Pertemuan saya dengan S2 Prodi AKK FKM Unair Minat Studi Administrasi Rumah Sakit bukanlah suatu kebetulan. Rasanya ini perjalanan takdir. Kenapa takdir? Sekitar bulan Maret 2017 suami saya lolos ke tahapan interview Beasiswa Chevening dari pemerintah UK. Hal itulah yang cukup mengguncang kami berdua. Kesempatan studi ke luar negeri tidak boleh dilewatkan. Tapi gimana nasib saya? Berbagai opsi pun kami diskusikan.

1. Ikut ke UK. Tapi ini bukan opsi bijak mengingat beasiswa dari Chevening hanya untuk mengcover 1 orang saja. Lagian trus saya di UK mau ngapain deh. Nggak sekolah juga ntar malah ngabisin duit. Wkwkwk. Mau kerja part time kok ya agak susah. Mau ikutan short course belum tentu keterima. Lagian IELTS saya juga masih ancur. Pilihan ini diskip. Maka bayangan LDR selama satu tahun beda benua sudah di depan mata banget. 😦

2. Nggak ikut ke UK. Tapi trus aku ngapain di Indonesia selama suami di UK? Mau sekolah PPDS? Ya bisa sih. Tapi selama suami di luar negeri, saya nggak akan bisa jengukin sama sekali. Soalnya begitu keterima PPDS udah bye banget sama liburan traveling apapun itu namanya sampe lulus. Ini nih suami nggak mau setahun sendirian merana di UK tanpa sekalipun ketemu istri tercinta. XD

3. Sekolah S2 di Indonesia, biar waktu liburan bisa nemenin suami di UK. Kan lumayan tuh tiap semester ada libur sekitar 2 bulan. Waktu akhirnya saya mengajukan opsi ini, suami nanya, β€œMau S2 apa?” saya jawab, β€œS2 Manajemen Rumah Sakit”. Seperti sekolah yang dijalani abah saya. Memilih S2 ini bukan tanpa alasan. Saya merasa betah di kantor rumah sakit dan tertantang untuk belajar lebih lanjut mengenai tata kelola rumah sakit. Memang dulu ketika aktif di organisasi pun, saya suka bekerja dibalik layar. Nggak tampil di depan. Memastikan semua berjalan dengan baik sehingga tujuan organisasi akan tercapai. Ketika akhirnya beliau acc (setelah melalui diskusi panjang dan bargaining tentang syarat beliau mengizinkan saya sekolah manajemen rumah sakit), mulailah saya bergerilya untuk mencari universitas yang menyelenggarakan program studi S2 manajemen rumah sakit.

Ada tiga pilihan saya waktu itu. Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya dan Universitas Gajah Mada. Tempting banget pengen kuliah di Malang soalnya dulu waktu S1 gagal kuliah di Malang, malah nyasar ke Surabaya. Sampe sekarang pun belum bisa move on dari Malang. Tapi waktu saya lihat persyaratan pendaftaran dan jadwalnya, ada satu syarat yang tidak mungkin saya peroleh dalam waktu singkat (jarak dengan penutupan pendaftaran sekitar 1 bulan) yaitu sertifikat TPA Otto Bappenas. Mo nangis rasanya tuh. Sekali lagi harus mengucapkan selamat tinggal untuk Malang. Berasa udah ditolak duluan padahal belum ngelamar.

Untuk Universitas Gajah Mada, saya baca persyaratannya dan bisa memenuhinya. Lhadalah entah kenapa tanpa dinyana tanpa diduga, ketika saya mantap mau daftar di UGM kok ya websitenya manajemen rumah sakit eror ndak bisa dibuka sama sekali. Saya jadi nggak tahu gimana alurnya, bayar kemana, jadwalnya kapan. Waduh-waduh. Itu terjadi sampai kurang lebih 2 minggu sampai akhirnya saya menyerah. Padahal waktu SMA, cita-cita saya kalo nggak kuliah di Malang ya di Jogja. Ini malah batal semua. 😦

Haruskah saya daftar S2 di Unair? Iya enggak iya enggak iya enggak. Sebenernya udah nggak mau lagi balik ke Surabaya. Udah cukup lah ya 6 tahun. Masa masih kurang? Lagian dulu abah ibu saya udah daftar S2 Administrasi Rumah Sakit di Unair tapi akhirnya nggak dilanjut gara-gara ada syarat harus pernah bekerja sebagai struktural di RS minimal 2 tahun. Lha ibunda tercinta nggak pernah jadi struktural di RS jadi harus magang selama 1 tahun. Ayah saya jelas nggak mau lah. Lhatapi kalo ndak ada ibu, trus siapa yang mau ngerjakan tugas kuliah ayah? Wkwkwk. Walhasil batal deh abah ibu saya kuliah S2 di Unair.

Tapi kok tapi, ini persyaratan Unair bisa saya penuhi semua. Apakah Surabaya memanggilku lagi? Setengah galau sambil bismillah akhirnya daftar ke Unair. Nyiapkan berkas kayaknya kilat banget. Daftar juga kilat. Sempet nanya-nanya ke salah satu dokter di rumah sakit tempat suami bekerja yang juga mahasiswa S2 Administrasi Rumah Sakit Unair tentang proses tes wawancara dan sebagainya. Insya Allah pede banget diterima lah wkwkwkwkw. Saat akhirnya pengumuman tiba dan saya benar diterima, itu berasa kayak saya dicintai tanpa syarat sama Surabaya. Sama Unair lebih tepatnya. Saya tuh nggak cinta sedikitpun sama Unair. Tapi Unair selalu mau menerima diri saya. Nah kan beneran takdir. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Salah satu syarat dari suami, boleh S2 di dalam negeri tapi harus dapet beasiswa. Lhadalah beasiswa S2 dalam negeri yang saya tahu cuman LPDP sama Beasiswa Unggulan. Beasiswa LPDP udah lewat wong saya udah diterima kuliah. Kebetulan kok ya sahabat saya tercinta salah satu penerima Beasiswa Unggulan. Dengan berbekal petunjuk dari beliau, Alhamdulillaah saya berhasil dapat Beasiswa Unggulan sehingga tabungan bisa digunakan untuk keperluan lainnya. Meskipun mungkin sebenernya bisa disekolahkan oleh rumah sakit dengan berbagai skema pembiayaan, Alhamdulillaah deh jadinya nggak memberatkan rumah sakit juga. Insya Allah kalau dimudahkan, memang jalan saya ada disini.

Selanjutnya saya melewati masa pengukuhan di kampus C, tempat dimana dulu saya diwisuda S1. Yaaaa balik lagi deh wkwk. Waktu itu masih belum kenal siapapun. Padahal ada kakak kelas dari Unair juga yang jadi temen sekelas tapi mohon dimaklumi. Dulu saya nggak eksis jadi nggak kenal siapa-siapa kayaknya. Maapkan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Setelah pengukuhan, oleh Bapak Ketua Program Studi diberi penjelasan tentang timeline perkuliahan sejak masuk hingga lulus. Apa saja materi yang diperoleh, kegiatan yang harus dilakukan, sampai ke syarat kelulusan. Yang tanpa diduga, mulai angkatan 2017 dan setelahnya, syarat kelulusan S2 adalah publikasi artikel ilmiah ke jurnal internasional terindex scopus atau minimal proceeding conference terindex scopus. Eh gimaneee????? Dulu aku S1 cuma kuliah pulang nggak pernah ikut ilmiah-ilmiah macam tu yang isinya mahasiswa super rajin nan intelek. Apalah saya ini. Wes bismillah iso melbu kudu iso metu. 😭😭😭

Setelah diberi pengarahan oleh Bapak KPS, kami diwajibkan mengikuti psikotes yang hasilnya akan digunakan untuk pembagian kelompok outbond. Program Studi S2 AKK Unair memang mewajibkan mahasiswanya ikut outbond, kalau nggak ikut nggak bisa lulus. Akan tetapi sesungguhnya sampai sekarang masih menjadi misteri, pembagian kelompok outbond itu berdasarkan apa. Karena rasanya kelompok saya woles semua. 🀣🀣🀣

Outbond 2 hari 1 malam di Lawang, di perkebunan teh. Menginapnya juga disana seinget saya. Di outbond ini akhirnya bisa mulai mengenal teman kuliah seangkatan, baik dari Administrasi Rumah Sakit maupun dari minat studi lain. Karena ternyata Program Studi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan itu memiliki 4 minat studi. Yaitu Administrasi Rumah Sakit (ARS), Manajemen Pelayanan Kesehatan (MPK), Manajemen Kesehatan (MK), dan Manajemen Pemasaran dan Keuangan Pelayanan Kesehatan (MPKPK). Kalau ARS jelas lah ya untuk yang bekerja di rumah sakit, atau kalaupun belum pernah bekerja di rumah sakit sebagai struktural bisa diterima dengan wajib magang di rumah sakit selama 1 tahun. Untuk MPK, biasanya mahasiswanya dari dinas kesehatan atau puskesmas. Sedangkan MK rata-rata yang lebih ke arah akademik misal mau jadi dosen gitu. Kalau MPKPK bisa dari rumah sakit atau klinik yang memang fokus mempelajari tentang keuangan dan pemasaran.

Berguna nggak ikut outbond? Berguna bangeet. Hahahaa. Selain kenalan dengan temen seangkatan, kenalan dengan dosen, untuk akrab pun jauh lebih mudah karena sudah pernah menjalani sesuatu bersama-sama. Trus yang paling diinget waktu outbond apa? Hmmmmm. Yang paling diinget itu slogan kelompok saya. Nama kelompoknya Blue Ocean, yel-yelnya β€œAnti kendoorrrr!!!!”. 🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣 Astaga itu yel-yel famous banget sampe dipake terus di angkatan. Padahal kelompok saya dapet bendera paling sedikit dan urutan posisi klasemen terbawah diantara semua kelompok. Tapi ya selow aja tuh. Wkwkwkwk.

Waktu outbond ada malam keakraban. Disitulah kami berkenalan dengan hampir seluruh dosen di AKK. Malam itu juga kami mendapatkan sharing dari alumni tentang bagaimana kuliah di AKK, bagaimana memanage waktu supaya bisa lulus, maupun memanfaatkan program dari Unair supaya bisa ke luar negeri tanpa biaya. Well, malam keakrabannya sambil nyanyi gitu. Semua kelompok kudu tampil. Jadi kelihatan deh mana yang jago nyanyi. Bukan saya tentunyaaa hahahaa. Etapi waktu itu dangdutan semua. Walhasil kelompokku nyanyi goyang dumang. Kenapa goyang dumang? Taunya itu. Lagi booming juga. Biar cepet aja ndang mari ndang uwes wkwkwkw.

Bersambung ke part selanjutnya untuk perkuliahan semester 1, 2, dan 3.