The Making of Dormi(s)tory

Tags

, , , , , , , ,

IMG_5825

Dua puluh sembilan orang, mayoritas belum pernah bertatap muka satu sama lain, berhasil membuat buku dalam waktu tiga bulan. Hanya bermodalkan grup whatsapp, email serta google drive. Ada yang di Jombang, ada yang di Bandung, ada pula yang di Belanda, Jepang bahkan Selandia Baru. Bagi saya, ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.

Berawal dari sebuah mimpi, ingin mempersembahkan sebuah buku untuk Insan Cendekia. Menceritakan kisah selama tiga tahun yang terjadi di sana. Insan Cendekia begitu istimewa. Karena itulah saya yakin, banyak sekali memori tangis dan tawa yang pada akhirnya membawa saya dan alumni lain menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Mimpi inilah yang mempertemukan saya kepada Komunitas Blogger Ikatan Alumni Insan Cendekia. Setelah sebelumnya saya diarahkan oleh Adam, sahabat saya yang terpilih menjadi Ketua IAIC, untuk bergabung bersama tim blogger.

Bukankah dengan bersama-sama, semua akan menjadi lebih bermakna? Maka saya ungkapkan mimpi saya, disambut dengan antusias, blogger lain pun berdatangan untuk turut berperan serta.

Rapat perdana dibuka untuk brainstorming tema yang akan ditulis. Rapat dimana? Di grup whatsapp! Pukul 20.00 GMT +7. Maka yang berada nun jauh di Selandia Baru harus rela menahan kantuknya.

IMG_6098

dari grup whatsapp segalanya bermula

Pembagian tema selesai, saya sebagai penanggung jawab segera membuat timeline penulisan dengan target : 14 Mei 2016 saat tes IC buku sudah bisa dihadirkan. Namanya rencana tinggal rencana. Sudah nyata deadlinenya, masih banyak juga yang minta perpanjangan submit naskah. Trus ngumpulin naskahnya gimana? Memanfaatkan teknologi yang ada, kami menggunakan google drive yang bisa diakses oleh seluruh anggota.

IMG_6055

gdrive kami

Ketika penulisan naskah usai, masalah lain muncul. Siapa yang akan menjadi editor naskah? Betapa bahagianya saya ketika anggota blogger lain dengan sukarela menawarkan diri. Mereka bersedia memperbaiki naskah yang telah ada. Tidak berhenti disini, kami mencoba mencari editor yang lebih berpengalaman agar buku kami setara dengan buku-buku level nasional.

IMG_6097

diskusi urutan naskah dengan editor. antara Jombang-Belanda

Atas bantuan salah satu anggota, kami bertemu dengan Bapak Hernowo Hasim. Seseorang yang luar biasa, dengan begitu banyak pengalaman di dunia literasi. Tak hanya menulis, beliau juga pernah menjadi general editor salah satu penerbit terkemuka di Indonesia. Beliau dengan kebesaran hatinya, mau menjadi editor naskah kami. Meski tak pernah berjumpa, kami berkomunikasi melalui email.

IMG_6054

diskusi dengan editor utama

Kemudian salah satu anggota mengajukan diri menjadi layouter dengan pengalaman sebelumnya pernah menjadi layouter majalah. Wow! Saya menyambut dengan senang hati. Naskah selesai di edit, masuklah ke layouter.

IMG_6099

diskusi dengan layouter tentang urutan buku

Namun kami tak juga menemukan desain cover yang nancep di hati. Maka kami pun membuat pengumuman dengan harapan akan lebih banyak lagi alumni yang bersedia untuk membuat desain sehingga kami akan menemukan satu yang pas. Disinilah kami berjumpa dengan Dafira, bersama dengan cover paling cute sepanjang masa.

IMG_6071

draft cover buku

Tentang judul, kami membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mendiskusikannya. Berawal dari brainstorming, entah kenapa saya suka sekali dengan nama Dormi(s)tory. Gabungan dari dorm = asrama dan story = cerita. Buku ini merupakan kumpulan cerita dari kami ketika menjalani kehidupan tiga tahun di asrama Insan Cendekia. Saya mencoba search di google, belum ada yang pernah memakainya. Judul pun ditemukan. Dengan diskusi yang sedikit alot untuk subjudul, kami akhirnya sepakat dengan “Cerita Kita di Jalan Cendekia”.

Saat naskah berada di tangan layouter, saya mulai survey percetakan. Ternyata ini pun tidak mudah. Mencari percetakan dengan kualitas yang oke dengan harga yang terjangkau. Saya sudah mantap dengan satu percetakan ketika kemudian mencoba membeli salah satu buku hasil cetakannya. Begitu bukunya datang, Lhaarrr. Saya kecewa. Padahal kami harus naik cetak segera. Keputusan diambil. Kami deal dengan salah satu percetakan yang meski agak mahal, namun kualitasnya meyakinkan.

Untuk ke percetakanpun, kami hanya koordinasi via whatsapp dan email. Apakah file sudah siap cetak, bagian mana yang harus direvisi. Karena kami sama-sama tahu, bisnis adalah modal kepercayaan.

IMG_6064

akan naik cetak

Lalu, darimana uang untuk biaya percetakan? Kan pasti harus bayar uang muka? Awalnya kami sepakat untuk patungan, ketika kemudian memperoleh kabar dari Laksito bahwa dia akan mengusahakan agar kas IAIC bisa digunakan untuk membantu proyek ini. Toh ini juga proyek alumni. Betapa senangnya kami saat kemudian tak hanya memperoleh dana pinjaman, tapi juga dana hibah yang tak perlu dikembalikan. :”)

IMG_6067

dana dari Badan Pengurus Dana Alumni (BPDA)

Buku naik cetak, target penjualan dibuat, proses marketing dimulai. Ketika anggota blogger tak hanya jago menulis tapi juga mendesain, disinilah kreatifitas kami muncul. Memanfaatkan segala sosial media yang ada. Membuat kampanye untuk support buku ini, membuat poster quotes yang menggelitik, menulis blog agar masyarakat lebih mengenal kami.

IMG_6074

blogger yang nggak cuma jago nulis, tapi juga jago desain

Maka disinilah titik haru itu terjadi. Ketika para guru sangat senang sekali lalu ikut memesan, ketika salah satu alumni kemudian memesan banyak buku untuk diberikan secara cuma-cuma kepada semua guru yang ada di Insan Cendekia Serpong, Masya Allah. Sungguh, bukan lembaran rupiah yang kami cari. Kebahagiaan dan rasa syukur inilah sesungguhnya yang abadi.

Ketika tulisan ini dibuat, tim admin yang digawangi oleh Nadia sedang sangat sibuk merekap pesanan yang ada. Karena 500 buku terjual pada 24 jam pertama setelah pre order dibuka. Padahal ia adalah seorang mahasiswa. Sungguh, semoga Allah membalas segala kebaikannya. Semoga Dormi(s)tory segera hadir di tangan anda. Bila belum memesan, jangan khawatir tidak kebagian. Klik saja di tautan ini bit.ly/PesanDormistory

Mohon ijin undur diri. Selamat menikmati kisah masa muda kami.:)

 

Cinta Akung dan Hari Kasih Sayang

Tags

, , , , , ,

IMG-20160208-WA0002

Akung lagi disuapin makan sama mbah putri.

A : “Aku udah kenyang. Sisanya buat kamu aja”.

M : “Lha Akung baru makan sedikit kok udah kenyang”.

A: “Iya aku udah kenyang. Kamu makano juga”.

(Akung selalu tidak menghabiskan makanannya supaya mbah putri bisa makan juga).

F : Dan saya hanya melihat sambil…

Di lain episode,

F : “Mbah Putri, makan dulu yuk”.

M : “Nanti aja habis Mbah Kung mu makan”. Sambil masih tetep megangin tangan akung.

Waktu akung sakit, siapa yang selalu di samping akung? Mbah putri.

Iya anak-anaknya ada. Cucu bahkan cicit juga ada. Tapi cuma mbah putri yang nggak pernah lelah. Yang selalu menomorsatukan akung di atas diri beliau.

Tujuh puluh tahun bersama bukanlah waktu yang pendek. Maka benarlah bila ingin mengetahui hakikat cinta sejati, lihatlah beliau-beliau yang sudah mencapai usia senja. Saat fisik sudah memudar, saat yang tersisa hanya waktu untuk bersama.

Apalah saya yang baru menikah kemarin sore. Yang kalau lapar masih makan duluan. Yang kalau ngantuk masih tidur duluan.

Mungkin mbah putri sudah tidak kuat lagi menuntun akung ke kamar mandi. Membantu akung mandi. Tapi jiwa beliau masih kokoh untuk menggerakkan tangannya mengenggam akung. Meyakinkan akung bahwa apapun yang terjadi, beliau tetap di samping akung.

Usia beliau berdua sudah menginjak 90 tahun. Sudah bukan jamannya lagi menggombal. Membuat keromantisan yang dibuat-buat. Apa yang terjadi adalah kumpulan dari komitmen yang terbentuk semenjak menikah. Bahwa istri taat pada suami. Bahwa suami menyayangi istri.

Tidak mungkin mbah putri akan setia menemani akung yang sakit, bila saat beliau sakit akung tidak menemani. Tidak mungkin mbah putri bisa bertahan mendoakan, bila akung juga tidak menjadi imam yang baik.

Seseorang yang bertahan di sisi mu saat kamu terpuruk, berhak untuk menemanimu di saat terbaik.

Ingin dicintai sepenuh hati? Mencintailah dengan sepenuh hati. Penuh keikhlasan. Tanpa ekspektasi. Saya tahu itu sulit. Saya pun masih belajar. Tapi harus diusahakan setiap hari. Berulang kali hingga mati.

Pernah suatu kali bude saya bercerita.

“Akung dulu waktu naik haji tahun 1956, ngirim surat ke Mbah Putri. Tulisannya, kepada adindaku tercinta…”

Hal-hal kecil seperti itulah yang akan menjadi kisah untuk anak cucu. Bahwa cinta mereka ada. Tidak padam walau menua.

Mencintai setiap hari. Kurang bukti apalagi? Tidak perlu dirayakan dengan hari kasih sayang. Memberi coklat. Bahkan mendekati zina. Naudzubillah. Hakikat menyayangi tak cuma sehari. Bukan tentang apa yang kau beri pada hari itu. Tapi apa yang kau lakukan sejak menikah hingga mati.

Jadi, jika kamu sungguh-sungguh ingin menyayangi, sayangilah dirimu dahulu. Menikahlah dengan jodoh terbaik. Kemudian berikan cintamu kepadanya. Cintai kelebihannya, cintai kekurangannya. Belajar dari yang telah berhasil mencinta. Jangan belajar dari kawanmu yang juga belia yang tidak jelas kemana arahnya.

Semoga cinta akung, cinta kita, berlanjut hingga ke surga.

Dokter yang Bukan ASI Eksklusif

Tags

, , , , , , ,

IMG_8659

Saya seorang dokter. Tapi saya tidak mendapatkan ASI Eksklusif. Dari ibu saya yang juga dokter, begitu pula dengan ayah saya. ASI iya. Susu formula iya. Saya pun juga tidak di IMD. Nah lho. Kok bisa?

Pengakuan ibu, saat itu beliau sama sekali tidak tahu menahu tentang ASI Eksklusif dan IMD. Di bangku kuliah pun tidak diajari. Seminar ASI apalagi. Sebagai ibu yang bekerja, beliau juga belum dibekali informasi tentang bagaimana cara menyimpan ASI (saya lahir tahun 1990).

Hari Minggu kemarin saya berkesempatan mengikuti Kelas EdukASI yang diselenggarakan oleh Aimi Malang. Saya mengikuti kelas tersebut karena sebagai seorang tenaga kesehatan, pegetahuan saya tentang proses menyusui masih sangat kurang. Saya cuma tahu secara definisi apa itu ASI Eksklusif dan IMD. Meski saya belum memiliki seorang anak, saya percaya bahwa membekali diri dengan ilmu itu lebih baik daripada hidup dalam ketidaktahuan dan tidak ingin mencari tahu.

Selain ingin memberikan yang terbaik bagi anak saya kelak, saya juga ingin membagikan ilmu saya kepada siapapun yang bertanya mengenai ASI. Sehingga saya bisa mengetahui ilmunya secara lebih lengkap.

Saya sendiri tidak diberikan ASI Eksklusif oleh orang tua. Karena saya ingat bila dulu ayah pulang bekerja, beliau selalu membawa oleh-oleh susu formula gratis yang diperoleh dari tempat beliau bekerja. Ibu saya saat itu masih koas, sehingga mungkin bisa disamakan dengan ibu yang bekerja.

Saya lupa apakah saat kecil saya sering sakit, apakah saya pernah sakit parah. Toh meski saya tidak mendapatkan ASI Eksklusif, saya juga bisa jadi dokter. Namun testimoni dari satu orang tidak bisa mewakili keseluruhan populasi. Penelitian dibuat agar bisa diketahui secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan hasilnya, apakah sesuatu hal memberikan manfaat atau tidak bagi mayoritas orang. Sudah banyak penelitian tentang hubungan kecerdasan seseorang dengan pemberian ASI Eksklusif.

Waktu kecil, saya suka sekali minum susu. Bila melihat televisi pun sering melihat iklan susu formula dengan segala macam promosinya. Saya ingat betul sebuah merk susu yang saat itu sedang terkenal, merknya adalah Lact*na. Sampai saat ini, berbagai merk susu formula telah diluncurkan di Indonesia, dengan berbagai harga dan promosi kelebihan masing-masing produk.

Berbeda halnya dengan cerita yang saya dapatkan saat suami pergi ke Australia. Beliau tidak menemukan susu formula di supermarket. Setelah bertanya kepada rekan yang tinggal disana, memang susu formula sangat dibatasi sekali. Tidak dijual bebas dan digunakan hanya atas rekomendasi dari dokter. Sangat berbeda sekali dengan kondisi di Indonesia dimana susu formula diberikan kepada bayi padahal ibu dan bayi dalam keadaan sehat wal’afiat.

Di Indonesia, tantangan ASI Ekslusif sangat besar sekali. Mulai dari budaya dan pemahaman keliru yang sudah mengakar, rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya informasi, ibu yang bekerja, serta gempuran promosi dari industri susu formula. Maka saya meneguhkan diri untuk mengikuti Kelas EdukASI untuk menambah wawasan dan bisa menyebarluaskan informasi yang saya peroleh.

IMG_8618

Kelas EdukASI ini diselenggarakan oleh AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia). Organisasi ini terbentuk dari ide beberapa ibu yang ingin membentuk support group kepada para ibu menyusui dan mendampingi bila ada masalah dalam prosesnya.

Materi disampaikan dengan sangat baik sekali, dari segi cara maupun konten. Meski kadang masih dijumpai data tanpa sumber yang tercantum dengan jelas, akan tetapi secara keseluruhan dasar ilmu yang diajarkan sudah sangat baik. Untuk tenaga kesehatan, perlu diingat, ini bukan presentasi ilmiah yang harus menampilkan pustaka di setiap slidenya.  Kita bisa memperdalam bukti ilmiahnya lagi diluar kelas.

IMG_8631

Di AIMI Malang, kegiatan tidak hanya terbatas pada Kelas EdukASI saja. Namun kita bisa meminta konseling (dipanggil ke rumah atau ke rumah sakit), bisa juga berbelanja tentang kebutuhan untuk menyukseskan ASI Eksklusif.

Kelas EdukASI 1 berisi materi tentang :

  1. Tatalaksana inisiasi menyusu dini (IMD).
  2. Manfaat menyusui dan risiko susu formula.
  3. Dukungan pemberian ASI dan peraturan perundang-undangan.
  4. Mengenal anatomi payudara, posisi dan perlekatan menyusui yang efektif.
  5. Hari-hari pertama kelahiran bayi.
  6. Kunci keberhasilan menyusui.

Tema di atas diberikan oleh dua pemateri dari AIMI. Dua orang ibu yang sudah berpengalaman memberikan ASI kepada anaknya serta memberikan konseling bagi ibu-ibu yang menbutuhkan pendampingan.

Kelas ini tidak hanya untuk ibu hamil atau menyusui saja. Akan tetapi para ayah, dan keluarga lainnya seperti ibu atau ibu mertua (nenek bayi) juga harus diberi pemahaman yang benar tentang ASI. Karena keberhasilan ASI Eksklusif tidak semata-mata hasil dari usaha ibu, tapi juga atas dukungan dan motivas dari suami dan keluarga dekat.

IMG_8633

Sedikit review tentang tema yang disajikan yaitu :

  1. Saya sebagai tenaga kesehatan baru memahami makna IMD akhir-akhir ini dan menyadari bahwa tidak semua tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan tahu dan mau menerapkan IMD. Maka untuk ibu yang ingin menerapkan IMD, bisa hospital shopping sebelum melahirkan untuk mengetahui mana saja fasilitas kesehatan yang pro IMD.
  1. Materi kedua adalah titik penting ilmu yang harus diketahui secara ilmiah mengapa ASI adalah yang terbaik dan susu formula tidak bisa menggantikannya.

Apa sih bedanya ASI dan susu formula? Seringkali kita tidak tahu menahu. Entah karena propaganda iklan yang berlebihan, informasi yang tidak pernah sampai atau kita sendiri yang tidak berusaha mencari tahu.

Mulai dari zat yang dikandung. Susu formula memang mengandung beberapa zat yang berguna, tapi sayangnya itu hanya berguna untuk menggemukkan bayi saja.

Sedangkan ASI? ASI memiliki faktor kekebalan (IgG, IgM, leuoksit,  komplemen), faktor pertumbuhan (TGF, HGF, Epo dsb) yang membuat anak tidak mudah sakit dan tumbuh secara maksimal.

Padahal di dunia medis, harga 1 cc dari faktor kekebalan/faktor pertumbuhan murni harganya bisa mencapai 4 juta!!! Sedangkan ASi memiliki lebih dari 20 jenis faktor tersebut secara cuma-cuma.

  1. Pemberian ASI bahkan IMD pun sudah diatur oleh undang-undang! Betapa sebenarnya pemerintah sudah sangat memikirkan hal ini meski pelaksanaannya masih jauh dari sempurna. Apalagi undang-undang tentang promosi susu formula yang banyak dilanggar, pemberian ruang di tempat kerja maupun tempat umum bagi ibu yang menyusui, dan lain-lain.
  1. Saya pikir posisi menyusui ya gitu aja (efek punya delapan adik). Tapi ternyata ada berbagai posisi, dan kita harus tahu prinsipnya agar proses menyusui berjalan dengan baik.
  1. Di hari-hari pertama kelahiran bayi, kita akan banyak dihadapkan pada gosip maupun mitos yang banyak beredar. Kemudian kita stress dan sibuk memikirkan apa yang dilontarkan oleh orang lain. Ada baiknya kita membekali dengan ilmu yang benar sehingga tidak perlu stress. Mungkin bisa juga menerapkan bahwa tamu baru boleh menjenguk setelah 7 hari kelahiran bayi, agar bisa memberikan waktu bagi ibu untuk bonding dengan buah hatinya.
  1. Saat hamil seringkali kita sibuk dengan persiapan menyusui. Yang katanya harus dibersihkan, dipijat dan ini itu. Tapi sebenarnya tidak perlu. Yang diperlukan saat hamil adalah mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya, mencari dukungan dari keluarga, dan menemukan rasa percaya diri bahwa kita bisa memberikan ASI Eksklusif untuk ananda.

Di Kelas EdukASI ini juga disajikan berbagai video yang bisa disimak agar ilmu yang didapatkan lebih mantap. Kelas yang kecil (maksimal 20 orang) dan nyaman juga memberikan rasa fokus sehingga ilmu bisa diserap dengan baik.

Saya lupa-lupa ingat apakah di puskesmas sudah ada hal serupa (penyuluhan tentang ASI Eksklusif) yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada masyarakat di daerahnya. Mengingat harga yang harus dibayar untuk mengikuti Kelas EdukASI ini sulit dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah. Kemudian saya membayangkan bila seluruh ibu di Indonesia mendapatkan informasi seperti ini, masa depan generasi Indonesia akan sangat cerah sekali.:)

Sekali lagi, nggak rugi ikut Kelas EdukASI!:)

Ps : semua peserta diberikan materi softcopy nya. Bila ingin dibagi, boleh mencantumkan emailnya untuk nanti saya forward.:)

IMG_8653

IMG_4531

 

 

TIPS BAGI PENGENDARA BUS KOTA SAAT LIBUR PANJANG

Tags

, , , , , ,

bungur

pict from http://www2.jawapos.com/baca/artikel/8913/hitung-ulang-bagi-hasil-bungurasih

Ketika tahu bahwa Hari Kamis tanggal 24 Desember ada agenda di Malang, saya dan suami secara otomatis siap siaga. Gimana enggak, 24-25 libur tanggal merah. Sabtu libur untuk yang memang libur. Jadilah long weekend. Rabu sore 23 Desember bakal jadi perang besar-besaran buat yang mau berlibur naik bus. Kami memang lebih suka pakai bus daripada nyetir mobil sendiri soalnya kalau di bus tinggal tidur aja nggak perlu capek nyetir.😀

Tips buat pengendara bus antar kota macam saya :

  1. Sudah packing sejak sehari sebelumnya. Rabu masih kerja sampai jam 2 siang. Pulang kerja bisa langsung cus terminal.
  1. Bawa barang bawaan sesimpel mungkin. Kalau perlu cukup tas yang nempel di punggung aja.
  1. Ada beberapa terminal bus yang bisa diakalin, alias naik bus di tempat penurunan. Di terminal Jombang, saya selalu naik bus di tempat penurunan penumpang.
  1. Dalam perjalanan dari Jombang ke Malang, saya oper bus di Surabaya. Kalau mau libur panjang, bus yang selalu penuh adalah yang keluar dari kota-kota besar atau menuju kota destinasi wisata. Misalnya keluar Surabaya. Jadi bus yang menuju Surabaya justru nggak penuh-penuh amat. Sebaliknya yang menuju Malang pasti berdesak-desakan.
  1. The battle begins. Sebelum masuk Terminal Bungurasih, di sebelah kiri jalan banyak orang berdiri bawa tas ransel, persis penampakan orang mau bepergian. Mereka yang berjejer-jejer di jalan sebelum masuk terminal patut dicurigai. Ada apakah? Kan harusnya kalau mau naik bus ya di terminal. Kok mereka kaya mau nyegat bus di luar terminal?
  1. Masuk terminal, jeng jeng jeng!!! Lautan manusia, Bung! Padahal baru jam 5 sore. Semakin malam pasti semakin ramai. Di tempat penurunan penumpang, banyak sekali orang bertebaran. Setelah saya turun dari bus, banyak penumpang yang langsung naik bus yang barusan saya naiki. Artinya, di tempat keberangkatan, tidak ada bus yang stand by dan banyak sekali penumpang yang antri sehingga mereka sampai menyusul bus di tempat penurunan penumpang.
  1. Saya dan suami sepakat. Setelah turun bus kami tidak beranjak ke tempat keberangkatan. Hanya berdiri di situ saja sambil menunggu bus dari Malang datang. Mengapa kami tidak menunggu bus di tepi jalan sebelum masuk terminal? Karena hal itu tidak efektif. Masih banyak penumpang yang belum turun meski mungkin ada kursi yang sudah kosong. Lain halnya bila menunggu di tempat penurunan. Penumpang bus semua akan turun.

Tidak lama kemudian bus yang kami tunggu akhirnya tiba. Kami mendekat, beberapa orang juga mengikuti. Setelah semua penumpang turun, kami langsung naik. Pasti kursi masih kosong dan pasti kami dapet tempat duduk.

  1. Bus kemudian berjalan menuju tempat keberangkatan. Ketika lewat parkiran, bus sudah dicegat oleh calon penumpang. Banyak sekali yang naik sampai kursi bus penuh! Perlu diingat, bus belum sampai di tempat keberangkatan.
  1. Sampai di tempat keberangkatan, whoaaaaaaa. Another lautan manusia. Semua orang berlomba naik bus, sayang sekali kursi sudah penuh sehingga hanya bisa berdiri. Padahal itu masih sore. Nggak kebayang gimana malem harinya.
  1. Bus selalu penuh sampai saya turun di Singosari. Ada beberapa penumpang yang turun sebelum Singosari, tapi lebih banyak lagi yang mau naik. Di Porong, Apollo, Pandaan, dll.
  1. Hasil dari bus yang penuh nuh adalah, tidak ada pengamen. :”) Karena bus AC, tidak perlu khawatir ada yang merokok. Yang disayangkan tidak ada penjual yang naik. Padahal saya kehausan banget. So, bawa bekal is a must. Saya cuma bawa cemilan aja. Hahahaa. Bawa film juga boleh buat ditonton di bus. Atau bawa buku. Bawa bantal leher. Atau apapun yang bisa bikin kamu nyaman selama di perjalanan.
  1. Siapkan uang pas di tempat yang terjangkau sehingga nggak perlu mengaduk-aduk isi tas. Sebaliknya, letakkan dompet di tempat yang aman.
  1. Meski kamu sudah dapet tempat duduk, tapi kalau ada yang lebih membutuhkan seperti ibu hamil, anak-anak, lansia, berikanlah tempat dudukmu pada mereka. Atau kalau anak-anak, bisa dibantu dengan dipangku.😀 Yakin deh, kalau kamu berbuat baik, Allah pasti akan membalas dengan jauh lebih baik lagi.
  1. Banyak berdoa selama di perjalanan. Salah satu doa yang dikabulkan adalah doa seseorang yang sedang dalam perjalanan. Pun kita tidak tahu apakah kita bisa selamat sampai di tujuan.

Insya Allah dengan tips di atas, perjalanan panjang naik bus saat mau liburan bisa lebih bermakna.

Sebenernya sedih sih kalau ada penumpukan penumpang gitu. Apakah Dinas Perhubungan sudah mengantisipasi lonjakan penumpang dengan menyediakan bus ekstra? Bila belum, amat disayangkan. Saya yakin bus itu kelebihan muatan. Gimana enggak? Kapasitas 55 kursi tapi ada 100 orang lebih yang naik. Untung pak sopirnya pengertian sehingga melaju dengan kecepatan standar, nggak ugal-ugalan.

Bila ternyata sudah diantisipasi, armada bus sangat perlu ditambah lagi. Kasihan penumpangnya. Banyak yang terlantar. Bus nya sih seneng aja dapet pemasukan banyak, penumpang yang naik juga terpaksa berdesak-desakan karena ingin tiba di tempat tujuan. Saya juga tidak bisa menyalahkan mereka. Bila boleh memilih memang nggak usah pergi kemana-mana kalau mau liburan panjang. Di rumah aja. Toh banyak juga aktifitas yang bisa dikerjakan. Tapi namanya ingin kumpul dengan keluarga saya kira sesuatu hal yang sangat wajar.

Di terminal, saya sempat baca spanduk dengan pesan “Lebih Baik Tidak Berangkat Daripada Tidak Pernah Sampai”. Keamanan memang yang paling utama. Pikirkanlah masak-masak sebelum keluar kota saat libur panjang. Apakah acara tersebut sangat penting sekali sehingga kita harus datang? Jangan lupa untuk merencanakan serta mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.

Pastikan tujuan kamu bermanfaat. Sehingga perjalananmu tidak menjadi sia-sia.:)

Selamat berlibur!

IMG_6388

1. Dari pakir bus menuju tempat keberangkatan penumpang 2. Di tempat penurunan penumpang 3. Di tempat keberangkatan penumpang

 

Ketika Ayah Menangis

Tags

, , , , , , ,

abah 2Bagiku saat masih sekolah dasar, Sabtu malam adalah hari yang menakutkan. Karena hari itu adalah hari dimana ayah pulang.

Sebelum Maghrib tiba, praktis aku harus mencari adik lelakiku yang suka sekali bermain ke rumah tetangga. Memastikan dirinya tetap berada di rumah hingga ayah tiba, atau semua penghuni rumah akan terkena getahnya.

Ayahku seorang dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis di luar kota. Pulang ke rumah hanya saat hari Minggu saja. Namun satu hari saja beliau di rumah, sudah cukup mengguncang dunia.

Saat Maghrib tiba, ayah akan memanggil kami untuk sholat berjamaah. Duh. Malas sekali. Nggak bisa ya sekali-sekali sholat sendiri gitu biar cepet? Jawabannya tidak. Mutlak kami harus sholat Magrib berjamaah.

Setelah sholat, ayah akan meminta kami membaca Al Qur’an. Disinilah isak tangis kami dimulai. Aku seringkali bisa membaca Al Qur’an. Namun tidak demikian dengan dua adik kecil saya.

“ITU HURUFNYA DIBACA PANJANG! DUA HAROKAT! DIULANG LAGI BACANYA!”

“YANG PANJANG DIBACA PANJANG! PENDEK DIBACA PENDEK! JANGAN PANJANG DIPENDEKIN, PENDEK DIPANJANGIN!”

“NGGAK USAH NANGIS! BACA YANG BENER ITU QUR’ANNYA!”

Sepanjang pelajaran mengaji, jantungku berdegup amat kencang. Seluruh penghuni rumah tak satupun berani bersuara. Hingga cicak pun tak terdengar suaranya.

Lepas pelajaran mengaji, buku pelajaran kami dibuka semua. Kena lah aku. Matematika dapat dua puluh lima. Aku memang lemah dalam pelajaran koin dan uang.

“Uang seribu kalau ditukar 100 rupiah, dapat berapa?”

“Mmm..mmm…seratus.” Jawabku pelan.

“UANG SERIBU KALAU DITUKAR SERATUS RUPIAH DAPAT BERAPA???”

Aku mulai terisak.

“Se..se..seratus.”

“SERATUS ITU DAPAT DARIMANA???”

Tumpah sudah air mataku.

Pelajaran tidak berhenti hingga pukul satu dini hari.

Semua orang takut dengan ayah. Aku, adikku, bahkan mungkin ibu. Saat kemudian aku beranjak SMP dan harus sekolah di kota yang sama dengan ayah, perlahan mataku terbuka.

“Ayahmu dulu pernah kesini. Jauh sebelum kamu lulus.” kata guru asramaku suatu ketika.

“Hah? Yang bener, Pak? Kapan?” tanyaku penasaran.

“Iya, Bapak masih ingat kok. Ayah kamu dulu kesini. Keliling asrama. Tanya ini itu. Detail. Pas Bapak tanya anaknya kelas berapa, beliau menjawab masih kelas 4 SD. Kan masih lama lulus SD nya. Begitu saja sudah dicarikan sekolah SMP.”

Deg!

Aku terhenyak. Benarkah itu ayahku?

Hal itu terus terngiang di telingaku. Betapa tidak. Beliau memikirkan pendidikanku, jauh sebelum aku membutuhkannya.

Saat aku terpilih mengikuti sebuah lomba di daerah Sumatera, ayahku bersikeras tidak memperbolehkan aku ikut rombongan bus. Melainkan harus naik pesawat ditemani oleh beliau. Selain karena aku gampang mabuk, ayah juga mengkhawatirkan keselamatanku. Karena perjalanan darat di Sumatera akan banyak melewati hutan.

Di sanalah aku tahu. Satu per satu rahasia ayah yang tak kupahami sebelumnya.

“Kamu ingat waktu dulu sebelum masuk sekolah, kamu sama adik ditinggal di rumah nenek? Ayah sama ibu pulang ke rumah. Kalian berdua sendirian disana,” kata ayah membuka cerita.

“Pasti inget, Yah. Waktu itu aku nangis kenceng banget berhari-hari. Sedih ditinggal Ayah sama Ibu. Cuma ada Nenek, Kakek, Om dan Tante,” jawabku.

“Bayangin coba, Yah. Aku masih kecil, masuk TK aja belum. Diajak keluar sama Tante. Pas balik ke rumah Nenek, eh mobil Ayah udah nggak ada.” Sesaat aku terhempas ke masa lalu. Masa-masa itu. Masa-masa tanpa ayah ibu.

“Waktu itu, Ayah sama Ibu memang sengaja ninggalin kamu sama adek. Biar kalian terbiasa. Biar kalian mandiri. Biar kalian tidak bergantung kepada orang lain. Buktinya, putri Ayah yang paling cantik ini jadi satu-satunya siswa yang nggak nangis waktu pertama masuk asrama. Bener, nggak?” Ayah mengungkap rahasianya seraya tersenyum menatapku.

Aku hanya bisa bengong. Bagaimana mungkin, anak sekecil itu, aku masih sekecil itu, dan ayah sudah merencanakan semuanya. SEMUANYA.

Ternyata ayah menyayangiku.

Akupun beranjak dewasa. Melewati masa SMA, kuliah dan koas. Ya, aku mengikuti jejak ayah menjadi  seorang dokter. Kebetulan aku juga suka sekali merangkai kata. Jadilah aku menulis surat ungkapan sayang untuk Ayah tercinta saat hari ulang tahunnya.

Sedemikian rupa kubuat, kuhias, ku letakkan di dalam lemari Ayah. Aku memang pemalu. Tidak terbiasa mengungkapkan perasaan pada Ayah dan Ibu.

Dari Ibu lah aku mendengar kisah ini.

Malam saat ayah melihat surat, beliau membacanya. Terdiam sejenak. Kemudian beranjak menuju kamar mandi. Lama sekali. Ibuku menunggu. Ayah tak juga keluar.

Saat beliau akhirnya menampakkan diri, terlihat matanya memerah. Bekas tangisan. Ayah menangis membaca suratku. Ayah tak ingin semua tahu. Ayah ingin menyimpan kebahagiaan itu. Kebahagiaan dari putri sulungnya yang telah ia besarkan dengan segenap jiwa raga.

Sejak saat itu aku bertekad. Ketika ayah menangis, maka tangisan itu haruslah air mata bahagia…

-Karya ini dimuat dalam kumpulan cerpen “Ketika Ayah Menangis” yang diterbitkan oleh Pena Indis-

Cintai Dirimu, Anak dan Istrimu (Refleksi Hari AIDS Sedunia)

Tags

, , , , , , , , , ,

IMG_4921

pict taken from http://www.instyle.com/news/how-remove-lipstick-stain-your-clothes-0

Tahukah kamu berapa jumlah bayi dan balita di Indonesia yang terinfeksi virus HIV? RIBUAN! Aku melihat wajah polos mereka di poli anak. Di usia yang masih sangat belia, harus menanggung derita dari kedua orang tua yang telah tiada.

Tahukah kamu siapakah yang paling banyak menderita AIDS di Indonesia? IBU RUMAH TANGGA! Dan sudah jelas darimana sumbernya..

Apakah pelajar dan mahasiswa bebas darinya? Nyatanya tidak. Tanpa kamu sadari, HIV-AIDS sudah menyebar di 76% kota di Indonesia.

Hubungan seks bebas yang menjadi penyebab utamanya. Yang kedua? Hubungan sesama lelaki.

Kapankah kita akan berhenti? Apakah kondom saja cukup? Kondom tidak menyelesaikan akar masalah. Hati nurani kita, moral kita, ketika dihadapkan pada kenyataan itulah yang seharusnya bisa menjawab.

Prostitusi bukanlah keterpaksaan. Itu hanya tameng. Sungguh, bila kamu percaya akan rizki dari Allah, Allah akan membuka jalan.

Pikirkanlah anak-anakmu. Anak-anak yang berhak memiliki masa depan yang cemerlang. Anak-anak yang kelak mendoakanmu saat kamu telah tiada.

Pikirkanlah istrimu. Betapa dia sudah mengabdi kepadamu sejak terbit matahari hingga terbit lagi. Tak lelah mendoakanmu dalam sujudnya, tak henti menghiburmu dalam lelahnya.

Bila keduanya tak juga mengusik, pikirkanlah dirimu. Sudahkah hidupmu dipenuhi dengan ketenangan? Atau jangan-jangan hanya kebahagiaan semu? Karena maksiat akan menutup nurani. Membuat dirimu tidak peka lagi. Semakin menjauh pada Illahi.

Tidak perlu malu. Sungguh Allah Maha Pengampun. Berhentilah. Bertaubatlah. Jangan sekali-kali mengulanginya lagi. Demi dirimu. Ya demi dirimu. Yang sungguh-sungguh sangat kau cintai.

Sumber data : http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.php?lang=id&gg=1

Mencari Kebahagiaan dengan Menikah dan Memiliki Anak

Tags

, , , , , ,

marriage

pict taken from http://relationshipcounsellordelhi.blogspot.co.id/

Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata menikah? Setahun sebelum aku menjalaninya, yang terbayang hanya keindahan. Berkasih sayang, ada teman untuk jalan-jalan, ada yang dicurhati ketika pulang.

 

Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata memiliki anak? Menggendong bayi yang lucu menggemaskan, update fotonya di sosial media, tak henti bercanda dengannya.

 

Mendekati hari pernikahan, aku dihadapkan pada kenyataan. Seorang laki-laki yang mendua, memiliki istri muda. Seorang laki-laki yang kabur entah kemana, meninggalkan istri tanpa kabar. Juga sepasang suami dan istri yang sedang berada diambang perceraian.

 

Pernikahan bukan berarti kebahagiaan. Bila kamu berharap demikian, mungkin kamu akan kecewa. Saat menjumpai suamimu tidak pernah meletakkan baju pada tempatnya. Saat dia selalu lupa memotong kukunya.

 

Pernikahan berarti melihat suamimu kelelahan saat pulang kerja. Terlalu lelah untuk mengganti bajunya. Pernikahan juga berarti menyelipkan pemotong kuku di sakunya, sembari chat mengingatkan agar tidak lupa.

 

Kadang pernikahan juga berarti hidup berdua selamanya, tanpa kehadiran ananda.

 

Ketika di televisi banyak berita bayi dibuang oleh orang tua, berapa banyak dari kita yang berusaha segenap jiwa raga untuk memperolehnya? Bahkan mengeluarkan uang berjuta-juta.

 

Kupikir ketika dua garis telah tampak, maka sempurna sudah kebahagiaan. Nyatanya tidak. Perjalanan masih teramat panjang. Tentu tujuan kita bukan hanya dua garis saja. Melainkan seorang anak yang taat padaNya sampai akhir hayat. Hingga bertemu di surga. Ya, tujuan kita adalah akhirat.

 

Maka dari sejak dua garis tiba hingga akhirat, apa saja yang bisa terjadi?

 

Seorang kawan pernah keguguran hingga 6x. Namun tak henti berusaha. Seorang yang menunggu kelahiran anak pertama, ternyata sang anak harus dipanggil olehNya, karena sakit yang jarang terjadi, yang tidak bisa dideteksi sebelumnya. Seorang yang sedang berbahagia dalam menjalani pengasuhan anaknya yang berusia 9 bulan, tiba-tiba sang anak sakit kemudian kembali kepadaNya.

 

Sungguh. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Namun itulah uniknya manusia. Meski tidak tahu apa yang akan terjadi, meski kesedihan dan kematian bisa datang kapan saja, mereka tetap berusaha. Mereka tetap percaya. Mereka tetap mencinta. Sepenuh jiwa raga.

 

Maka sungguh beruntung, orang-orang yang berharap hanya pada Tuhannya. Karena sedikitpun ia tidak akan pernah kecewa. Oleh jalan yang telah digariskanNya.

 

Menikahlah, karena kamu ingin melengkapi separuh agama. Bukan karena usia, bukan karena sudah dikejar-kejar mama.

 

Berusahalah memiliki anak. Karena sungguh kamu ingin membesarkan anak soleh, yang doanya tiada putus meski engkau meninggal dunia. Yang hidupnya akan digunakan untuk kebaikan umat. Bukan hanya untuk menjawab pertanyaan rekan kerja apakah perutmu sudah ada isinya.

 

Dan ketika kamu belum mendapatkan baik salah satu maupun keduanya, berdoalah sebaik-baiknya. Bahwa rencanaNya untukmu amatlah indah. Ingatlah, kita hidup di dunia untuk beribadah. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan selain menikah maupun memiliki anak, supaya kita menjadi manusia yang bertaqwa.

 

Sesungguhnya Maryam tidak menikah, akan tetapi dijamin surga. Begitu pula dengan Aisyah. Tanpa kehadiran seorang anak, ketaqwaan sebagai seorang manusia tidak berkurang di hadapanNya.

 

Bercita-citalah menjadi manusia langit, yang tidak silau oleh kekaguman manusia. Sebaliknya, cukuplah Allah yang menjadi tujuan kita. Maka kebahagiaanmu akan sempurna.

Dedikasi Tak Pernah Mati

Tags

, , , , ,

IMG_3509Apa yang paling dekat dalam hidup kita? Kematian. Adakah sesuatu yang pasti dalam hidup ini? Ada. Kematian.

Kita tahu bahwa setiap orang pasti mati. Dan bagi yang belum, hanya menunggu giliran saja. Namun acapkali saat berita itu datang, kita tersentak. Tidak mengira itu akan terjadi begitu cepatnya.

Tiga hari yang lalu saya mendengar kabar bahwa seorang dosen forensik FK UNAIR, dr.Warih Wilianto, Sp.KF meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Seketika itu juga ingatan saya terhempas pada memori yang saya miliki tentang beliau.

Forensik adalah stase koas kedua saya setelah kulit kelamin. Stase surga. Begitu kata kakak kelas. Karena disana kita banyak “bermain”. Meski tugas tetap menumpuk untuk menunggu dikerjakan.

Setiap pagi kami dipimpin morning report oleh beliau. Untuk kelompok yang kemarin sedang berjaga, merekalah yang akan mempresentasikan kasus pada pagi harinya.

Beliau suka sekali berbagi ilmu kepada kami. Berbagi pengalaman, tidak hanya tentang ilmu forensik. Akan tetapi juga sikap kita saat berhadapan dengan kasus tersebut.

Beliau akan tegas sekali dalam masalah kehadiran. Jam 08.00 pagi harus absen fingerprint, baru bisa pulang jam 14.00. Hari Minggu pun tetap masuk. Sampai-sampai diberi panggilan “tahanan kota” untuk koas yang stase forensik. Karena kita mutlak nggak bisa keluar kota.

Adalah hal yang wajar bila seorang dosen sulit untuk ditemui karena mereka sibuk. Kebalikan dengan beliau, dr.Warih hampir selalu bisa ditemui karena setiap hari selalu hadir di Departemen Forensik.

Saat beliau menjadi pembimbing dalam pengerjaan tugas, tidak pernah sedikitpun mempersulit mahasiswa. Mereka akan berusaha dimudahkan dengan segala cara yang halal.

Bila mengendarai mobil mewah adalah hal yang lumrah bagi seorang dokter, untuk beliau cukup dengan mengendarai motor saja. Tidak perlu bermewah-mewahan.

Siapapun yang pernah menjalani stase koas Forensik di RSUD dr. Soetomo Surabaya, hampir semua sepakat bahwa dr.Warih adalah dosen forensik terbaik disana.

Tanpa saya sadari, saya pernah menulis tentang beliau di blog saya. Hari saat beliau meninggal dunia, saya mencari foto beliau di internet namun tidak bisa ditemukan. Saya justru menemukan banyak sekali foto saya di google. Saya tidak merasa curiga. Namun keesokan harinya saat menyadari traffic blog naik, saya terkejut dengan keyword yang paling sering muncul pada hari itu. Hampir semua yang singgah di blog saya, mencari informasi tentang dr.Warih.

Saya ingin mempersembahkan tulisan ini untuk beliau. Seseorang yang saya kagumi. Seseorang yang sangat berdedikasi untuk anak didiknya. Bahwa beliau sangat layak untuk dikenang. Bahwa ilmu yang telah beliau ajarkan kepada kami, semoga akan menjadi ilmu yang bermanfaat dengan pahala yang terus mengalir.

Sesungguhnya dedikasi beliau tidak pernah mati.

Allaahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu’anhu

Allahumma laa tahrimnaa ajrohu wa laa taftinna ba’dahu waghfirlanaa wa lahu

Menyenangkan Hati Suami

Tags

, , , , ,

IMG_7541

Menyenangkan hati suami sebenarnya bukan hal yang sulit. Cukup dengan hal sederhana boleh jadi akan membuat suami semakin terpesona.

Seperti menyiapkan makanan. Bukan memasak ya, tapi menyiapkan makanan. Boleh beli diluar, diberi oleh orang tua maupun tetangga, atau saat bertamu ke rumah orang lain.

Saat makanan sudah tersedia, siapkanlah untuk suami. Ambilkan piring, nasi, lauk dan haturkan kepadanya. Ucapkan selamat makan dengan senyum mengembang. Tambahan berdoa bersama tentu akan lebih menambah keberkahan makanan.

Tak lupa, pahala yang mengalir saat kita menyiapkan makanan dengan niat menyenangkan suami agar mendapat ridhaNya.

Nah. Kalau menyiapkan saja efeknya sudah sedemikian hebat, apalagi bila kita memasak? Tentu suami akan makin jatuh cinta.

Sesekali ajak suami berbelanja. Berdiskusi tentang makanan apa yang akan dimasak. Memilih sayuran, menyiapkan alat masak, bahkan suami juga bisa diajak ikutan memasak lho. Ketika kita sedang memotong daging misalnya, disaat yang sama suami bisa dimintai tolong untuk menumis sayur. Menurut pengalaman saya, itu menambah rasa masakan menjadi berkali lipat enaknya.

Suami lelah pulang kerja? Pijat tangannya.

Suami sibuk dengan pekerjaan hingga tak sempat makan? Suapin!

Suami suka sekali dengan kejutan? Diam-diam masukkan love card ke dalam tas kerjanya.

Daaan masih banyak lagi.😀

Sudah siap menyenangkan hati suami?:)

Surat dari Dokter untuk Sejawat, Negara dan Masyarakat

Tags

, , , , , ,

IMG_2921Selamat Hari Dokter Nasional!
Apakah dengan diperingatinya hari ini kemudian dokter bisa lebih baik dari sebelumnya? Bisa dan tidak.

Saya seorang dokter. Kebetulan kemarin baru saja mengikuti seminar di Jakarta tentang berbagai info dari dunia kesehatan. Baik dunia dokter, rumah sakit, BPJS, hukum kesehatan dan lain-lain.

Berangkat dari sebuah pertanyaan. Mengapa seseorang menjadi dokter? Ternyata jawabannya bervariasi. Yang paling idealis akan menjawab “ingin membantu orang lain”. Kenyataannya, dunia tak seindah itu.
Banyak sekali yang menempuh pendidikan dokter karena disuruh orang tua. Dengan anggapan profesi dokter memiliki prestis yang tinggi. Cari duit gampang, seminar di hotel berbintang. Lalu apa yang dilakukan para orang tua tersebut? Membayar berapapun harga agar anaknya diterima di fakultas kedokteran (FK). Tidak harus negeri. Swasta pun dijabani. Mutu sering dikesampingkan. Nggak penting jadi dokter yang kaya gimana, yang penting dapet gelar dokter.

Bagi orang berotak bisnis, ini adalah kesempatan besar untuk membuat industri FK. Pemilik akan melakukan berbagai cara agar diberi izin mendirikan FK, dengan niat mengambil untung sebanyak-banyaknya.

Siapa yang jadi korban?
Mereka yang tidak nyaman masuk FK. Mereka yang masuk hanya karena dipaksa dan selama pendidikan tidak menemukan alasan mengapa mereka harus disana.
Belajar sekedarnya. Lulus sekedarnya. Kalau nggak lulus ujian semester berkali-kali, ya di DO. Bila tidak lulus ujian kompetensi dokter pun, para FK tidak mau bertanggung jawab atas mahasiswanya itu. Harus kemanakah mereka pergi? Sedangkan usia sudah tidak muda lagi. Karena keegoisan orang tua dan kampus yang tidak bertanggung jawab, mereka terlunta-lunta.

Profesi dokter sudah berbeda dengan dulu. Bukalah matamu. Dokter dianggap dewa. Bedanya, bila dulu pasien akan menurut saja apa kata dokter, sekarang tidak. Dokter harus menjadi dewa, dokter harus bisa menyembuhkan pasiennya. Bila tidak sembuh atau terjadi hal tidak diinginkan, dianggap malpraktek. Dituntut. Dipenjara. Tidak ada perlindungan hukum sama sekali. Untaian kata-kata indah hanya termaktub dalam undang-undang. Pelaksanaannya? Nol besar. Dokter harus menjadi dewa, dengan hati seluas samudera. Tidak boleh mencari uang dari profesi mulia. Padahal kami manusia. Kami punya keluarga. Kami juga penduduk Indonesia.

Adakah dokter yang berperilaku buruk? BANYAK! Lalu adakah yang berperilaku baik? LEBIH BANYAK LAGI! Mengapa dokter berperilaku buruk? Bila bisa disimpulkan, karena uang. Biaya kuliah mahal, harus balik modal. Seminar di hotel bintang lima dengan harga berjuta. Dilihat tetangga kanan kiri. Katanya dokter, tapi kok nggak punya mobil? Kredit lah dia. Tidak bisa menutup kredit, terjebak dalam penulisan resep obat oleh pabrik farmasi. Biaya sekolah anak mahal, melanjutkan spesialis mahal, gaji dari pemerintah tidak mencukupi. Di Indonesia, pemasukan dokter berbanding lurus dengan jumlah pasien yang ditangani di tempat praktek non pemerintah. Pasien di RS negeri terlunta karena dokter menomorduakannya.

Dimanakah dokter yang baik? Jangan lupa. Mereka ada. Tersebar dimana-mana. Di ujung terluar pulau, memperbaiki puskesmas yang sistemnya porak poranda. Menjadi dokter di rumah sakit, dengan niat menyehatkan pasiennya. Menjadi dosen pengajar, menyalurkan segala ilmunya. Dokter-dokter itu ada. Dia memang mencari nafkah dengan berusaha menyehatkan orang lain. Menuliskan resep sewajarnya. Tidak tergoda gaya hidup dunia yang membahana. Apa yang terjadi saat para dokter ini berusaha menyelamatkan pasien kemudian dituntut karena hasilnya tidak sesuai dengan keinginan pasien dan keluarga? Mereka depresi. Tidak akan pernah bisa kembali mengobati pasien seperti semula.

Sudah cukup. Jangan paksa seorang anak menjadi dokter dengan menghalalkan segala cara. Biarkan dia memilih dan diberi jalan terbaik olehNya.

Sudah cukup. Ubah mindset dokter adalah profesi yang bergelimang dunia. Menjadi dokter tidak harus kaya harta. Akan tetapi harus kaya jiwa.

Jangan mau dibodohi. Gelar dokter saja tidak cukup. Sisihkan saja uangmu untuk hal lain. Daripada menyekolahkan anakmu ke kampus yang tidak jelas mutu pendidikannya.

Dokter bukan dewa. Dokter hanya manusia. Kami bisa salah, ingatkan kami, maafkan kami.

Tidak perlulah seminar di hotel bintang lima. Tidak perlu iming-iming jalan-jalan keluar negeri. Bila sebagai ganti, harus didikte industri farmasi untuk memeras pasien.

Mendidik seorang dokter harus dengan hati. Tidak bisa senioritas belaka. Dunia feodal FK harus segera ditinggalkan. Supaya dokter bisa lebih memanusiakan sesama.

Alangkah baiknya bila gaji dokter diatur negara. Sesuai dengan porsinya. Jumlah pasien yang sesuai kapasitasnya. Pasien senang, dokter bisa melayani maksimal. Daerah kecil harus dibangun. Supaya dokter dan masyarakat bisa berkeluarga dengan nyaman disana.

Dalam sistem kesehatan, harus ada yang membayar. Entah itu pemerintah, asuransi maupun kantong pribadi. Lalu bila ada kampanye kesehatan murah, bahkan gratis, bagaimana mungkin akan menghasilkan pelayanan medis dengan hasil maksimal? Siapa yang akan membayar biaya obat, biaya alat, sewa kamar, dan lainnya? Tidak sedikit dokter dan tenaga medis yang bersedia tidak diberi balas jasa atas tindakannya, bila memang dana yang ada tidak mencukupi. Asal pasien masih bisa dapat obat dan tindakan yang seharusnya.

Di acara seminar yang saya hadiri, terdapat pula hospital expo. Menampilkan berbagai alat medis dari perusahaan nasional dan internasional. Sungguh. Masa depan juga ada disana. Dengan berbagai peralatan canggih. Apakah itu murah? Tidak. Belum lagi kenyataan yang menampar bahwa alat tersebut dikenai pajak barang mewah. Padahal, padahal alat tersebut digunakan untuk membantu orang sakit agar kembali sehat. Untuk menyejahterakan bangsa.

Wahai para pembuat kebijakan, saya tahu peer kalian juga banyak. Angka kematian ibu yang masih tinggi, gizi buruk yang tak kunjung reda, dan berbagai masalah lainnya. Memotong dari hulu adalah penting. Bahwa FK dengan mutu yang abal-abal harus segera ditindaklanjuti. Agar tak terjadi korban berikutnya yang terlunta. Setelah diambil hartanya berjuta-juta. Bahwa harus ada perlindungan hukum yang nyata bagi para dokter, supaya mereka bekerja dengan aman. Bahwa pajak alat kesehatan harus diturunkan bahkan mungkin dihilangkan. Demi mewujudkan Indonesia sehat.

Wahai para dokter, pasienmu bukan mesin ATM. Sesungguhnya mereka sedang meminta pertolongan. Jangan manfaatkan ketidaktahuan mereka untuk memuaskan hasrat dunia kita. Bukan perbuatan dosa bila dokter mencari nafkah dengan praktik. Secukupnya saja. Jangan berlebihan. Jangan menjerumuskan dirimu dan keluargamu, sehingga pasien harus dikorbankan. Sungguh, dokter adalah profesi mulia. Mulia tidak berarti tinggi. Sekali lagi kita bukan dewa. Kita manusia biasa. Tempat salah dan lupa. Mari mencari rezeki dari profesi dokter dengan sebaik-baik cara.

dr.Rofida Lathifah
-Seorang dokter yang percaya bahwa terwujudnya Indonesia sehat bukanlah mimpi belaka-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,875 other followers