Saatnya belajar menerapkan poin “Clear and Clarify”. Mengapa poin ini kami pilih, karena seringkali ketika saya atau suami dihadapkan pada sebuah pilihan, jawabannya adalah “terserah”. Yak, sungguh klise sekali. Tidak lain tidak bukan karena males pikir panjang. ๐Ÿ˜‚ Akan tetapi sesungguhnya jawaban terserah menjadi dilematis saat pilihan yang ditentukan ternyata tidak sesuai.

Seperti saya ketika minta tolong suami untuk beli ayam goreng sebagai lauk makan sahur. Di warung langganan ternyata habis. Suami tanpa tanya-tanya lagi karena sudah malam, akhirnya banting setir beli martabak dan tahu. Begitu sampai rumah, sayanya ngambek. Kok jadinya martabak, kan dealnya beli ayam. Kan padahal masih ada tempat lain yang buka, kenapa nggak nyari di tempat lain. 

Sayanya juga keliru karena keburu ngambek. Padahal ujung-ujungnya itu martabak juga masuk perut. ๐Ÿ™ˆSeharusnya yang saya lakukan adalah menerima dengan senang hati karena suami sudah mau capek-capek keluar rumah. Kemudian menyampaikan kepada suami bahwa lain kali bila menu yang dipilih nggak ada, barangkali bisa mencari di tempat lain dengan menu serupa. Daripada banting setir ke menu yang lain dan saya yang udah berharap-harap jadi kecewa. ๐Ÿ˜†

Maka dari itu saya harus memperjelas lagi ke suami. Apa yang saya inginkan, pun ketika permintaan suami belum jelas, akan saya perjelas lagi. Supaya nanti tidak ada lagi ngambek-ngambek yang nggak penting. โ˜บ๏ธ

#level1

#day4

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Advertisements