Menjadi keluarga artinya memahami seni meminta maaf dan memaafkan. Seingat saya pernah ada jokes tentang pernikahan bahwa suami harus mau untuk meminta maaf meski tidak tahu apa kesalahan yang dilakukan. πŸ˜‚

Itu karena istri yang sering memendam perasaan dan berharap suami memahami kode-kode yang diberikan. Padahal suami hanya memahami bahasa verbal. Bukan bahasa kalbu. πŸ™ˆ

Seni meminta maaf adalah mau berbesar hati mengakui kesalahan. Tidak peduli kesalahan kecil maupun besar. Dan sekali salah tetap salah, jangan mengakui salah tapi sekaligus menyalahkan pihak lain. It doesn’t work that way. Bila sudah melakukan kesalahan, berusahalah semaksimal mungkin untuk memperbaiki dan tidak mengulangi lagi. Biar nggak dibilang “kapok lombok”. Maksudnya apa? Jangan sampai kaya makak lombok, ngakunya kepedesan tapi besok-besok masih juga makan pedes.

Meminta maaf tidak hanya dengan memilih kata-kata yang tepat. Akan tetapi intonasi, bahasa tubuh akan menunjukkan benarkah seseorang sudah meminta maaf dengan tulus? Kaidah 7-38-55 termuat disini. Faktor yang berperan dalam keberhasilan komunikasi 7% adalah pilihan kata yang digunakan, 38% intonasi dan 55% bahasa tubuh. Akan lebih baik lagi bila digabung dengan poin lainnya seperti choose the right time, intensity of eye contact dan clear and clarify.

Ketika saya melakukan kesalahan, tidak sengaja laptop suami keformat-data hilang semua, saya samgat sedih. Mau meminta maaf tapi bingung karena maaf saya tidak mengembalikan data yang hilang. Saya berpikir terlebih dahulu sebelum meminta maaf. Menunggu suami moodnya reda, mendekati beliau dan meminta maaf. Akhirnya suami mengatakan bahwa seharusnya yang saya lakukan ketika tidak tahu adalah bertanya, bukan asal pencet yang akibatnya fatal. Alhamdulillaah data yang hilang tidak begitu banyak karena memang laptop masih baru, tapi salah tetap saja salah bukan?

Selain meminta maaf juga ada seni memaafkan. Memahami bahwa pasangan/keluarga memiliki kelemahan karena tidak ada manusia yang sempurna. Yang harus diingat, akan sangat mungkin sekali mereka akan mengulang kesalahan yang sama. Lagi-lagi berbesar hatilah, tunjukkan bahwa hatimu seluas samudera. Bebaskan dirimu dari membenci orang lain. Dan yang terpenting, doakan. Agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama. Agar mereka selalu dalam perlindungan Allah dan berada di jalanNya.

Saya belajar banyak dari suami yang tidak pernah memakai nada tinggi ketika beliau sedang kesal. Sebaliknya, logika beliau selalu diutamakan. Kata beliau, “Aku marah tidak menyelesaikan masalah. Ditambah kamu pasti sakit hati. Jadi ya buat apa? Mending dicari solusinya.” Plakkk. Serasa ditampar saya. Sering banget masih marah-marah padahal sebenernya juga nggak penting. Lain kali kalau marah lagi, bibir dikunci rapat sebelum akhirnya mengeluarkan kata-kata yang tidak diinginkan.

Sepanjang hidup, kita tidak akan pernah berhenti berkomunikasi. Mungkin berhasil, mungkin gagal. Setelah mengetahui poin-poin tersebut, jangan lelah untuk selalu berusaha menerapkan bagaimanapun kondisi kita dan keluarga.

#level1

#day10

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Advertisements