Apply Visa UK Tanpa Travel Agent

Tags

, , , , , , , , , , ,

19396834_1528620513836030_6726181389271482311_n

Senengnya visa UK di approve ngalah-ngalahin senengnya lolos tes kuliah XD

Keseringan baca postingan di grup Facebook Backpacker Iinternasional (BI) jadi pengen nantangin diri sendiri. Bisa nggak apply visa UK buat ayah ibu tanpa bantuan travel agent dan di approve? Ternyata bisa!  Alhamdulillaah ya Allah. Terima kasih banyak kepada para suhu BI yang sudah membantu saya. Kesimpulan saya setelah visa diterima, sebenarnya semua informasi sudah disediakan. Tinggal kita MAU mencari (MEMBACA) atau enggak.

Kerempongan mulai dari apply online, ngisi data biar sesuai sama duit yang di tabungan, sesuai sama harga tiket dan hotel, paspor jaman dulu yang ditarik sama imigrasi, dan mengingat-ingat riwayat perjalanan kemana aja. Kerempongan yang worth it karena satu tantangan terlewati.

Barangkali ada yang profesinya sama (kebetulan ayah ibu saya dokter), berikut dokumen yang saya siapkan :

SEMUA DOKUMEN HARUS DALAM BAHASA INGGRIS dan BERUKURAN A4.

  1. Dokumen yang perlu diterjemahkan : akta kelahiran, kartu keluarga, KTP, surat nikah, surat ijin praktek.
  2. Dokumen yang disiapkan :
    – paspor
    – detil penerbangan (tiket pesawat), kebetulan tiket sudah issued krn beli waktu promo GA. Inilah yang bikin deg-degan banget visanya diapprove apa enggak.
    – surat keterangan dari tempat kerja (contohnya banyak tinggal googling). Ayah saya kerja di RS jadi minta ke RS, ibu saya buka praktek pribadi jadi bikin surat pernyataan (tanpa materai bisa)
    – tambahan untuk ibu : surat ijin praktek dan surat tanda registrasi dokter (STR). Kebetulan STR sudah in English jadi ga perlu ditranslate
    – bukti pemasukan tiap bulan dan saldo yang tersedia di tabungan. Ayah pakai Bank BNI dan Bank Muamalat, Ibu pakai Bank Syariah Mandiri. Bisa rekening koran atau buku tabungan. Tapi kemarin saya sediakan dua-duanya karena saldo yang tercetak di rekening koran terakhir sebulan sebelum tanggal penyerahkan dokumen yang lebih update saldo dari buku tabungan
    – statement letter dari bank (contohnya banyak bisa di googling, biasanya tinggal ngomong ke bagian CS bank. Kalau di Muamalat ada form permintaan yang sudah disediakan, kalau BNI bikin surat permohonan sendiri)
    – konfirmasi booking hotel. Ini masih booking pakai booking.com, jadi belum bayar apa-apa. Free cancelation
    – surat nikah
    – KK
    – akta kelahiran
    – KTP
  3.  Tambahan kalau mau pake layanan priority visa, fotokopi semua halaman paspor dari depan sampe belakang (termasuk halaman kosong)

 

Semua dokumen resmi saya berikan fotokopiannya in English (nggak perlu diserahkan yang asli yang penting TERBACA karena nanti akan discan). Meski di web imigrasi UK tercantum bahwa dokumen yang disubmit harus asli, ternyata waktu dateng ke VFS Global Surabaya yang diminta kopiannya saja. Dokumen resmi yang saya maksud adalah yang nggak boleh hilang seperti : Akta, KTP, KK, surat nikah dst. Kalau surat pernyataan atau surat dari tempat kerja kasih yang asli juga gapapa. Semua dokumen saya bikin dobel untuk ayah ibu karena aplikasi tersebut akan diproses sendiri-sendiri meskipun waktu penyerahan dokumen ayah dan ibu berurutan.

 

IMG_8889

all document must be originals

Khusus buat ibu yang berangkat sebagai dependant ayah, meski punya bank statement dan saldo sendiri, tetap saya lampirkan bank statement dan bukti saldo ayah sebagai penjamin. Jenis visa yang di apply adalah visa turis standar dengan maksimal stay 6 bulan. Ayah dan ibu melakukan penyerahan dokumen di VFS Global Surabaya karena domisili di Jawa Timur.

Saran saya buat yang mau apply, berikut urutan efektifnya :
1. Terjemahkan dokumen di sworn translator (kalau antri banget bisa 2 minggu-1 bulan). Di web juga tercantum ketentuan dokumen yang ditranslate, saya kurang tahu apakah bisa diterjemahkan sendiri/diterjemahkan bukan oleh penerjemah tersumpah.
2. Bikin akun apply visa online di https://www.visa4uk.fco.gov.uk/home/welcome. Cermati baik-baik pertanyaannya dan dijawab dengan baik juga. Untuk apply visa online TIDAK PERLU submit dokumen apapun. Saya ngisi formnya butuh waktu sekitar 2 bulan, entah saking lemotnya apa gimana Karena waktu udah mepet akhirnya memutuskan untuk apply fasilitas priority visa (PV) juga. Kalau ngisinya bisa cepet ga perlu PV biar lebih hemat.
3. Siapkan dokumen pendukung lainnya, bisa diminta 2-3 minggu sebelum penyerahan dokumen supaya tanggalnya nggak jauh beda dengan waktu penyerahan dokumen jadi datanya update.

IMG_8888

ketentuan dokumen yang diterjemahkan

Terakhir, banyak-banyak berdoa. Mudah-mudahan visa diapprove dan perjalanan lancar serta barokah.

Tips khusus buat yang mau apply di VFS Surabaya, tidak disediakan tempat duduk bagi pengantar. Jadi mending nanti janjian aja buat nunggu di lantai dasar karena di lantai dasar ada banyak toko jualan makanan biar gak gabut.

Berikut saya lampirkan ceklis serta contoh dokumen yang bisa disiapkan. Ceklis ini saya ambil dari web VFS Global. Waktu nyerahkan dokumen dikasi ceklis ini juga. Kalau ini link dari imigrasi UK yang bisa dibaca-baca. Insya Allah ASAL MAU BACA semua informasi bisa didapatkan dengan lengkap.

https://www.gov.uk/standard-visitor-visa/documents-you-must-provide

https://www.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/549692/Visitor_Supporting_Documents_Guide_-_English_version.pdf

Orang tua saya submit dokumen tanggal 9 Juni 2017, tanggal 16 Juni 2017 sudah jadi dan tanggal 17 Juni 2017 paspornya sudah sampai ke rumah (dikirim visa jasa pengiriman). Ini pakai layanan priority visa dengan komitmen selesai 3-5 hari. Kalau tanpa PV selesainya sekitar 15 hari kerja. Biaya visa 1,5 juta. Kalau di Surabaya ada tambahan 1 juta. Biaya layanan priority visa 3 juta.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Belajar Mengerti Kita (10)

Menjadi keluarga artinya memahami seni meminta maaf dan memaafkan. Seingat saya pernah ada jokes tentang pernikahan bahwa suami harus mau untuk meminta maaf meski tidak tahu apa kesalahan yang dilakukan. 😂

Itu karena istri yang sering memendam perasaan dan berharap suami memahami kode-kode yang diberikan. Padahal suami hanya memahami bahasa verbal. Bukan bahasa kalbu. 🙈

Seni meminta maaf adalah mau berbesar hati mengakui kesalahan. Tidak peduli kesalahan kecil maupun besar. Dan sekali salah tetap salah, jangan mengakui salah tapi sekaligus menyalahkan pihak lain. It doesn’t work that way. Bila sudah melakukan kesalahan, berusahalah semaksimal mungkin untuk memperbaiki dan tidak mengulangi lagi. Biar nggak dibilang “kapok lombok”. Maksudnya apa? Jangan sampai kaya makak lombok, ngakunya kepedesan tapi besok-besok masih juga makan pedes.

Meminta maaf tidak hanya dengan memilih kata-kata yang tepat. Akan tetapi intonasi, bahasa tubuh akan menunjukkan benarkah seseorang sudah meminta maaf dengan tulus? Kaidah 7-38-55 termuat disini. Faktor yang berperan dalam keberhasilan komunikasi 7% adalah pilihan kata yang digunakan, 38% intonasi dan 55% bahasa tubuh. Akan lebih baik lagi bila digabung dengan poin lainnya seperti choose the right time, intensity of eye contact dan clear and clarify.

Ketika saya melakukan kesalahan, tidak sengaja laptop suami keformat-data hilang semua, saya samgat sedih. Mau meminta maaf tapi bingung karena maaf saya tidak mengembalikan data yang hilang. Saya berpikir terlebih dahulu sebelum meminta maaf. Menunggu suami moodnya reda, mendekati beliau dan meminta maaf. Akhirnya suami mengatakan bahwa seharusnya yang saya lakukan ketika tidak tahu adalah bertanya, bukan asal pencet yang akibatnya fatal. Alhamdulillaah data yang hilang tidak begitu banyak karena memang laptop masih baru, tapi salah tetap saja salah bukan?

Selain meminta maaf juga ada seni memaafkan. Memahami bahwa pasangan/keluarga memiliki kelemahan karena tidak ada manusia yang sempurna. Yang harus diingat, akan sangat mungkin sekali mereka akan mengulang kesalahan yang sama. Lagi-lagi berbesar hatilah, tunjukkan bahwa hatimu seluas samudera. Bebaskan dirimu dari membenci orang lain. Dan yang terpenting, doakan. Agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama. Agar mereka selalu dalam perlindungan Allah dan berada di jalanNya.

Saya belajar banyak dari suami yang tidak pernah memakai nada tinggi ketika beliau sedang kesal. Sebaliknya, logika beliau selalu diutamakan. Kata beliau, “Aku marah tidak menyelesaikan masalah. Ditambah kamu pasti sakit hati. Jadi ya buat apa? Mending dicari solusinya.” Plakkk. Serasa ditampar saya. Sering banget masih marah-marah padahal sebenernya juga nggak penting. Lain kali kalau marah lagi, bibir dikunci rapat sebelum akhirnya mengeluarkan kata-kata yang tidak diinginkan.

Sepanjang hidup, kita tidak akan pernah berhenti berkomunikasi. Mungkin berhasil, mungkin gagal. Setelah mengetahui poin-poin tersebut, jangan lelah untuk selalu berusaha menerapkan bagaimanapun kondisi kita dan keluarga.

#level1

#day10

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Belajar Mengerti Kita (9)

Di games tantangan komunikasi produktif ini ternyata saya menemukan pemahaman baru. Bahwa poin yang dibuat oleh Tim Bunda Sayang adalah alat bantu. Tujuan utamanya supaya tercapai komunikasi produktif. Mau poin yang mana dulu yang dilatih, tergantung pribadi masing-masing. Pun kalau ternyata poin yang udah pernah dilatih dan berhasil ternyata di masa depan bisa gagal. Iman aja bisa naik turun, apalagi emosi ya kan? 🙈

Saya gagal lagi di poin “Clear and Clarify”. Ceritanya saya dan suami mau ke luar kota. Untuk menghemat waktu, suami menyarankan untuk menjemput saya sepulang kerja dan langsung naik bus dari depan tempat kerja. Sebenarnya merupakan hal yang simpel, tapi menjadi tidak simpel karena kami belum packing total. Sebelum bekerja, saya hanya menyiapkan beberapa yang harus dibawa dengan anggapan setelah pulang akan mampir dulu ke rumah.

Jadilah suami yang packing dengan arahan dari saya. Saya membuat list dengan lebih dari 10 poin tentang apa yang harus dibawa dan dikerjakan oleh suami, suami agak terburu-buru karena mengejar waktu biar nggak kesorean. Pada beberapa hal, suami sempat menanyakan hal yang belum jelas kepada saya melalui whatsapp. Selain yang beliau tanyakan saya anggap sudah jelas.

Begitu suami datang, dari list tersebut tidak lebih dari lima poin yang tepat. Lainnya malah belum dikerjakan atau kurang tepat. Saya yang capek dan ngantuk udah cemberut duluan. 

“Mana titipanku yang a,b,c,d kok tidak terlihat di depan mata.”

Bukannya malah ngucapin makasih karena suami udah mau repot-repot dimintai tolong buat packing. 

Sebenarnya juga bukan masalah besar karena kami pergi cuma semalam dan pagi sudah kembali lagi ke Jombang. Tapi jiwa perfeksionis saya memberontak. Untuk apa diberi list kalau ujung-ujungnya nggak semua dilakukan/dibawa? Saya hampir selalu menggunakan cheklist untuk memastikan tidak ada yang terlewat dan semua berjalan sebagaimana mestinya.

Pelajaran yang bisa diambil :

1. Untuk hal yang butuh ketelitian, biarkan saya yang handle karena suami sering melewatkan hal kecil.

2. Hal darurat, biar suami yang pegang kendali.

3. Jangan memberikan list yang terlalu panjang kepada suami karena suami tidak terbisa multitasking.

4. Belajar mengucapkan terima kasih kepada suami meski bantuan yang diberikan belum tepat.

Layaknya sekolah kedokteran, sesungguhnya marriage life juga long life learning.

#level1

#day9

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Belajar Mengerti Kita (8)

Games tantangan hari ke 8 sebenarnya udah dilakuin dari kemarin tapi belum sempet nulis. 🙈

Kali ini saya belajar tentang “Choose the Right Time”. Karena apa? Karena saya mau mengakui kesalahan yang telah saya perbuat. 😂

Saya tipe orang yang nggak mau dimarahin meski udah sadar kalo salah. #eaaa Hanya saja saya berpendirian kalau saya tetap harus jujur ke suami meski salah. Jadi biar meminimalisir dimarahi suami, saya pilih waktu yang tepat. Kapan itu waktu yang tepat? Menurut saya, setelah suami pulang kerja dan khususon saat Ramadhan ini, maka saat yang tepat adalah selesai buka puasa atau setelah tarawih.

Nb : sejujurnya suami hampir tidak pernah memarahi saya, tapi sebagai istri yang melakukan kesalahan, saya harus pintar-pintar mencari celah 🙆

Maka ketika suami sudah leyeh-leyeh, saya cerita deh dengan lebih dahulu meminta maaf. Kagok malu gimana gitu rasanya. Tapi suami yang bisa menetralisir suasana justru menebak-nebak kira-kira saya habis ngelakuin apa. Tebakan suami sukses bikin saya ngakak-ngakak dan akhirnya mengalirlah cerita tentang kesalahan saya. 

Dari situ suami membantu menganalisa kelemahan saya, kemudian kami mencari solusi sekaligus memastikan supaya kedepannya tidak terulang kembali. 

Btw dalam poin kali ini saya juga menggunakan “Intensity of Eye Contact”. Lagi-lagi supaya yang muncul dari hati, bisa sampai ke hati juga. ❤️

#level1

#day8

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Belajar Mengerti Kita (7)

Poin “Clear and Clarify” dalam komunikasi produktif dengan pasangan insya Allah sudah diterapkan. Saatnya menerapkan poin yang lain. Kemudian saya berinisiatif untuk menerapkan “Intensity of Eye Contact.” Gimana maksudnya nih?

Bagi suami istri, penting untuk menjalankan komunikasi dari hati ke hati. Apa yang berangkat dari hati maka akan sampai ke hati juga. Apalagi kalau ingin menyampaikan sesuatu yang sensitif seperti mengingatkan suami. Suami hanya manusia biasa yang bisa salah dan lupa seperti halnya kita. Tantangannya, gimana caranya mengingatkan suami dengan cara yang santun? Kontak mata adalah salah satu caranya.

Saya sendiri kalau salah seringkali udah tahu salahnya dimana, tapi nggak mau disalahkan. 😂 Butuh waktu, proses untuk bisa mengakuo dan belajar dari kesalahan tersebut. Maka seharusnya saya juga harus bersikap demikian kepada orang lain. Saat suami keliru, tahan dulu dari mengeluarkan kata-kata yang tak bermanfaat.

“Kan aku udah bilang kalau bla-bla-bla, masak lupa. Baru aja kemarin aku kasih tahu”.

Apa kalau gitu suami bakal inget? Engga. Yang ada malah jadi merasa tidak dihargai padahal udah berusaha-meski masih belum benar.

Maka inilah yang saya lakukan. Saat suami melakukan kesalahan, tarik napas, hembuskan. Lakukan berulang sampai otak bisa berpikir jernih. Dekati suami dan lakukan kontak mata. Pilih kalimat yang tidak menjudge.

F : “Eh, kemarin aku udah bilang belum kalau ….”

S : “Ummm. Kayaknya udah deh.”

F : “Bener nih udah? Tapi ayang kenapa ……..(melakukan kesalahan) ? ”

S : “Hehe. Lupa kalo kemarin udah dibilangin”

F : “Hayooo, lain kali diinget-inget yaaaa”

Kan enak. Nggak jadi marah. Beda kalau cuma ngomel aja, udah gitu ngomelnya sambil lihatin hape. Gimana mau bicara dari hati ke hati? ❤️

#level1

#day7

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Belajar Mengerti Kita (6)

“Clear and Clarify” ini berguna untuk diskusi antara suami dan istri. Ketika salah satu pihak mengungkapkan pemikirannya dengan jelas, ternyata pihak lain justru bisa membantu loh supaya keinginan kita terlaksana dengan efisien. 😀

Contohnya saya yang mau cari kos-kosan. Insya Allah Bulan September akan kembali menjadi mahasiswa lagi di Surabaya. Survei kos menjadi penting karena setelah ini pengumuman tes untuk mahasiswa S1. Kalau nggak segera diputuskan nanti bisa kehabisan. 😂

Saya ini tipe yang agak rewel mencari kosan. Dulu saat kuliah S1 juga gitu. Mau pindah kos aja mungkin sekitar 1 bulan baru dapet kos pengganti yang sreg di hati. Sebenarnya kriterianya nggak muluk-muluk. Hanya saja nemu yang sreg ini lho yang agak merepotkan. Kalau kata Aa Gym, ini mah urusan hati. 🙈

Tapi masalahnya, kapan saya mau survei? Setelah browsing sana sini, nanya sana sini, dapatlah list kos yang kira-kira masuk kriteria. Sayangnya masih juga belum dapet waktu yang pas untuk survei. Padahal waktu pengumuman S1 semakin dekat. 

Ketika saya utarakan kepada suami, beliau dengan senang hati membantu survei. Caranya, pakai Google Street View! Alamak, ada teknologi kok nggak dipake. Hehehe. Paling nggak kan tau posisi rumahnya, kalau gambar kamar masih bisa dibrowsing atau minta lewat CP kos. Melihat penampakan dari luar cukup bisa memberi gambaran tentang suasana kos meski tidak selalu benar. Gambaran itu bisa membantu kita untuk memilih lagi kos mana yang diinginkan sehingga saat survei melihat langsung bisa efektif, tempat mana saja yang benar-benar ingin dikunjungi. 

Jadi, Clear and Clarify memang penting. Selain biar nggak miskomunikasi, itu juga bisa dipakai buat membantu orang yang dicintai. 😀

#level1

#day6

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Belajar Mengerti Kita (5)

Ternyata kebaikan itu menular. Buktinya apa? Ketika saya berusaha memperbaiki komunikasi dengan suami, ternyata suami tertarik untuk terlibat juga. Hehehe.

Saya selalu menceritakan apa saja ilmu yang didapatkan ketika mengikuti IIP. Setiap ada materi saya bagikan kepada beliau. Setiap ada PR atau tantanganpun pasti saya beritahu. Bagi saya, rugi kalau ada ilmu bermanfaat tapi nggak dibagi-bagi. Poin plusnya, suami jadi merasakan bahwa sang istri ingin berusaha menjadi lebih baik. Yang pada akhirnya hal tersebut juga menjadi motivasi beliau untuk memperbaiki diri. Disinilah kenapa saya cinta banget sama IIP. Mengajak kepada kebaikan tanpa menggurui. ❤️

Awalnya ketika bercerita tentang poin “Clear and Clarify”, saya menegaskan apa-apa yang menjadi perhatian saya. Lalu suami dengan sukarela menyambung, “Kalau aku nggak ribet kok. Cukup dengan kamu melakukan a,b,c,d aku nggak akan protes.” Disinilah hati saya kembali terbuka untuk bersyukur. Untuk menghadapi saya yang ribet kaya gini aja suami sabar banget. Lha saya kok nggak bisa sabar padahal suami sebenarnya simpel sekali orangnya.

Harus sering-sering nih “Clear and Clarify” supaya komunikasinya bisa berjalan dengan baik tanpa ada embel-embel, “Lha aku pikir kamu……” 😂

Bukan begitu saudara-saudara?

#level1

#day5

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Belajar Mengerti Kita (4)

Saatnya belajar menerapkan poin “Clear and Clarify”. Mengapa poin ini kami pilih, karena seringkali ketika saya atau suami dihadapkan pada sebuah pilihan, jawabannya adalah “terserah”. Yak, sungguh klise sekali. Tidak lain tidak bukan karena males pikir panjang. 😂 Akan tetapi sesungguhnya jawaban terserah menjadi dilematis saat pilihan yang ditentukan ternyata tidak sesuai.

Seperti saya ketika minta tolong suami untuk beli ayam goreng sebagai lauk makan sahur. Di warung langganan ternyata habis. Suami tanpa tanya-tanya lagi karena sudah malam, akhirnya banting setir beli martabak dan tahu. Begitu sampai rumah, sayanya ngambek. Kok jadinya martabak, kan dealnya beli ayam. Kan padahal masih ada tempat lain yang buka, kenapa nggak nyari di tempat lain. 

Sayanya juga keliru karena keburu ngambek. Padahal ujung-ujungnya itu martabak juga masuk perut. 🙈Seharusnya yang saya lakukan adalah menerima dengan senang hati karena suami sudah mau capek-capek keluar rumah. Kemudian menyampaikan kepada suami bahwa lain kali bila menu yang dipilih nggak ada, barangkali bisa mencari di tempat lain dengan menu serupa. Daripada banting setir ke menu yang lain dan saya yang udah berharap-harap jadi kecewa. 😆

Maka dari itu saya harus memperjelas lagi ke suami. Apa yang saya inginkan, pun ketika permintaan suami belum jelas, akan saya perjelas lagi. Supaya nanti tidak ada lagi ngambek-ngambek yang nggak penting. ☺️

#level1

#day4

#tantangan10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip 

Belajar Mengerti Kita (3)

Alhamdulillaah kemarin sukses menerapkan poin “I am Responsible for My Communication Result”. Tapi hari ini masih mau dipraktekkan lagi biar mancep ilmunya. Nggak cuma sekedar lewat.

Ceritanya hari ini Abah Ibu dan adik-adik plus saya dan suami lagi bisa ngumpul buat buka bareng. Untuk keperluan buka puasa butuh kelapa muda tanpa campuran apapun alis cuma daging kelapa dan airnya saja karena udah punya sirup di rumah. Hampir semua anggota keluarga udah kebagian tugas, jadi nggak ada yang bisa beli.

Mau nggak mau saya minta tolong ke suami deh. Saya hubungi suami lewat telepon.

F : “Ayang, boleh minta tolong nggak?”

S : “Iya ada apa?”

F : “Umm. Butuh kelapa muda buat buka puasa. Tiga butir gitu, minta dipecahin semua trus ditaro plastik. Jadi belinya tanpa gula/sirup dan tanpa es”

(Kayaknya suami agak bingung wkwkwk)

S : “Sek sek gimana ini maksudnya”

F : “Jadi di rumah udah ada sirup sama es batu. Kita cuma butuh air kelapa sama daging kelapanya aja. Beli 3 butir, minta dipecahin trus ditaro plastik ya biar kita nggak repot mecah kelapanya”

S : “Oke siap. Bener ya nggak butuh es sama gulanya”

F : “Betuuul. Di rumah udah ada kok”

Dag dig dug dag dig dug. Akhirnya suami datang. Membawa pesanan persis seperti yang saya titipkan lewat telepon. Alhamdulillaah. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih karena sudah bersedia dititipi buat beli sekaligus mau mendengarkan penjelasan saya. Suka deh. ❤️

#level1

#day3

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip