Tags

, , , , ,

1492071465950

Salah satu sudut kuliner Jombang

Dua tahun sudah saya menjadi warga Jombang. Selama dua tahun itu pula saya menjadi penikmat kuliner di kota santri ini. Beberapa bulan terakhir, saya juga bergabung dengan grup perkumpulan kuliner Jombang di Facebook. Di grup tersebut berkumpul para penjual yang mempromosikan dagangannya, baik homemade yang tidak ada toko maupun kuliner yang sudah punya toko offline. Kalau pengen nyoba kuliner yang ada toko offline biasanya tinggal meluncur saja. Tapi kalau cuma ada online, mau nggak mau harus sabar menunggu penjualnya membuka orderan. Atau kalau sudah menyimpan kontaknya, tinggal dihubungi kapan membuka pesanan. Kebetulan saya dan suami sama-sama suka mencoba kuliner-kuliner baru. Jadi klop deh.

 

Dari sekian menu yang sudah saya coba, ada beberapa yang sangat cocok di hati sampai repeat order berkali-kali. Banyak juga penjual yang unik, lain dari biasanya sehingga sangat memorable karena begitu menyentuh hati. Rata-rata dari mereka adalah penjual online yang tidak membuka toko.

 

Salah satunya ketika saya order sate jamur. Setiap kali melakukan pemesanan, saya selalu berusaha sejelas-jelasnya dan memastikan penjual juga memahami pesanan saya. Waktu itu penjual agak molor melakukan pengiriman sehingga saya sudah berangkat ke luar kota. Sudah tidak sempat lagi makan satenya. Demi mendengar hal tersebut, mbak penjual sate jamur memberikan satu porsi gratis secara cuma-cuma karena beliau merasa bersalah. Akan tetapi karena satenya super enak, saya pun jadi langganan sampe mbaknya hafal.

 

Adalagi kisah tentang penjual peyek. Berhubung peyeknya sangat renyah dan gurih, tipe makanan yang kalau belum habis nggak akan berhenti dicemil , maka saya lumayan sering order. Waktu itu mbak penjual peyek mengantar orderan ke rumah. Sayangnya saya masih di kantor. Peyek belum saya bayar, si mbak sudah buru-buru pulang karena anaknya sedang sakit. Si mbak berjanji akan kembali keesokan harinya untuk mengambil uang peyek namun sampai dua hari masih belum juga diambil. Saya panik sampai minta nomer rekening buat transfer. Namun mbak penjual peyek akhirnya mengambil uang pembayaran yang membuat saya sangat lega sekali. Bagaimana mungkin beliau rela meninggalkan peyeknya padahal belum dibayar, bila bukan karena kebesaran hati yang sungguh luar biasa?

 

Di lain waktu, ada penjual yang memberikan bonus dadakan. Sebenarnya beliau jualan sayap bakar ayam. Akan tetapi saat membuka kresek pesanan, tampak pula sebungkus pisang coklat hangat. Ketika saya tanyakan, memang betul itu bonus untuk saya. Masya Allah! Gimana saya nggak terharu. Padahal saat itu kondisi hujan dan beliau masih tetap bersedia mengantar pesanan.

 

Apakah semua penjual kuliner Jombang bersikap demikian? Ada beberapa yang saya temui pelayanan ke pelanggannya kurang. Namun kalau saya nggak suka, saya nggak pernah protes. Karena toh saya nggak bakal jadi pelanggan setia. XD Sebaliknya kalau saya cerewet, percayalah sesungguhnya saya fans berat anda dan sangat menginginkan anda menjadi jauh lebih baik kedepannya. Saya pikir, para penjual itu memang berjualan dengan hati. Nggak cuma sedang mempraktekkan ilmu marketing yang super jitu. Bukankah yang berangkat dari hati, akan sampai ke hati juga? :’)

 

Saya tidak masalah bila harus menunggu pesanan yang harus online karena memang tidak ready stock. Yang menjadi masalah bila penjual sudah menyanggupi mengantar jam sekian akan tetapi kenyataannya molor sampai 1-2 jam tanpa konfirmasi apapun. Kalau ada konfirmasi sih saya woles aja. Karena toh bisa terjadi hal yang tak terduga sepanjang prosesnya.

 

Sejujurnya saya nggak hafal nama penjual satu persatu karena saya menyimpan di ponsel dengan sebutan “sate jamur” atau “sayap bakar”. Barangkali saya sudah harus mulai mengenal para penjual favorit saya satu per satu. Dengan harga yang sangat terjangkau, rasa yang enak dan gratis ongkos kirim, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

 

Pertama kali pelanggan datang pasti karena penasaran. Untuk membuat dia loyal, ada hal tertentu yang dianggap cocok. Seperti rasa, harga dan servis pelanggan tentunya. Saya juga salut dengan penjual yang selalu menanyakan kritik dan saran setelah mencoba produk mereka. Hal itu menandakan bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik dengan memperbaiki kualitas produknya. Tapi perlu diingat juga kalau sesungguhnya kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Jadi fokus aja pada saran yang membangun, maka pelanggan yang dituju akan datang. Melihat grup kuliner Jombang, saya percaya bahwa para penjual bisa menyesuakan diri dengan perkembangan zaman.

 

Ps : kalau pengen tahu kontak kuliner makanan yang menurut saya enak, bisa cantumkan email. Nanti saya kirimkan Top Kuliner Jombang ala Fida.  Saya nggak dibayar buat promosi. Dan masalah enak nggak enak memang tergantung selera. Kalaupun menu yang diinginkan belum masuk list saya, bisa jadi saya memang belum mencobanya. Nggak enak menurut saya juga bukan berarti nggak enak menurut Anda bukan? Kalau penasaran dengan semua menu, bisa tuh langsung cuss gabung di grup Facebooknya. Biar puas bisa nyobain semuanya. 😀

 

Advertisements