Kuliner Jombang, Kuliner Beriman

Tags

, , , , ,

1492071465950

Salah satu sudut kuliner Jombang

Dua tahun sudah saya menjadi warga Jombang. Selama dua tahun itu pula saya menjadi penikmat kuliner di kota santri ini. Beberapa bulan terakhir, saya juga bergabung dengan grup perkumpulan kuliner Jombang di Facebook. Di grup tersebut berkumpul para penjual yang mempromosikan dagangannya, baik homemade yang tidak ada toko maupun kuliner yang sudah punya toko offline. Kalau pengen nyoba kuliner yang ada toko offline biasanya tinggal meluncur saja. Tapi kalau cuma ada online, mau nggak mau harus sabar menunggu penjualnya membuka orderan. Atau kalau sudah menyimpan kontaknya, tinggal dihubungi kapan membuka pesanan. Kebetulan saya dan suami sama-sama suka mencoba kuliner-kuliner baru. Jadi klop deh.

 

Dari sekian menu yang sudah saya coba, ada beberapa yang sangat cocok di hati sampai repeat order berkali-kali. Banyak juga penjual yang unik, lain dari biasanya sehingga sangat memorable karena begitu menyentuh hati. Rata-rata dari mereka adalah penjual online yang tidak membuka toko.

 

Salah satunya ketika saya order sate jamur. Setiap kali melakukan pemesanan, saya selalu berusaha sejelas-jelasnya dan memastikan penjual juga memahami pesanan saya. Waktu itu penjual agak molor melakukan pengiriman sehingga saya sudah berangkat ke luar kota. Sudah tidak sempat lagi makan satenya. Demi mendengar hal tersebut, mbak penjual sate jamur memberikan satu porsi gratis secara cuma-cuma karena beliau merasa bersalah. Akan tetapi karena satenya super enak, saya pun jadi langganan sampe mbaknya hafal.

 

Adalagi kisah tentang penjual peyek. Berhubung peyeknya sangat renyah dan gurih, tipe makanan yang kalau belum habis nggak akan berhenti dicemil , maka saya lumayan sering order. Waktu itu mbak penjual peyek mengantar orderan ke rumah. Sayangnya saya masih di kantor. Peyek belum saya bayar, si mbak sudah buru-buru pulang karena anaknya sedang sakit. Si mbak berjanji akan kembali keesokan harinya untuk mengambil uang peyek namun sampai dua hari masih belum juga diambil. Saya panik sampai minta nomer rekening buat transfer. Namun mbak penjual peyek akhirnya mengambil uang pembayaran yang membuat saya sangat lega sekali. Bagaimana mungkin beliau rela meninggalkan peyeknya padahal belum dibayar, bila bukan karena kebesaran hati yang sungguh luar biasa?

 

Di lain waktu, ada penjual yang memberikan bonus dadakan. Sebenarnya beliau jualan sayap bakar ayam. Akan tetapi saat membuka kresek pesanan, tampak pula sebungkus pisang coklat hangat. Ketika saya tanyakan, memang betul itu bonus untuk saya. Masya Allah! Gimana saya nggak terharu. Padahal saat itu kondisi hujan dan beliau masih tetap bersedia mengantar pesanan.

 

Apakah semua penjual kuliner Jombang bersikap demikian? Ada beberapa yang saya temui pelayanan ke pelanggannya kurang. Namun kalau saya nggak suka, saya nggak pernah protes. Karena toh saya nggak bakal jadi pelanggan setia. 😄 Sebaliknya kalau saya cerewet, percayalah sesungguhnya saya fans berat anda dan sangat menginginkan anda menjadi jauh lebih baik kedepannya. Saya pikir, para penjual itu memang berjualan dengan hati. Nggak cuma sedang mempraktekkan ilmu marketing yang super jitu. Bukankah yang berangkat dari hati, akan sampai ke hati juga? :’)

 

Saya tidak masalah bila harus menunggu pesanan yang harus online karena memang tidak ready stock. Yang menjadi masalah bila penjual sudah menyanggupi mengantar jam sekian akan tetapi kenyataannya molor sampai 1-2 jam tanpa konfirmasi apapun. Kalau ada konfirmasi sih saya woles aja. Karena toh bisa terjadi hal yang tak terduga sepanjang prosesnya.

 

Sejujurnya saya nggak hafal nama penjual satu persatu karena saya menyimpan di ponsel dengan sebutan “sate jamur” atau “sayap bakar”. Barangkali saya sudah harus mulai mengenal para penjual favorit saya satu per satu. Dengan harga yang sangat terjangkau, rasa yang enak dan gratis ongkos kirim, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

 

Pertama kali pelanggan datang pasti karena penasaran. Untuk membuat dia loyal, ada hal tertentu yang dianggap cocok. Seperti rasa, harga dan servis pelanggan tentunya. Saya juga salut dengan penjual yang selalu menanyakan kritik dan saran setelah mencoba produk mereka. Hal itu menandakan bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik dengan memperbaiki kualitas produknya. Tapi perlu diingat juga kalau sesungguhnya kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Jadi fokus aja pada saran yang membangun, maka pelanggan yang dituju akan datang. Melihat grup kuliner Jombang, saya percaya bahwa para penjual bisa menyesuakan diri dengan perkembangan zaman.

 

Ps : kalau pengen tahu kontak kuliner makanan yang menurut saya enak, bisa cantumkan email. Nanti saya kirimkan Top Kuliner Jombang ala Fida.  Saya nggak dibayar buat promosi. Dan masalah enak nggak enak memang tergantung selera. Kalaupun menu yang diinginkan belum masuk list saya, bisa jadi saya memang belum mencobanya. Nggak enak menurut saya juga bukan berarti nggak enak menurut Anda bukan? Kalau penasaran dengan semua menu, bisa tuh langsung cuss gabung di grup Facebooknya. Biar puas bisa nyobain semuanya. 😀

 

Aliran Rasa Matrikulasi IIP

Tags

, , , , , , ,

 

Sembilan minggu terakhir whatsapp saya “lebih bermanfaat” dibanding biasanya. Hal ini dikarenakan program matrikulasi yang saya ikuti dari Institut Ibu Profesional. Grup tersebut bukan sembarang grup wa. Anggotanya tidak hanya para ibu dan istri. Banyak yang belum menikah yang juga turut serta.

 
Setiap minggunya hadir materi yang membelalakkan mata sekaligus membuka jiwa. Saya malah sering merasa tertampar berkali-kali. Belum lagi ditambah “pe-er” yang mengerjakannya harus meneropong lubuk hati terdalam. Matrikulasi ini membuat kita menjawab pertanyaan yang dirasa sepele tapi esensial,

 
“Kamu mau ngapain hidup di dunia?”

Apa mengikuti matrikulasi terasa berat? Nyatanya tidak. Kami selalu didampingi serta dimotivasi oleh para fasilitator dan ketua kelas. Mengerjakan pe-er juga lebih mudah karena ngerjakannya diskusi dulu sama suami. :p Sebab matrikulasi nantinya bukan hanya untuk diri sendiri. Akan tetapi juga untuk keluarga dan masyarakat luas. Baik masih sendiri maupun sudah berkeluarga, sesungguhnya tidak ada alasan untuk tidak memberi manfaat bukan?

 
Allah memberi kesempatan kita hidup di dunia bukan tanpa alasan. Mungkin selama ini kita yang masih abai akan petunjukNya. Menganggap diri kita hanya makhluk biasa yang tidak pandai apa-apa. Maka mulailah menemukan jawaban atas fitrah penciptaanmu. Sungguh tidak ada kata terlambat untuk meyadari. Karena kalau bukan diri kita, lalu siapa lagi yang akan peduli?

 
#matrikulasiIIP

#MIIPBatch#3

#kuliahIIP

#IIP

Nice Homework 9

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Insya Allah berikut adalah bagan untuk membantu saya menjadi agen perubahan.

AGEN PERUBAHAN

Terima kasih atas semua materi yang diberikan selama Matrikulasi IIP. Amat sangat bermanfaat. Salut kepada seluruh tim yang sudah bersusah payah. Mudah-mudahan bisa menjadi amal jariyah nantinya. 🙂

Nice Homework 8

MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

 
Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :
a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)

 
“Mengoordinir”

 
b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini :

1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

 
1. Koordinator/manajer bagi diri sendiri, keluarga dan manajer rumah sakit

2. Mengoordinir hak dan kewajiban dari diri sendiri (ibadah dan muamalah), mengoordinir aktifitas keluarga agar sejalan dengan visi dan misi yang telah disepakati, membuat rumah sakit menjadi lebih baik dalam hal pelayanan baik untuk pasien maupun karyawan (akreditasi internasional)

3. Memiliki pertanggungjawaban yang baik ketika nanti dipanggil oleh Allah SWT, memiliki keluarga yang diberkahi Allah, memiliki amal jariyah di rumah sakit yang bisa bermanfaat untuk banyak orang

 
c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

 
1. Menjadi anak, istri, dan ibu yang menjalankan peran sebagai hamba Allah dengan sebaik-baiknya

2. -Menjadi pribadi yang lebih tawadhu’ (rendah hati)

-menjadi manajer keluarga yg handal (mendidik anak sesuai fitrah, mendampingi suami dalam mengemban misi hidup)

-menjadi manajer rumah sakit Islam dan mengembangkannya (bisa berkembang menjadi direktur, membawa RS ke akreditasi internasional)

-berbagi ilmu kepada orang lain tentang pengetahuan yang telah diperoleh (menjadi anggota komisi akreditasi rumah sakit dan surveior akreditasi)

3. Diterima di program studi S2 Manajemen Rumah Sakit, menemani suami dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi, menyiapkan diri menjadi ibu dan istri yang profesional dengan banyak membaca maupun belajar dari pengalaman orang lain, rutin mendalami ilmu agama dari guru/ulama baik melalui media online maupun kajian langsung

 
Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulsi IIP/

Nice Homework 7

1. Alhamdulillaah saya sudah pernah mengikuti talents assesment Abah Rama. Berikut saya lampirkan hasil kekuatan saya.

Berikut lampiran ST30 dari website


2. Sejauh ini hasilnya 80% relevan dengan kondisi saya meski ada beberapa hal yang dikatakan merupakan kekuatan saya namun pada kenyataannya saya masih sangat lemah di bidang tersebut (keuangan). 

Saya semakin fokus dengan apa yang bisa menjadi kekuatan saya, tidak lagi merasa terpuruk pada hal-hal yang memang saya lemah disana. Saat ini saya bekerja sebagai dokter yang berkecimpung di manajemen rumah sakit. Saya bisa mengaplikasikan kekuatan saya untuk mengkoordinasi, menganalisis sekaligus melayani. Hal-hal lain yang menjadi kekuatan saya pun menjadi terasah ketika saya mendalami bidang ilmu tersebut. Harapan ke depan saya bisa menjadi ahli di bidang ini sekaligus memberi manfaat lebih banyak lagi.

3. Berikut kuadran aktifitas yang telah saya buat berdasarkan pengalaman dan hasil talents assesment yang saya ikuti.


Mudah-mudahan saya bisa semakin bermanfaat dalam mengemban misi yang diberikan oleh Allah SWT. Aamiin. 

Nice Homework 6

Paling penting :

1. Beribadah

2. Mendampingi suami

3. Upgrade ilmu

 
Paling tidak penting :

1. Nonton drama korea

2. Scrolling sosmed

3. Baca komik

 
2. Selama ini sering habis di hal tidak penting 😦

 
3. Jadwal harian :

Beribadah 04.30-05.30

Menyimak pengajian 05.30-06.00

Beres2 rumah 06.00-06.30

Sarapan 06.30-07.00

Menyiapkan keperluan suami 07.00-07.30

Cek hp/sosmed 07.30-08.00

Ke rumah sakit 08.00-15.00

Sholat ashar 15.00-15.15

Olahraga+Me time (baca buku, nonton film, cek sosmed, perawatan wajah, nulis blog) 15.15-17.30

Beribadah bersama suami 17.30-18.30

Makan malam 18.30-18.45

Menyimak pengajian bersama suami 18.45-19.30

Upgrade ilmu bersama suami 19.30-21.00

Muhasabah 21.00-21.15

Pillow talk bersama suami 21.15-22.00

Istirahat 22.00-04.30

 
Mudah-mudahan istiqomah menjalankan. Akan direvisi bila dalam satu minggu belum maksimal.

Nice Homework 5 : Menemukan Desain Pembelajaran

Singkat saja tugasnya, bikin desain pembelajaran. Jeng jeng, seumur-umur baru denger istilah itu. Lha saya bukan guru. Wkwkwk. Setelah terkompori di grup matrikulasi, mulailah saya browsing tentang apa itu desain pembelajaran dan bagaimana cara bikinnya. Kenapa harus bikin? Lha kalo kita aja ga bisa bikin buat diri kita sendiri, gimana mau bikin buat keluarga kita?

Setelah browsing kesana kemari, saya merasa desain pembelajaran Gerlach & Elly inilah yang paling sesuai. Selain detil, dia juga bisa diaplikasikan untuk ilmu apapun. Selesai membuat desain ini, mau tidak mau saya standing applause untuk para guru yang sudah memikirkan sedemikian rupa agar anak didiknya bisa belajar dengan efektif & efisien sesuai kebutuhan dan perkembangan jaman. Ini muridnya cuma satu, bisa dibayangkan kalo ratusan, apalagi ribuan??? Bapak ibu guru sungguh luar biasa.
a. Merumuskan tujuan pembelajaran (Specification of Object) >> target

diterima & lulus pascasarjana Manajemen Rumah Sakit, menjadi manajer rumah sakit dan membawa rumah sakit untuk memberikan pelayanan berkelas internasional, menjadi surveior Komite Akreditasi RS
b. Menentukan isi materi (Specification of Content)

1. Kebijakan kesehatan

2. Manajemen organisasi & SDM

3. Manajemen penunjang kesehatan

4. Manajemen pelayanan

5. Manajemen ekonomi kesehatan dan keuangan

6. Marketing dan bisnis

7. Teknologi kesehatan

8. Manajemen pengendalian infeksi

9. Manajemen kegawatan dan bencana

10. Manajemen strategis

11. Hukum & etika kesehatan

12. Manajemen risiko

13. Akreditasi JCI

14. Rencana tesis dan pasca lulus
c. Penilaian kemampuan awal siswa

Dokter umum, 2 tahun bekerja di rumah sakit, Ketua Tim Keselamatan Pasien RS, Ketua Pokja SKP Akreditasi RS, Anggota Tim Mutu RS, Anggota Komite Medik RS
Hasil talent assesment :

Bakat :

1. Connectedness

2. Harmony

3. Belief

4. Deliberative

5. Arranger

6. Empathy

7. Analytical

Kekuatan :

1. Analysing

2. Coordinating

3. Caring

4. Serving

5. Spiritualizing

6. Scheduling

7. Costing

Peran :

1. Arranger

2. Caretaker

3. Server

4. Analyst

5. Treasure
d. Menentukan strategi

Pendekatan yang saya lakukan dengan bentuk Inquiry learning dimana kekuatan analysing saya berperan dalam mengetahui sebab-musabab sesuatu dapat terjadi. Bakat deliberative juga mendorong saya untuk skeptis sehingga akan berusaha menemukan data yang menyeluruh agar saya mendapatkan gambaran utuh tentang materi yang ingin saya kuasai.
f. Pembagian waktu (Allocation of Time)

Ada 14 materi yang harus dikuasai dalam 2 tahun pendidikan pascasarjana serta 4 bulan persiapannya. Setelah lulus pasca, dalam waktu 5-10 tahun sudah mempertajam semua materi tersebut.
g. Menentukan ruangan (Allocation of Space)

1) Ruangan-ruangan kelompok besar : saat nanti kuliah Manajemen RS, dalam rapat struktural RS

2) Ruangan-ruangan kelompok kecil : dalam pertemuan tim RS dan diskusi dengan struktural/karyawan RS

3) Ruangan untuk belajar mandiri : saat membutuhkan teori/landasan yang harus dibaca
h. Memilih media (Allocation of Resources)

Sumber belajar saya : 

1) Manusia dan benda nyata : seluruh jajaran rumah sakit dan pendukungnya

2) Media visual proyeksi : saat menempuh pendidikan manajemen RS

3) Media audio

4) Media cetak : dari buku ttg manajemen RS maupun akreditasi

5) Media display : dari media online ttg manajemen RS maupun akreditasi
i. Evaluasi hasil belajar (Evaluation of Performance)

1. Diterima S2 Manajemen RS

2. Menjadi manajer RS

3. Menjadi surveior KARS

4. Membawa RS berstandar JCI
j. Menganalisis umpan balik (Analysis of Feed Back)

Evaluasi : dari keluarga, dari pemilik RS, dari struktural RS dan karyawan RS, kolega dan rekan kerja.

Love Hate to Vietnam

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,

img_2735

Mampir ke Vietnam sebenernya iseng aja. Jujur nggak pernah terlintas di kepala buat traveling kesana. Tapi mumpung ada tiket promo, yaudah sekalian aja. Dari Malaysia, trip kami berlanjut ke Ho Chi Minh City (HCMC). Sampai saat ini Vietnam masih terkenang. Saya semacam kena love hate relationship gitu deh. Yang jelas cukup sekali aja sih kesana hahahahaa. Jadi kenapa love-hate?

Love

Vietnam termasuk negara yang dijajah dan tahun merdekanya agak dekat dengan Indonesia. Tapi mereka masih perang dengan USA sampai tahun 75. Means mereka baru menjalani masa damai selama 40 tahun ini. Sekilas yang saya lihat, mereka sangat mencintai sejarah. Banyak museum didirikan untuk mengenang perjuangan mereka. Bukankah bangsa yang maju adalah yang menghargai sejarah?

Dari museum di Vietnam jugalah saya baru tahu kalau sebelum perang dengan Vietnam, USA juga perang dengan Korea. Dan dua negara tersebut sekarang sama-sama menerapkan wajib militer selama dua tahun untuk pemuda laki-lakinya.

Peninggalan sejarah yang terkenal diantaranya Cu Chi Tunnels, War Remnants Museum dan Independence Palace. Ketiganya terawat dengan sangat baik dan tourist friendly. Sebenarnya kalau mau menghayati, bisa ikut tour yang ada guidenya. Tapi kalau budget terbatas, minimal di Cu Chi Tunnels deh harus pake guide yang fasih Bahasa Inggris. Karena disana bener-bener dalam hutan jadi nggak mungkin dikasi papan informasi berbahasa Inggris. Lain halnya dengan War Remnants atau Independence Palace yang indoor, papan informasinya sangat informatif. Selama 40 tahun mereka sadar pentingnya sejarah dan sudah mempersiapkan itu untuk tujuan wisata. Nggak hanya domestik tapi sudah level mancanegara. Serius, di HCMC turisnya banyak buangeet. Mungkin kalo di Indonesia kaya di Kuta gitu kali ya.

img_2736

Miniature of 250 km long Cu Chi Tunnels

img_2786

menyusuri hutan menuju ke tunnels

img_2804

no, im not going there 😀

img_2916

War Remnants Museum

img_2910

Independence Palace

Suka Vietnam karena surprisingly kotanya bersih. Meski masih banyak dijumpai pengemis, pemulung, maupun pedagang kaki lima, tapi kotanya nggak jorok. Sangat nyaman untuk jalan kaki dengan trotoar superlebar. Maka jangan kaget kalo sepeda motor pada naik ke trotoar semua karena jalan yang sempit dan supermacet. Udah sama banget kaya di Indonesia ini mah.

img_2847

trotoar superlebar yang dipake pedagang kaki lima plus pengendara motor

Waktu saya nglesot di dekat loket Independence Palace karena nunggu jam buka, ada pedagang es krim kaki lima. Ternyata turis sebelah saya beli eskrim dan dimakan di tempat. Waktu si turis nggak nemu tempat sampah dan bungkus eskrimnya digeletakin gitu aja, sama pedagang eskrimnya diambil dong terus dimasukkan ke tempat sampah yang dibawa. Sungguh luar biasa rasa tanggung jawabnya.

img_2846-1

mbak penjual es krim yang bertanggung jawab

Petugas umumnya sangat ramah. Saya naik bis umum 3x, ketiga-tiganya saat mendekati halte tujuan, selalu diingatkan oleh kondekturnya. Mereka paham kalau kami turis jadi sebisa mungkin dibantu biar nggak nyasar. Waktu ada lansia yang mau turun juga dibantu biar nggak kerepotan. Applause banget deh.

img_2843

bus umum lumayan bersih dan nyaman

Meski nggak ada MRT dan sejenisnya, di HCMC ada bus umum yang aplikasinya bisa di download dan bisa dipake tanpa paket internet. Nama aplikasinya BusMap. Banyak taksi juga tapi pasti mahal. Selain itu ada juga Grabbike yang berseliweran sepanjang jalan. Recomended banget deh untuk kota yang sering macet. Karena kalau pake motor otomatis lebih bisa cepet. Halte busnya banyak, penumpang udah teratur banget naik turun bus di halte. Kalau di Jakarta mungkin kaya Transjakarta kali ya meski kalau disana nggak ada jalur khusus bus.

img_3368
Dan yang paling ngangenin dari Vietnam adalah kopinya. Ca fe sua da. Ca fe : kopi, sua : susu, da : es. Es kopi susu. Saya menyempatkan mencoba ketika makan malam di Restoran Halal Food Hj. Mansour. Hasilnya? Suami yang nggak pernah suka sama kopi pun sampe nambah-nambah. Besoknya pengen nyoba kopi Vietnam di tempat lain. Tapi suami udah kadung seneng banget sama kopi di tempat kemarin, takut rasanya beda jauh kalo beda tempat. Walhasil balik lagi ke restoran cuma buat beli kopinya.

img_2746

Ca fe sua da

Hate

Banyak penipuan! Sebelumnya udah sering baca kalau di HCMC itu kriminalitasnya tinggi. Banyak copet, penipuan dan lain-lain. Maka saya selalu meletakkan tas dan kamera di bagian depan. Nggak pernah saya taruh di belakang. Itupun saya silangkan, nggak cuma sekedar nyantol di pundak. Sambil sepanjang jalan terus berdoa mudah-mudahan selalu diberi perlindungan.

Tour guide saya yang asli Vietnam pun sampai mengingatkan akan bahaya scam dan kriminalitas. Apalagi kami turis, objek yang sangat rawan ditipu karena kami pendatang dan tidak mengenal lokasi dengan baik. Contoh scam yang banyak terjadi :

1. Coconut man
2. Ojek
3. Shoe-shining man
4. Taksi tiruan

Saya hampir aja kena scam coconut man, alhamdulillaah suami sigap sekali menolak. Coconut man adalah laki-laki yang memanggul keranjang berisi kelapa muda. Modusnya adalah beliau mengajak kita foto bersama. Apalagi jelas kita lagi nenteng kamera. Setelah foto, mereka akan menawarkan buah kelapa yang mereka bawa. Mereka lumayan lancar berbahasa Inggris, waktu itu alasannya seharian belum laku sama sekali dan minta dibeli satu aja kelapanya. Saya yang nggak tegaan udah mau beli, tapi suami udah nggeret sambil bilang “No..no…thank you.” Menurut cerita dari tour guide kami, Tony, inilah yang akan terjadi bila kami memutuskan membeli. Mereka akan membuka sekitar 10 buah kelapa dengan total harga 200-300 ribu VND. Kok bisa? Pasti salah kami karena kami tidak menanyakan harga dan mereka juga tidak mencantumkan harga. Kalau kita menolak bayar? Atau mau bayar cuma satu aja? Mereka bisa saja memanggil bala bantuan. Berdalih bahwa kita sudah memesan 10 kelapa tapi tidak mau membayar padahal sudah dibuka semua.

img_2752

Coconut Man yang ngajakin foto

Scam kedua adalah tukang ojek. Ini akan banyak sekali ditemui sepanjang jalan. Apalagi waktu siang hari lagi panas-panasnya. Mereka akan menawarkan ojek berkeliling kota. True story dan sudah ada yang kena di grup FB Backpacker Internasional. Nawarinnya 25.000 VND/jam. Setelah berputar-putar selama 2 jam, ternyata diminta ongkosnya 250.000 VND/jam. Walhasil harus bayar 500.000 VND per orang karena dia berdua dengan temannya jadi sewa dua motor.

Penipuan selanjutnya dari tukang semir sepatu. Modusnya sama, mereka akan menawarkan untuk menyemir dan sekali kita duduk kemudian menyerahkan sepatu kita, disitulah mereka bisa me-mark up ongkos semir sesuka hati. Nggak cuma dalam VND, bisa saja mereka minta 100 USD atau bahkan 200 USD.

Scam terakhir ini juga true story bahkan lebih horor dari ketiga scam sebelumnya. Di HCMC, taksi resmi yang sering terlihat diantaranya adalah Vinasun atau Vinataxi. Waktu itu ada salah satu kawan dari anggota grup yang naik taksi ke HCMC, dikira Vinasun ternyata taksi palsu. Waktu mau sampai di tempat tujuan, bukannya malah diturunin tapi justru pintu dikunci dan disuruh ngeluarin semua uang yang dibawa alias dirampok. Maka saya lebih memilih naik bus umum daripada taksi. Bus umum rutenya sudah pasti, asal tahu halte tempat naik dan turun udah pasti nggak nyasar dan lebih aman.

Pengen foto di pinggir jalan? Hati-hati banyak copet berkeliaran! Kalau mau ambil foto pastikan sekeliling sudah aman atau sekalian hapenya dikasi cantolan. Menurut Tony, korbannya tidak hanya turis tapi penduduk lokal pun bisa. Bahkan mereka tidak segan sampai melukai korban yang menjadi target.

Hate selanjutnya, saya pikir macetnya Jakarta itu sudah luar biasa. Ternyata HCMC lebih ruwet lagi. Penataan kota HCMC membuat ada banyak persimpangan yang berdekatan sehingga tidak mungkin setiap persimpangan itu diberi lampu merah. Jadinya semua saling serobot buat nyebrang. Gimana nasib pejalan kaki? Kendaraan tidak akan berhenti maupun menurunkan kecepatan bila ada pejalan kaki yang menyeberang, mereka hanya akan sedikit menghindar. Tips kalau mau menyeberang, “yang penting yakin. Halangan akan menjauh dengan sendirinya.” Paling seru kalo lihat bule-bule menyeberang. Bingung-takut sambil lari-lari gitu. Tapi kalo udah nyerah karena jalannya lebar dan rame banget, tungguin aja penduduk lokal nyebrang biar ada barengan. Sambil banyak berdoa insya Allah selamat. Saya inget banget malem-malem lihat seorang nenek dengan penuh percaya diri membelah lautan kendaraan dan tiba di ujung jalan dengan selamat. Sungguh luar biasa sekali saudara-saudara.

img_2833

pemantapan hati sebelum menyeberang

Di HCMC agak sulit mencari makanan halal, ada sih kompleks melayu di deket Ben Thanh Market tapi relatif mahal. Makanan 60.000-70.000 VND/porsi. Minuman 20.000-30.000 VND. Di daerah itu ada juga yang jual Banh Mi halal. Too bad saya belum nyoba. Mencari masjid juga sulit, nggak pernah denger adzan. Jadi sholatnya selalu di penginapan karena bisa dijamak. Hampir setiap wanita berjilbab yang saya jumpai adalah warga Malaysia. Nggak heran kalau oleh penduduk lokal pun saya dikira orang Malaysia, selalu ditawari produk mereka dengan Bahasa Malaysia.

img_2830

kompleks melayu di Nguyen An Ninh St.

Saya menginap di Hotel Beautiful Saigon 3 di daerah Pham Ngu Lao. Ternyata lokasi itu adalah tempat favorit turis-turis backpacker. Banyak hotel budget, warung makan, toko kelontong, persewaan motor, info tour dan lainnya. Tidak heran juga kalau banyak bar yang kalau malem jadinya berisik dan rame banget. Jujur saya kurang nyaman disana. Maunya kalo malem langsung tidur aja wkwk. Alhamdulillaah lokasi hotel agak jauh dari kompleks bar jadi kalau tidur masih ayem.

img_2701

gang di Bui Vien St. kawasan turis dengan banyak hotel budget

 

img_2756

sarapan di hotel yang banyak pilihan

img_2757

pool side resto

Biaya hidup di HCMC relatif mahal, bahkan saya dan suami memutuskan untuk tidak membeli simcard karena harga termurah 155.000 VND. Waktu itu ratenya sekitar 0,8 rupiah. Tapi saya dapet yang agak lebih mahal jadi rate VND dan IDR nggak beda jauh. Pengen beli baju khas Vietnam tapi sekilas lihat di Ben Thanh Market maupun night bazar nggak ada yang under 200K walhasil nggak jadi beli. Suvenir di night bazar pun mahal-mahal dan nggak fixed price. Jadi kudu nawar dan kudu tega. Saya dapat gantungan kunci 6 pcs dan magnet kulkas 1 pcs seharga 100K dari harga gantungan kunci 180K dan magnet 40K. Tentu pake drama ninggal toko terus dipanggil-panggil deh sama yang jualan wkwkw.

img_2839

harganya….

img_2747

Ben Thanh nigh bazar

Tips :
1. Kalau mau cari barang yang relatif murah dan ada price tag, dateng ada ke Saigon Square. Lebih nyaman dari Ben Thanh karena ber-AC tapi jam 20.00 udah tutup.
2. Kalau rate IDR ke VND dapet mahal, mending tuker USD di Indonesia, pas di Vietnam baru tuker ke VND. Bisa dapet lebih banyak. 1 USD = 22.000 VND.
3. Info tour banyak tersedia di penginapan. Kebetulan di hotel saya ada meja khusus informasi tentang tour jadi banyak brosur. Tinggal membandingkan sesuai kebutuhan. Saya pikir harganya pasti mahal, ternyata saya salah besar. Yang paling murah yang saya tahu adalah TNK Travel. Saya ikut half day tour ke Cu Chi Tunnels kena 125.000 VND per orang plus 110.000 VND tiket masuk. Total 235.000 VND/orang. Dijemput di hotel (District 1), pake bus AC nyaman, dapet mineral water dan tour guide super friendly dan lancar Bahasa Inggris. Pulangnya kami memilih turun di War Remnants Museum atau bisa di dekat kantor TNK Travel (deket Bui Vien St).
4. Transport airport-Pham Ngu Lao dan sebaliknya :
-Dari airport : bus 109 warna kuning, 20.000 VND
-Ke airport : bus 152 dari terminal seberang Ben Thanh market, 5.000 VND.
Jarak tempuh kurang lebih 1 jam, kondisi jalanan udah agak padat.
5. Apps BusMap denahnya pakai Bahasa Vietnam. Supaya nggak nyasar, cocokkan denah BusMap dengan tourist map ya.
6. Beli kopi Vietnam di Ben Thanh market bagian belakang-luar, toko kelontong khusus kopi gitu. Lebih murah dari night bazar. Atau kalau mau beli sachetan buat oleh-oleh, di 7 Eleven juga ada. Fixed price dan lebih murah tanpa harus nawar.

img_2780-1

img_2825-1

tour guide kami yang berbaju merah, Tony

img_2691

bus 109

img_2842

HCMC tourist map

img_2837

toko kopi kelontong

Highlights :
1. Cu Chi Tunnels with TNK travel
2. War Remnants Museum
3. Independence Palace
4. Central Post Office
5. Ca fe sua da
6. Pho
7. Saigon Square

img_2743-1

Central Post Office, bisa kirim kartu pos dari sini juga lho!

img_2745

Pho Daging. Mirip mie ayam tapi dengan bumbu khas Vietnam

 

img_3332

Saigon river

img_2782

daerah kampungnya mirip banget sama di Indonesia. Cuma beda bahasa 😀

img_2845

dan ternyata tambal ban pun juga ada…

Sekian love hate relationship saya dengan Vietnam, semoga bermanfaat dan selamat jalan-jalan!

What to do in Melaka

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

img_2536

ke hotel pake nyasar karena naik bus

Buat yang mau jalan-jalan ke Melaka mungkin bisa membantu. Melaka terkenal dengan spot cantik buat foto-foto serta cita rasa asam pedas khas masakan peranakan. Thanks to Neng Asco group yang udah ngasi banyak masukan. 😀

Dari klia2 turun ke lantai 1 tempat bus dan taksi, beli tiket ke Melaka Sentral. Saya dapet Bus Starmart 25 RM/orang. Busnya uenak, kursi sangat lebar dan ada sandaran kaki. Perjalanan sekitar 2-3 jam. Kurang tahu apakah ada perusahaan bus lain untuk rute ini. Dari Melaka Sentral ke tengah kota bisa naik bus nomer 17 atau taksi atau Uber. Saya dan suami naik bus, nunggu lumayan lama di terminal Melaka Sentral (sekitar 20 menit).

img_2524
Saya menginap di Hotel Novotel Melaka, lokasi agak jauh dari pusat turis (15 menit jalan kaki). Jadi karena menghemat tenaga, kemana-mana naik Uber karena lebih murah dari taksi biasa. Pake bus umum agak susah karena jalan banyak yang satu arah. Kalau pengen deket dengan spot turis bisa nyari penginapan di dekat Jonker Street. Ada banyak banget pilihan.

Jalan-jalan kemana? Makan dimana? Kalau gamau bingung, lihat tripadvisor aja. Pilih deh dari banyak list yang tersedia.

Place to visit :
1. Jonker Street
2. Dutch Square dan sekitarnya
3. Masjid Selat Malaka (lihat sunset sekalian Sholat Maghrib)
4. Museum Islam Melaka
5. Baba and Nyonya Heritage Museum
6. Museum Maritim
7. Cheng Ho Cultural Museum
8. Masjid Kampung Kling

img_2572

Air mineral murah 1 RM di Jonker Street

img_2544

Dutch Square dan sekitarnya

img_2557

Masjid Selat Malaka

img_2605

Museum Islam Melaka

1484035558329

Replika salah satu pedang Rasulullah

img_2594

Buya Hamka di Museum Islam Melaka

img_2616

Lihat segiempat kecil warna hitam di bagian atap? mungkin ini awal mula CCTV. Saat ada yang mengetuk pintu, tuan rumah bisa melihat dari lantai 2 siapa yang datang

img_2673

Museum Maritim

Saya yang sebelumnya masih awam banget tentang Laksamana Cheng Ho, sangat tercerahkan dengan mengunjungi Museum ini. Beliau ternyata memimpin armada sebanyak 28.000 orang saat berlayar. Menjadikan beliau pelaut ulung sebelum era pelaut Eropa. Saya juga sangat berdecak kagum saat masuk ke Masjid Kampung Kling. Salah satu masjid tertua (dibangun sekitar tahun 1800an) tapi luar biasa terawat. Mukena bersih, lantai berkarpet, tempat wudhu serta kamar mandi yang bersih dan modern.

img_2647

ilustrasi armada Laksamana Cheng Ho

img_2651

img_2624

Old but gold

img_2622img_2621img_2618
What to eat :
1. Asam pedas nyonya (menu tergantung selera mau udang atau ikan atau lainnya)
2. Chicken rice ball
3. Es cendol
4. Fresh watermelon
5. Coconut shake

img_2659

Laksa Asam Pedas Nyonya

img_2661

Coconut shake refresh your day

Fresh watermelon ini lucu banget. Semangka dilubangin trus isinya dihancurkan, dikasi es plus sendok dan sedotan. Saya pecinta semangka jadi excited banget. Penasaran dengan alat yang dipake buat ngancurin isi semangka padahal lubangnya kecil banget, ternyata pelakunya adalah mixer. Sayang masih ada bijinya. Jadi harus dikeluarin satu-satu dulu baru bisa enak nikmatinnya.

img_2657

semangka ajaib

img_2656

pelakunya adalah mixer

Sebelum minum es cendol, saya sempat membatin. Kalau sampe lebih enak es dawetnya RSI Jombang, saya mau jualan dawet di Melaka. Ternyata rasanya beda! Karena santannya didinginkan terlebih dahulu sepertinya dan sangat kental. Hampir mirip es krim atau es puter gitu. Ditambah perpaduan gula merah khas Melaka yang juga endess banget.

img_2660

es cendol nyonya

Masakan peranakan halal bisa didapatkan di deretan pertokoan dengan Hotel Novotel. Namanya EeJiban Chicken Rice Ball. Kalau laper, pesen rice ballnya yang banyak ya wkwk.

img_3273

img_2569

chicken rice ball dan udang asam pedas

Sukanya di Melaka, bahkan di tengah spot turis bisa dengar adzan dan ada mushola. Mungkin nggak banyak yang tahu, di atas Tourist Information Centre sebelah sungai itu mushola lho. Nyaman banget pula. :”)

img_2629

Surau Warisan

img_2625
Jangan lupa bawa sunblock, sunglasses, topi dan semua perangkat karena Melaka itu panas banget! Ya namanya deket pantai sih hahahaa. Atau kalau nggak mau panas-panasan, waktu siang dipake buat ke Museum aja. Dijamin adem. 😀

img_2587

rumah sakit yang sering didatangi warga Indonesia

Balik ke klia2 saya pakai transnasional bus dari Mahkota Medical Center (bus berhenti di halte dekat 7 eleven) dan kursinya kaya bus patas biasa padahal harga sama kaya Starmart. Agak kecewa sih tapi waktu itu booking tiket pake app redbus dan yang availabel cuma transnasional. Starmartnya nggak muncul hiks. Barangkali bisa jadi pertimbangan.

Selamat berlibur ke Melaka!

img_2630

peta Melaka

Persiapan Akreditasi Rumah Sakit

Tags

, , , , , , , , , , ,

5141d27bed3985d3b0bf6b92bfccb7e3

pict from : google

Akreditasi sekolah sudah biasa, akreditasi perguruan tinggi sudah lumrah. Adalagi akreditasi rumah sakit. Emang perlu ya? Ternyata perlu saudara-saudara. Kalau ndak ada akreditasi, terus siapa yang mantau mutu rumah sakit di Indonesia? Dunia kesehatan bukan lagi seperti jaman dahulu dimana dokter dianggap dewa dan pasien hanya manut. Sekarang pasien sudah bisa memilih mana rumah sakit yang baik pelayanannya. Mau tidak mau semua rumah sakit harus berbenah agar tidak tertinggal.

Saat ini rumah sakit di Indonesia menganut standar akreditasi versi 2012. Sebelumnya mengacu kepada standar versi 2007. Apa bedanya? Dulu yang diublek-ublek dokumen saja. Kalau sekarang dokumen hanya 20%, sisanya telusur lapangan yang dinilai. Para surveior KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) akan ‘merasakan’ bagaimana sesungguhnya ketika menjadi pasien di rumah sakit tersebut. Apa saja proses yang dijalani sejak masuk hingga keluar rumah sakit.

img_1232

suasana telusur dokumen saat survei simulasi

img_1262

petugas kantin turut disurvei

Ketika melihat standar akreditasi dan elemen penilaiannya, pasti banyak yang mengeluh. Wajar saja karena sebelumnya rumah sakit belum pernah diajarkan yang demikian. Mereka harus merombak sistem dan menyesuaikan dengan standar terbaru. Banyak hal yang sebelumnya belum ada, harus diadakan. Dokumen rekam medis yang awalnya cuma sehelai, jadi tebel sampe bisa dijadiin bantal. Terus rumah sakit kudu piye jal?

Nggak usah keburu panik. Tarik nafas panjang. Hal yang paling penting adalah BUKAN menjadikan akreditasi sebagai beban. Sebaliknya, akreditasi adalah jalan menuju perbaikan rumah sakit. MEA udah di depan mata, masa kita masih mau merem aja. Bentar lagi tenaga medis asing masuk, RS asing masuk, trus kita mau kemana? Ke laut gitu? Toh nanti yang disurvei juga hal yang sehari-hari kita lakukan. Lha kalo udah terbiasa kan pasti nggak akan lupa. Udah nggak deg-degan lagi kalo ditanya-tanya.

Standar akreditasi versi 2012 ini mengacu pada standar internasional versi JCI (Joint Comission International) yang juga sudah digunakan di lebih dari 100 negara. Saat nanti sudah lulus akreditasi versi 2012 apa otomatis diakui secara internasional? Belum. Tapi paling tidak secara pelayanan sudah mendekati rumah sakit di luar negeri. Kalau pengen bisa beneran diakui internasional ya harus lulus standar JCI yang otomatis surveinya pake Bahasa Inggris. 😄

Akreditasi menjadi penting karena untuk mendapatkan/memperpanjang izin rumah sakit harus sudah terakreditasi. Untuk bisa bekerja sama dengan BPJS Kesehatan pun demikian. Wajar lah ya, bagaimana mungkin izin rumah sakit diberikan kalau pelayanannya nggak standar. Sayangnya banyak rumah sakit yang terhambat akreditasi karena masalah dana. Bukan rahasia umum kalo akreditasi menghabiskan banyak biaya. Berbagai macam pelatihan yang harus diikuti, berbagai standar yang harus diaplikasikan dan sayangnya semua itu tidak tercover dalam biaya pasien JKN. Saat itulah manajemen rumah sakit harus berpikir keras agar rumah sakit tetap bisa beroperasi, pasien tertangani dan karyawan tetap digaji.

Lalu apa aja yang harus dilakukan kalau mau menjalani akreditasi? Pertama, tetapkan dulu tujuannya. Mau langsung paripurna (15 pokja) atau perdana (empat pokja)? Disini kita bisa melihat betapa KARS sebenarnya sudah memberikan kelonggaran bagi rumah sakit untuk bisa menyesuaikan diri dengan standar yang ada. Nggak mampu langsung 15 pokja ya empat pokja dulu saja. Enak tho? Ukuran mampu atau tidak adalah dari sumber daya manusia yang ada. Kalau rumah sakit tipe D, rata-rata masih perdana dulu. Kalau tipe C sebaiknya memang langsung paripurna agar lebih efisien secara waktu, biaya dan tenaga. Karena rumah sakit tempat saya bernaung adalah tipe D, maka diputuskan akan menjalani tingkat perdana dulu.

Tujuan sudah dibuat, saatnya bagi tugas. Membentuk tim akreditasi sesuai 4 pokja yang dibutuhkan. Bagaimana cara menyusun tim pokja yang efektif? Lihatlah elemen penilaian dari masing-masing pokja. Di sana akan terlihat kebutuhan tim pokja tersebut. Ambil contoh pokja SKP. Dari 6 standar SKP, terlihat bahwa harus ada anggota tim dari keperawatan, farmasi, laboratorium serta kamar operasi. Pemilihan anggota tim menjadi penting karena merekalah nantinya yang akan banyak bekerja untuk menyiapkan dokumen serta sosialisasi tentang penerapannya kepada para pelaksana pelayanan.

Selesai menentukan tim, waktunya membuat dokumen akreditasi. Dokumen mana dulu yang harus dibuat? Sebaiknya dari kebijakan, lanjut ke pedoman & panduan baru SPO. Ada banyak sumber yang memberikan ceklis dokumen yang dibutuhkan masing-masing pokja. Untuk contoh dokumen bisa di browsing, tapi jangan lupa disesuaikan dengan kondisi rumah sakit. Karena tiap rumah sakit akan sangat berbeda satu dengan lainnya. Ketika dokumen sebagian telah selesai, bisa langsung dimulai penerapan standar agar pelaksana menjadi terbiasa. Tidak lagi terkaget-kaget saat diberikan segambreng hal baru secara bersamaan. Ini juga sebagai evaluasi apakah standar sudah bisa diterapkan secara optimal atau masih perlu modifikasi.

Lalu kapan saat yang tepat untuk mengajukan bimbingan akreditasi dari KARS atau melakukan studi banding ke rumah sakit yang sudah lulus akreditasi? Saat yang tepat adalah ketika tim akreditasi sudah bisa ‘menemukan jalannya’ serta dokumen sudah mulai dibuat. Studi banding dulu atau bimbingan dulu? Saran saya sih studi banding dulu saja supaya kita benar-benar mengerti real nya penerapan akreditasi itu seperti apa. Jadi kita akan memahami penafsiran dari standar akreditasi dan elemen penilaian yang ada. Siapa yang harus ikut studi banding? Sebaiknya seluruh tim akreditasi. Namun apabila harus dibatasi, maka saran saya adalah orang yang paling tahu tentang pokja tersebut. Sehingga dia akan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Bukan lagi datang tanpa ilmu jadi nggak tau apa yang harus dicari.

img_1289

studi banding ke RS Baptis Batu bersama tim akreditasi

Usai studi banding, bisa jadi akan banyak dokumen yang perlu direvisi atau dibuat kembali. Nggak perlu pusing, itu adalah hal yang wajar. Dari sebelumnya nggak tahu menjadi tahu. Jadi pasti ada perbaikan. Gimana cara menentukan rumah sakit yang tepat untuk menjadi tujuan akreditasi? Kriteria simpelnya adalah rumah sakit yang dengan besar hati mau ngasi contoh dokumennya sekaligus mau berbagi pengalaman akreditasi disana. Saya nggak tahu pasti kenapa KARS tidak membuat form dokumen standar yang bisa dimodifikasi oleh rumah sakit. Pada akhirnya tiap rumah sakit harus meraba-raba untuk membuat dokumen sesuai standar. Disclaimer : dokumen dari rumah sakit yang sudah lulus akreditasi belum tentu sudah betul bila nanti surveior yang datang di rumah sakit kita berbeda.

Saat dokumen sudah jadi semua, penerapan sudah 70%, bolehlah mengajukan bimbingan dari KARS. Di bimbingan ini kita juga akan diubek-ubek lagi masalah dokumen. Jangan khawatir, telusur lapangan pasti nggak akan kelewat karena itu yang paling utama. 😄

Dari hasil bimbingan KARS nantinya kita akan tahu seberapa siap rumah sakit untuk menghadapi survei akreditasi. Apakah kira-kira bisa dilaksanakan dalam waktu dekat, perlu survey simulasi atau bahkan mungkin harus mundur lagi. Dibawa santai saja. Ingat, akreditasi bukanlah tujuan akhir. Melainkan hanya alat untuk meningkatkan mutu rumah sakit.

img_0661

bimbingan akreditasi KARS bersama dr. Dian Suprodjo, Sp. THT

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan akreditasi? KARS memberi syarat bahwa untuk maju akreditasi harus ada bukti minimal 3 bulan bahwa rumah sakit tersebut sudah sesuai standar. Lha menyiapkan biar sesuai standar ini lho yang lama. Ada yang 1 tahun, ada yang sampe 3 tahun. Rumah sakit saya sendiri butuh waktu sekitar 1,5 tahun sejak persiapan hingga survey akreditasi tingkat perdana.

Hal penting lain yang perlu diingat, dalam pembuatan dokumen atau penerapan standar nggak perlu tanya dari banyak rumah sakit. Ambil contoh dari satu atau dua saja sudah cukup. Kalau kebanyakan contoh nanti malah bingung mau menerapkan yang mana. Ibarat pepatah kekinian, less is more. Toh nanti keputusan final tetap di tangan surveior rumah sakit kita. Dan kalau nanti udah lulus, jangan pelit berbagi ke sesama. Saingan kita bukan lagi rumah sakit gang sebelah, tapi rumah sakit negara tetangga yang bikin pasien kita kabur kesana. Buktikan dong kalo Indonesia nggak kalah keren juga. 😀