This Too Shall Pass 10

Dalam game tantangan kemandirian ini saya ingin agar lebih bisa mengontrol emosi ketika suami tidak sedang mendampingi. Namun ternyata di akhir cerita malah justru gagal total. 😭

Saya adalah orang yang sangat perasa, mudah menyalahkan diri sendiri, dan bila ada sesuatu yang kurang tepat saya akan langsung stres. Kesalahan itu akan saya ingat terus hingga jauh-jauh hari karena saya bukan orang yang mudah untuk melupakan. 

Saya menekankan pada diri sendiri. Nanti kalau suami sudah jauh, siapa yang bisa menenangkan hati kalau bukan saya sendiri? Apa saya tega kalau suami jadi nggak fokus? Kemarin-kemarin semua masih bisa saya handle. Namun ternyata ada satu hal yang menyebabkan pengelolaan emosi saya jauh dari kata berhasil, menyebabkan air mata tumpah sederas-derasanya. Padahal sejak menikah nggak pernah nangis kayak gitu. 🙈

Suami segera menenangkan, tidak mengatakan apapun, tidak memarahi saya. Hanya menemani saja. Sejurus kemudian saya menarik nafas panjang dan menghembuskannya hingga tangis saya reda. Malu sih, tapi lega. Akhirnya pikiran bisa jernih lagi untuk memikirkan beberapa solusi alternatif supaya saya tetap strong dimanapun suamo berada. Entah akan berhasil atau tidak, yang pasti tantangan ini akan menjadi sebuah perjalanan yang panjang dalam mengubah diri saya. 🙂

Mudah-mudahan berhasil. 😊

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 9


Sebenarnya saya termasuk orang yang mandiri. Saya sudah terbiasa jauh dari orang tua dan mengurus keperluan diri sejak SMP. Namun sejak menikah, saya sepertinya terjebak dalam zona nyaman karena selalu ada suami yang bisa dimintai tolong.

Pun ketika naik kereta dari Surabaya menuju Jombang saat sore menjelang malam hari. Biasanya bila bepergian bersama suami, saya bisa istirahat dengan nyenyak tanpa takut terlewat stasiun. 😂 Nah berhubung nantinya saya bakal sering sekali menjalani rute ini sendirian (minimal seminggu sekali) maka saya harus bisa mengkondisikan diri untuk tetap terjaga dan tidak terlewat stasiun tempat saya turun.

Kemarin sempat uji coba dan saya ketiduran saat 3 stasiun menjelang tujuan. 😂 Waduh berarti harus ada cara lain. Saya pasang alarm di hape di menit-menit menjelang sampai di stasiun Jombang kemudian saya istirahat lagi. Akan tetapi karena cemas, saya tidak bisa nyenyak. Di sisi lain mata saya terasa berat sekali untuk membuka. Akhirnya saya scrol-scrol hape untuk window shopping dan cara ini berhasil membuat saya melek sampai di stasiun tujuan. 🤣

Lain kali harus ada ide kreatif lagi nih.

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 8


Melihat kamar berantakan,F : “Ayang, aku pusing kamarnya berantakan.”

(Saya tahu ini bukan komunikasi produktif, tapi pengen tahu aja reaksi suami 🙈)

S : “Nanti kalau sempet aku beresin ya.”

F : “Serius? Aaaaaaa Alhamdulillaah ya Allaah suamiku mau bantu beresin kamar.”

S : “Loh, kan belum. Ada embel-embel kalau sempet pula.”

F : “Enggak apa-apa, alhamdulillaah dulu biar nanti doanya beneran dikabulkan sama Allah.” (Modus banget!)

S : “Tapi besok ya aku bersihinnya.”

F : “Iya nggak apa-apa. Aku yang makasih banget udah dibantuin.” 🙂

Selama ini saya yang agak rewel kalau kamar kotor/berantakan. Suami mah woles aja, bisa fokus ngapa-ngapain dalam kondisi apapun. 😂 Tapi berhubung beliau sebentar lagi akan menjalani kuliah sendiri di Inggris, mau nggak mau saya sedikit “melatih” supaya beliau mau untuk beresin kamar.

Hasilnya sungguh membuat saya terpesona. Mudah-mudahan beliau nantinya diberi kelancaran dan keberkahan ilmu saat menjalani proses pendidikan. Aamiin.

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 7

All is well. All is well. Hari ini lumayan bikin emosi jiwa. Entah kenapa pulang kerja mood berantakan banget. Astaghfirullaahal’adziim. Apalagi suami sedang jaga RS pula. Fix harus bisa mengontrol emosi.

Perut sakit, kepala pusing, kamar berantakan, besoknya harus ke Surabaya pagi-pagi buat psikotes dan belum menyiapkan apa-apa. 😭 Mau nangis aja rasanya. Tapi kalo nangis emang semuanya beres? Kemudian rasanya pengen nampar diri sendiri. Hayuk lak cus diperbaiki dulu semuanya. Nggak pengen suami jadi khawatir juga padahal lagi ngurusin pasien.

Saya pun mulai mengisi perut sedikit demi sedikit. Soalnya kalau perut sakit lalu langsung diisi porsi besar biasanya malah makin menjadi-jadi sakitnya. Alhamdulillaah pelan-pelan perutnya membaik. Tapi kepala masih pusing. Haruskah minum obat? Ummm. Jangan dulu deh. Saya memilih untuk memijat kepala dan pundak saya sendiri. Lumayan membaik. Tapi sejurus kemudian saya tertidur! Sepertinya karena terlalu capek lahir batin kali ya 😂

Padahal kamar masih berantakan, belum nyiapkan buat ke Surabaya. Alhamdulillaah kok saya masih bisa bangun waktu suami pulang 😊 . Ternyata sakit kepalanya sudah hilang juga! Masya Allah. Setelah bangun tidur saya segera packing keperluan untuk ke Surabaya. Kalau kamarnya? Masih berantakan. 😂

Tiba-tiba suami memberitahu, “Kamarnya aku aja yang beresin ya.”

Ya Allaah saya terharu sekali. 😭

Di tengah-tengah mood yang berantakan, alhamdulillaah saya bisa mulai mengontrol meski belum 100%. Tapi saya yakin saya pasti bisa! Suami aja udah mau bantuin kok. 🙂

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 6


Setelah menikah, tanpa disadari saya banyak bergantung kepada suami. Utamanya dalam menstabilkan mood ketika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Sebelum nantinya berjauhan dengan suami, saya memutuskan untuk berlatih mengontrol mood saya tanpa bantuan suami.

Biasanya saya agak sensitif kalau ada pertemuan yang dilaksanakan setelah Maghrib. Karena itu jam ngantuk saya, yaitu sekitar jam 8 malam. 🙈

Maka ketika ada undangan acara keluarga, saya sudah harus mempersiapkan diri supaya setelah Maghrib nggak ngantuk minimal sampai jam 9. Namanya acara keluarga berarti kan bersilaturahim, masa iya setelah nyampe nggak ngapa-ngapain karena ngantuk. 😂

Walhasil saya memutuskan untuk membeli kopi dan mengonsumsinya pada pukul 4 sore. Dan ternyata manjur! Alhamdulillaah tidak ada tanda-tanda mengantuk sampai pukul 10 malam, pun saya juga nggak jadi sensitif. Akhirnya bisa mengobrol dengan keluarga yang lain. 🙂 

Lain kali sepertinya harus diusahakan nggak ngantuk tanpa kopi. Mudah-mudahan bisa. Aaamiin.

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 5

Suami saya adalah tipe orang yang sangat perhatian. Kalau sama istrinya mah udah pasti lah ya. Tapi sama rekan kerja pun beliau juga begitu. Sebagai contoh kalau jaga IGD pagi hari, beliau selalu berpesan agar saya membawa camilan saat menemui beliau di rumah sakit.

Camilan itu nantinya akan diberikan kepada perawat yang saat itu juga bertugas shift pagi. Bila saya berhalangan membeli, beliau tak segan mampir ke toko untuk mencari camilan yang bisa dimakan perawat saat sedang tidak ada pasien.

Kebetulan di rumah ada jenang (ketan) dari bude yang enak banget dan porsinya lebih untuk saya makan sendiri bersama suami. Oleh beliau, jenang tersebut dipotong-potong sendiri dan dimasukkan ke dalam kotak transparan. Padahal biasanya saya yang melakukan, namun beliau sudah berinisiatif untuk mengerjakannya sendiri. 😍 Diluar ekspektasi saya, potongannya amat rapi. Padahal saya sendiri kesulitan saat memotong jenang karena teksturnya yang begitu lengket, kalau dipotong dan ditumpuk bisa nempel lagi. 😂
Luar biasa!
#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 4


(pict from google)

Selain belajar mengelola emosi, saya juga belajar untuk lebih bisa menahan diri untuk tidak berbelanja hal-hal yang tidak penting. Seperti baju, sepatu, tas, kosmetik, dll. Jujur saya mudah sekali tergoda. Apalagi dengan adanya mobile banking yang kalau bayar tinggal pencet-pencet aja. 😭

Saya sudah mulai unfollow akun-akun yang jual baju di FB. Sedangkan di instagram masih belum mampu, hiks. Ngakunya aja lihat-lihat, tapi kalau ada yang lucu-atau warnanya saya belum punya akhirnya suka khilaf. Dan tumpukan di kamar pun semakin banyak. Padahal seharusnya ada mekanisme one in one out. Ujung-ujungnya saya bingung mau out kemana. Adakah yang mau nampung? 🤣

Jadi ceritanya hari ini saya ke butik baju muslim yang lumayan terkenal gitu. Saya sih nggak pernah masuk kesana. Kebetulan nganter temen yang lagi nyari kado. Pas masuk agak syok sama harga outer yang kisaran 700 ribu rupiah. Udah nggak minat beli lah ya. Eh tapi mumpung disini, lihat-lihat baju yang lain ah. Ada satu baju yang menarik perhatian saya. Dalam hati menebak-nebak, bajunya berapa ya harganya. Paling 2-3 jutaan. Ternyata saya dibikin keselek sama harga asli yang tercantum di banderol. Nggak main-main, dua puluh dua juta! Seumur-umur saya nggak pernah ngelihat baju harganya bisa dituker sama sepeda motor. 😆

Masih nggak habis pikir sama harga itu gamis, eh nemu gamis lain harganya 1,5 juta. Lucu banget model sama warnanya. Saya suka saya suka! Apalagi kalo ada diskon 35%. Jadinya kisaran 1,1 juta sekian. Kayaknya lebih murah ya dibanding 22 juta 😂. Sejurus kemudian saya terngiang perkataan suami tiap kali saya mau beli barang-barang fashion.

“Udah punya gamis berapa? Masih kurang? Mau dipake kemana?”

Ummm. Udah punya gamis berapa ya….Sebenernya udah cukup kok….Ya kemana gitu kan kali aja nanti-nanti butuh. 😝 

Setelah menjawab pertanyaan tersebut, fix lah saya nggak butuh beli baju baru hohohoho. Dompet masih aman. Apalagi habis ini dua-duanya mau sekolah. Semoga kedepannya saya bisa lebih mandiri lagi dalam menahan godaan belanja yang tiada penting-pentingnya. Bilang apa? Aaaaamiiiiin. 🙈
#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 3

Saya agak ceriwis tentang pakaian. Dulu saat awal nikah, saya gemes karena suami sering pake baju dengan ukuran yang lebih besar dari seharusnya. Akhirnya setelah sekian lama, suami sudah bisa memilih ukuran pakaian yang tepat. Namun untuk memadukan warna dan model, beliau masih sering meminta bantuan saya. Karena sebentar lagi akan LDMan Surabaya-London, mau nggak mau beliau harus bisa memilih pakaian yang tepat.

Maka ketika ada gathering dari rumah sakit tempat beliau bekerja, saya tantang beliau untuk memilih pakaiannya sendiri. Hasilnya? Bikin saya nggak kedip saking terpesonanya. Udah lulus dengan nilai sangat memuaskan. Cum laude deh. 😂

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 2

Selain memasak, tantangan kemandirian bagi suami adalah packing barang. 😂 Selama ini saya lebih organized dari suami. Jadi kalau mau pergi, saya sudah menyiapkan semuanya. Memastikan tidak ada yang tertinggal. Kali ini suami mulai belajar untuk packing sendiri dan menata barang-barang dengan lebih rapi. Nggak asal masuk tas trus semua kecampur jadi satu.

Alhamdulillaah dengan bantuan kantong-kantong kecil, jadi bisa dibedakan antara dompet, tempat kabel, tempat obat, hardisk, dab. Tas jadi nggak berantakan dan gampang buat nyari barang yang dibutuhkan. Seneng deh lihatnya. 👏

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 1

Game tantangan 2 Kelas Bunda Sayang IIP adalah tentang kemandirian. Baik kemandirian diri sendiri, pasangan maupun ananda. Minimal dalam satu bulan ada satu kemandirian dan maksimal 4 kemandirian yang harus dilatih. Kebetulan saya dan suami akan menjalani masa LDM yang cukup lama, maka target suami adalah memasak untuk bekal melanjutkan pendidikan di luar negeri. 

Kalau saya? Kayaknya harus mandiri nggak mewek lagi misal ada masalah yang nggak bisa saya selesaikan. Saya menyadari bahwa di titik ini, saya masih sangat bergantung kepada suami untuk menstabilkan mood. Maka tantangan bagi saya, harus bisa kuat menghadapi masalah tanpa bantuan suami.

Yang sudah bisa terlaksana, suami bisa masak! Kemajuan lah ya bisa bikin spaghetti. Udah bisa di mix pake keju pula. Semoga besok-besok skill masaknya bisa level up! Aamiin.

Kalau saya masih belum sukses. Kemarin masih nangis-nangis deh. 😭

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari