Our Precious Project 4


Hari keempat. Abstrak sudah hampir selesai akan tetapi masih belum ada nama dosen pembimbing. Dulu saat penjelasan tentang perkuliahan sempat diberitahukan bahwa terkait artikel untuk jurnal, boleh konsultasi ke semua dosen (tidak ada ketentuan). Maka dari itu saya berusaha menanyakan kepada alumni mana kira-kira dosen yang direkomendasikan.

Setelah berpikir panjang, muncullah satu nama dosen. Saya langsung menghubungi beliau untuk memohon izin dan beliau mengizinkan! Alhamdulillaah betapa Allah memberikan kemudahan. Tapi ternyata masalah belum berhenti disitu.

Abstrak yang diminta dalam format Bahasa Inggris maksimal 200 kata. Karena Bahasa Inggris saya pas-pasan, jadi saya buat di Bahasa Indonesia dulu lalu saya terjemahkan ke Bahasa Inggris menggunakan google translate. Setelah itu saya koreksi lagi tata bahasanya. Susah sekali merangkum penelitian hanya dalam 200 kata. Pilihan kata harus tepat, penulisan harus jelas sehingga dalam sekali membaca reviewer akan memahamai penelitian kita.

Setelah kejadian tulis-hapus-tulis-hapus berulang kali plus bimbingan suami, akhirnya saya berhasil membuat abstrak 200 kata. Rasa haru yang sungguh tidak terkira. Mengingat terakhir kali saya membuat abstrak sudah berlalu berpuluh purnama. πŸ˜‚ 

Abstrak berhasil saya kirimkan H-1 deadline penutupan. Mudah-mudahan menjadi berkah.

#Day4

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KelasBunsayIIP

Our Precious Project 3


Deadline pengumpulan abstrak yang kurang tiga hari mau nggak mau bikin saya ketar ketir meski sebelumnya saya sudah punya penelitian. Gimana nggak ketar ketir kalau data hasil penelitiannya belum dianalisa sama sekali. πŸ˜‚

Jadinya saya mengumpulkan seluruh daya dan upaya melawan kemalasan untuk mempelajari cara menganalisa data menggunakan program SPSS. Siapa gurunya? Tak lain tak bukan suami saya sendiri hehehe. Kebetulan beliau sudah sering melakukan penelitian meski dengan tipe data yang berbeda (penelitian eksperimen laboratorium sedangkan penelitian saya bertema sosial). Jadinya kita berdua sama-sama belajar.

Dulu saat menempuh pendidikan S1 saya juga sudah pernah mendapatkan materi tersebut. Tapi namanya udah lama nggak dipakai ya pasti lupa lagi. Dengan bantuan mbah google kami pun akhirnya mengingat apa yang dulu diajarkan dosen dan menerapkannya pada penelitian saya. Target besok essay harus sudah terkumpul!

#Day3

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KelasBunsayIIP

Our Precious Project 2


Proyek hari kedua menulis kuliah tamu dari Bapak Dahlan Iskan untuk ditampilkan di instagram. Sebagai seorang pengusaha beliau memberikan kepada kami ilmu yang sangat penting dalam berdagang. Meski menurut saya seharusnya hal tersebut tidak hanya diterapkan dalam perdagangan. Hehe.

Kemarin Bapak Kepala Program Studi juga menjelaskan bahwa lulusan tahun ini diberi syarat harus pernah menulis artikel ilmiah di jurnal internasional. Syarat yang terhitung agak berat meski sepertinya Unair sudah agak terlambat menerapkan keputusan ini dibanding kampus negeri lainnya. Mau tidak mau membuat semua mahasiswa termasuk saya untuk memutar otak supaya bisa lulus tepat waktu 4 semester. 

Setelah berkonsultasi dengan suami, saya mantap untuk mencoba mengikuti konferensi internasional dan mengirimkan artikel penelitian saya kesana. Meski saya tidak tahu peluang untuk lolos maupun diterima, saya nekat saja. Itung-itung ini adalah konferensi Internasional pertama yang saya ikuti. Semoga lancar dan berkah! ☺️

#Day2

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KelasBunsayIIP

Our Precious Project


Game level 3 kelas Bunda Sayang menantang kita untuk membuat sebuah proyek berbasis keluarga. Untuk itulah proyek ini harus dikerjakan bersama-sama. Kebetulan saya dan suami sedang sama-sama sibuk karena harus mempersiapkan kuliah masing-masing. Maklum, sama-sama mahasiswa baru.

Sebetulnya proyek ini masih tergolong baru meski sudah ada sebelum tantangan kelas Bunda Sayang diluncurkan. Namun dalam perjalanannya ada proyek lain yang lebih penting untuk dikerjakan. πŸ˜€

Sejak 10 Agustus 2017 saya resmi menjadi mahasiswa program pascasarjana di Unair. Kebetulan saya juga suka sekali menulis plus scrolling instagram. Jadilah saya punya ide untuk menuliskan di instagram ilmu yang saya peroleh di kampus. Tapi tulisan harus menggunakan Bahasa Inggris. Karena tulisan Bahasa Inggris saya masih belum bagus, saya meminta suami untuk menjadi editor. Ibarat koran, saya reporter dan suami editornya. Kami membuat media bersama. Uhuy! 

Proyek ini kami niatkan selain sebagai penyemangat, juga sebagai sarana berbagi ilmu yang dimiliki. Plus saya juga sharing kegiatan yang saya lakukan selama di rumah sakit. Itung-itung belajar menerapkan ilmu di dunia nyata. Hohoho. Selain itu mudah-mudahan bisa mengangkat Universitas Airlangga ke kancah dunia. Kalau pake Bahasa Inggris kan yang baca gak cuma orang Indonesia aja. πŸ™ˆ

Bismillaah. Mudah-mudahan berkah.

#Day1

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

This Too Shall Pass 10

Dalam game tantangan kemandirian ini saya ingin agar lebih bisa mengontrol emosi ketika suami tidak sedang mendampingi. Namun ternyata di akhir cerita malah justru gagal total. 😭

Saya adalah orang yang sangat perasa, mudah menyalahkan diri sendiri, dan bila ada sesuatu yang kurang tepat saya akan langsung stres. Kesalahan itu akan saya ingat terus hingga jauh-jauh hari karena saya bukan orang yang mudah untuk melupakan. 

Saya menekankan pada diri sendiri. Nanti kalau suami sudah jauh, siapa yang bisa menenangkan hati kalau bukan saya sendiri? Apa saya tega kalau suami jadi nggak fokus? Kemarin-kemarin semua masih bisa saya handle. Namun ternyata ada satu hal yang menyebabkan pengelolaan emosi saya jauh dari kata berhasil, menyebabkan air mata tumpah sederas-derasanya. Padahal sejak menikah nggak pernah nangis kayak gitu. πŸ™ˆ

Suami segera menenangkan, tidak mengatakan apapun, tidak memarahi saya. Hanya menemani saja. Sejurus kemudian saya menarik nafas panjang dan menghembuskannya hingga tangis saya reda. Malu sih, tapi lega. Akhirnya pikiran bisa jernih lagi untuk memikirkan beberapa solusi alternatif supaya saya tetap strong dimanapun suamo berada. Entah akan berhasil atau tidak, yang pasti tantangan ini akan menjadi sebuah perjalanan yang panjang dalam mengubah diri saya. πŸ™‚

Mudah-mudahan berhasil. 😊

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 9


Sebenarnya saya termasuk orang yang mandiri. Saya sudah terbiasa jauh dari orang tua dan mengurus keperluan diri sejak SMP. Namun sejak menikah, saya sepertinya terjebak dalam zona nyaman karena selalu ada suami yang bisa dimintai tolong.

Pun ketika naik kereta dari Surabaya menuju Jombang saat sore menjelang malam hari. Biasanya bila bepergian bersama suami, saya bisa istirahat dengan nyenyak tanpa takut terlewat stasiun. πŸ˜‚ Nah berhubung nantinya saya bakal sering sekali menjalani rute ini sendirian (minimal seminggu sekali) maka saya harus bisa mengkondisikan diri untuk tetap terjaga dan tidak terlewat stasiun tempat saya turun.

Kemarin sempat uji coba dan saya ketiduran saat 3 stasiun menjelang tujuan. πŸ˜‚ Waduh berarti harus ada cara lain. Saya pasang alarm di hape di menit-menit menjelang sampai di stasiun Jombang kemudian saya istirahat lagi. Akan tetapi karena cemas, saya tidak bisa nyenyak. Di sisi lain mata saya terasa berat sekali untuk membuka. Akhirnya saya scrol-scrol hape untuk window shopping dan cara ini berhasil membuat saya melek sampai di stasiun tujuan. 🀣

Lain kali harus ada ide kreatif lagi nih.

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 8


Melihat kamar berantakan,F : “Ayang, aku pusing kamarnya berantakan.”

(Saya tahu ini bukan komunikasi produktif, tapi pengen tahu aja reaksi suami πŸ™ˆ)

S : “Nanti kalau sempet aku beresin ya.”

F : “Serius? Aaaaaaa Alhamdulillaah ya Allaah suamiku mau bantu beresin kamar.”

S : “Loh, kan belum. Ada embel-embel kalau sempet pula.”

F : “Enggak apa-apa, alhamdulillaah dulu biar nanti doanya beneran dikabulkan sama Allah.” (Modus banget!)

S : “Tapi besok ya aku bersihinnya.”

F : “Iya nggak apa-apa. Aku yang makasih banget udah dibantuin.” πŸ™‚

Selama ini saya yang agak rewel kalau kamar kotor/berantakan. Suami mah woles aja, bisa fokus ngapa-ngapain dalam kondisi apapun. πŸ˜‚ Tapi berhubung beliau sebentar lagi akan menjalani kuliah sendiri di Inggris, mau nggak mau saya sedikit “melatih” supaya beliau mau untuk beresin kamar.

Hasilnya sungguh membuat saya terpesona. Mudah-mudahan beliau nantinya diberi kelancaran dan keberkahan ilmu saat menjalani proses pendidikan. Aamiin.

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 7

All is well. All is well. Hari ini lumayan bikin emosi jiwa. Entah kenapa pulang kerja mood berantakan banget. Astaghfirullaahal’adziim. Apalagi suami sedang jaga RS pula. Fix harus bisa mengontrol emosi.

Perut sakit, kepala pusing, kamar berantakan, besoknya harus ke Surabaya pagi-pagi buat psikotes dan belum menyiapkan apa-apa. 😭 Mau nangis aja rasanya. Tapi kalo nangis emang semuanya beres? Kemudian rasanya pengen nampar diri sendiri. Hayuk lak cus diperbaiki dulu semuanya. Nggak pengen suami jadi khawatir juga padahal lagi ngurusin pasien.

Saya pun mulai mengisi perut sedikit demi sedikit. Soalnya kalau perut sakit lalu langsung diisi porsi besar biasanya malah makin menjadi-jadi sakitnya. Alhamdulillaah pelan-pelan perutnya membaik. Tapi kepala masih pusing. Haruskah minum obat? Ummm. Jangan dulu deh. Saya memilih untuk memijat kepala dan pundak saya sendiri. Lumayan membaik. Tapi sejurus kemudian saya tertidur! Sepertinya karena terlalu capek lahir batin kali ya πŸ˜‚

Padahal kamar masih berantakan, belum nyiapkan buat ke Surabaya. Alhamdulillaah kok saya masih bisa bangun waktu suami pulang 😊 . Ternyata sakit kepalanya sudah hilang juga! Masya Allah. Setelah bangun tidur saya segera packing keperluan untuk ke Surabaya. Kalau kamarnya? Masih berantakan. πŸ˜‚

Tiba-tiba suami memberitahu, “Kamarnya aku aja yang beresin ya.”

Ya Allaah saya terharu sekali. 😭

Di tengah-tengah mood yang berantakan, alhamdulillaah saya bisa mulai mengontrol meski belum 100%. Tapi saya yakin saya pasti bisa! Suami aja udah mau bantuin kok. πŸ™‚

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 6


Setelah menikah, tanpa disadari saya banyak bergantung kepada suami. Utamanya dalam menstabilkan mood ketika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Sebelum nantinya berjauhan dengan suami, saya memutuskan untuk berlatih mengontrol mood saya tanpa bantuan suami.

Biasanya saya agak sensitif kalau ada pertemuan yang dilaksanakan setelah Maghrib. Karena itu jam ngantuk saya, yaitu sekitar jam 8 malam. πŸ™ˆ

Maka ketika ada undangan acara keluarga, saya sudah harus mempersiapkan diri supaya setelah Maghrib nggak ngantuk minimal sampai jam 9. Namanya acara keluarga berarti kan bersilaturahim, masa iya setelah nyampe nggak ngapa-ngapain karena ngantuk. πŸ˜‚

Walhasil saya memutuskan untuk membeli kopi dan mengonsumsinya pada pukul 4 sore. Dan ternyata manjur! Alhamdulillaah tidak ada tanda-tanda mengantuk sampai pukul 10 malam, pun saya juga nggak jadi sensitif. Akhirnya bisa mengobrol dengan keluarga yang lain. πŸ™‚ 

Lain kali sepertinya harus diusahakan nggak ngantuk tanpa kopi. Mudah-mudahan bisa. Aaamiin.

#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari

This Too Shall Pass 5

Suami saya adalah tipe orang yang sangat perhatian. Kalau sama istrinya mah udah pasti lah ya. Tapi sama rekan kerja pun beliau juga begitu. Sebagai contoh kalau jaga IGD pagi hari, beliau selalu berpesan agar saya membawa camilan saat menemui beliau di rumah sakit.

Camilan itu nantinya akan diberikan kepada perawat yang saat itu juga bertugas shift pagi. Bila saya berhalangan membeli, beliau tak segan mampir ke toko untuk mencari camilan yang bisa dimakan perawat saat sedang tidak ada pasien.

Kebetulan di rumah ada jenang (ketan) dari bude yang enak banget dan porsinya lebih untuk saya makan sendiri bersama suami. Oleh beliau, jenang tersebut dipotong-potong sendiri dan dimasukkan ke dalam kotak transparan. Padahal biasanya saya yang melakukan, namun beliau sudah berinisiatif untuk mengerjakannya sendiri. 😍 Diluar ekspektasi saya, potongannya amat rapi. Padahal saya sendiri kesulitan saat memotong jenang karena teksturnya yang begitu lengket, kalau dipotong dan ditumpuk bisa nempel lagi. πŸ˜‚
Luar biasa!
#Level2

#BunsayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10hari