Ramadhan dalam Ingatanku

Tags

, , , , , , , ,

Apa yang kau ingat tentang Ramadhan?

Seingatku, aku mulai puasa sejak kelas 1 SD. Masih setengah hari. Setiap dzuhur senang sekali. Meski di ajak Ibu ke pasar untuk berbelanja mukena, aku tetap diberi makanan untuk berbuka. Kemudian melanjutkan lagi puasanya.

Yang kuingat tentang Ramadhan, aku menangis tersedu hingga ketiduran. Kala itu kelas 2 SD. Hari kedua berpuasa. Adzan dzuhur sudah berkumandang, Ibu telah selesai memasak makanan untukku berbuka. Aku pun siap menyantapnya.

Tapi Ayah memarahiku. “Puasa apa Cuma setengah hari? Nggak boleh berbuka!”

Lalu Maghrib datang dan mataku terbuka. Sejak hari itu, puasaku telah utuh sempurna.

Yang kuingat tentang Ramadhan, hari-hari pertama aku sibuk membuat daftar makanan untuk berbuka. Sudah kusiapkan semua. Saat berbuka tiba, ternyata perut tak mampu menampungnya. Aku hanya lapar mata!

Yang kuingat tentang Ramadhan, saat tarawih sibuk mencatat nasihat imam. Di akhir ceramah, aku akan mengantri meminta tanda tangan. Lalu aku akan bangun jam 2 pagi untuk ikut berkeliling membangunkan sahur orang-orang.

Yang kuingat tentang Ramadhan, aku sibuk sekali ikut pesantren kilat. Dalam sebulan, hanya hitungan jari aku di rumah bersama keluarga. Aku jadi punya banyak teman!

Yang kuingat tentang Ramadhan, seminggu terakhir aku akan berada di pedesaan. Di rumah kakek nenek tersayang. Tanpa Ayah dan Ibu. Hanya aku dan adik-adikku. Apa yang kulakukan? Banyak sekali, Kawan! Aku akan mengaji, aku akan membersihkan rumah, tarawih, hafalan Al-Qur’an dan takbiran. Yang istimewa, saat tengah malam aku akan diajak ke Masjid untuk sholat bersama. Baru aku tahu bahwa yang kulakukan dulu disebut i’tikaf.

Lekat sekali di ingatanku. Suatu hari sepulang i’tikaf, tanpa sengaja aku menengadahkan kepala. Menatap langit yang kukira gelap gulita. Namun aku salah besar. Langitnya bercahaya! Seakan berjuta bintang sedang berkumpul. Menatap manusia yang sibuk memujaNya.

Yang kuingat tentang Ramadhan, saat itu aku di Arab. Setiap kali masuk masjid, hawa yang terasa hanya ibadah. Shalat, mengaji, dan berdoa tanpa lelah. Ketika waktu berbuka tiba, penduduk sekitar akan berbondong-bondong memberikan makanan yang mereka punya. Kurma, air, roti, dan susu kambing. Bayangkan betapa baiknya mereka.

Yang kuingat tentang Ramadhan, saat itu Syria masih damai. Aku berbuka dan makan sahur dengan nasi mandi. Khas timur tengah. Hari pertama masih muntah. Hari terakhir nambah! Saat berbuka, jangan harap ada toko yang buka. Jalan raya sunyi senyap tak satupun orang lewat. Shalat tarawih di masjid sekitar, bertemu istri Syaikh dengan senyum yang menawan hati. Malam hari mengelilingi pasar, sungguh indah karunia Allah. Tanah yang gersang bisa tumbuh bebuahan lezat dengan harga sangat hemat!

Yang kuingat tentang Ramadhan, aku sudah koas di salah satu rumah sakit. Pertama kali jaga UGD. Menangis ingin pulang. Saking sibuknya sampai harus diingatkan oleh PPDS untuk sahur dan berbuka. Malah beliau dengan baiknya mengambilkan makananku agar aku sempat melahapnya.

Ramadhan kali ini, aku bersama suamiku, ayah dan ibu serta adik-adikku. Setelah bertahun-tahun berlalu. Maklum. Aku anak rantau. Aku menyiapkan sahur, menyiapkan makanan berbuka, memastikan semua berjalan dengan baik meski belum sempurna.

Ramadhan kita mungkin berbeda cerita. Antara sendiri dan bersama, antara dekat keluarga maupun jauh di luar kota. Kau tahu? Kita semua masih

bisa bertemu dalam doa. :)

Semoga masih bertemu dengan Ramadhan selanjutnya.

Apa yang salah?

Tags

, , , , , , ,

Maaf. Seperti tidak bertuhan.
Tidak dipinjami uang, seorang cucu rela membunuh neneknya.
Tidak tahan dengan suara berisik, seorang ayah tega membunuh anaknya.

Suatu saat ketika kuliah forensik, salah satu dosen saya, dr.Warih Sp.F pernah berkata.
“Disini kita belajar bagaimana membedakan pembunuhan dengan bunuh diri. Bagaimana membedakan kematian yang wajar dan tidak. Mungkin kita bisa jadi pembunuh yang handal, yang mampu menyamarkan apa yang kita lakukan menjadi sesuatu yang wajar. Namun untuk membunuh, butuh keberanian. Keberanian yang sangat besar”.

Saya kira selama ini untuk membunuh perlu alasan kuat, nyatanya tidak.

Atau sebenarnya bagi sebagian orang, membunuh karena tidak dipinjami uang itu logis? Membunuh karena tidak tahan dengan suara berisik anak itu logis?
Otak saya nggak nyampe.

Ya, bisa jadi si pembunuh mengalami gangguan mental. Sehingga ia tidak merasakan apapun saat membunuh. Otaknya mengalami gangguan. Layaknya orang mati rasa. Namun apakah semua pelaku juga demikian?

Bila mempunyai Tuhan, seharusnya tidak membunuh. Tidak dipinjami uang, bisa pinjam orang lain atau menjual barang milik pribadi. Bila tidak tahan suara berisik anak, bisa menenangkan. Meminta bantuan istri, atau paling simpelnya keluar dari rumah aja sebentar.

Bila mempunyai Tuhan, seharusnya ingat bahwa membunuh itu berdosa. Kecuali membunuh kafir yang mengganggu kita layaknya zionis Yahudi.

Hari ini dalam bus perjalanan Jombang-Surabaya, saya menyaksikan seorang pengamen yang saya duga mengalami retardasi mental (RM), dipukuli oleh pengamen lain. Alasannya karena si pengamen RM tersebut sudah terlalu lama mengamen sehingga tidak memberi kesempatan kepada pengamen lain. Ya, dipukuli di dalam bus. Sampai sopir menghentikan bus untuk menurunkan mereka. Pengamen RM sama sekali tidak bisa melawan, hanya menutupi wajah dengan tangan sambil sesekali berteriak, “Ibu..ibu..”
Pengamen yang memukuli, wajahnya beringas berkata “tak pateni kowe lek mudun, tak pateni kowe!”. Suami saya berusaha menarik bajunya untuk melerai tapi tidak berhasil, terlalu kuat. Seorang lagi berusaha melerai, tangannya digigit. Alhamdulillaah akhirnya berhasil diamankan oleh kondektur. Saat mereka turun, saya semakin yakin bahwa pengamen yang dipukuli mengalami retardasi mental karena wajahnya tampak datar saja. Tidak marah, tidak bersedih. Hanya tatapan kosong. Bahkan dia belum sempat mengedarkan kantong untuk menerima receh dari para penumpang.

Mungkin tidak ada yang mau mengurusi pengamen RM tersebut, sehingga dia harus mencari uang sendiri untuk kebutuhannya. Mungkin memang sulit untuk berkomunikasi dengannya, sehingga orang lain tidak sabar. Mungkin memang sulit membuatnya mengerti, karena memang dia butuh waktu lebih lama.

Atau mungkin si pengamen lain sangat butuh uang sehingga waktu yang hanya sedikit saja begitu berarti untuknya? Harga kebutuhan pokok yang mencekik begitu membuatnya tertekan sehingga mudah saja untuk memukul. Seperti (maaf) tak bertuhan.

Karena bila bertuhan, seharusnya tahu bahwa rezeki tidak akan tertukar. Karena bila bertuhan, seharusnya tahu bila sabar adalah salah satu jalan pertolongan Tuhan.

Bundar Berlarian

Tags

, , , , , , ,

Untitled

Saya adalah anak pertama dari sembilan bersaudara. Meski demikian bukan berarti saya menjadi yang ‘paling besar’. Tidak. Paling besar adalah anak ketiga, Dik Ifa, saking besarnya sampai penjual di pasar salah mengira kalau dia adalah ibu saya.

“Lho Bu Dokter, kok pagi-pagi udah ke pasar? Trus pasiennya yang mau suntik bagaimana?”

Dek Ifa cuma bisa mencep. Sedangkan Dik Nilna yang kebetulan ikut udah ketawa ngakak.

Dibalik badannya yang besar, sesungguhnya tersimpan hal yang besar pula. Saat pertama kali bertemu dengannya, yang terlintas di pikiran pasti “banyak makan”, atau “males gerak”, “suka goler-goler”. Padahal dia layaknya bola basket, bundar dan suka berlarian.

Saat di rumah, dia bangun pagi untuk nganter adek-adek ke sekolah kemudian belanja ke pasar lalu memasak. Memang seringnya makanannya dihabiskan sih, tapi saya juga ikut ngabisin-padahal nggak ikut masak. XD

Meski keliatan sibuk dan nggak sempet belajar, tapi dia rajin. Trust me. Dia adalah satu-satunya siswa yang saat SMP diperbolehkan tidur di kelas oleh salah seorang guru matematikanya karena semua tugas di buku ajar sudah dikerjakan dengan baik (padahal belum disuruh). Gilak rajin beuts gak sihh.

Saat ini dia kuliah di FK UNS. Kuliah di Solo benar-benar diluar jalan hidupnya. Dengan semangat “pengen-curriculum-vitae-nya-beda-sama-Mbak Fida” akhirnya dia sukses menjadi anak gaul Solo. Kebetulan saya dan Dik Ifa sejak TK sampai SMA memang sekolah di tempat yang sama.

Karena di Solo trus jadi kampungan? Well. Salah besar. Dari Solo dia sudah melanglang buana ke Makassar, Bandung, Jakarta, Malang dan dalam waktu dekat akan ke Malaysia. Saking seringnya melancong, Abah saya sampai protes. “Kuliah di FK kok isine dolan thok ae ra tau sinau.” (Kuliah di FK kok main aja nggak pernah belajar).

Ya memang begitulah adanya Dik Ifa. Ada sembilan anak, ya sembilan sifat. Nggak bisa disamakan satu dengan yang lain.

Dia salah satu yang paling pemberani dari 9 bersaudara dan tahu tentang cukup banyak hal.

Saat kelas 6 SD, dia pernah mengajak Dik Tsuroyya yang waktu itu kelas 4 SD untuk pergi ke Bojonegoro Kota yang jaraknya 20 km dari rumah dengan mengendarai angkutan umum. Sampai di terminal, dia ingin pergi ke salah satu swalayan naik becak. Saat ditanya oleh tukang becak dimana rumahnya, dia menjawab “Griyo kulo mriki mawon.” (Rumah saya deket sini kok). Soalnya kalau bilang alamat asli nanti kan bisa diculik. XD

Pengen tahu tempat makan enak? Tanya Dik Ifa. Pengen pesen tiket buat liburan dengan harga murah? Tanya Dik Ifa. Mau cari temen mbolang? Ajak Dek Ifa. Mau beli gadget paling update? Tanya Dik Ifa. Pengen tahu spesifikasi mobil terbaru? Tanya Dik Ifa. Yang dia belum tau cuman, siapa jodohnya kelak. XD

Selamat ulang tahun! Selamat hampir koas. Selamat mau menikah. Semoga menjadi insan yang lebih bermanfaat.

Tidak Pernah Bosan ke Lombok

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

pemandangan menyusuri Pantai Senggigi

Pemandangan menyusuri Pantai Senggigi

Seneng banget akhirnya bisa ke Lombok lagi! :D
Kenapa saya lebih suka Lombok dibanding Bali : pantainya keren. Ini subyektif sih. Hehe.
Terus, banyak masjid dan nggak susah buat nyari makanan halal karena mayoritas penduduk Lombok itu muslim.
Pulaunya masih relatif sepi, mau kemana-mana deket. Naik motor juga nggak masalah. Meski hawanya agak panas dan rempong karena nggak ada kendaraan umum, tapi muter-muter Lombok itu menyenangkan.

Kali ini saya dan suami sukses traveling ke Gili dengan PP naik motor tanpa direncanakan sebelumnya. Turns out it was over expectation!

Biasanya untuk bisa menikmati sesuatu hal, saya dan suami harus merasakannya minimal dua kali biar lebih kerasa joyfull nya. Sebagai contoh saat naik Transformer the Ride di USS, pertama kali kami masih terkaget-kaget. Naik dua kali, baru kerasa seru bangett!

Pertama ke Gili udah kerasa serunya tapi masih kurang. Thats why we are coming back! :D

Setelah searching rute dari Mataram menuju Gili, ternyata ada dua pilihan. Rute pertama adalah menyusuri Pantai Senggigi. Diperkirakan memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Rute kedua lewat Phusuk, harus naik turun gunung tapi bisa ditempuh dengan waktu yang lebih singkat. Kurang lebih 1,5 jam. Kedua rute tersebut terpampang jelas di aplikasi Sygic yang kami miliki. Aplikasi ini bisa berfungsi dengan baik dan nggak lemot kaya G**gle Maps.

Mengingat saat ini musim hujan dan motor yang kami pakai adalah Astre* Grand jaman purba, maka rute yang akan kami tempuh adalah menyusuri Pantai Senggigi. Kebetulan dulu lewat sana saat malam hari. Jadi penasaran juga gimana kalo siang.

Persiapan oke. Kami cuma bawa dua ransel dan jas hujan serta ransum secukupnya, pukul 09.00 kami berangkat dari rumah teman kami di Labu Api setelah mengisi bensin full (20.000 rupiah).

Penunjuk jalan ke Senggigi sangat mudah dipahami. Kami cuma kesasar satu kali karena ternyata jalannya searah, tapi bisa putar balik dengan mudah. Setengah jam perjalanan, kami sudah melihat pantai! Aaaaaaaaaaaaa. Saya tak henti-hentinya mengagumi keindahan alam di Lombok. Sepanjang perjalanan yang kami lihat hanya hijau dan biru serta cidomo (andong) yang banyak berlalu-lalang.

Sepanjang perjalanan menuju Gili

Sepanjang perjalanan menuju Gili

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, sampailah kami di Jalan Pantai Senggigi. Di kanan kiri banyak terlihat kafe dan resort, hanya saja pantainya kurang menggugah selera jadi kami tidak berhenti.

Kemudian kami melewati sebuah spot yang bagus sekali. Pas di tepi pantai. Hanya saja berbentuk jurang karena kebetulan tempatnya di tanjakan dan diberi pagar di tepi-tepinya. Kami memutuskan untuk rehat sejenak menikmati hembusan angin dan keindahan pemandangannya. Masya Allah. Bahkan kamera tak sanggup merekam keindahan yang dilihat oleh mata.

Setelah rehat lima menit, kami melanjutkan perjalanan. Mulai tampak bule yang juga mengendarai motor dan membawa carrier. Whoaa. Mungkin mereka mau ke Gili juga. Rombongan 3 motor begitu. Hohoho.

Satu setengah jam kemudian sampailah kami di Pelabuhan Bangsal. Wah kok cepet. Padahal kecepatan ya maksimal 80km/jam. Waktu masih menunjukkan pukul 10.30. Setelah menitipkan motor, kami membeli perbekalan untuk dibawa ke Gili karena sudah bukan rahasia lagi kalo segala macam di Gili itu mahal XD.

Pukul 11.00 kami menyeberang ke Gili Trawangan dengan membayar 36.000 untuk dua orang. Sudah satu paket termasuk tiket perahu, wisata pantai dan karcis entah apalagi saya lupa. Seperti biasa karena bukan speedboat, kami satu perahu dengan berbagai macam barang dagangan yang akan dikirim ke Gili juga. Jadi jangan kaget ya :D

30 menit kemudian sampailah kami di Gili Trawangan! \(ˆ▽ˆ)/
Oh sudah ada spot foto baru. Tulisan Gili Trawangan. Setelah berfoto ria, kami segera menyewa sepeda (100.000 untuk dua sepeda selama 24 jam) di dekat pelabuhan untuk kemudian mencari Denaya Lodge, penginapan yang sudah kami booking melalui agoda. 300.000 dengan fasilitas ac, kamar mandi, tv kabel, breakfast dan wifi. Meski skor di agoda nggak terlalu bagus, tapi karena suami lebih mementingkan fasilitas daripada ramah-tamah pegawainya, jadilah kami menginap disana.

Tujuan kami ke Gili kali ini adalah : berenang di pantai! Jadi kami memilih penginapan yang agak dekat pantai biar kalau basah nggak jalan jauh-jauh. Sengaja kami nggak snorkeling lagi karena kami sepakat tidak bisa menikmati snorkling di laut. Lebih kerasa horor daripada serunya XD

Sejam muter-muter Gili, penginapannya nggak ketemu juga. Nyari lewat map di agoda maupun tripadvisor sama-sama nggak ada yang bener. Penunjuk jalan ke arah penginapan pun sama sekali tidak kami lihat. Akhirnya kami menyerah. Mencari nomer telp penginapan dan kami ditunjukkan arahnya. Jauh banget dari yang ada di map. Hiks.
Ternyata dari pelabuhan langsung saja belok kanan menyusuri jalan utama, setelah sampai di Gili cafe di kanan jalan, masuk gang di sebelah kiri yang ada masjidnya lumayan besar. Di tembok gang tersebut barulah kami melihat ada papan penunjuk Denaya Lodge. Tapi mungkin hanya berukuran 30x15cm. Berbaur dengan papan penginapan lain.

Jarak dari gang ke penginapan sekitar 250 meter. Lumayan jauh. Kami sampai dan ternyata sudah ditunggu-tunggu. Kamar kami sudah siap dan bisa langsung masuk. Denaya Lodge hanya memiliki 4 kamar. Dan kamarnya nyaman sekali! Kondisinya persis seperti foto yang terpampang di agoda. Ternyata ada tambahan kulkas plus safety boxnya. Air mengalir dengan lancar dan tidak asin. Hanya saja wifi lagi rusak, untungnya bisa pakai wifi tetangga jadi internet tetap lancar. Untuk TV kabel awalnya eror. Akan tetapi setelah komplain, bisa lihat Starworld tanpa hambatan! Tidak disarankan untuk menyalakan AC dengan kondisi yang paling dingin karena selimut yang tersedia hanya selembar kain saja.

Then we were ready to swim. Menyusuri pantai mencari spot berenang yang pewe. Hmmm. Jatuhlah pilihan kami pada pantai yang agak sepi, tanpa ada perahu yang tertambat. Berenang di laut tanpa kacamata renang adalah sebuah kesalahan. Mata saya menjadi perih. Apalagi saya pakai softlens. Jadi benar-benar tidak bisa menikmati. Akhirnya saya memutuskan untuk menyewa masker snorkling seharga 25.000 untuk 24 jam. Finally im swimming on the beach! Wohoooo. Masih takut berenang di laut, saya nggak berani ke tengah sama sekali. Meskipun saya yakin pemandangan bawah lautnya jauh lebih indah dan banyak bule yang berenang di daerah itu, tapi tidak. Saya takut kena ombak atau terseret atau tenggelam dan sebagainya. Jadi cukuplah cuma di kedalaman maksimal satu meter.

Capek berenang, saatnya rehat cantik makan eskrim gelato. Kami beli eskrim di Kafe Egoiste daaann ternyata boleh menikmati eskrim sambil goler-goler sunbathing di pantai kafenya! Aaaaaaaa seneng bangeett gak harus beli makan cuma beli eskrim udah boleh pake pantainya hihihi.

Btw kafe egoiste ini dapet rate yang lumayan tinggi dari tripadvisor, tapi saya belum berani coba menunya. Lumayan overpriced. XD

Puas berenang dan goler-goler, saatnya membersihkan diri dan siap-siap hunting sunset. One of the best sunset in the world. Oleh mas penjaga penginapan, kami diberi petunjuk jalan pintas bila ingin melihat sunset. Yang biasanya harus ditempuh 20 menit, ini bisa ditempuh 10 menit saja tanpa melewati keramaian.

Kelaperan belum makan siang, kami bertekad nyari tempat makan buat spot dinner sekaligus menikmati sunset. Kami melewati Hotel Ombak Sunset. Uhh cantiknyaa. Ada ayunan di pinggir pantai jugaa tapi pasti mahal. Cuma lewat aja deeh. Sampai ke ujung sunset point di Aston, kami belum menemukan tempat yang sreg. Akhirnya cukup menikmati sunset saja. Makan malam gampang laah.

Sunset tetap cantik. Selalu indah untuk dinikmati. Hanya saja langit sedang berawan sehingga matahari tampak hanya sebentar saja saat benar-benar akan tenggelam. Sekali lagi saya berterima kasih kepada Allah, telah diberi kesempatan melihat pemandangan menakjubkan ini bersama suami tercinta. :)

Fillet Ikan BBQ

Fillet Ikan BBQ

Setelah dipuaskan oleh sunset, saatnya mengisi perut yang masih kosong. Saya pengen steak seafood.  Di tempat yang bukan bar atau yang biasa dipakai dugem dan bisa menikmati angin malam di pantai. Agak repot juga nyarinya. Pilihan kami jatuh pada Cafe Gili yang letaknya tepat di depan gang penginapan. Suami memesan prawn BBQ dengan harga 65.000/100gr disajikan dengan salad, saus dan kentang goreng. Sedangkan saya memesan fillet ikan BBQ dengan sajian yang sama seharga 70.000 per porsi. Saus BBQ nya kurang nendang, tapi kami diberi saus lain dari paprika dan rasanya unik sekali. Sepintas melihat rasanya nggak bikin kenyang, tapi saat sudah selesai makan rasanya kenyang banget. Kafe diatur sedemikian rupa sehingga tampak romantis dengan hiasan lilin dan lampu. Kami disuguhi pemandangan pantai bersama kelap kelip lampu dari kapal yang terparkir maupun yang mencari ikan. Suasana ini mirip kalau mau dinner di Jimbaran. :)

Gili Cafe

Gili Cafe

Fyi, beberapa kafe di Gili ada yang memasukkan biaya tax 10% dan service 5% ke dalam daftar harga, namun ada juga yang tidak. Sehingga harus berhitung dengan cermat bila nggak ingin kebobolan.

Satu lagi yang wajib dari Gili adalah terang bulan nutella di Pasar Seni dengan harga 18.000. Iya saya norak. Di Bojonegoro nggak ada terang bulan nutella. Meski saya juga masih ngidam yang rasa green tea, red velvet, oreo, yang sayangnya di Gili juga belum ada :(

Malam adalah saatnya tidur, meski bagi para bule itu adalah saatnya dugem.

Sarapan pagi kami dipersembahkan oleh penginapan dengan menu roti panggang dengan telur mata sapi serta minuman hangat. Rasanya tawar sekali. Untung masih ada garam dan merica sehingga sedikit bisa dinikmati.

Breakfast dari Denaya Lodge

Breakfast dari Denaya Lodge

Karena pukul 11.00 harus checkout, maka harus bergegas menuju spot-spot terakhir yang ingin kami tuju. Kebetulan saat sunset kami sempat melihat akan tetapi belum bisa menikmatinya. Dan inilah saatnya mumpung masih ada waktu.

To do list untuk pagi itu adalah :
Bersepeda keliling Gili
Menikmati romantic table
Melihat bottle tree
Menikmati kursi jomblo

Sayangnya untuk bersepeda keliling Gili belum sempat terealisasi karena jalannya masih dalam perbaikan. Namun kami sudah mengelilingi 2/3 Gili dan rasanya cukup memuaskan hati.

Mendekati Hotel Aston, kami melihat romantic table. Wah yang bikin niat banget! Batin saya. Sampai dikasi papan penunjuk arah, kemudian ada tatanan meja dari kayu dan daun kelapa yang diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk love. Tepat di bawah hiasan daun kelapa juga ada coral yang diatur sehingga membentuk love. Lucuuuu.

Romantic Table

Romantic Table

Puas berfoto di romantic table dan karena sudah ada pasangan yang antri mau menikmati juga, kami beranjak ke bottle tree. Ini saya sendiri yang menamai sih. Sebuah pohon tanpa daun, dengan berbagai macam botol di setiap ujung dahannya. Seperti sebuah sindiran bahwa seiring dengan menikmati keindahan alam, maka kita juga harus turut menjaga kelestariannya. Jujur menurut saya, Gili bukanlah sebuah pulau yang bersih. Sampah bisa berserakan dimana-mana. Tapi kalau di resort mewah ya sudah pasti bersih karena sudah ada yang dibayar untuk itu. Sebuah pe er bagi pengelola Gili agar kedepannya bisa lebih memperhatikan kebersihan pulau.

Spot terakhir yang kami kunjungi yaitu kursi jomblo. Hahahaa. Saya melihatnya secara tidak sengaja saat sunset, ada sebuah kursi agak menjorok ke tengah laut yang diduduki oleh pasangan bule. Letak kursi tersebut di dekat Sunset Bar, yang bila pagi-siang hari sangat sepi sekali. Kursi itu benar-benar sendirian di tengah laut. Tapi bisa jadi spot romantis untuk menikmati sunset bersama pasangan.

Saat to do list sudah dinikmati semua, akhirnya kami kembali ke pelabuhan Bangsal dengan menggunakan perahu seharga 30.000 untuk dua orang. Kami membayar 10.000 untuk biaya parkir motor menginap 24 jam. Kemudian meluncur ke restoran dekat pelabuhan Bangsal untuk makan siang bersama rekan suami saya.

Restoran tersebut sangat sepi. Dari luar tidak tampak seperti rumah makan. Selain resto, Lombok Gallery juga menyediakan souvenir serta mutiara lombok. Jadi untuk pelanggan yang ingin mencari souvenir dari Gili/Lombok tidak perlu jauh-jauh ke Mataram. Kami menikmati sajian Ayam Bakar Madu Taliwang, Udang Goreng Telur Asin, Ikan Goreng serta Cah Kangkung. Rasanya mantap! Dengan harga yang tidak terlalu mahal, restoran ini sudah mampu menyediakan makanan khas Lombok yang endes bangeet. Satu lagi poin plus nya, yaitu bisa menikmati makanan sambil melihat pemandangan sawah dan gunung yang terhampar di sekitar restoran.

Oleh rekan suami saya, kami diberi oleh-oleh sate ikan. Rasanya seperti otak-otak. Namun bila otak-otak bertekstur kenyal, sate ikan ini benar-benar rasa daging ikan yang diberi bumbu kemudian dipanggang. So yummy!

Untuk kuliner Lombok lainnya yang tidak boleh terlewat adalah Sate Rembiga. Namun untuk rasa sate asli harus mencari di daerah Rembiga yang letaknya agak jauh. Akan tetapi kita masih bisa menjumpai di daerah Cakranegara, depan toko Tiara. Seharga 20.000/10 tusuk. Jangan melihat Sate Rembiga hanya dari penampakannya saja. Sekali coba, bakal ketagihan teruss!

Dalam 2×24 jam berakhirlah petualangan kami di Lombok. Kami masih ingin kembali lagi mengingat masih banyak list pantai yang belum kami kunjungi. Well. Tidak pernah bosan ke Lombok. :)

For more pics you can visit my instagram @fidalathifah

Mencari Surga

Tags

, , , , , ,

ibu

Surga di telapak kaki ibu.

Namun surga bagi para istri, terletak pada keridhaan suami.

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”

Aku dan ibu bukan orang yang bisa mengungkapkan isi hati masing-masing secara gamblang. Namun dalam hampir seperempat abad hidupku, aku meyaksikan pengabdian seorang istri terhadap suami di depan mataku. Oleh ibuku.

Suatu hari disaat kami kehabisan air mineral, Abah meminta ibu memesan di sebuah toko melalui telepon dan mengantar ke rumah dengan becak. Namun sayang sekali di Toko A hanya ada tersisa satu. Selesai memesan, ibu menelepon Toko B dengan jarak 20 meter dari Toko A, meminta diantarkan dengan becak juga. Saat telepon ditutup, Abah bertanya. “Udah bilang ke toko B belum kalo kita udah pesen air di Toko A dan juga dianterin pake becak?”. “Belum, Mas”, jawab Ibuku. “Ngapain pesen pake dua becak? Bilang ke Toko B kalo nanti ada tukang becak jemput airnya biar mereka nggak bingung nyari becak! Bilang juga ke Toko A minta tolong becaknya mampir toko B buat ambil airnya!”. Suara Abah meninggi. Ibu tersentak. Aku melihat tangannya gemetar mengangkat telepon. Air mata sudah menggenang, tapi Ibu menahan dengan kokohnya. Menyelesaikan tugas yang diminta dengan sempurna.

Itulah ingatan pertamaku akan bakti Ibuku.

Ibuku bodoh? Tidak sama sekali. Beliau anak sepasang guru dari pedalaman Pulau Jawa. Seorang dokter. Ibu dari sembilan anak.

Permintaan Abah sepele bukan? Namun dengan nada tinggi, siapapun bisa tersakiti. Mungkin ibuku juga, namun beliau memilih diam. Tidak sedikitpun membantah. Bertahun-tahun kemudian baru kupahami maksudnya.

“Kalau Abahmu lagi marah, nggak usah dibantah. Diiyakan saja semua yang diminta. Karena pikiran Abah masih nggak jernih. Nanti kalau marahnya sudah reda, Ibu coba ajak ngobrol pelan-pelan. Seringkali Abahmu akhirnya berpikir dua kali dan mengakui kalau Abah memang salah karena marah atau mengambil keputusan yang salah”.

Tidak. Ini bukan KDRT. Ibu hanya tahu bagaimana harus memposisikan diri sebagai istri. Akupun akhirnya memahami. Bila saat itu Ibu marah, mungkin Abah dan Ibu akan bertengkar hebat. Tapi itu tidak pernah terjadi. Ibu tetap meneruskan taatnya pada suami.

Meski jauh dari Abah, Ibu selalu meminta ijin kemanapun beliau pergi. Untuk pergi mengajar, pulang kampung menemui orang tua, ikut seminar di dalam kota, semua dengan sepengetahuan Abah.

Ibu tidak mengeluh meski baru menempuh S2 saat usia 40 tahun. Disaat semua rekan seangkatannya hampir menjadi dokter spesialis, beberapa sudah lulus doktor bahkan menjadi staf pengajar.

“Bu, dulu kenapa nggak ketrima tes spesialis mata?”
“Lho kata siapa. Ibumu ini diterima. Dari 12 orang yang tes, 4 orang yang lulus termasuk ibumu”.
“Jadi Ibu lulus tes wawancara?”
“Ya pasti lulus kalo diterima”.
“Kenapa Ibu nggak jadi masuk?”
“Kalau Ibu sekolah, yang nungguin kalian siapa?” ujarnya seraya tersenyum padaku.
“Eh. Tapi kenapa Ibu tes kalau udah tau kami nggak ada yang nungguin?”
“Dulu rencananya Abahmu udah selesai sekolah. Jadi Abahmu balik kesini, gantian Ibu yang sekolah.”
Ibu terdiam. Menghela nafas sejenak.
“Karena sesuatu dan lain hal, Abah nggak bisa kembali praktek di sini. Ibu nggak jadi sekolah deh. Hehehe”.

Lagi. Ibu menerimanya. Begitu saja. Kukira begitu. Namun ternyata tidak berhenti disana.

“Kalau Ibu sekolah, mungkin anak Ibu nggak ada yang jadi dokter. Nggak ada yang hafal Qur’an. Nggak ada yang kuliah di Bandung. Nggak ada yang pinter nyanyi pakai Bahasa Inggris padahal baru kelas 2 SD”. Senyumnya merekah. Dadaku sesak penuh haru.

Saat di rumah nenek, saya pernah diledek Pakde karena tidak bisa memasak. Saya pun membalas, berkata bahwa Ibu saya juga tidak bisa memasak. Tapi Abah tetap bisa menerima Ibu dengan segala kekurangannya. “Ibumu itu, seorang istri yang sami’na wa’atha’na ke suami. Mendengar dan menaati semua perintah suami tanpa berusaha membantah. Jadi kalau kamu nanti nggak bisa masak, jadilah istri seperti Ibumu, Nduk”. Apa yang Pakde katakan telah membuka hati saya. Sungguh, aku ingin menjadi istri seperti Ibu.

Penasaran tentang kisah Abah dengan Ibu, aku pun memberanikan diri bertanya.

“Bu, kenapa dulu mau nikah sama Abah? Ibu kan dulu masih kuliah, mau koas pula. Abah juga sering marah-marah padahal sebabnya nggak jelas. Orang lain mah ngelihat Abah udah serem banget nggak mau deket-deket. Ibu kok kuat sih?”

Pandangan Ibu menerawang, seraya tersenyum beliau berkata, “Abahmu laki-laki sholeh. Mana mungkin ibu menolak. Ibu percaya Abahmu bisa menjadi imam yang baik. Yang bisa membawa keluarga masuk surga.”

Aku terhenyak. Napasku tertahan. “Aku juga ingin laki-laki sholeh, Bu.” Ucapku dalam hati. “Yang bisa kupercaya sepenuh hati. Seperti Ibu, percaya kepada Abah”.

Namun rasa penasaranku belum terpuaskan. Tidak lengkap bila tidak bertanya ke Abah.

“Kenapa Abah mau sama Ibu? Ibu kan nggak bisa masak. Ibu juga nggak sebersih Bude kalo beres-beres rumah. Abah kok mau sih?”

“Ibumu itu mandiri. Meski Abah bekerja di luar kota, Ibu bisa mengatur rumah dengan baik. Mendidik kamu, adik-adikmu, memastikan semua berjalan dengan baik selagi Abah di luar kota. Bukan hal mudah bagi seorang laki-laki untuk tinggal berjauhan dengan keluarga. Namun Ibumu bisa membuat Abah tenang. Sehingga bisa melakukan banyak hal yang dibutuhkan oleh umat”.

Senyumku mengembang. Sedikit demi sedikit mulai memahami makna dibalik kata “jodoh”. Karena sungguh, Allah akan menyiapkan seseorang yang akan melengkapimu untuk melangkah di jalanNya.

Suatu ketika adikku bercerita. “Mbak, tadi kan aku makan sama Abah sama Ibu di rumah makan. Pas udah selesai makan, Abah jalan ke kasir. Lama banget nggak balik-balik. Yaudah aku sama ibu akhirnya nyusul ke mobil. Nah pas di mobil, ternyata Abah belum ada. Eh trus Abah dateng marah-marah ke Ibu bilang tadi Abah dipanggil pelayannya soalnya belum bayar. Malu-maluin aja. Kok bisa ditinggal pergi gitu aja padahal belum bayar. Trus Ibu bisikin aku, nanya apa aku tadi lihat Abah jalan ke arah kasir. Nah aku sendiri lho juga lihat Abah jalan ke kasir. Ya pantesan aja aku sama Ibu ngira kalo Abah udah bayar. Mana kita tahu kalo ternyata Abah ke kamar mandi. Gitu Ibu ya diem aja dimarahin Abah. Aku udah gemes banget mau ngasi tau Abah gausah kek pake marah-marah gitu hihh.”

Aku tertawa mendengar ceritanya. Nanti, Dek. Kamu akan tahu. Cara Ibu mencari surgaNya.

Surga karena berbakti kepada suami yang mengajarkan anaknya membaca Al Qur’an, yang memastikan anak-anaknya mendapat pendidikan agama yang sebaik-baiknya, yang tak pernah berhitung saat menafkahkan harta di jalanNya, yang percaya bahwa selama kita menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong kita.

“Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di websitehttp://nulisbarengibu.com” 

Long Distance Marriage-ship

Tags

, , , ,

das

Istri mana yang ingin berjauhan dengan suami?
Yang pacaran aja pasti gamau jauh-jauhan. Apalagi yang udah nikah.

Kamu pernah ngerasain kangen sama pacarmu? Udah berhari-hari bahkan bulan atau tahunan nggak ketemu? Super deg-degan berdebar-debar ketika akhirnya akan bertemu lagi?
Percaya. Itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan kangen sama suami (istri).

Sejak menikah 9 bulan yang lalu, saya harus tinggal beda kota dengan suami. Beliau di Malang karena harus menyelesaikan S2 nya dan saya di Bojonegoro karena sedang menempuh Program Internship Dokter Indonesia.

Kapan ketemunya?
Bisa seminggu sekali. Atau dua minggu. Maksimal sejauh ini tiga minggu kami tidak bertemu. Tapi kami berkomitmen untuk harus bertemu minimal seminggu sekali, kecuali ada hal benar-benar urgent dimana menjadikan kami tidak bisa mengunjungi satu sama lain. Siapa yang nggak sibuk, dialah yang akan meluangkan waktu menempuh perjalanan panjang demi bertemu pujaan hati.

Berat? Iya dan tidak.
Kebetulan saya memang hidup nomaden. Pindah-pindah sejak kecil. Jadi melompat antar kota dalam satu atau dua hari bagi saya bukan masalah besar. Pun untuk suami dengan jiwa mbolangnya, sangat senang hati mengunjungi saya meskipun kadang wasting time di perjalanan karena naik kendaraan umum. Lain kali harus dipikirkan apa yang bisa dilakukan selama menempuh perjalanan 5 jam biar nggak wasting. Yeah. Bojonegoro-Malang, lima jam perjalanan.

Seringkali saya berada di Malang tidak sampai 24 jam. Nyampe di sana Sabtu sore sekitar maghrib, esok harinya jam 3 atau 4 sore sudah duduk manis di travel pulang ke rumah. Anehnya saya sama sekali nggak ngerasa capek. Entah saya memperoleh kekuatan darimana, tapi perjalanan panjang yang saya lalui terkalahkan oleh kebahagiaan bertemu suami.

Kami tidak pernah berhenti berkomunikasi. Melalui sms, whatsapp, line, skype, chat fb, apapun itu. Kalau baterai habis, ya cari colokan. Nggak lupa ngabarin biar nggak bikin kuatir dan make segala modalitas yang ada. Nyalakan laptop, buka email atau chat fb. Pinjem hp keluarga. Atau teman kalo kepepet XD

Hal kecil seperti sapaan selamat pagi, selamat tidur, ataupun semangat dalam menjalani hari, mungkin terdengar menye-menye. Tapi percayalah, sama pasangan yang udah halal, itu bukanlah rutinitas membosankan. Mengapa? Well. If you stop doing that, how do you feel if your spouse receives that greetings from another person? Kamu-pasti-akan-sangat-menyesal-seumur-hidup.

Berantem? Ngambek? Sering.
Tapi ya harus tau mana yang worth it buat diberantemin, tahu posisi kapan harus diam, kapan harus meminta maaf dan apa saja yang perlu diperbaiki. LDR menjadikan kami berusaha untuk lebih menghargai waktu yang ada, utamanya saat bertemu. Nggak perlu lah diisi sama hal nggak penting selain berbahagia :)

Berkeluarga seperti ini rasanya memang tidak ideal. Kebetulan abah dan ibu saya juga pasangan LDR sejati yang sudah menjalani selama hampir 20 tahun. Akan tetapi saya dan adik-adik alhamdulillah tidak ada yang menjadi “anak pembantu”. Sosok abah dan ibu tetap melekat di hati kami, dengan segala nasehat dan doa yang tak kunjung henti.

Suatu saat ketika bekerja di poli jantung, saya menyadari bahwa ketiga dokter yang berada disana adalah pasangan LDR semua. Dr. Reni suaminya di Jakarta, Dr. Rio keluarganya berada di Malang. Kami tertawa saat menyadari satu kesamaan tersebut. Tertawa miris dan galau, merindukan keluarga masing-masing. Kami sepakat bahwa keluarga seperti itu tidaklah ideal, namun di zaman ini seperti hal yang tidak terelakkan. Yang terpenting tetap meluangkan waktu bersama keluarga. Seperti yang dilakukan salah satu spesialis urologi, pulang ke Surabaya seminggu dua kali dan tidur dalam mobil (lengkap dengan selimut dan bantal) agar stamina pulih kembali saat sampai di rumah dan siap menghabiskan waktu bersama anak-istri. :)

Sampai kapan LDR ini berakhir? Saya dan suami sepakat ini harus diakhiri. Setidaknya cukup satu tahun ini. Entah di masa depan seperti apa, tapi kami berusaha agar tidak harus LDR lagi. Kalau tidak, bisa jadi usia pernikahan sudah bertahun-tahun, tapi ketemunya cuma hitungan bulan. Kan sedih.

Saat melihat sekeliling, tak hanya saya. Banyak rekan-rekan yang menjalani LDR dengan posisi lebih sulit dari saya. Sedang hamil, beda pulau, beda negara, dengan problematikanya masing-masing. Yang perlu kami lakukan hanyalah bersyukur. Kami masih bisa merindu dan dirindukan.

Nggak perlu takut LDR. Bila memang itu sudah jalannya, jalanilah dengan sebaik-baiknya. Selalu diniatkan mendekatkan diri padaNya. Maka Dia akan memberikan jalan kebahagiaan dari arah yang tidak disangka-sangka.

Namanya Aulia

Tags

, , , ,

Suami, Aul dan saya saat akad nikah.

Suami, Aul dan saya saat akad nikah.

Siapa dia?

a. Sahabat.
b. Make up artist.
c. Pasien.
d. Klien curhat.

In summary : semuanya.

Apa yang spesial darinya?
Dari cara kenalnya aja udah spesial. Dia sahabat dari sahabat saya. Silvy, sahabat saya sejak SMP adalah sahabat Aul sejak SMA. Mbulet? Banget. Hahaha.

Namanya juga cewek. Hobinya curhat. Saya curhat ke Silvy, Aul kadang tahu. Hingga bertahun-tahun cuma denger nama. Sampai akhirnya tiba masa pernikahan saya. Galau cari makeup artist di Bojonegoro saking ndesonya. Atas rekomendasi Silvy, akhirnya saya berniat memakai jasa Aul sebagai MUA. Dan calon suami saya yang agak rewel, minta saya test make up dulu dong ya. Disinilah pertemuan pertama kami, kafe Metro. Fix dia jadi MUA untuk akad saya.

Demi saya, Aul dan Silvy akhirnya menempuh perjalanan ke Barat dengan penuh perjuangan. Malam sebelum akad, mereka menginap di kamar pengantin bersama ketiga adek saya yang super rewel sejak pertemuan pertama. Untungnya mereka sabar, keibuan, dipamerin macem-macem mulai dari hafalan, geguritan, sampai nyanyi bahasa inggris tetep nggak bosen. Adek saya memang gitu. Sukanya SKSD. Tapi langsung nemplok dari awal. XD

Keesokan harinya, disulaplah saya jadi cantik dan menik-menik banget oleh Aul. Permintaan saya agar diberikan penutup dada pun dipenuhi, yang idenya muncul saat itu juga. Sempat dijahit di detik-detik sebelum akad. Sejak saat itu, banyak yang request minta penutup dada seperti yang saya pakai. A masterpiece by Aulia.

Jadi MUA saat akad, saat sumpah dokter suami dan saat wisuda suami. Saya berasa jadi brand ambassadornya. Saya pun berasa punya private MUA. Alhamdulillah jadi makin laris :p

Well. Gak cuma MUA. Aulia dan kawan-kawan menjadi wedding organizer yang saya percaya untuk mengurusi tetek bengek dari A-Z untuk resepsi pernikahan. Untung saya bukan klien yang bawel, meski Abah saya punya permintaan yang macem-macem, tapi semua bisa dikondisikan dengan sangat baik sekali. Mau tanya apapun tentang resepsi di seantero Malang Raya? Aulia jawabnya :)

Ah iya. Aulia ini cewek strong. Tahan banting. Nggak mudah jadi musuhnya. Mau ngerobohin susah amat. Udah punya pengalaman yang pahit sekali, tapi dia bertahan dan akhirnya bisa tersenyum lagi. Kalau cewek lain mungkin udah menye-menye banget kalo sakit maunya dimanja-manja, si Aulia ini lagi sakit campak juga karena udah janji sama klien, dijabanin aja. Tetep senyum-senyum pas ngerias meski hati pedih pengen hujan air mata, menghibur mempelai yang lagi marah-marah ke calonnya. :”)

Aulia ini kalau ada masalah, nggak kelihatan dari luar. She holds it very well. Tapi kalau udah tumpah, berarti memang dia lagi butuh pegangan. Ngefans sama Dee bikin dia bijaksana. Bikin dia suka “berbicara dengan tumbuhan” untuk memahami filsafat hidup. Meski saya juga nggak ngerti maksudnya apa. Hehehe.

Saking sibuknya dia, pagi subuh buta menembus dinginnya Malang untuk merias kliennya. Kemudian nongkrong cantik di Citra, sampai pegawai hafal dengannya XD. Hobinya ke Pasar Besar, cari barang bagus dengan harga miring. Patut dicoba bukan. Namun ditengah semua hal duniawi itu, dia nggak melupakan akhirat. Tetep mengaji. Tetep membaca. Tetep berbagi dengan sesama. Dan nggak pernah ngelupain temennya.

Masih sempet nongkrong beli bakso bakar, nemenin temen yang lahiran, beliin jilbab lebar, jagain kasir, nyariin jodoh. Ada yang mau nambahin lagi? :)

Semoga sisa usia semakin barokah. Menebar manfaat ke seluruh penjuru dunia. Selalu diberikan yang terbaik oleh Yang Maha Kuasa. Aamiin.

Five Days Trip to Singapore

Tags

, , , , , , , ,

Mengapa Singapura? Karena kebetulan suami ada acara di Bangkok dan karena duit buat ke Bangkok nggak cukup, jadilah ke Singapura. Karena Singapura ada Universal Studio, Madame Tussaud Museum, Gardens by the Bay, Singapore Flyer dan karena Singapura (kata orang) tempat mencari rizki yang lumayan. Mau ngerasain hidup di luar negeri yang lumayan deket sama Indonesia tapi dengan tata kota yang jauh lebih teratur. Kalau dulu ke Malaysia rombongan sekeluarga jadinya ga pake public transport, sekarang sama keluarga juga (baca : suami) tapi full mbolang. Kemana-mana pake bus atau kereta. Hemat bebs. Singapura itu negara yang mahal.

Di internet maupun buku sudah banyak ditulis tentang tips berpetualang di Singapura. Baik untuk solo traveler, couple maupun keluarga. Jadi rencanakanlah baik-baik traveling anda, jangan melewatkan waktu hanya untuk gegoleran di kamar saja XD.

Untuk transportasi, pakailah BUS/MRT/LRT. Bisa beli kartu paketan public transport untuk 1/2/3 hari dengan harga paling mahal untuk 3 hari 30 sgd alias 300.000 unlimited. Udah kenyang buat muter dari ujung timur sampe barat. Atau bisa juga antri tiket tiap kali mau naik, harga tergantung tujuan kemana, tapi ini ribet kalau mau naik bis. Peta BUS/MRT/LRT tersebar dimanapun. Percayalah, asal kamu bisa baca dan bertanya, nggak akan tersesat. Setengah hari udah lebih dari cukup buat mempelajari sistem dan rute transport disana.

Untuk tujuan wisata, tergantung. Mau belanja, pendidikan, hura-hura atau gratisan? Saya sih campuran XD. Belanja saya cuma oleh-oleh standar kaya tas, gantungan kunci, tempelan kulkas sama coklat. Udah puas muter di Bugis Street, Mustafa Center sama Chinatown. Jangan lupa beli jus berbagai macam buah pemuas dahaga di Bugis Street dengan 1 dollar saja. Rasanya jauh sama yang di Indonesia. Kalau belanja, sebisa mungkin habis jalan-jalan. Soalnya kalau belanja dulu baru jalan, berat bawa belanjaannya. Suami sampe ngambek eh. Hahaha. Plus jangan belanja pas Hari Minggu. Ramainya Masya Allah. Mau belanja makeup, luangkan waktu 3 jam bila perlu 5 jam sebelum penerbangan pulang buat keliling Changi airport biar puas belanja dari terminal 1,2, dan 3. Karena kalap belanja di duty free bisa bikin ketinggalan pesawat XD.

Wisata pendidikan bisa ke National Museum of Singapore (gratisan), Singapore Art Museum (bayar), Art Science Museum (bayar juga). Kalau mau hura-hura, banyak banget wahana wisata yang bisa dikunjungi. List dari yang paling worth :

  1. Universal Studio Singapore (macem dufan tapi jauh lebih keren). Sediakan waktu seharian penuh dan bukan weekend. Bisa browsing wahana yang recommended. Harga sgd 73/orang.
  2. Gardens by The Bay. Kalo mau kesini sore-malem aja. Lampunya kaya lagi syuting film avatar. Saya nggak masuk. Cuma foto pas malem aja di lampu pohonnya. Mahal soalnya XD
  3. Singapore Flyer. Untuk pecinta malam dan lampu kota. Naiklah saat sudah gelap. Saya cuma bisa nahan napas saking takjubnya. Sgd 33/orang.
  4. Madame Tussaud. Yeah. Selfie bersama orang terkenal. Sgd 30/orang.

Tips dapet harga tiket murah, kebetulan pas mau ke USS ketemu Pak Heru, orang indo dari grup Backpacker yang jualan tiket murah wahana-wahana di atas. Bisa hemat sampe 100rb per orang! Awalnya ragu. Tapi beliau bilang, web tempat saya beli tiket USS aja ambilnya di beliau. Wah patut dicoba. Dan akhirnya dapet Madame Tussaud hanya dengan sgd 20 saja dan tiketnya asli bisa masuk museum! Yay! Usut punya usut ternyata wahana mereka memang menjual tiket dengan berbagai cara. Kenapa di Pak Heru bisa murah karena itu adalah tiket yang dijual massal dan ada masa berlakunya.

Mau yang gratisan? Ke Merlions Park. Tempat foto wajib sejuta umat. Trus jalan aja keliling Marina Bay, Esplanade Theater, Mall nya Marina (ini ada sungai di dalam mall, atau mall di atas laut?). Dan yang paling wajib kalau mau menikmati lampu kota pas malem dengan gratis tis, naik ke atas bendungan di deket Gardens by The Bay. Aduh lupa nama bendungannya. Worth banget ngets! Jalan-jalan ke Orchard Road juga bisa. Window shopping aja kalo ga kuat beli :p. Kalau mau lihat kalapnya orang Indonesia pas lagi belanja, kesana pas Hari Minggu. Saya sih nggak minat. Cuma penasaran aja kayak gimana bentuknya. Hehe.

Kalau wisata kuliner, saya kurang tahu. Nyesel nggak nyobain chili crab secara saya fans berat rajungan dan kepiting. Yang enak banget menurut saya, roti john di kampung arab. Dinikmati bersama teh tarik. Wuih mantap kali. Roti berselaput telur dan lelehan keju. Porsi besar. Eneg kalo sendirian. Makanya bawa temen :p. Oh yang wajib juga nyobain es krim potong yang banyak bertaburan tepi jalan! Harga sgd 1.20. Bikin nagih. Nyesel cuma beli sekali.

Mau kunjungan yang nggak biasa, jangan lewatkan masjid di Singapura. Feelnya masih sama. Seakan kemanapun kita pergi, kesanalah tempat kita berpulang.

Tips hemat :

  1. Bawa ransum dari indonesia. Mau indomie, mie gelas, sosis, energen, roti tawar, sesukanya deh. Bawa juga botol minum dan kotak makan. Makanan paling murah disana 2 sgd dapet burger mcD yang McChicken. Minum paling murah 80 sen di mesin penjual. Duit seribu disana nggak dapet apa-apa. T.T Botol bisa diisi keran air mineral yang udah tersebar banyak terutama di masjid. Kotak makan bisa diisi bekal yang kita bawa dari Indonesia.
  2. Tuker duit rupiah ke SGD di Indonesia meski di sana banyak money changer.
  3. Bawa payung! Cuaca sulit diprediksi. Dan payung udah jadi kebutuhan primer setara handphone. Kecuali mau sakit, masuk angin atau laundry baju. Bawa vit C juga bagus.
  4. Jalan kaki. Bawa salonpas/balsem/counterpain. Tukang pijet disana mahal. Untung saya bawa gratisan (baca : suami). Capek banget seharian jalan terus dari pagi sampe malem! Di tambah orang Singapura jalan cepet banget –bikin frustasi-.
  5. Kalo ada saudara/teman, bisa numpang nginep disana. Alhamdulillah suami punya saudara. Baik banget udah dianggep kaya anak sendiri sampe terharu. Lima hari lima malem akomodasi free plus plus ditraktir dan dimasakin. :’)

Lima hari udah bikin kenyang di Singapura. Udah puas kalau wisata. Kalau ada yang kelupaan pun, lima hari masih sempet kok buat kembali lagi ke tempat yang belum puas dikunjungi.

Sebagai traveler, Singapura memanjakan banget turis yang datang kesana. Bikin betah. Kota teratur banget. Aman. Nyaman. Namun tak disangkal, Singapura juga menyimpan cerita dari penduduk aslinya. Nantikan tulisan selanjutnya, dibalik gemerlap Singapura.

Mengelola Cinta Tanpa Terkena Dosa

Tags

, , , , , , , ,

taken from LKI FKUB

taken from LKI FKUB

Ada yang sedang jatuh cinta? :D

Berawal dari seminggu yang lalu saat perjalanan menuju ke Malang. Saya dihubungi oleh adik kelas dari FKUB yang ternyata adik kelas IC namun tidak pernah berjumpa karena lima tahun dibawah saya.

A : “Mbak, apa besok bisa isi kajian di FKUB?”

S : “Insya Allah. Saya izin suami dulu ya. Materinya tentang apa?”

A : “Mengelola cinta tanpa terkena dosa, Mbak”.

Langsung kaget saya. Nggak sembarang materi. Meski terkesan menye-menye karena -lagi-lagi tentang cinta- tapi sesungguhnya amat berat karena ada embel-embel “tanpa terkena dosa”. Seolah saya ini tanpa dosa.

S : “Dek. Rasanya banyak yang lebih pantas untuk isi materi tentang itu daripada mbak..”

A : “Nggak apa2 mbak. Kami percaya sama mbak kok. Nanti saya kirim TOR nya ya ke email mbak”

Baiklah. Bismillah. Sampai h-1 baru menghubungi berarti memang semua ustadzah yang biasa ngisi berhalangan. Tapi kan aku bukan ustadzah. Mau nangis rasanya.

Setelah menenangkan hati dan berpikir rasional, oke saya terima. Dengan niat ingin membagi pengalaman tentang apa yang sudah saya lalui hingga saat itu dalam perjalanan menemukan cinta, saya menerima tawarannya.

Sejak dari awal saya takut sekali membagikan ilmu yang salah. Oleh karena itu saya wanti-wanti kepada adik-adik yang ingin mendengar pengalaman saya, bila tidak setuju atau merasa ada yang salah, segera mengingatkan saya. Saya pun tidak mengajar tentang syariat karena saya sadar masih kurang sekali tentang hal itu. Niat saya berbagi, agar mereka tidak melakukan kesalahan yang saya lakukan serta bagaimana menghindarinya. Pun agar mereka memiliki tempat berkeluh kesah bilamana tak ada lagi yang mereka percaya untuk menumpahkan kegelisahan hati.

Malam saat membuat materi, saya diskusi dengan suami. Lebih ke curhat sih.

S : “Kak, aku bingung besok mau isi materi apa. Aaaarrghhhh”

K : “Yasudah, ceritakan aja proses kita kayak gimana. Kali banyak yang penasaran. Hihi”

S : “Yeee pede bangeet. Dasar selebritis”

Saya pun membuat materi berdasarkan TOR dengan bantuan suami. Tidak sempat membuat powerpoint, hanya menuliskan di notes agar besok menjadi catatan sata saat berbagi kisah.

Esok harinya sebelum isi materi, saya mules. Berkeringat dingin, bertingkah polah nggak jelas di depan suami sampai dia ketawa.

K : “Kamu kenapa tho. Lucu banget kalau lagi nervous”

S : “Iya aku grogiiii mau isi materi. Ntar kalau banyak yang dateng gimana? Kalau ada yang tanya trus aku ga bisa jawab gimana? Kalau aku ngajarin yang salah gimana? Aduh lima menit lagi. Aduh aku harus gimana kaaakk”

K : “Tuh tuh banyak banget lho yang ke mushola mau dengerin cerita dari kamu”

Dasar iseng. Istri lagi grogi dibikin makin grogi. Dihampirilah saya oleh Uci, adik kelas saya dari IC.

U : “Mbak acaranya udah mau mulai. Mari ke mushola”

Saya pun masuk mushola diiringi senyum jahil dari suami yang mau Sholat Jum’at. Sempat melihat chat dari dia yang berbunyi, “Semangat ya ngisi materinya. Kamu pasti bisa :)”

Yeah. The show must go on.

Ada beberapa wajah yang saya kenal -makin tambah grogi-. Tapi lebih banyak yang belum saya kenal. Semuanya pun belum menikah. Rata-rata masih semester 3 atau 5. Mungkin saya dianggap pantas karena lebih dulu menikah. Bisa jadi. :)

Setelah perkenalan agar suasana terasa lebih akrab, dimulailah materi hari itu.

Pertama tentang beda antara cinta, suka dan simpati. Rumit sekali. Dan kenapa harus dibedakan juga ya? Mungkin agar tidak salah mengartikan isyarat hati. Hehe.Berbagai macam definisi yang disajikan, saya mengambil dari KBBI. Simpati adalah merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bila orang lain senang, kita senang, bila orang lain sedih kita ikut sedih. Yang demikian bukanlah hal yang membangun. Karena kalau sama-sama sedih, trus yang menyelesaikan masalahnya siapa?

Antara suka dan cinta, memang terasa sedikit sekali perbedaannya. Cinta pun bisa diartikan suka. Namun saya mencontohkan, suka adalah seperi anak kecil yang menyukai mainan. Merengek-rengek minta dibelikan, kalau tidak dibelikan nangis, kalau dibelikan, dipakai mainan sebentar lalu ditinggalkan. Bosan. Seperti inilah mungkin cinta monyet. Menggebu-gebu seakan berkata cinta, namun tidak untuk menjaganya. Tidak menjaga cinta agar tetap tertuju padaNya.

Cinta itu layaknya ibu ke buah hatinya. Lahir pun belum, sudah dicinta dengan segenap hati. Diberikan yang terbaik, disiapkan yang terbaik. Berkorban sampai mempertaruhkan nyawa, pun tak enggan memarahi bila memang sang buah hati melewati batas.

Cinta bukan pasrah. Cinta bukan air mata. Namun cinta juga tak melulu bahagia.

Baru saya sadari, cinta tak lain hanya padaNya. Cinta pada suami, pada orang tua hanya bagian kecil dari usaha mencintaNya. Sungguh malu saat dulu saya pernah seakan-akan menantangNya. Yakin sekali berjodoh dengan seseorang hingga mendahului takdirNya.Betapa banyak yang menasehati saya, namun saya menutup hati. Beruntung mereka tidak lelah mengingatkan. Hingga hati perlahan terbuka, sadar bahwa saya telah melakukan kesalahan besar dengan membenciNya.

Sesungguhnya yang mengajak kita menjauh dariNya bukanlah cinta.

Lalu bagaimana tanda seseorang jatuh cinta?

Ah ini pasti semua pernah merasakannya. Ngaku deh..Ingin hanya dengannya dan tiba-tiba dunia menjadi melulu tentangnya. Tentang apa yang ia suka, tentang apa yang ia lakukan, dan mendadak kita pun menjadi fans karbitan. Berusaha menyukai apa yang dia suka. Gelisah bila tak jumpa, mencari bila tak kunjung tiba. Aihh. Berasa indah sekali ya.

Satu pengalaman yang tak akan pernah lupa. Menyadarkan bahwa saya memang benar-benar jatuh cinta ke suami saya. :)

Sejak akad nikah, kami selalu berdua. Kebetulan ada acara di Depok sehingga saya dan suami ber”scientific honeymoon” di sana. XD

Saat pulang ke Malang pun, bila suami ada acara di kampus, saya ada acara di tempat lain sehingga kami berangkat bareng. Suatu saat saya tidak ada keperluan sehingga suami sendirian ke Malang. Saya di rumah Singosari.

S : “Pulang jam berapa kak?”

K : “Jam 2 paling selesai. Tapi kalau temen2 mau ngajakin belajar lagi ya paling aku ikut sekitar sampai Maghrib”

Saat itu suami sedang intensif persiapan Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI).

Setelah menyelesaikan berbagai hal di rumah, tak terasa sudah sore. Bersiap menyambut suami pulang. Tapi Maghrib sudah lewat, dirinya tak kunjung tiba.

M : “Loh Mas Iil pulang jam berapa?”

S : “Kata Mas Iil sih Maghrib, Bu. Ini tadi saya hubungi nggak diangkat. Mungkin masih perjalanan”

Ibu mertua pun sudah menanyakan suami. Saat saya di kamar lantai dua, tiba-tiba terdengar suara motor dan suami. Sungguh, melihatnya pulang dalam keadaan selamat adalah hal terbaik yang pernah saya alami. Belum pernah merasa sebahagia itu :”)

S : “Terima kasih ya kak sudah pulang dengan selamat :)”

Saya menyambutnya dengan senyuman lebar dari lubuk hati terdalam. Mungkin agak lebay. Tapi saat itu saya udah mau nangis saking senengnya. Saya menyadari bila dia sudah benar-benar mencuri hati saya.

Kangen sama pacar trus seneng banget karena akhirnya ketemu? Percaya sama saya. Nggak ada apa-apanya dibanding ketemu suami.

Lalu bila sudah jatuh cinta, gimana biar nggak kena dosa dan menghindari hal yang mendekati zina?

Saya pun seorang manusia. Tempat salah dan lupa. Pengalaman saya berkata, selalu bergaullah dengan teman-teman yang selalu mengingatkanmu padaNya. Saya termasuk orang yang susah sekali diingatkan. Saya pun lebih suka bila saya sadar karena pikiran saya sendiri. Yang bisa saya ambil dari pengalaman saya, jadilah wanita (woman). Bukan gadis (girl).

Kalau girl itu, “Nggak mau tahu pokoknya aku cuma mau sama dia. Aku cinta sama dia.” Mengutamakan perasaan, menumpulkan logika.

Sedangkan seorang woman, menganggap perasaan itu penting, tapi logika juga digunakan. Dirinya akan berpikir, “Pantaskah ia menjadi ayah dari anak saya? Bisakah saya menerima kekurangannya? Bisakah dia menerima semua masa lalu saya?”. Pun jika akhirnya nggak jadi dengan orang itu, nggak masalah. Wanita memiliki rasa percaya diri. Bahwa Dia tidak pernah ingkar janji. Selama dirinya terus memperbaiki diri, Allah telah menyiapkan jodoh yang baik pula.

Saya pun berbagi tips tentang bagaimana agar yakin bahwa seseorang itu adalah jodoh kita.

Belumlah dikatakan jodoh bila belum terucap akad nikah. Dulu pun saya nggak yakin. :D

Namun saya cukup berproses. Saat proses juga berusaha menghindari aktifitas yang menyerupai pacaran, sehingga tidak ingin berlama-lama dalam fase itu. Kalau iya ya lanjut. Kalau nggak yaudah.

Istikharah. Istikharah. Istikharah. Sampai malam sebelum akad pun, jangan berhenti untuk istikharah. Jawaban dari istikharah tidak melulu melalui mimpi, tapi bisa juga dengan semua kemudahan yang diberi. Rintangan pastilah ada. Namun solusinya seakan nyata terpampang di depan mata. Saya dulu merasa tidak mampu istikharah, sehingga minta bantuan kakek saya. Alhamdulillah jawaban istikharah beliau mengisyaratkan baik. Sehingga proses saya dan suami pun berlanjut. :)

Bagimana caranya tahu kalau seorang laki-laki serius dengan kita?

Ingat ini baik-baik. Laki-laki yang baik nggak akan ngajakin pacaran. Dia mendatangi ayah atau wali kita. Meminta kita untuk jadi halal baginya. Selain itu, nggak usah dipeduliin. Istilah abah saya, “Gombal amoh”. XD

Jangan jumawa akan bisa mengubah laki-laki menjadi lebih baik dengan menjadi istrinya. Biarkan dia berubah dulu sejak sebelum menikah. Hal itu menandakan bahwa dia memang menyadari kesalahannya dan kecil kemungkinan akan mengulanginya lagi.

“Jangan mencari masalah yang terpampang nyata di depan mata”.

Udah jelas-jelas dia nggak sholat. Suka mabuk. Maen cewek. Tetep ngotot mau sama dia. Akibatnya setelah menikah, bisa jadi Allah akan menghukum dengan hukuman diluar kemampuanmu. Bukankah telah jelas Allah memberi petunjuk bagaimana cara mencari jodoh? Dilihat dari kekayaan, keturunan, paras dan yang paling penting, agama.

Bila telah memilih jodoh berdasarkan  kriteriaNya pun, bukan berarti bebas dari masalah. Masalah akan tetap ada. Namun disesuaikan dengan kemampuan kita. Dulu bila memikirkan tentang menikah, yang muncul dalam benak hanyalah segala macam hal yang indah. Jalan-jalan, bulan madu, ada yang dicurhatin, ada yang merhatiin. Semakin mendekati pernikahan, semakin saya ditunjukkan bahwa menikah tak melulu hal yang indah. Ada perselingkuhan. Ada konflik keluarga. Ada masalah pekerjaan. Masalah anak, dll. Bukankah masalah hanya berhenti saat kita di akhirat nanti? Itulah pentingnya menanyakan visi saat akan menikah. Apa yang menjadi tujuan pernikahan? Apakah kita dan calon sudah dalam satu perahu untuk menghadapi segala ombak kehidupan yang akan menerpa?

Ada juga yang bertanya. Bila kita dijodohkan oleh orang tua tapi kita nggak sreg. Bagaimana cara menghadapinya?

Jangan pernah membangun benteng antara diri kita dengan orang tua. Orang tua pasti ingin yang terbaik. Selama yang diinginkan orang tua tidak menyalahi aturan agama, ada baiknya kita berusaha memahami keinginan mereka. Bila merasa tidak cocok, sampaikan dengan cara yang santun. Untuk seorang wanita, restu orang tua adalah segalanya. Karena setelah menikah, seorang istri akan mengabdi sepenuhnya kepada suami. Dengan memposisikan diri sebagai seorang anak yang menginginkan pendamping terbaik, percayalah. Orang tua akan luluh. Bisa juga dengan meminta bantuan anggota keluarga lain yang perkatannya didengar atau minimal dipertimbangkan oleh orang tua.

Salah satu kesalahan yang telah saya lakukan adalah membangun benteng terhadap orang tua. Dan tidak, itu tidak berhasil. Malah rasanya nggak enak semua. Doa anak dan doa orang tua, ya pasti lebih diijabah doa orang tua kan ya. Hehe.

Di akhir sesi, saya membuka lebar kesempatan bagi adik-adik yang hadir untuk bebas curhat ke saya melalui fb, email, twitter, sms maupun whatsapp. Banyak juga yang sudah curhat. Semoga dengan itu bisa dimudahkan jalannya.

Terakhir saya mengambil quotes tentang pernikahan yang menurut saya amat sangat tepat.

Jangan menikah hanya karena cinta. Menikahlah karena kamu yakin surga Allah lebih dekat bila bersamanya.

Selamat menjemput cinta! :)

Bojonegoro, 28 September 201411.41 WIB.

Menjadi Ibu

Tags

, , , , , , , , , , ,

pTidak. Bukan saya. Saya belum menjadi ibu. Hehe.

Setelah menikah, akhir-akhir ini pikiran tentang menjadi ibu banyak berseliweran di benak saya. “Sudah isi?” Itu pertanyaan paling banyak dilontarkan. Dan jawaban iseng saya selalu, “Sampun, isi rendang”. XD

Dulu dalam pikiran saya, habis nikah ya punya anak. Kalau sampe setahun apa dua tahun belum punya ya berarti ada sesuatu. In fact, its not that simple. Apa yang saya lihat dan saya alami menjadi bahan perenungan selama 6 bulan ini.

Ketika jarak akad dan resepsi saya sekitar 4 bulan, yang jadi pikiran, “ntar kalau hamil sebelum resepsi gimana?” Saya sama sekali nggak takut jadi gemuk. Yang saya pikirkan justru, gimana kalau ntar saya nggak kuat karena hamil muda harus urus ini itu dan berdiri lama pas resepsi? Kan kasihan bayinya. Sempat terbersit keinginan kalau bisa dikasi rejeki hamil setelah resepsi.
Alhamdulillah, Allah memberi petunjuk melalui kakak kelas yang sudah lebih dulu berpengalaman.

Beliau berkata, “Dek. Jangan mikir gitu. Hamil harus dibawa enjoy, apa yang kamu pikirin ntar ya bakal kejadian kaya gitu lho. Kalau udah mikir sakit ya jadinya sakit beneran, kalau dibawa seneng, meski ntar muntah-muntah tapi karena seneng, proses kehamilan bisa dilewati tanpa harus stres”. Saya baru sadar, astaghfirulloh berarti saya sudah berpikiran yang buruk tentang kehamilan saya nanti. T.T
Seketika itu juga mindset saya berubah. Saya siap menjadi ibu kapan saja, Insya Allah. Meskipun sakit saat awal kehamilan dipengaruhi juga oleh banyak hal, namun bila kita menjalani kehamilan dengan bahagia, rasanya bayi yang dikandung juga bahagia kok :)

Beberapa nasihat yang masuk ke saya adalah, “Jangan nunda punya anak. Nanti kalau nunda, pas udah program, biasanya bakal lama baru dapet. Semacam ‘hukuman’ karena menolak rejeki dari Allah”. Kebetulan di keluarga saya tidak ada yang menunda hamil bila sudah menikah, jadi saya tidak tahu nasihat ini berdasarkan apa dan apa benar demikian. Setiap orang pasti punya alasan untuk menunda kehamilan, merencanakan keluarga dan masa depan seperti apa. Yang jelas tujuannya adalah telah siap saat diberi amanah seorang anak. Bukan terburu-buru, karena faktanya menjadi orang tua tidak mudah, tidak pula susah. Asal dipersiapkan sebaik-baiknya. Saya bukan mendukung menunda hamil juga, hanya berusaha memahami yang mengambil keputusan seperti itu. Saya tetap mendukung bahwa, setiap anak lahir dengan rejeki masing-masing. Jadi Insya Allah pasti ada jalannya ketika sudah dikaruniai anak. :D

Berapa banyak orang yang saya jumpai telah menikah 2 tahun, 5 tahun, belum dikaruniai anak. Akhirnya ke dokter untuk memeriksakan diri, berusaha punya anak. Beberapa berhasil menemukan masalahnya dan punya anak, tapi ada juga yang belum. Ada pula yang baru dua bulan nikah sudah langsung hamil. Ini sering saya temui di poli KIA Puskesmas. Banyak juga rekan saya yang sudah posting di media sosial tentang kehamilannya setelah menikah. Bahagianya :’) inginkah saya? Bohong kalau nggak pengen. Hehe.

Perenungan membawa saya pada kesimpulan bahwa, terkadang punya anak atau tidak, punya anak cepet apa lama, adalah sebuah rahasia Allah. Takdir dari Allah. Dialah yang Maha Tahu kapan kita telah siap diamanahi seorang anak. Tugas manusia hanya berusaha dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Jadi ketika amanah itu sudah datang, kita bisa menjalani dengan penuh rasa syukur dan manfaat. Pun ketika amanah itu tak jua datang, Allah Maha Tahu rencana untuk kita. Percayalah, rencanaNya selalu indah. Bisa jadi kita belum siap jadi orang tua, atau bila nanti jadi orang tua tidak bisa mendidik anak dengan baik, dan lain sebagainya.

Dengan mindset ingin menjadi ibu, saya mulai memperhatikan bagaimana para ibu disekitar saya mendidik anak-anaknya. Mengajari mengaji, sekolah, mendidik tentang apa yang baik dan apa yang buruk, mengenalkan berbagai macam hal baru, sampai cara membujuk anak. Meskipun saya memiliki 8 orang adik, saya belum pernah benar-benar memperhatikan bagaimana cara ibu dan abah mendidik anak-anaknya.

Hati saya terharu melihat perjuangan rekan-rekan saya dalam menjadi ibu. Yang harus berjauhan dengan buah hati dan tetap memperjuangkan ASI eksklusif, yang hamil besar tapi harus jaga UGD, yang hamil tapi tetap berjuang menjalani pendidikan profesinya, semua ada risiko yang harus dijalani. Mungkin terlihat lebih lelah, ada juga yang mencibir ‘kok anak masih kecil ditinggal’. Namun bila saya diposisi mereka, sungguh berat sekali berjauhan dengan buah hati. Bila bisa memilih, ingin sekali berada 24 jam disampingnya. Menjadi ibu yang selalu mendampingi disaat golden age-nya. Menjadi ibu yang menjalani kehamilan tanpa aktifitas berat. Semua itu akan terbayar, saat nanti berjumpa dengan buah hati. Menatap wajahnya, hilang sudah semua kelelahan dan keresahan. Berubah menjadi kebahagiaan yang tak tergantikan oleh apapun. :”)

Saya sangat terkesan sekali dengan seorang ibu yang saya jumpai di travel perjalanan Malang-Bojonegoro. Saat itu beliau bersama anaknya usia sekitar 2 tahun, duduk di bangku tengah belakang sopir dan saya duduk di kursi sebelah sopir. Sekitar pukul 18.00 kami melewati hutan daerah Kasembon dengan jalan berliku. Rupanya si anak ingin buang air kecil tapi merasa tidak nyaman untuk buang air di pempers yang sudah dipakai karena tidak terbiasa. Si anak rewel, menangis minta buang air dan merengek ingin turun. Awalnya sang ibu berusaha membujuk dengan mengalihkan perhatian ke benda-benda yang terlihat menarik di sekitarnya. Seperti melihat mobil dan lampu. Si anak diam hanya sebentar, lalu menangis lagi. Saya penasaran tentang apa yang dilakukan oleh sang ibu. Diluar dugaan, beliau akhirnya mendongeng. Diawali dengan, “Pada suatu hari…” Beliau bercerita kisah para hewan yang berkumpul di hutan. Seperti ayam, bebek, katak, macan, singa, kuda, dan hewan-hewan lain. Menariknya, beliau juga menirukan masing-masing suara hewan yang disebutkan tadi. Dan taraaaaa!!! Dongeng itu manjur! Si anak sama sekali sudah lupa dengan rasa kebelet pipisnya. Tergantikan dengan rasa tertarik kepada dongeng yang diceritakan sang ibu. Si anak juga berkali-kali berusaha menirukan suara hewan yang disebut oleh sang ibu. Saya benar-benar terkagum kagum. Wah, berarti saya harus punya banyaaak sekali stok cerita agar bisa bercerita kepada anak saya kelak. Cerita yang bermanfaat pastinya. Bukan tentang alien turun ke bumi dan jatuh cinta sama manusia, atau tentang dokter jiwa yang jatuh cinta sama pasiennya. Itu mah film korea :p

Jadi, harus banyak belajar lagi. Harus bisa lebih baik lagi. Demi masa depan nanti, di akhirat yang hakiki. Zaman dulu dan sekarang sudah berbeda, tantangan semakin berat, menjadi orang tua pun harus lebih inovatif dan update terhadap perubahan yang ada. Menyesuaikan diri dengan tetap menuju keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Untuk para ibu dan calon ibu di manapun berada. Bersiaplah menjadi ibu dari anak-anak terbaik yang pernah ada :)

Bojonegoro, 15 September 2014 06.11

Ibu dan anak yang saya jumpai di travel Malang-Bojonegoro

Ibu dan anak yang saya jumpai di travel Malang-Bojonegoro

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,856 other followers