. Kalau dulu saat sekolah ada dosen yang mengontrol, ternyata ketika terjun ke masyarakat pun tetap harus ada yang mengontrol kualitasnya. Lagi-lagi kayaknya nggak ada di bangku kuliah. Atau jangan-jangan saya yang nggak nyimak ya? Wkwkw.

Selesai di clinical pathway, datanglah amanah baru. Sebagai Ketua Pokja SKP (Sasaran Keselamatan Pasien) untuk akreditasi serta Ketua Tim KPRS (Keselamatan Pasien Rumah Sakit). Oh please, makanan apalagi itu? Belajar lagi deh dari awal. Tentang 6 Sasaran Keselamatan Pasien dan bagaimana cara mewujudkannya, tentang KPRS dan bagaimana cara ‘menggerakkan’ elemen rumah sakit untuk menumbuhkan kesadaran tentang keselamatan pasien sebagai tujuan utama. Dengan kedua amanah baru itu, saya akhirnya berkenalan dengan jajaran manajemen rumah sakit yang mayoritas merupakan anggota Tim Akreditasi. Karena akreditasi membutuhkan sinergi dari seluruh staf rumah sakit yang dituangkan ke dalam berbagai pokja tersebut.

Tidak seperti saat saya di IGD, saya merasa excited sekali dengan tugas ini. Membuat sistem agar pasien mendapatkan pelayanan terbaik, berkoordinasi dengan staf dari berbagai unit, memahami kondisi dan hambatan mereka sekaligus berupaya memberikan solusi. Saya bisa melakukan banyak hal meski kelihatannya cuma duduk di kantor.

Rumah sakit memang masih belum sempurna, namun kerja keras sudah mulai membuahkan hasil dengan lulus akreditasi di tingkat perdana. Akreditasi adalah kisah yang berbeda lagi. Yang untuk bisa lulus juga menguras emosi dan tenaga melebihi kalo jaga IGD.

Disini pikiran saya mulai terbuka. Ternyata jadi dokter nggak cuma bisa jaga IGD atau poliklinik aja. Dokter juga bisa ngurusin pasien sambil ngantor, lho. Nggak kelihatan sih, tapi kami ada. *cool*

Advertisements