This Too Shall Pass 4


(pict from google)

Selain belajar mengelola emosi, saya juga belajar untuk lebih bisa menahan diri untuk tidak berbelanja hal-hal yang tidak penting. Seperti baju, sepatu, tas, kosmetik, dll. Jujur saya mudah sekali tergoda. Apalagi dengan adanya mobile banking yang kalau bayar tinggal pencet-pencet aja. ๐Ÿ˜ญ

Saya sudah mulai unfollow akun-akun yang jual baju di FB. Sedangkan di instagram masih belum mampu, hiks. Ngakunya aja lihat-lihat, tapi kalau ada yang lucu-atau warnanya saya belum punya akhirnya suka khilaf. Dan tumpukan di kamar pun semakin banyak. Padahal seharusnya ada mekanisme one in one out. Ujung-ujungnya saya bingung mau out kemana. Adakah yang mau nampung? ๐Ÿคฃ

Jadi ceritanya hari ini saya ke butik baju muslim yang lumayan terkenal gitu. Saya sih nggak pernah masuk kesana. Kebetulan nganter temen yang lagi nyari kado. Pas masuk agak syok sama harga outer yang kisaran 700 ribu rupiah. Udah nggak minat beli lah ya. Eh tapi mumpung disini, lihat-lihat baju yang lain ah. Ada satu baju yang menarik perhatian saya. Dalam hati menebak-nebak, bajunya berapa ya harganya. Paling 2-3 jutaan. Ternyata saya dibikin keselek sama harga asli yang tercantum di banderol. Nggak main-main, dua puluh dua juta! Seumur-umur saya nggak pernah ngelihat baju harganya bisa dituker sama sepeda motor. ๐Ÿ˜†

Masih nggak habis pikir sama harga itu gamis, eh nemu gamis lain harganya 1,5 juta. Lucu banget model sama warnanya. Saya suka saya suka! Apalagi kalo ada diskon 35%. Jadinya kisaran 1,1 juta sekian. Kayaknya lebih murah ya dibanding 22 juta ๐Ÿ˜‚. Sejurus kemudian saya terngiang perkataan suami tiap kali saya mau beli barang-barang fashion.

“Udah punya gamis berapa? Masih kurang? Mau dipake kemana?”

Ummm. Udah punya gamis berapa ya….Sebenernya udah cukup kok….Ya kemana gitu kan kali aja nanti-nanti butuh. ๐Ÿ˜ 

Setelah menjawab pertanyaan tersebut, fix lah saya nggak butuh beli baju baru hohohoho. Dompet masih aman. Apalagi habis ini dua-duanya mau sekolah. Semoga kedepannya saya bisa lebih mandiri lagi dalam menahan godaan belanja yang tiada penting-pentingnya. Bilang apa? Aaaaamiiiiin. ๐Ÿ™ˆ
#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 3

Saya agak ceriwis tentang pakaian. Dulu saat awal nikah, saya gemes karena suami sering pake baju dengan ukuran yang lebih besar dari seharusnya. Akhirnya setelah sekian lama, suami sudah bisa memilih ukuran pakaian yang tepat. Namun untuk memadukan warna dan model, beliau masih sering meminta bantuan saya. Karena sebentar lagi akan LDMan Surabaya-London, mau nggak mau beliau harus bisa memilih pakaian yang tepat.

Maka ketika ada gathering dari rumah sakit tempat beliau bekerja, saya tantang beliau untuk memilih pakaiannya sendiri. Hasilnya? Bikin saya nggak kedip saking terpesonanya. Udah lulus dengan nilai sangat memuaskan. Cum laude deh. ๐Ÿ˜‚

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 2

Selain memasak, tantangan kemandirian bagi suami adalah packing barang. ๐Ÿ˜‚ Selama ini saya lebih organized dari suami. Jadi kalau mau pergi, saya sudah menyiapkan semuanya. Memastikan tidak ada yang tertinggal. Kali ini suami mulai belajar untuk packing sendiri dan menata barang-barang dengan lebih rapi. Nggak asal masuk tas trus semua kecampur jadi satu.

Alhamdulillaah dengan bantuan kantong-kantong kecil, jadi bisa dibedakan antara dompet, tempat kabel, tempat obat, hardisk, dab. Tas jadi nggak berantakan dan gampang buat nyari barang yang dibutuhkan. Seneng deh lihatnya. ๐Ÿ‘

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 1

Game tantangan 2 Kelas Bunda Sayang IIP adalah tentang kemandirian. Baik kemandirian diri sendiri, pasangan maupun ananda. Minimal dalam satu bulan ada satu kemandirian dan maksimal 4 kemandirian yang harus dilatih. Kebetulan saya dan suami akan menjalani masa LDM yang cukup lama, maka target suami adalah memasak untuk bekal melanjutkan pendidikan di luar negeri. 

Kalau saya? Kayaknya harus mandiri nggak mewek lagi misal ada masalah yang nggak bisa saya selesaikan. Saya menyadari bahwa di titik ini, saya masih sangat bergantung kepada suami untuk menstabilkan mood. Maka tantangan bagi saya, harus bisa kuat menghadapi masalah tanpa bantuan suami.

Yang sudah bisa terlaksana, suami bisa masak! Kemajuan lah ya bisa bikin spaghetti. Udah bisa di mix pake keju pula. Semoga besok-besok skill masaknya bisa level up! Aamiin.

Kalau saya masih belum sukses. Kemarin masih nangis-nangis deh. ๐Ÿ˜ญ

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

Apply Visa UK Tanpa Travel Agent

Tags

, , , , , , , , , , ,

19396834_1528620513836030_6726181389271482311_n

Senengnya visa UK di approve ngalah-ngalahin senengnya lolos tes kuliah XD

Keseringan baca postingan di grup Facebook Backpacker Iinternasional (BI) jadi pengen nantangin diri sendiri. Bisa nggak apply visa UK buat ayah ibu tanpa bantuan travel agent dan di approve? Ternyata bisa!ย  Alhamdulillaah ya Allah. Terima kasih banyak kepada para suhu BI yang sudah membantu saya. Kesimpulan saya setelah visa diterima, sebenarnya semua informasi sudah disediakan. Tinggal kita MAU mencari (MEMBACA) atau enggak.

Kerempongan mulai dari apply online, ngisi data biar sesuai sama duit yang di tabungan, sesuai sama harga tiket dan hotel, paspor jaman dulu yang ditarik sama imigrasi, dan mengingat-ingat riwayat perjalanan kemana aja. Kerempongan yang worth it karena satu tantangan terlewati.

Barangkali ada yang profesinya sama (kebetulan ayah ibu saya dokter), berikut dokumen yang saya siapkan :

SEMUA DOKUMEN HARUS DALAM BAHASA INGGRIS dan BERUKURAN A4.

  1. Dokumen yang perlu diterjemahkan : akta kelahiran, kartu keluarga, KTP, surat nikah, surat ijin praktek.
  2. Dokumen yang disiapkan :
    – paspor
    – detil penerbangan (tiket pesawat), kebetulan tiket sudah issued krn beli waktu promo GA. Inilah yang bikin deg-degan banget visanya diapprove apa enggak.
    – surat keterangan dari tempat kerja (contohnya banyak tinggal googling). Ayah saya kerja di RS jadi minta ke RS, ibu saya buka praktek pribadi jadi bikin surat pernyataan (tanpa materai bisa)
    – tambahan untuk ibu : surat ijin praktek dan surat tanda registrasi dokter (STR). Kebetulan STR sudah in English jadi ga perlu ditranslate
    – bukti pemasukan tiap bulan dan saldo yang tersedia di tabungan. Ayah pakai Bank BNI dan Bank Muamalat, Ibu pakai Bank Syariah Mandiri. Bisa rekening koran atau buku tabungan. Tapi kemarin saya sediakan dua-duanya karena saldo yang tercetak di rekening koran terakhir sebulan sebelum tanggal penyerahkan dokumenย yang lebih update saldo dari buku tabungan
    – statement letter dari bank (contohnya banyak bisa di googling, biasanya tinggal ngomong ke bagian CS bank. Kalau di Muamalat ada form permintaan yang sudah disediakan, kalau BNI bikin surat permohonan sendiri)
    – konfirmasi booking hotel. Ini masih booking pakaiย booking.com, jadi belum bayar apa-apa. Free cancelation
    – surat nikah
    – KK
    – akta kelahiran
    – KTP
  3. ย Tambahan kalau mau pake layanan priority visa, fotokopi semua halaman paspor dari depan sampe belakang (termasuk halaman kosong)

 

Semua dokumen resmi saya berikan fotokopiannya in English (nggak perlu diserahkan yang asli yang penting TERBACA karena nanti akan discan). Meski di web imigrasi UK tercantum bahwa dokumen yang disubmit harus asli, ternyata waktu dateng ke VFS Global Surabaya yang diminta kopiannya saja. Dokumen resmi yang saya maksud adalah yang nggak boleh hilang seperti : Akta, KTP, KK, surat nikah dst. Kalau surat pernyataan atau surat dari tempat kerja kasih yang asli juga gapapa. Semua dokumen saya bikin dobel untuk ayah ibu karena aplikasi tersebut akan diproses sendiri-sendiri meskipun waktu penyerahan dokumen ayah dan ibu berurutan.

 

IMG_8889

all document must be originals

Khusus buat ibu yang berangkat sebagai dependant ayah, meski punya bank statement dan saldo sendiri, tetap saya lampirkan bank statement dan bukti saldo ayah sebagai penjamin. Jenis visa yang di apply adalah visa turis standar dengan maksimal stay 6 bulan. Ayah dan ibu melakukan penyerahan dokumen di VFS Global Surabaya karena domisili di Jawa Timur.

Saran saya buat yang mau apply, berikut urutan efektifnya :
1. Terjemahkan dokumen di sworn translator (kalau antri banget bisa 2 minggu-1 bulan). Di web juga tercantum ketentuan dokumen yang ditranslate, saya kurang tahu apakah bisa diterjemahkan sendiri/diterjemahkan bukan oleh penerjemah tersumpah.
2. Bikin akun apply visa online diย https://www.visa4uk.fco.gov.uk/home/welcome. Cermati baik-baik pertanyaannya dan dijawab dengan baik juga. Untuk apply visa online TIDAK PERLU submit dokumen apapun. Saya ngisi formnya butuh waktu sekitar 2 bulan, entah saking lemotnya apa gimanaย Karena waktu udah mepet akhirnya memutuskan untuk apply fasilitas priority visa (PV) juga. Kalau ngisinya bisa cepet ga perlu PV biar lebih hemat.
3. Siapkan dokumen pendukung lainnya, bisa diminta 2-3 minggu sebelum penyerahan dokumen supaya tanggalnya nggak jauh beda dengan waktu penyerahan dokumen jadi datanya update.

IMG_8888

ketentuan dokumen yang diterjemahkan

Terakhir, banyak-banyak berdoa. Mudah-mudahan visa diapprove dan perjalanan lancar serta barokah.

Tips khusus buat yang mau apply di VFS Surabaya, tidak disediakan tempat duduk bagi pengantar. Jadi mending nanti janjian aja buat nunggu di lantai dasar karena di lantai dasar ada banyak toko jualan makanan biar gak gabut.

Berikut saya lampirkan ceklis serta contoh dokumen yang bisa disiapkan. Ceklis ini saya ambil dari web VFS Global. Waktu nyerahkan dokumen dikasi ceklis ini juga. Kalau ini link dari imigrasi UK yang bisa dibaca-baca. Insya Allah ASAL MAU BACA semua informasi bisa didapatkan dengan lengkap.

https://www.gov.uk/standard-visitor-visa/documents-you-must-provide

https://www.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/549692/Visitor_Supporting_Documents_Guide_-_English_version.pdf

Orang tua saya submit dokumen tanggal 9 Juni 2017, tanggal 16 Juni 2017 sudah jadi dan tanggal 17 Juni 2017 paspornya sudah sampai ke rumah (dikirim visa jasa pengiriman). Ini pakai layanan priority visa dengan komitmen selesai 3-5 hari. Kalau tanpa PV selesainya sekitar 15 hari kerja. Biaya visa 1,5 juta. Kalau di Surabaya ada tambahan 1 juta. Biaya layanan priority visa 3 juta.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Belajar Mengerti Kita (10)

Menjadi keluarga artinya memahami seni meminta maaf dan memaafkan. Seingat saya pernah ada jokes tentang pernikahan bahwa suami harus mau untuk meminta maaf meski tidak tahu apa kesalahan yang dilakukan. ๐Ÿ˜‚

Itu karena istri yang sering memendam perasaan dan berharap suami memahami kode-kode yang diberikan. Padahal suami hanya memahami bahasa verbal. Bukan bahasa kalbu. ๐Ÿ™ˆ

Seni meminta maaf adalah mau berbesar hati mengakui kesalahan. Tidak peduli kesalahan kecil maupun besar. Dan sekali salah tetap salah, jangan mengakui salah tapi sekaligus menyalahkan pihak lain. It doesn’t work that way. Bila sudah melakukan kesalahan, berusahalah semaksimal mungkin untuk memperbaiki dan tidak mengulangi lagi. Biar nggak dibilang “kapok lombok”. Maksudnya apa? Jangan sampai kaya makak lombok, ngakunya kepedesan tapi besok-besok masih juga makan pedes.

Meminta maaf tidak hanya dengan memilih kata-kata yang tepat. Akan tetapi intonasi, bahasa tubuh akan menunjukkan benarkah seseorang sudah meminta maaf dengan tulus? Kaidah 7-38-55 termuat disini. Faktor yang berperan dalam keberhasilan komunikasi 7% adalah pilihan kata yang digunakan, 38% intonasi dan 55% bahasa tubuh. Akan lebih baik lagi bila digabung dengan poin lainnya seperti choose the right time, intensity of eye contact dan clear and clarify.

Ketika saya melakukan kesalahan, tidak sengaja laptop suami keformat-data hilang semua, saya samgat sedih. Mau meminta maaf tapi bingung karena maaf saya tidak mengembalikan data yang hilang. Saya berpikir terlebih dahulu sebelum meminta maaf. Menunggu suami moodnya reda, mendekati beliau dan meminta maaf. Akhirnya suami mengatakan bahwa seharusnya yang saya lakukan ketika tidak tahu adalah bertanya, bukan asal pencet yang akibatnya fatal. Alhamdulillaah data yang hilang tidak begitu banyak karena memang laptop masih baru, tapi salah tetap saja salah bukan?

Selain meminta maaf juga ada seni memaafkan. Memahami bahwa pasangan/keluarga memiliki kelemahan karena tidak ada manusia yang sempurna. Yang harus diingat, akan sangat mungkin sekali mereka akan mengulang kesalahan yang sama. Lagi-lagi berbesar hatilah, tunjukkan bahwa hatimu seluas samudera. Bebaskan dirimu dari membenci orang lain. Dan yang terpenting, doakan. Agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama. Agar mereka selalu dalam perlindungan Allah dan berada di jalanNya.

Saya belajar banyak dari suami yang tidak pernah memakai nada tinggi ketika beliau sedang kesal. Sebaliknya, logika beliau selalu diutamakan. Kata beliau, “Aku marah tidak menyelesaikan masalah. Ditambah kamu pasti sakit hati. Jadi ya buat apa? Mending dicari solusinya.” Plakkk. Serasa ditampar saya. Sering banget masih marah-marah padahal sebenernya juga nggak penting. Lain kali kalau marah lagi, bibir dikunci rapat sebelum akhirnya mengeluarkan kata-kata yang tidak diinginkan.

Sepanjang hidup, kita tidak akan pernah berhenti berkomunikasi. Mungkin berhasil, mungkin gagal. Setelah mengetahui poin-poin tersebut, jangan lelah untuk selalu berusaha menerapkan bagaimanapun kondisi kita dan keluarga.

#level1

#day10

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Belajar Mengerti Kita (9)

Di games tantangan komunikasi produktif ini ternyata saya menemukan pemahaman baru. Bahwa poin yang dibuat oleh Tim Bunda Sayang adalah alat bantu. Tujuan utamanya supaya tercapai komunikasi produktif. Mau poin yang mana dulu yang dilatih, tergantung pribadi masing-masing. Pun kalau ternyata poin yang udah pernah dilatih dan berhasil ternyata di masa depan bisa gagal. Iman aja bisa naik turun, apalagi emosi ya kan? ๐Ÿ™ˆ

Saya gagal lagi di poin “Clear and Clarify”. Ceritanya saya dan suami mau ke luar kota. Untuk menghemat waktu, suami menyarankan untuk menjemput saya sepulang kerja dan langsung naik bus dari depan tempat kerja. Sebenarnya merupakan hal yang simpel, tapi menjadi tidak simpel karena kami belum packing total. Sebelum bekerja, saya hanya menyiapkan beberapa yang harus dibawa dengan anggapan setelah pulang akan mampir dulu ke rumah.

Jadilah suami yang packing dengan arahan dari saya. Saya membuat list dengan lebih dari 10 poin tentang apa yang harus dibawa dan dikerjakan oleh suami, suami agak terburu-buru karena mengejar waktu biar nggak kesorean. Pada beberapa hal, suami sempat menanyakan hal yang belum jelas kepada saya melalui whatsapp. Selain yang beliau tanyakan saya anggap sudah jelas.

Begitu suami datang, dari list tersebut tidak lebih dari lima poin yang tepat. Lainnya malah belum dikerjakan atau kurang tepat. Saya yang capek dan ngantuk udah cemberut duluan. 

“Mana titipanku yang a,b,c,d kok tidak terlihat di depan mata.”

Bukannya malah ngucapin makasih karena suami udah mau repot-repot dimintai tolong buat packing. 

Sebenarnya juga bukan masalah besar karena kami pergi cuma semalam dan pagi sudah kembali lagi ke Jombang. Tapi jiwa perfeksionis saya memberontak. Untuk apa diberi list kalau ujung-ujungnya nggak semua dilakukan/dibawa? Saya hampir selalu menggunakan cheklist untuk memastikan tidak ada yang terlewat dan semua berjalan sebagaimana mestinya.

Pelajaran yang bisa diambil :

1. Untuk hal yang butuh ketelitian, biarkan saya yang handle karena suami sering melewatkan hal kecil.

2. Hal darurat, biar suami yang pegang kendali.

3. Jangan memberikan list yang terlalu panjang kepada suami karena suami tidak terbisa multitasking.

4. Belajar mengucapkan terima kasih kepada suami meski bantuan yang diberikan belum tepat.

Layaknya sekolah kedokteran, sesungguhnya marriage life juga long life learning.

#level1

#day9

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Belajar Mengerti Kita (8)

Games tantangan hari ke 8 sebenarnya udah dilakuin dari kemarin tapi belum sempet nulis. ๐Ÿ™ˆ

Kali ini saya belajar tentang “Choose the Right Time”. Karena apa? Karena saya mau mengakui kesalahan yang telah saya perbuat. ๐Ÿ˜‚

Saya tipe orang yang nggak mau dimarahin meski udah sadar kalo salah. #eaaa Hanya saja saya berpendirian kalau saya tetap harus jujur ke suami meski salah. Jadi biar meminimalisir dimarahi suami, saya pilih waktu yang tepat. Kapan itu waktu yang tepat? Menurut saya, setelah suami pulang kerja dan khususon saat Ramadhan ini, maka saat yang tepat adalah selesai buka puasa atau setelah tarawih.

Nb : sejujurnya suami hampir tidak pernah memarahi saya, tapi sebagai istri yang melakukan kesalahan, saya harus pintar-pintar mencari celah ๐Ÿ™†

Maka ketika suami sudah leyeh-leyeh, saya cerita deh dengan lebih dahulu meminta maaf. Kagok malu gimana gitu rasanya. Tapi suami yang bisa menetralisir suasana justru menebak-nebak kira-kira saya habis ngelakuin apa. Tebakan suami sukses bikin saya ngakak-ngakak dan akhirnya mengalirlah cerita tentang kesalahan saya. 

Dari situ suami membantu menganalisa kelemahan saya, kemudian kami mencari solusi sekaligus memastikan supaya kedepannya tidak terulang kembali. 

Btw dalam poin kali ini saya juga menggunakan “Intensity of Eye Contact”. Lagi-lagi supaya yang muncul dari hati, bisa sampai ke hati juga. โค๏ธ

#level1

#day8

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Belajar Mengerti Kita (7)

Poin “Clear and Clarify” dalam komunikasi produktif dengan pasangan insya Allah sudah diterapkan. Saatnya menerapkan poin yang lain. Kemudian saya berinisiatif untuk menerapkan “Intensity of Eye Contact.” Gimana maksudnya nih?

Bagi suami istri, penting untuk menjalankan komunikasi dari hati ke hati. Apa yang berangkat dari hati maka akan sampai ke hati juga. Apalagi kalau ingin menyampaikan sesuatu yang sensitif seperti mengingatkan suami. Suami hanya manusia biasa yang bisa salah dan lupa seperti halnya kita. Tantangannya, gimana caranya mengingatkan suami dengan cara yang santun? Kontak mata adalah salah satu caranya.

Saya sendiri kalau salah seringkali udah tahu salahnya dimana, tapi nggak mau disalahkan. ๐Ÿ˜‚ Butuh waktu, proses untuk bisa mengakuo dan belajar dari kesalahan tersebut. Maka seharusnya saya juga harus bersikap demikian kepada orang lain. Saat suami keliru, tahan dulu dari mengeluarkan kata-kata yang tak bermanfaat.

“Kan aku udah bilang kalau bla-bla-bla, masak lupa. Baru aja kemarin aku kasih tahu”.

Apa kalau gitu suami bakal inget? Engga. Yang ada malah jadi merasa tidak dihargai padahal udah berusaha-meski masih belum benar.

Maka inilah yang saya lakukan. Saat suami melakukan kesalahan, tarik napas, hembuskan. Lakukan berulang sampai otak bisa berpikir jernih. Dekati suami dan lakukan kontak mata. Pilih kalimat yang tidak menjudge.

F : “Eh, kemarin aku udah bilang belum kalau ….”

S : “Ummm. Kayaknya udah deh.”

F : “Bener nih udah? Tapi ayang kenapa ……..(melakukan kesalahan) ? ”

S : “Hehe. Lupa kalo kemarin udah dibilangin”

F : “Hayooo, lain kali diinget-inget yaaaa”

Kan enak. Nggak jadi marah. Beda kalau cuma ngomel aja, udah gitu ngomelnya sambil lihatin hape. Gimana mau bicara dari hati ke hati? โค๏ธ

#level1

#day7

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip