Di games tantangan komunikasi produktif ini ternyata saya menemukan pemahaman baru. Bahwa poin yang dibuat oleh Tim Bunda Sayang adalah alat bantu. Tujuan utamanya supaya tercapai komunikasi produktif. Mau poin yang mana dulu yang dilatih, tergantung pribadi masing-masing. Pun kalau ternyata poin yang udah pernah dilatih dan berhasil ternyata di masa depan bisa gagal. Iman aja bisa naik turun, apalagi emosi ya kan? 🙈

Saya gagal lagi di poin “Clear and Clarify”. Ceritanya saya dan suami mau ke luar kota. Untuk menghemat waktu, suami menyarankan untuk menjemput saya sepulang kerja dan langsung naik bus dari depan tempat kerja. Sebenarnya merupakan hal yang simpel, tapi menjadi tidak simpel karena kami belum packing total. Sebelum bekerja, saya hanya menyiapkan beberapa yang harus dibawa dengan anggapan setelah pulang akan mampir dulu ke rumah.

Jadilah suami yang packing dengan arahan dari saya. Saya membuat list dengan lebih dari 10 poin tentang apa yang harus dibawa dan dikerjakan oleh suami, suami agak terburu-buru karena mengejar waktu biar nggak kesorean. Pada beberapa hal, suami sempat menanyakan hal yang belum jelas kepada saya melalui whatsapp. Selain yang beliau tanyakan saya anggap sudah jelas.

Begitu suami datang, dari list tersebut tidak lebih dari lima poin yang tepat. Lainnya malah belum dikerjakan atau kurang tepat. Saya yang capek dan ngantuk udah cemberut duluan. 

“Mana titipanku yang a,b,c,d kok tidak terlihat di depan mata.”

Bukannya malah ngucapin makasih karena suami udah mau repot-repot dimintai tolong buat packing. 

Sebenarnya juga bukan masalah besar karena kami pergi cuma semalam dan pagi sudah kembali lagi ke Jombang. Tapi jiwa perfeksionis saya memberontak. Untuk apa diberi list kalau ujung-ujungnya nggak semua dilakukan/dibawa? Saya hampir selalu menggunakan cheklist untuk memastikan tidak ada yang terlewat dan semua berjalan sebagaimana mestinya.

Pelajaran yang bisa diambil :

1. Untuk hal yang butuh ketelitian, biarkan saya yang handle karena suami sering melewatkan hal kecil.

2. Hal darurat, biar suami yang pegang kendali.

3. Jangan memberikan list yang terlalu panjang kepada suami karena suami tidak terbisa multitasking.

4. Belajar mengucapkan terima kasih kepada suami meski bantuan yang diberikan belum tepat.

Layaknya sekolah kedokteran, sesungguhnya marriage life juga long life learning.

#level1

#day9

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Advertisements